Bab. 21 - Tentang Kehilangan

1379 Words
Setelah membayar Taxi, Allea segera menggandeng ibunya berjalan menunju panggung. Banyak penjaga berseragam loreng dan sebagian memakai stelan jas hitam berdiri mengawasi lokasi acara.   Papan ucapan bunga berderet di sepanjang jalan arah masuk panggung. Allea tidak memerhatikan apapun yang membuat panggung itu terlihat mewah, ia sudah tahu akan seindah apa konsepnya. Tetapi tidak dengan Arini. Kakinya terhenti setiap kali membaca sebuah nama yang ditulis dari papan bunga 'atas siapa' ucapan itu ditujukan. Nama itu membuatnya gemetar.   'GILANG ANDREAS'   Arini baru menyadari, disekelilingnya banyak poster berdiri menampilkan gambar cover buku yang bertulis 101 Surat untuk Arini, oleh Gilang Andreas.   "Ibu, ayo kita duduk di sebelah sana," tunjuk Allea, tetapi Arini masih terpaku di depan sebuah papan nama dan beberapa poster yang membuat aliran darahnya terhenti.   "Ibu," panggil Allea lagi, bersamaan dengan suara seseorang di atas panggung terdengar dari mikrofon untuk menyampaikan pidatonya. Suara yang tak pernah salah untuk ditebak pendengaran Arini.   Allea menyadari ada yang aneh pada ibunya, raut wajah wanita itu sulit ia gambarkan.   "Gilang," desisnya nyaris tak terdengar. Lalu tubuh Arini terduduk di rerumputan hijau tak jauh dari panggung. Tubuhnya lemas, perasaannya campur aduk, entah harus senang atau sebaliknya.   Seorang perugas keamanan segera menghampiri Arini dan Allea yang kini duduk di taman rumput. Petugas itu hanya ingin memastikan apakah dua wanita itu baik-baik saja atau perlu bantuan. Tetapi Allea segera menahan laki-laki itu mendekat dengan memberi kode. "Kami tamu undangan dan tidak ada masalah apapun," kata Allea, dan petugas itu segera pergi tanpa banyak omong menanyai mereka lagi.  Di saat para tamu memasuki area panggung dan duduk manis di kursi undangan, Allea dan ibunya justru merosot di rumput halaman.   Suara seseorang dari pengeras suara itu memulai pidato dengan kata sambutan cukup formal. Menyebut satu persatu orang yang dianggap penting, dan berjasa dalam menyukseskan bukunya hingga hari ini ia dapat berdiri membanggakan karyanya. Ucapan-ucapan terima kasih banyak ia haturkan.   Tepuk tangan para tamu kembali terdengar. Lalu suasana menjadi hening ketika Andreas kembali bersuara.   "Saya tidak ingin berbasa-basi terlalu lama, saya rasa kita semua sudah tak tahan untuk mengetahui mengapa saya bisa memiliki buku. Yah, saya tahu sebagian dari kalian tengah bertanya-tanya, berpikir, bahkan merasa tak percaya, seorang Gilang Andreas yang gila kerja, dingin, terkesan angkuh ini rupanya memiliki kisah asmara paling malang sedunia." Andreas memasang tampang murung yang dilucukan.   Suara tawa dari para tamu terdengar, Andreas tersenyum kecil dan melanjutkan, "Ada yang tahu mengapa buku ini saya beri judul 101 Surat untuk Arini?" tanya Andreas sembari mengangkat buku yang ada di tangan kanannya.   Tidak ada yang tahu, tamu-tamu istimewa itu menatap fokus pada buku yang ditunjukkan Andreas. Sebagian ada yang berbisik-bisik, menyeru konyol, dan ada satu-dua suara terdengar asal teriak lalu terkikik. Mereka yang seperti itu tipikal tamu yang selalu bikin heboh dan seru sendiri.   Andreas menyapu wajah-wajah yang menatapnya penasaran, ia hanya ingin melihat Allea di tengah para tamu undangannya, tetapi gadis itu tak terlihat di manapun.   Sandra dan Vino, tersenyum melambai pada Andreas di kursi paling depan. Mereka tampak serasi hari ini, Andreas pikir, mereka sangat cocok jika kembali bersama. Kemudian, mata Andreas tertumpu pada laki-laki berwajah kaku duduk di barisan nomor dua, Andreas cukup terkejut melihatnya datang bersama wanita di sampingnya itu. Andreas pikir Wiranto Putra akan menggandeng istrinya, tetapi Thalita lah yang kini duduk di samping Wiranto dengan gaya manja dan sikap centilnya seperti biasa. Melihat mereka, Andreas tersenyum miring.   Beberapa tamu undangan lain, para Direktur, Kepala Direktur, CEO, Personalia, Manajer, dan Ketua Administrasinya beserta tim, dan orang-orang penting dari perusahaan lain yang Andreas lihat mereka tampak antusias. Terlebih sederet artis yang Andreas undang untuk memeriahkan acara, dan seniman lainnya. Andreas merasa, hari ini benar-benar hari istimewa dalam hidupnya.   Tidak lupa, Andreas menatap penuh cinta pada orang tua dan sahabat terkasih yang datang jauh-jauh dari luar kota. Semua berkat dukungan mereka.   "Baiklah, saya tidak ingin kalian terlalu keras berpikir." Andreas tertawa kecil, "Buku ini ... adalah sekumpulan surat-surat yang saya tulis untuk seseorang. Itu lah mengapa saya memberinya judul itu. Selain itu ...." Andreas terdiam sejenak, ia mulai memasuki tahap penting pada bagian pidatonya.   "Ada sesuatu yang sebenarnya ingin saya harapkan dari hadirnya buku ini. Terbitnya buku ini. Dan tersebar luasnya buku ini. Saya tidak menemukan cara lain, selain membuat dunia tahu, betapa saya mengharapkan pertemuan dengan seseorang. Seseorang yang mungkin sudah berbahagia bersama anak cucunya, atau terbaring lemah di ranjang rumah sakit, atau ... dia ada di sini. Tapi opsi terakhir, itu tidaklah mungkin. Tolong, jangan tertawakan saya," kata Andreas melucu di akhir kalimatnya.   Gelak tawa kembali terdengar, tetapi sebagian orang mulai meresapi sebuah kehilangan cinta sejati. Bicara cinta, semua orang sepakat bahwa satu kata itu banyak menghadirkan tawa, juga air mata.   "Kalian pasti tidak akan mengenalnya, siapa Arini itu? Jangankan kalian, saya pun tidak tahu. Saya hanya mencintainya, hingga saat ini, dan sampai mati. Andai saya tahu ia di mana, mungkin saya tak pernah menulis surat sebanyak ini. 101 surat itu bagian terkecil yang saya bukukan, selebihnya, ada puluh ribu surat yang saya simpan hingga usang."   Andreas sekilas mengisahkan kebersamaan singkatnya dengan Arini semasa sekolah yang berakhir perpisahan, di akhir cerita itu, dua orang memasuki panggung dan membawa beberapa kotak besar, lalu menaruh kotak-kotak besar itu di samping Andreas. Andreas memberi kode untuk membuka sebuah kotak besar.   Para tamu yang menyaksikan kelakuan langka Andreas menganga, si tua itu benar-benar gila. Surat-surat beraplop putih dalam kotak itu sebagian warnanya sudah menguning, pertanda surat itu sudah lama sekali mendekam di sana. Tidak benar-benar rusak, kotak itu dirawat dengan baik.   "Boleh saya memilikinya satu?" tanya seorang tamu laki-laki yang duduk di kursi paling ujung. Andreas melempar senyum padanya.   "Saya mohon maaf untuk itu. Surat-surat ini tidak untuk saya berikan pada siapapun. Tapi siapapun bisa membacanya di perpustakaan saya. Kalian bisa lihat bangunan di samping, ini perpustakaan yang saya bangun atas mimpi saya bersama Arini. 'Rumah Cinta' adalah nama yang saya berikan untuk perpustakaan ini. Kalian boleh singgah kapan saja, kami membukanya selama 24 jam. Akan banyak buku-buku keren yang bisa mengembalikan semangat dalam diri kalian. Saya ingin, budaya membaca itu kembali, menghargai buku, menghargai kerja keras penulis, dan pesan-pesan tersirat yang disampai disetiap kisah. Temukan sesuatu dalam setiap lembarnya, banyak belajar pada idealisme yang berbeda. Kalian akan jujur pada diri sendiri, seperti sebuah kutipan populer, bahwa membaca adalah jendela dunia. Saya yakin, kalian yang kini duduk di hadapan saya, bisa meraih kesuksesan dengan cemerlang, meski kalian bukan sejenis kutu buku seperti saya, tetapi saya yakin, kalian sukses karena membaca. Membaca diri, membaca kondisi, membaca apapun yang menurut kalian perlu dibaca dan menjadikan hasil bacaan itu sebuah peluang menuju kesuksesan."   Suasana menjadi berenergi, wajah-wajah itu menyimak penuh semangat.   "Semua surat, lengkap dengan titimangsa, kapan dan di mana surat itu saya tulis. Kalian bisa membaca sesuai urutan waktu. Saya pastikan, kalian akan masuk ke dunia sunyi, dunia paling hening yang saya ciptakan bersama rangkaian kata di dalamnya. Seolah kalianlah Gilang Andreas yang malang. Kehilangan, keterpurukan, kebangkitan, dan kembali pada diri sendiri, bahwa hidup sangatlah berharga."   Seluruh ruangan bertepuk tangan, Andreas melihat mata-mata itu mulai berkaca-kaca, para wanita terdiam, mereka terisak diam-diam, mungkin sebagian dari mereka mengalami nasib yang sama, tetapi seseorang tak kunjung bertindak seperti yang Andreas lakukan, atau bisa jadi takdir membawa mereka benar-benar kehilangan harapan.   "Kalian jangan cemas, seluruh undangan akan mendapat satu buku untuk masing-masing orang beserta bingkisan cantik dari saya yang mungkin bagi kalian tak seberapa. Karena kalian sudah meluangkan waktu berharga hanya untuk duduk di sini dan mendengar ... cerita menyedihkan. Sesungguhnya, saya hanya ingin berbagi rasa bahagia yang meletup-letup di hati saya.   Saya berterima kasih pada saya sendiri karena sudah kuat melewati semuanya meski tertatih. Buku ini ada, karena doa-doa yang terpanjat. Saya menyesali, mengapa buku ini sangat terlambat dihadirkan. Tak apa, setidaknya inilah usaha terakhir saya.   Untuk kalian, I love you all."   Andreas mengakhiri pidato panjangnya, semua hadirin serentak berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan. Riuh, menggema, dan membuat semua orang memiliki energi baru.   Andreas ingin menyampaikan, bahwa kepedihan atas kehilangan sesuatu yang dianggap berharga, bukan hambatan seseorang meraih kesuksesan. Jatuh, lalu bangkit. Jatuh lalu bangkit. Bangkit yang benar-benar bangkit. Cari jalan terangmu sendiri dan taklukan dunia. Semua orang memiliki kisah hidupnya masing-masing. Kekelaman hidup dalam berumah tangga, keegoisan tentang cinta, ketidakberdayaan akan kondisi, atau kegilaan nafsu, semua cermin kehidupan itu memiliki kandungan hikmah. Setiap hitam pasti ada putih. Setiap tawa akan ada air mata. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD