BAB. 20 - Launching buku 101 Surat untuk Arini

1026 Words
 Seharusnya Allea datang lebih awal di acara launching buku hari ini. Bos-nya itu mengatakan, jangan ada yang terlambat. Khususnya Allea.   "Ayo, Ibu, kita sudah sangat terlambat," seru Allea agak gelisah. Allea masih bersabar menunggu ibunya berkutat memilih baju apa yang harus ia kenakan. Sedangkan Allea sendiri sudah siap sejak tadi.   "Ibu tak ingin membuatmu malu, Sayang. Ibu harus mengenakan pakaian terbaik." Arini masih terus menatap tumpukan baju dalam lemari yang tersusun rapi, beberapa baju lainnya tergantung di bagian gantungan, sempat Arini lirik, tetapi tak ada yang menarik untuk dikenakan, hingga akhirnya ia melihat baju terusan panjang berwarna putih terlipat paling atas paling kanan. Arini rasa, baju itu cocok ia kenakan, tidak terlalu mencolok dan nyaman di badan. Baju itu adalah hadiah dari ibunya di tahun pertama pernikahan Arini.   "Aku tidak akan merasa malu bagaimana pun penampilan Ibu." Allea bersedekap sambil menyandarkan bahunya di sisi pintu kamar. Matanya terus memerhatikan ibunya.   Tidak menunggu lama, Allea berdecak kagum saat melihat penampilan ibunya. Rambut Arini digelung ke atas, menyisakan sedikit rambut yang menjuntai di bagian dekat telinga. Soal merias wajah, Arini cukup terampil memoles wajah agar tampak lebih fresh dan terlihat natural, tetapi tetap cantik di pandang. Tidak lupa ia menambahkan wangi-wangian beraroma lembut pada pakaiannya.   "Bagaimana menurutmu?" Arini sudah rapi dengan penampilannya. Ia berdiri di depan kaca memantulkan bayangannya di sana.   "Sempurna, Ibu sangat cantik," kata Allea cepat, bibirnya tersenyum lebar dan segera menggandeng ibunya, "ayo kita berangkaaatt!"   "Tunggu," seru Arini menghentikan langkah Allea.   "Apa lagi, Bu?"   "Tas tangan Ibu."   Allea tertawa, ibunya kembali memikirkan tas tangan setelah sekian lama ia hanya memikirkan hidupnya yang sunyi.   ***        Saat dalam Taxi, Allea terus melihat jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30, sedangkan acara dimulai sudah sejak pukul 08:00. Itu artinya, Allea dan ibunya sudah terlambat 30 menit. Buruknya lagi, saat ini mereka masih dalam Taxi dan berkutat melawan macet.   Arini duduk tenang di samping Allea, pandangannya mengarah ke luar kaca mobil, memerhatikan jalanan yang ramai dengan segala aktivitasnya. Sudah lama sekali Arini tidak bepergian, semenjak menikah, hidupnya terkekang oleh rasa malu serta aturan yang dibuat suami. Seperti burung dalam sangkar, kebebasan itu lenyap.   Arini pikir, ia masih bisa meneruskan sekolah meski sudah berstatus istri, mengingat ia sudah duduk di kelas akhir saat itu. Kenyataannya, ia harus meninggalkan semua.   Di sekolah, Arini memang sosok yang pendiam, menutup diri, dan tidak pandai bergaul. Di saat teman-temannya sibuk bergosip di kantin sekolah, sibuk becanda-tawa, sementara ia menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Ia mencintai buku, mencintai imajinasi, mencintai karya seni. Baginya, mengembara dalam dunia fiksi dalam sebuah buku itu sungguh menyenangkan. Bahkan Arini sampai lupa waktu, ia kerap tenggelam dalam imajinasi si penulis ciptakan. Itulah sebab, ia menyukai ruang sunyi, keheningan, dan rasa nyaman tanpa adanya hiruk-pikuk keramaian yang memusingkan. Bila musim hujan tiba, Arini senang mendengar suara tetes-tetesnya. Aroma petricor, dan suara hujan deru menyerbu bumi pembuat ia merasa takjub.   'Kekasih Arini di sekolah', itulah alasan suaminya memutus segala cela agar Arini tidak dapat berkomunikasi dengan siapapun di sekolah. Tak ada teman datang berkunjung, atau sekadar mencarinya karena rindu atau apapun itu.  Arini tidak berpikir mereka tak peduli, sebab mereka memang tak pernah tahu. Satu-satunya orang yang terus mengikutinya, adalah Gilang Andreas. Ia laki-laki bebal, tetapi ia peduli pada Arini.   Arini pernah bertanya, mengapa laki-laki itu terus menguntitnya, memerhatikan setiap hari, dan tak bosan meski diabaikan. Jawaban laki-laki itu mengejutkan, ia mengatakan, kalau jiwanya sudah menyatu dengan jiwa Arini.   "Aku berpikir, dan terus menerka-nerka, mungkin di kehidupan terdahulu kita adalah sepasang kekasih saling mencintai. Kamu percaya reinkarnasi itu nyata? Ya, kita mungkin tak menyadarinya, tapi aku merasakan dorongan itu sangat kuat. Mataku terus tertuju padamu, dan perasaanku mengatakan, 'kamu adalah jodohku', aku sendiri merasa aneh. Ada sesuatu di dalam sini yang membuatku terus menerima segalanya tentangmu.   Arini, kamu tahu kita memiliki beberapa kesamaan. Yang paling kita cintai adalah imajinasi. Itu keren 'kan? Baiklah, aku pikir, tak ada salahnya bila kita menghayalkan tentang kebersamaan? Ya, yaaah, aku tahu itu terlalu jauh, tapi marilah kita bersenang-senang, memikirkan masa depan yang bahagia itu termasuk bagian dari mimpi kita. Standar hidup yang kita buat. Aku, ingin bersamamu, hingga nanti, dan sampai mati." Andreas mengatakan itu penuh kesungguhan.   Arini seketika terdiam. Ucapan Andreas langsung tercerna dan masuk ke alam bawah sadar. Arini mengerti, ia sudah banyak menghabiskan buku-buku di perpustakaan tentang apapun yang ingin dia ketahui. Kita tidak tahu, seperti apa kehidupan terdahulu. Arini penah menghayalkan, apa mungkin dulu dirinya kekasih Gilang? Atau seorang ratu mesir? Bisa saja terjadi, atau ... dia seorang babu? Entahlah, yang pasti, Gilang membuatnya merasa bahagia hanya dengan perhatian dan kata-kata.   Gilang yang jenius. Entah mengapa, Arini mulai memikirkannya. Setiap kata yang Gilang lontarkan, terus meresap dalam hati Arini. Hingga keduanya menjadi dekat bersekat sunyi. Kedua menghabiskan waktu dalam keheningan. Saat libur sekolah, Gilang dan Arini pergi ke pantai hanya untuk menikmati hening dan mendengar debur-debur ombak yang memecah kesunyian.   Kini, semuanya senyap.   'Ah, cerita itu pahit tuk dikenang', batin Arini. Gilang tak pernah tahu ia ada di mana saat ini, dan Arini pun kehilangan.   "Usia sudah menua, aku tak ingin terus menyakiti perasaan sendiri dengan mengingatnya. Seandainya ia di depan mata, aku tetap takut untuk mengungkap rindu. Sebab, perjalanan hidup sudah terlampau jauh," kata Arini pada dirinya sendiri.       "Kita sebentar lagi sampai, Bu. Bersiaplah," kata Allea membuyarkan lamunan Arini.   "Ah, iya, Sayang. Ibu sudah siap."     ***        Di halaman luas samping gedung perpustakaan, sebuah panggung berdiri megah. Seorang presiden perusahaan ternama tengah melangsungkan acara istimewa, yaitu launching buku perdananya yang bertema Cinta untuk Arini. Sebuah tulisan dibuat dari rangkaian bunga mawar segar dibuat besar menghadap panggung dengan latar belakang gambar cover buku yang berjudul 101 Cinta untuk Arini. Ada wajah Andreas terpampang di sana.   Panggung itu dipenuhi banyak bunga mawar, kuntum-kuntumnya memanjakan mata yang memandang. Lebih mirip seperti Wedding Party di banding acara launching buku. Tidak hanya para pegiat literasi yang hadir, pun mereka para pengusaha dan bisnisman.   Acaranya sudah dimulai 30 menit yang lalu, tetapi Andreas masih belum menemukan Allea di manapun. Sebentar lagi pembawa acara akan memanggilnya untuk berpidato di atas panggung. Dan benar saja, namanya sudah dipanggil dan gemuruh tepuk tangan dari para undangan sudah terdengar. Andreas tak pernah bermimpi bisa berdiri di atas panggung untuk sebuah buku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD