Kisah itu tertutup rapat tanpa seorang pun yang tahu, kecuali mereka; sepasang suami-istri yang mengubah takdir hidup mereka masing-masing.
"Hubungan kita, aku cukupkan sampai di sini. Aku sudah mengurus surat perceraian." Suara tegas laki-laki itu pada seorang wanita yang matanya sembab karena menangisi kematian ibunya.
Wanita itu harus kehilangan ibu, sekaligus suami dalam satu waktu.
"Jangan pernah menyalahkan diri sendiri tentang perpisahan ini, bukan salahmu, bukan juga salahku. Kita sudah sepakat menikah dari awal untuk memenuhi keinginan orang tua. Tapi, sekarang keputusan ada di tangan kita masing-masing, aku berhak memilih jalanku sendiri setelah orang tua kita sudah terkubur dalam tanah."
Laki-laki itu kembali melontarkan kata-kata. Kata-kata yang ia sadari telah melukai wanita yang telah memberinya anak, meski ia tak pernah menganggap anak itu darah dagingnya.
"Aku tak pernah menginginkan hubungan kita berakhir. Tidak pernah."
"Itu tidak mungkin, Arini. Dengarkan aku, sebelum menikahimu, aku sudah memiliki kekasih, dan aku akan menikahinya!" Laki-laki bicara dengan nada tinggi, "dan aku tahu kau juga masih mencintai laki-laki lain, aku berkeyakinan kalau orang itu ... adalah ayah dari anak sialan itu!" telunjuk suami Arini mengarah pada seorang anak perempuan yang tengah bermain boneka kesayangannya.
Anak berusia satu tahun itu menatap ayahnya karena kaget, kedua mata bulatnya sangat indah, berhidung bangir, bibir tipis kemerahan, dan pipinya gembul menggemaskan. Ia tidak mendapat senyuman dari bibir sang ayah, akhirnya ia kembali mengalihkan perhatian pada bonekanya.
Dada Arini terasa sakit, ia seperti dihantam batu besar dan menghimpitnya hingga sesak. "Allea anakmu, Wiranto. Dia anakmu ... aku tidak keberatan jika kau campakkan, tapi tidak dengan dia. Aku bisa buktikan kalau dia benar-benar darah dagingmu."
"Tidak perlu," timpal Wiranto cepat. "Memiliki anak darimu adalah sebuah kesalahan. Aku harap, kau tak pernah menceritakan apapun tentangku padanya."
Keputusan telah diambil, Wiranto meninggalkan Arini dan Allea, tepat setelah pemakaman ibu mertuanya. Hingga bertahun-tahun Wiranto benar-benar lenyap dan tak peduli sama sekali tentang kehidupan Arini, hingga Allea berusia 10 tahun, ia pernah mendatangi Wiranto untuk menunjukkan pada Allea bahwa ia memiliki ayah. Sayangnya, Allea tak dapat pengakuan sebagai putri.
Arini menikmati nyeri setiap kali mengingat Wiranto, hidup bersamanya selama dua tahun seperti mimpi buruk. Laki-laki itu sudah merenggut mimpinya, harapan, dan cinta.
Usia Arini 19 tahun saat ia menikah dengan Wiranto Putra, putra seorang pengusaha kaya. Sedangkan Arini sendiri hanyalah anak dari seorang guru honorer yang berpenampilan sederhana tetapi ia wanita bijaksana. Ayahnya Arini seorang buru pabrik dan ia tiada saat Arini berusia lima tahun.
"Kau tahu, ayahku meminta kita menikah sebelum ia mati. Yeaaah, kau tahu, ia sudah sekarat," kata Wiranto, dulu, sebelum ia menikahi Arini. "Aku rasa, ibumu juga. Oh, ya ampuuun. Bagaimana persahabatan mereka bisa mengorbankan perasaan anak sendiri? Maksudku ... aku sendiri tidak keberatan, bagaimana denganmu, Arini?"
Arini terdiam. Bukan gadis itu tak tahu tentang perjodohan itu. Ibunya sangat menyayangi ayah Wiranto, mereka sahabat sejak kecil, tak pernah terpisahkan. Ibunya sering bercerita, ayah Wiranto saat kecil adalah yatim piatu, ia tak memiliki keluarga, bahkan teman yang mau bermain dengannya karena ia berbeda. Ia tinggal bersama seorang nenek yang terus sakit-sakitan. Tubuh kecilnya tak terurus, dan ia kerap kelaparan dan meminta-minta di jalanan. Satu-satunya orang yang menganggapnya teman adalah ibunya Arini. Gadis seusianya yang tinggal tak jauh dari tempat ayah Wiranto bersama si nenek.
"Aku hanya inginkan yang terbaik menurut ibuku saja," jawab Arini tanpa ekspresi, "ibuku sangat menyayangi ayahmu hingga saat ini. Kasih sayang seorang sahabat yang tak pernah meminta balas budi," lanjut Arini. Ia mengatakannya agar Wiranto mengerti keadaannya.
"Yah, ayahku juga selalu membicarakan ibumu itu, membanggakannya tanpa henti. Sayangnya, aku tak pernah peduli. Ayah juga mengatakan, berkat ibumulah ia bisa sesukses sekarang. Ibumu yang baik, perhatian, penuh pengorbanan, dan terus mendukung setiap langkah ayah. Itu terdengar berlebihan, dan aku rasa ... tidak mungkin ibumu tidak mengharap apapun dari ayahku 'kan?"
Perasaan Arini tersengat mendengar ucapan Wiranto. Bukan saja ucapannya, sikap dan cara berpikir laki-laki itu 'bermasalah'.
"Ibuku bukan wanita seperti itu."
"O, ya? Itu bagus. Aku harap, pernikahan kita nanti akan berjalan baik-baik saja. Aku malas kalau harus berurusan dengan mertua cerewet dan sibuk membicarakan harta yang bukan miliknya." Wiranto terus mendorong Arini dalam kebimbangan, seolah ia memang sengaja membuat gadis yang akan dinikahinya menyimpan ketidaksukaan.
Arini bukanlah gadis keras kepala, ia tahu pernikahan itu tak pernah ia inginkan, tetapi ia pun tak tega memutus harapan orang tuanya dan orang tua Wiranto. Ia pernah mengatakan, hidupnya adalah untuk kebahagiaan mereka berdua. Tak ada yang lebih membahagiakan melihat orang tuanya bahagia.
Daniel Putra, ayahnya Wiranto sering mengunjungi ibunya Arini saat karirnya kian melesat. Arini sering melihat mata biru laki-laki itu menatapnya hangat dan lembut. Arini seakan mendapat kasih sayang seorang ayah. Terkadang, Daniel menghujaninya banyak hadiah meski ibunya sering cerewet pada sahabatnya itu jangan terus menerus memanjakan Arini dengan banyak hadiah. Daniel laki-laki yang perhatian, ia baik, ia peduli, ia tak pernah menyombongkan diri. Kasih sayang Daniel membuat keputusan untuk menjodohkan putranya dengan Arini.
Di banding Wiranto, Arini lebih banyak tahu kisah persahabatan orang tua mereka. Mungkin karena ia peduli, mendengar, dan mencintai orang tuanya. Sedangkan Wiranto, entah ia dapatkan dari mana perangai buruknya itu, menurut Arini ia dan ayahnya bagai langit dan bumi.
Pernah, Arini kecil bertanya pada ibunya, mengapa Daniel memiliki warna mata yang berbeda? Warnanya bukan seperti orang pribumi kebanyakan yang mayoritas berwarna hitam kecoklatan.
"Paman Daniel adalah orang istimewa yang baik," jawab ibunya Arini saat itu sambil tersenyum lebar. Hanya itu. Sampai Arini berpikir, mata biru berarti simbol keistimewaan.
Setelah beranjak dewasa, Arini baru mengerti mengapa warna mata Daniel berbeda. Arini tidak dapat menahan haru dan menyembunyikan air mata, mengetahui bagaimana ayah Wiranto menjalani hidup. Ibunya Daniel mati gantung diri karena depresi, suaminya yang berdarah Inggris meninggal saat melakukan perjalanan bisnis menuju kota kelahirannya.
Lagi-lagi perasaan kehilangan membawa seseorang dalam kebinasaan.
Arini banyak belajar memaknai cinta, pengorbanan, dan ketulusan yang murni. Persahabatan mereka abadi, Daniel pergi untuk selamanya tepat setelah Arini dan Wiranto menggelar acara pernikahan akibat kanker paru-paru yang dideritanya--karena sakit itulah ia ingin putranya cepat menikahi Arini, ia ketakutan jika tidak sempat melihat kebersamaan mereka. Lalu, setahun kemudian ibunya Arini menyusul berpulang. Duka itu datang berturut-turut, menghantam hidup Arini hingga hancur berkeping-keping. Ia kehilangan cinta, kehilangan tawa, kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Yang ia rasakan setelah kematian orang tuanya dan perceraian, adalah kegelapan. Ia terkurung dalam lorong gelap lagi sunyi.
Wiranto mengakhiri pernikahan mereka dengan alasan tak masuk akal. Tidak ada cela bagi Arini untuk bahagia, Wiranto kerap berlagak mesrah di hadapan orang tua mereka dan bersikap dingin ketika di rumah. Wiranto terus berkencan dengan kekasihnya, tanpa mengindahkan perasaan Arini yang berusaha belajar mencintai. Usaha Arini untuk mempertahankan rumah tangga tak pernah dihargai, Wiranto justru menuduh Arini masih menjalin hubungan dengan laki-laki yang sering ia sebut 'kekasih Arini' di sekolah.
***
Setiap jalan akan menemukan akhir tujuan. Selama bertahun-tahun Arini mengobati luka hatinya dengan cara mencintai Allea, menanamkan cinta kasih dalam sunyi. Dalam gelapnya hidup yang ia jalani. Dalam keheningan. Dalam balutan harapan. Juga rindu yang kerap menyusup untuk seseorang.
