“Apa-apaan lo!”
“Dia hina aku, Kak!” ucap Sila dengan kedua bahu bergetar, air matanya pun berjatuhan.
Namun, Tania tidak mau kehilangan kesempatan itu, ia memegang pipinya sambil merintih mengambil perhatian Faris sehingga laki-laki itu iba padanya dan menyalahkan Sila.
“Aku cuman nyapa dia, Sayang. Tapi, dia masih dendam sama aku, dia bales nampar aku!” ucap Tania membuat Sila terpojok, wanita hamil itu menggelengkan kepalanya.
“Sumpah, enggak, Kak! Tadi, dia yang hina Sila. Dia bilang aku itu murahan dan anak ini anak haram─”
“Emang bener, kan?” potong Faris menatap tajam pada Sila penuh benci.
“Kak,” lirih Sila menggeleng lemah.
Faris meraup wajahnya, lalu meminta Tania berdiri tepat di belakang punggung lebarnya itu, tak lupa jari telunjuk Faris yang senantiasa mengarah pada wajah Sila setiap kali berbicara pada wanita itu.
“Kalau tania ngomong gitu, apa salahnya? Itu kenyataan, harusnya lo sadar dan terima kalau lo emang murahan, terus anak itu juga termasuk sama!” ucap Faris murka, dia baru saja berbaikan dengan Tania, sudah ada masalah lagi.
Sila terdiam, tetapi air matanya semakin deras mengalir dari kedua sudut matanya. Ribuan pisau seakan menancap di dadanya yang sesak itu, hanya karena dia terpaksa meminta tolong mengambilkan minuman, lantas mendapatkan masalah sebesar itu. Melihat wanita hamil itu terdiam dengan air mata yang menganak sungai sedikit menyentil hati Faris, tampaknya dia telah berbicara keterlaluan sampai Sila terdiam dan hanya air mata yang berbicara.
“Sil─”
“Makasi minumnya, Kak. Aku janji nggak akan nyusahin kamu lagi.” Sila merebut botol minuman itu, lalu pelan-pelan berjalan menuju kamarnya, ia pun menutup rapat pintu kamar itu.
“Argh!” Faris mengerang sambil menggosok wajahnya.
“Udahlah, Sayang, biarin aja!” ucap Tania, lalu mengajak Faris ke balkon atas. Tania merasa berkuasa di rumah itu, sebab dulu Faris pernah mengatakan kalau seandainya mereka menikah maka Faris akan mengajak Tania tinggal di sana. “Cewek nggak tau diri itu emang sekali-kali harus dikerasin, biar dia nggak manja dan tau diri, Sayang! Kamu nggak salah udah maki-maki dia, sok polos, tapi munak!”
Faris mengangguk samar, ucapannya memang tak pernah lembut pada Sila sejak mereka menikah, bahkan ia sering berkata kasar dan menyindir Sila di rumah sakit kemarin. Tetapi, hari itu rasanya menjadi yang paling kasar dari sekian kata yang terucap untuk Sila, sebab bukan hanya ada mereka berdua, ada Tania yang tentu saja membuat Sila dirasa sangat rendah.
“Kamu mikirin dia, Sayang?” Tania meregut. “Bukannya, kita udah sepakat kalau Sila udah lairan, kamu bakal cerein dia dan kita nikah, hem? Harusnya, kamu nggak kepikiran dong!”
“Iya, maaf.” Faris menyunggingkan senyumnya, tadi mereka telah membuat kesepakatan yang akhirnya bisa berbaikan.
Tania tersenyum puas, dia berhasil membuat Faris percaya dan membela dirinya di depan Sila, beruntung Faris itu bukan tipe anak yang ke mana-mana harus bersama orang tua, jadi dia lebih leluasa mengendalikan laki-laki itu tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Lagipula, Tania jengkel mengingat gara-gara kehadiran Sila, rencananya dikenalkan dekat dengan keluarga Faris berakhir batal.
Sementara itu, Sila yang sejak tadi mengurung dirinya di kamar tak berhenti menangis meskipun berulang kali mual dan muntahnya datang, justru semakin membuat dirinya merasa sakit. Sejak awal mengetahui dirinya menghabiskan malam dengan Rendi, ketenangan dalam hidupnya telah dicabut. Dan sekarang, ketidakadilan seolah terus menggulungnya tanpa sisa. Tidak ada yang mau mendengar dan mengerti, apa pun yang dia lakukan tetap akan salah dan hina di mata orang-orang. Sila tak kuasa menahan rasa sakitnya, itu teramat sakit dengan semua penghinaan yang ada, menangis saja tidak akan cukup. Mentalnya diserang habis-habisan, ia tahu dirinya bersalah karena terlalu percaya pada Rendi, tidak masalah kalau hanya dirinya yang disalahkan, Sila akan menerima itu. Hanya saja, tadi mereka membawa dan mulai menghina anaknya yang tidak berdosa.
“Sakit, aku nggak kuat!” ucap Sila mulai menampar pipinya sendiri. “Aku nggak kuat, nggak kuat!”
“Aku salah, aku yang salah! Bukan anakku!”
“Salahin aja aku! Jangan anakku!”
Lagi dan lagi, bukan hanya menampar pipinya saja, Sila juga menggigit lengannya hingga membekas dan berdarah, lalu mencubit kakinya begitu kuat, kulitnya pun berubah biru memar. Entah berapa lama Sila menyiksa dirinya sendiri untuk melampiaskan rasa sakitnya, tubuhnya terkulai lemas dan matanya terpejam. Wanita itu tertidur, setelah berhasil melampiaskan semua rasa sakitnya, pun kelelahan.
Lewat tengah malam, Faris kebetulan ingin sekali memasak mie. Tadi, Tania sudah mengajaknya makan, tetapi menu pilihan Tania masih membuatnya merasa lapar. Langkahnya terhenti begitu berada di ujung anak tangga, ia pun menoleh ke arah kamar Sila. Lampu kamarnya masih menyala, di meja dapur juga tak ada piring kotor atau piring yang baru dicuci, tidak ada juga peralatan masak yang dipakai, nasi kotak yang dia belikan tadi sore juga masih utuh di meja.
“Sil!” panggil Faris menggetuk pintu kamar itu, Sila sepakat selalu membuka pintu kamarnya kemarin, tetapi itu tertutup rapat.
“Sila!” lagi, Faris mengeraskan suaranya. “Sila, lo di dalem?”
“Sila!”
Jantung Faris berdetak cepat dengan pikiran yang macam-macam, dadanya dihimpit rasa takut akan terjadi sesuatu, bisa saja Sila kabur saat dirinya sibuk bersama Tania dan itu akan menjadi masalah besar. Dengan cepat Faris membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci, hanya saja canggung bila dirinya masuk tanpa izin.
“Sil,” panggilnya pada wanita yang tengah tertidur membelakanginya itu, Faris berjalan mendekat, tangannya hendak menggoyangkan lengan Sila, tetapi bekas luka di sana membuatnya terbelalak. “Sila!”
Sila membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa sangat lemas dan lemah. Hal pertama yang dia lakukan saat melihat Faris di depannya, yakni tertawa kecil sembari menangis.
“Jangan sentuh aku, aku kotor, aku murahan!” ucap Sila melantur, menepis tangan Faris yang hendak memeriksa lukanya.
“Lo luka!”
Sila menggelengkan kepalanya, masih menepis tangan Faris yang tampak cemas. “Sana, Kak! Nanti, kamu ikutan jadi haram kalau deket aku sama anak ini!”
Faris terkejut mendengarnya, bekas-bekas luka itu kemungkinan besar Sila sendiri yang membuatnya karena merasa tertekan. Faris bukan anak kemarin sore yang tidak tahu masalah seperti itu, apalagi Sila hanya di kamar seorang diri.
“Lo luka, gue obatin ya?” Faris mencoba membujuk Sila, tetapi wanita itu terus menolak. “Sila ... lo luka! Nanti, lo sakit!”
“Kenapa emangnya kalau aku sakit?” balas Sila menantang, wajahnya kembali basah.
“Kita bahas itu nanti, biarin gue obatin lo dulu!”
“Enggak, jangan!” jawab Sila menjauhkan tangan Faris dari tubuhnya.
“Sila ...─”
“Kenapa? Biarin aku sakit! Lagian, kalau aku sakit, anak haram ini juga akan sakit, terus kita mati bareng. Dan kamu nggak akan kesusahan, kan?” Sila menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu terisak-isak. “Kenapa kalian nyebut anakku itu anak haram? Silakan hukum aku sesuka kalian, jangan anakku!”
Faris terdiam membeku, sedahsyat itu efeknya pada Sila.
Sila berdiri mengambil tangan Faris, meletakkan tangan itu ke wajahnya. “Pukul aku, Kak! Maki aku! Tapi, jangan anakku! An-anakku nggak salah, Kak! Dia nggak salah!”
“Pukul aku! Maki aku!”