Bab 6. Lo, Sumber Kesialan!

1162 Words
Berulang kali Sila memastikan pintu kamar inapnya tidak terbuka sampai telapak kakinya menyentuh lantai dingin rumah sakit itu, semalam Faris melarangnya untuk berbuat sendiri karena itu akan membahayakannya. Tetapi, Sila tidak ingin merepotkan laki-laki itu lagi, kehadirannya sudah sangat menyusahkan Faris hingga hubungan percintaan laki-laki itu bermasalah, ia tidak mau menambah beban sekarang. “Aww!” pekik Sila begitu kedua kakinya berhasil mencapai lantai, seperti sangat asing, padahal dulu dia suka sekali jalan dan banyak tingkah. Ia meraba perut ratanya itu dari bawah hingga atas, memutar sebentar seolah memberi pengertian pada sang buah hati kalau mereka harus mandiri meskipun itu sulit. Selangkah demi selangkah berhasil Sila tapaki, bibirnya mulai menyunggingkan senyuman, tetapi begitu terdengar suara Faris sedang berbincang di luar, Sila bergegas kembali ke brankar. “Lo ketauan!” kata Faris berdiri di ambang pintu, wanita itu terperanjat, hampir saja Sila terjungkal karena sebelah kakinya hendak terangkat. “Selain sok polos, lo juga penipu, iya?” Sila menunduk sambil meremat jemarinya, sama sekali tidak berani membalas tatapan Faris. “Dugaan gue bener, kalau sakit yang lo rasain itu cuman tipu daya lo supaya semua khawatir dan takut, terus kalau ada apa-apa mereka jadi nyalahin gue dan makin bikin gue sial, iya?” “Enggak, Kak, sungguh!” jawab Sila mendongak menatap Faris, matanya kembali merebak, ia menggeleng kuat. “Aku cuman nggak mau ngerepotin kamu,” ucapnya. “Omong kosong!” ucap Faris menendang sedikit kursi di depannya itu. “Sumpah, Kak! Kakak udah repot karena harus nunggu aku di sini, aku nggak mau semakin nyusahin,” balas Sila bersungguh-sungguh, ia bahkan hampir menangis membela dirinya sendiri. “Rasanya masih sakit, tapi─” “Argh! Kebanyakan omong lo!” potong Faris dengan nada tingginya yang khas, ia pun menatap tajam Sila. “Jangan nambah-nambahin kerjaan gue! Semakin lo berulah, semakin susah gue, ngerti?” Wanita hamil itu mengangguk, menyeka air mata yang menetes di pipinya cepat. “Dalam minggu ini, lo harus udah pulang. Dan ... gue udah urus buat pindah dari rumah mama, gue nggak suka mereka ikut campur, jadi lo ikut gue tinggal di rumah lain!” Faris menunjuk wajah Sila yang tampak ketakutan. “Jangan mikir aneh-aneh! Gue bawa lo tinggal di rumah lain biar mereka nggak ngelarang gue tidur pisah sama lo, nggak sudi gue sekamar!” Sila hanya bisa diam meskipun rasanya ingin sekali berteriak dan menangis histeris, masih beruntung Faris menampung dirinya meskipun harus dianggap asing, daripada laki-laki itu membuangnya ke jalanan yang tak tahu pasti dirinya bisa selamat atau tidak. Tubuhnya pasrah begitu Faris menggendongnya berbaring kembali ke brankar, sekali lagi Faris mengingatkan Sila untuk patuh. “Inget! Lo, sumber kesialan gue. Jadi, jangan berulah atau gue makin susah!” ucap Faris sembari mendorong kening Sila. “Masih untung juga gue nikahin lo, kalau enggak, lo bisa diarak keliling karena perbuatan b***t lo itu!” “Kak, waktu itu aku─” “Diem! Gue nggak akan kemakan rayuan lo, palingan Rendi ninggalin lo karena sebelumnya lo udah pernah main sama cowok lain, kan?” “Demi Allah, enggak, Kak!” jawab Sila sampai mengeraskan suaranya. “Jangan bawa-bawa Tuhan! Kalau lo asli, nggak mungkin Rendi ninggalin lo!” ucap Faris lantas meninggalkan ruangan itu. Sila memejamkan matanya seiring dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya itu, entah harus dengan apa ia membuktikan kalau penilaian Faris itu salah, waktu itu sama sekali Sila tidak tahu kalau Rendi akan menjebaknya, sedangkan Rendi sangatlah baik dan selalu menepati janji sehingga