Arini mengusap rambut Allea yang berbaring di pangkuannya. Membelai rambut gadis itu dengan jari-jari tangan yang sudah tak kencang lagi. Ia sudah menghilangkan separuh bebannya pada Allea, tentang masa lalu yang tertutup rapat-rapat.
Arini menyadari satu hal, ia sudah menggali luka di hati Allea selama ini. Ia tak pernah banyak bicara, abai dengan segala hal, kerap berdiam diri atau menyibukkan diri dengan kegiatan yang Allea tak pahami.
Dalam kemurungan panjang seakan tak pernah usai, Arini sudah mengorbankan perasaan Allea. Ia menjadi egois. Ia redup. Ia mengutuk diri sendiri selama puluhan tahun. Ia pikir ia banyak memberikan cinta untuk Allea, yang sebenarnya cinta itu tak seutuhnya sampai.
Arini sudah menceritakan semuanya tentang apa yang ingin Allea ketahui tentang ayahnya, berawal saat Arini melihat Allea pulang lebih cepat dari tempat kerja dan mengatakan ia menyesal sudah melihat orang paling yang ia benci, lalu menangis terisak-isak di sudut kamarnya. Seperti ada dorongan kuat untuk Arini merangkul putrinya. Di saat itu juga, dalam dekapan Arini Allea melepaskan semua himpitan dalam dadanya, semua sesak yang dirasa, semua pedih tak terobati.
"Ibu, bicaralah! Bicaralah padaku mengapa ayah mencampakkan kita? Mengapa ia sangat jahat, Bu?" erang Allea, tangisnya pecah, "apa benar aku bukan anak ayah?"
Luka itu belum sepenuhnya sembuh, membuat Arini kembali merasakan nyeri. Allea menanyakan ayahnya, rupanya ia masih mengenali laki-laki itu. Arini sendiri bahkan tak tahu seperti apa wajah laki-laki itu saat ini.
"Kumohon, Bu. Akhiri penderita ini," lirih Allea lagi.
"Ibu mencintaimu," kata Arini parau. Ia berusaha ingin mengatakan banyak hal, tetapi lidahnya terasa keluh.
"Jika Ibu mencintaiku, bicaralah, Bu. Aku tahu Ibu sakit karena Ibu memendam perasaan itu sendirian. Ibu merahasiakan sesuatu padaku. Ibu terus bungkam. Ibu egois. Ibu tidak pernah menganggapku dewasa. Ibu hanya memikirkan nasib Ibu sendiri!"
"Allea!"
"Ayo, Bu. Katakan. Katakan semuanya. Jangan-jangan, ayah benar. Aku bukanlah darah daging ayah!"
Mata Arini terpejam, berusaha menguatkan hati. Ia butuh kekuatan untuk mengatakan semua.
Cukup lama, Arini memaksakan diri berdamai dengan masa lalu. Meski perih tetapi ia harus mengerti, bahwa separah apapun luka pasti ada obatnya. Arini sudah mengorbankan waktu, meski luka tak kunjung sembuh, setidaknya, hari ini ia berhasil membuang separuh perih di palung hati.
"Lalu, siapa laki-laki yang dimaksud ayah 'kekasih Arini' di sekolah itu?" tanya Allea tiba-tiba. Membuat gerakan lembut jari Arini membelai rambut Allea terhenti.
"Ibu tak ingin menceritakannya," elak Arini, "Mungkin dia sudah berbahagia dengan rumah tangganya yang harmonis." Tidak dipungkiri dadanya kembali menyempit saat Allea menanyakan tentang kekasihnya itu. Arini tidak ingin mengharapkan yang tidak mungkin ia miliki.
Arini menghela napas dalam. Ia enggan menceritakan apapun lagi.
"Baiklah, aku mengerti perasaan Ibu." Allea mengangkat kepalanya dari pangkuan Arini. Ia duduk tegak, menggelung rambut dan mengecup pipi ibunya lembut. "Terima kasih Ibu, atas semua yang Ibu sampaikan padaku. Aku mencintaimu, sangat."
Kelopak mata Arini basah, Allea menciuminya berkali-kali.
"Ibu, berbahagialah dan jangan sakit lagi. Cukup sudah Ibu menyimpan beban itu. Ada aku yang selalu menjaga Ibu, menyayangi dan mencintai Ibu sampai aku mati." Allea memeluk ibunya erat.
Saat Arini masuk rumah sakit akibat penyakit maag-nya kambuh, Allea benar-benar panik. Sampai Allea memutuskan untuk tidak berangkat bekerja hingga ibunya benar-benar pulih. Arini sempat khawatir Allea akan dipecat karena mogok bekerja karena dirinya, nyatanya kekhawatirannya tidak terjadi.
Arini mengecup kening Allea. "Sakit itu sudah hilang, Sayang. Saatnya kamu istirahat."
Allea mengangguk kecil. "Aku mau tidur ditemani Ibu," rengeknya manja. Lama sekali Allea tidak bermanja layak anak kecil menginginkan perhatian ibunya.