"Gurunya Lea ngasih saran buat bawa Lea ke psikolog anak," ujar Anika pelan. Matanya terus memantau Azalea yang sedang bermain di area bermain di sebuah mall. Mereka sepakat membiarkan Azalea bermain sesukanya sampai lelah agar anak mereka itu lupa akan ketakutannya. Orlando yang juga sedang menatap ke arah anaknya itu, kemudian menoleh ke arah Anika. "Apa menurut kamu, itu perlu?" tanyanya, terdengar ragu. Bagaimanapun membuat keputusan menggunakan Psikolog anak untuk melepaskan Azalea dari rasa takutnya, tidak bisa diambil begitu saja. Anika tersenyum sedih sambil menggeleng pelan. "Aku engga tahu. Tapi aku sakit banget liat Lea kayak tadi. Meskipun hubunganku dan Faris memang engga baik, tapi Lea sayang sama Papanya itu. Dia pasti terluka saat tahu Papanya nyoba buat bawa dia deng

