Anika mengerang pelan saat ia merasakan sesuatu mengganggu tidurnya. Ia berbalik tanpa membuka matanya, berniat melanjutkan tidur karena rasa kantuk masih memeluknya dengan kuat. Namun sebuah kecupan basah mendarat di lehernya, membuat Anika akhirnya terjaga dan membuka matanya pelan. Ia tersenyum lebar saat matanya menangkap dengan jelas Orlando yang setengah berbaring di sampingnya. Sedetik kemudian Anika teringat apa yang membuat suaminya itu baru pulang di tengah malam seperti ini. Anika bangkit dari tidurnya dan memindai tubuh Orlando dari atas sampai bawah. "Kamu engga kenapa-kenapa kan? Kamu engga terluka?" tanyanya cemas. Orlando menegakan tubuhnya dan merangkul Anika dengan lembut. "Aku terus ingat ucapan kamu sebelum aku pergi, Sayang. 'Jangan terluka', makanya aku berusaha