semua orang percaya. Ia tidak melakukan perbuatan itu dengan senang, Sila berani bersumpah, tetapi semua itu percuma, Faris tidak akan mempercayainya. Bahkan, pesan terakhir Rendi pun tidak membuat Sila aman dari tuduhan itu. *** Satu minggu Sila dirawat di rumah sakit, sore itu Mia datang untuk menjemputnya pulang. Wanita yang telah menjadi ibu mertuanya itu sangat perhatian dan meminta Sila menginap lebih dulu di rumah utama, akan tetapi dengan keras Faris menolak. Sikap Faris masih sama, keras dan tidak mau mendengarkan apa pun yang Sila ucapkan, tetapi terkadang juga membuat Sila bingung karena mendadak membuat aturan agar Sila melakukan apa pun yang merepotkannya, sedangkan sejak hari itu Sila sangat patuh. Langit berubah senja, Sila berulang kali melihat ke arah pintu kamar yang sengaja dibuka, siapa tahu Faris lewat sehingga ia bisa meminta tolong laki-laki itu mengisi botol air minumnya. “Dia nggak bilang kalau mau ke luar, tapi kok nggak turun ya?” gumam Sila meyakini Faris ada di rumah itu, mereka hanya datang berdua dan rencananya tinggal berdua saja. Kebetulan kamar Sila berada di bawah dan menghadap ke arah tangga, begitu mudah baginya melihat Faris untuk meminta tolong apa pun. Akan tetapi, cukup lama Sila menunggu dan rasanya tak tahan lagi, ia sangat kehausan. Perlahan Sila menurunkan kakinya dengan rasa takut. “Aku nggak punya nomornya lagi, kalau aku teriak dari bawah, dia marah nggak ya?” gumam Sila lagi, kakinya sudah menginjak lantai, tetapi ia takut Faris marah. “Aku haus banget,” ucapnya lirih. Sila memutuskan untuk memanggil Faris dengan sedikit berteriak. “Kak! Kak Faris! Kak!” Tidak ada jawaban, Sila benar-benar dilanda kebingungan, tetapi yang pasti tenggorokannya sangat kering. Wanita itu nekat untuk berdiri dan berjalan pelan-pelan ke dapur yang tak jauh dari kamarnya, sempat Sila melongo ke atas di mana kamar Faris berada, pintunya terbuka dan lampunya mati, itu artinya Faris tidak ada di rumah. “Ayo, ayo, bisa!” ucap Sila menyemangati dirinya sendiri sambil mengatur nafas. “Sedikit lagi, sedikit lagi, Sila, ayo!” Namun, seperti waktu itu, disaat sedikit lagi langkahnya sampai di pintu dapur, pintu utama terbuka menampilkan Faris dan Tania yang tampak mesra, mereka seperti baru saja berbaikan. Mata Faris menyalang begitu melihat Sila berdiri di depan dapur, ia pun bergegas menyusul wanita itu. “Ris!” “Emang lo suka bantah ya, hah?” bentak Faris berkacak pinggang di depan Sila. Sila mengangkat botol kosongnya. “Ak-aku haus, Kak. Tadi, aku nungguin kamu, aku panggilin, tapi nggak ada jawaban. Jadi, karena aku haus banget, aku jalan pelan ambil air di dapur,” jelasnya. Pandangan Faris jatuh pada botol itu, tadi saat dia pergi sepertinya lupa memeriksa sisa air di botol minum Sila, peralatan di rumah itu juga masih terbatas, belum ada teko air yang bisa disimpan di kamar Sila supaya tidak repot ke dapur. “Gue ambilin, duduk situ!” Faris merebut botol dari tangan Sila sembari menunjuk kursi di dekat sana. Sila mengangguk, mata sabitnya berkedip-kedip tidak melihat Tania sama sekali, fokus melihat kedua kakinya. Tetapi, kaki dengan sandal mahal itu menghampirinya, membuat Sila mendongak dengan tatapan bingung. “Pembawa sial!” makinya, sedangkan Sila masih diam. “Awas lo berani godain cowok gue di rumah ini! Faris bukan Rendi yang doyan dateng ke club malam buat nawar cewek murahan kayak lo!” “Ak-aku nggak murahan,” sanggah Sila. “Terus, apa namanya kalau mau tidur bareng sampe hamil, hah? Jual diri buat nyetak anak haram?” Sila berdiri, lalu mengayunkan sebelah tangannya menampar pipi mulus Tania. “SILA!” teriak Faris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD