Bab 3. Kegaduhan Di Hari Pernikahan

1516 Words
“Aku punya Tania, Ma! Dia─” “Tapi, Sila mengandung cucu Mama, keponakan kamu, Ris! Darah daging asli keluarga Narendra!” potong Mia penuh penekanan, mata wanita itu merebak merah dan tentu saja itu menjadi salah satu kelemahan Faris, hatinya kecewa dan hancur. Yudha menepuk bahu putra sulungnya itu, dengan perasaan sedih dan berat hati, ia memohon. “Tolong, nama baik kita semua dipertaruhkan di sini, Nak!” Faris berteriak sembari meninju angin, sejak kecil selalu saja dia yang harus menjadi korbannya. Tidak peduli sesalah apa Rendi dalam keluarga mereka, Faris yang harus bertanggung jawab untuk adiknya itu. Bahkan, keluarga besar lebih menilai dirinya yang nakal dibandingkan pelaku aslinya, yakni Rendi. Dan sekarang, untuk kesekian kalinya dia harus bertanggung jawab atas perbuatan Rendi. Parahnya, bukan persoalan kecil atau yang melibatkan uang, tetapi soal wanita yang telah mengandung benih adiknya itu. Harga dirinya benar-benar hancur tanpa ada pembelaan sama sekali. Jarum jam terus berputar, tidak ada kesempatan lagi untuk berkilah, Rendi pun tidak akan kembali atau kalau mereka mau mencari, pasti membutuhkan waktu yang lama, sementara pernikahan sederhana di rumah itu harus segera dilaksanakan. Dihadiri beberapa kerabat dan rekan bisnis, Faris terpaksa harus menjadi suami pengganti untuk Sila. Semua orang terkejut melihat siapa yang duduk di kursi berbalut kain putih itu, Faris dan Rendi bukan saudara kembar, jadi mereka pun terheran-heran sebelum akhirnya menerima saja sebagai tamu. Sebelum Faris mengucapkan kalimat sakral itu, ia sempat memejamkan matanya cukup dalam begitu menyadari Tania berada di sana. Di hadapan semua orang dan kekasihnya itu, Faris menikahi Sila dan sah menjadi istri wanita yang baru ditemuinya itu. Sesaat setelah dia diucapkan, Faris segera bangkit dari duduknya, bersamaan dengan itu Tania mengamuk tidak terima, wanita itu maju dengan tangan yang siap mencekik leher Sila. “Dasar murahan!” ucap Tania pada Sila “Tania, stop! Aku bisa jelasin ini, Sayang. Ikut aku!” ucap Faris setelah akad nikah berlangsung dan telah sah menjadi suami dari Sila. Faris menahan Tania dan mengajaknya berbicara berdua, meninggalkan Sila begitu saja. “Aku terpaksa, sumpah! Rendi kabur dan acara ini harus tetep berlangsung atau kalau enggak nama baik keluarga dan usaha kita hancur!” Tania menepis tangan Faris. “Kamu lebih pentingin nama baik keluarga daripada aku, hah?” “Sumpah, Sayang, ini cuman demi itu! Aku nggak ada rasa sama tuh cewek, mana dia udah bunting anaknya Rendi. Aku cinta sama kamu, Tania. Kamu harus percaya itu!” Faris memohon pada belahan jiwanya itu, ia pun menarik Tania dalam dekapan meskipun Tania memberontak tidak mau. “Aku cuman cinta sama kamu, Tania … setelah Rendi ketemu, semua ini pasti berakhir, oke! Percaya aku!” Tania masih memberontak tidak terima, hatinya sakit dan kecewa, ia datang ke sana sebagai calon istri Faris yang telah menjalin kasih lama, bukan sebagai tamu undangan terpahit di mana harus melihat kekasihnya menjadi suami wanita lain. “Aku benci kamu!” “Nggak, Tania, nggak! Jangan!” Sila kembali memundurkan langkahnya, tadi ia ingin menyampaikan kalau Mia mencari keberadaan Faris, akan tetapi hatinya tidak sanggup mendengar semua ungkapan dari sepasang kekasih yang tersakiti itu meskipun dirinya juga termasuk korban. Tidak ada cinta dalam pernikahan itu, baik dari ayah bayi yang dia kandung dan laki-laki yang menikahinya, mereka tidak mencintai Sila sama sekali. Sila menghapus air matanya cepat, lalu kembali lagi ke kamarnya, lagipula dia tidak mungkin bergabung dengan yang lain, bahkan mereka juga tidak tertarik dengan kehadirannya sebagai keluarga. Terlebih lagi setelah tahu bukan Rendi yang menikahinya, melainkan Faris, selain itu mengetahui Sila berasal dari keluarga biasa di desa. “Sil,” panggil Mia sembari memperbaiki rambutnya. “Mana suamimu?” Hati Sila berdenyut mendengar sebutan yang belum pantas dia sandang itu, sebab di luar sana laki-laki yang dianggap suami untuknya sedang bersama wanita lain lagi tak mencintainya. “Ka-kak Faris di luar, Ma. Aku mau ke kamar ya, Ma. Boleh?” Sila menekan perutnya sedikit, seolah-olah sedang merasa ingin muntah. “Oh, iya-iya. Jangan lupa ke kamar atas ya, kamu tidur di kamar Faris!” jawab Mia mendorong Sila menaiki anak tangga. “Tap-tapi, Ma─” “Udah-udah, sana!” desak Mia benar-benar mengantarkan Sila ke kamar Faris. Sila terpaksa mematuhinya meskipun berada di kamar Faris itu haknya sebagai istri, sekali lagi dia harus ingat kalau pernikahan itu terpaksa dan dia tidak berhak sama sekali, mengingat bagaimana Faris sesayang itu pada Tania, hati Sila kembali terasa nyeri. Bahkan, lebih sakit daripada dia harus kehilangan Rendi meskipun diantara mereka belum ada cinta sama sekali. Walaupun begitu, Faris tetaplah suaminya. Entah berapa lama Sila berada di kamar itu, tadi begitu selesai muntah tanpa sadar Sila tertidur sambil duduk di sofa kamar dan terbangun saat langit berubah senja. Kamar Faris seperti kamar-kamar hotel bintang lima yang pernah Sila lihat di berita dulu, perlahan wanita itu menutup tirai kamar, lalu beranjak ke luar, tampaknya dia akan kesulitan menghapus make up itu sendiri, terlebih lagi ada sanggul kecil di rambutnya. Ia pun memutuskan mencari maid di rumah itu atau sang ibu mertua untuk membantu. “Eh!” Sila terperanjat, wanita cantik yang tidak lain kekasih Faris itu ternyata berdiri di depan pintu kamar dengan menatapnya tajam. “Maaf, Mbak nyari siapa ya?” Tania tertawa sumbang, lalu mendorong bahu Sila. “Mbak? Mbak lo bilang, huh? Dasar pelakor kolot!” “Lo tau siapa gue, huh?” tanya Tania menarik dan mencengkram kedua lengan Sila yang ketakutan. “Gue pacar sekaligus calon istrinya Faris dan gara-gara lo ... gue kehilangan semua itu, b******k!” Sila memejamkan matanya begitu Tania mendorongnya hingga membentur meja laci yang ada di samping pintu kamar Faris. Rasanya sangat sakit, tetapi tidak bisa untuk mengeluh sekarang. “Mb-mbak, aku minta maaf─” “Maaf?” potong Tania mencapit dagu Sila sehingga wanita itu bersitatap dengannya. “Emang lo pikir dengan maaf, semua bakal balik, hah? Di sini, gue yang jadi korban. Gue harus rela pacar gue nungguin cewek murahan hamil sampe lahiran, padahal itu anak haram, anak hasil hubungan gelap, anak nggak bernasab dan bukan anaknya, ngerti?” Sila merintih, tangan Tania sudah berpindah mencengkram kedua sisi pipinya. Entah ke mana semua orang di rumah itu, bahkan tidak ada yang datang untuk melerai mereka. “Ak-aku bisa jelasin ini, Mbak!” “Persetan!” Tania menampar Sila hingga wanita itu tersungkur, lalu dia bangunkan lagi dan menamparnya sangat kencang, lagi dan lagi Sila terjatuh sambil mendekap perutnya. “Kenapa? Sakit?” Sila mengangguk. “To-tolong, Mbak. Perut aku sakit banget, tolong!” “Emang gue peduli, huh? Sekalian aja anak lo yang haram dan pembawa sial itu ke luar, terus mati!” ucap Tania bersungut-sungut, walaupun Faris tadi sudah berjanji padanya untuk menyelesaikan masalah itu cepat, tetapi amarahnya sudah lebih dulu meledak dan Tania hanya ingin Sila merasakan sakit hati yang ia derita. “Tol-tolong, Mbak!” pinta Sila sekali lagi, perutnya kram hebat dan seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Sila meraih kaki Tania dan berpegangan kuat di sana. “Mbak, tolongin aku! Sakit banget, Mbak, sakit!” Tania mengibaskan kakinya, menepis tangan Sila dari sana dan berusaha agar wanita itu menjauh. Akan tetapi, cairan merah yang tak lain darah mengalir dari celah paha Sila membuatnya menganga. Tubuh Tania seketika gemetaran, ia menunjuk frustrasi darah yang mengalir di kaki Sila itu. “Da-darah?” Tania menggigit jarinya, ia mulai panik. “Heh, gue nggak apa-apain lo, kenapa lo gini banget?” Tania berjongkok, menepuk kedua sisi pipi Sila yang mulai melemas dan hanya merintih lirih meminta tolong. “Sa-sakit, tolong!” Tubuh Tania merinding hebat, wanita itu bergegas turun mencari Faris yang baru saja mengantar para keluarga pulang, begitu juga Mia dan Yudha. Dengan wajah panik setengah pucat, Tania mengatakan kalau Sila sekarat di atas. Mendengar itu, Faris dan Yudha berlari ke atas, mereka menemukan Sila sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kedua kakinya. Mia reflek menjerit kaget, di sisi lain Tania ketakutan karena sejak tadi hanya dia yang bersama Sila. “Bawa Sila ke rumah sakit, Ris!” titah Mia langsung diangguki Faris, laki-laki itu lantas menggendong Sila menuju mobilnya dan mereka semua pergi ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Tania berubah bungkam. Tadi, dia hanya ingin melampiaskan amarahnya, menegaskan pada Sila soal posisi mereka dan derita yang dia rasakan. Tetapi, sama sekali Tania tidak menyangka kalau perbuatannya akan membuat Sila seperti itu. Sesampainya di rumah sakit, Tania tidak berani bertatapan dengan Faris, ia memilih duduk di luar sembari menunggu kabar lanjutan. Namun, tidak cukup sulit bagi Faris mengetahui alasan kondisi Sila bisa seperti itu, rumah mereka dilengkapi CCTV sehingga Faris bisa mengetahui sebab semua itu dengan mudah. Ia pun bergegas ke luar menemui sang kekasih. “Sayang, aku bisa jelasin! Ini nggak kayak yang kamu kira, aku tadi-aku tadi cuman sama Sila itu─” “Apa?” Faris menunjukkan ponselnya, di sana rekaman CCTV bisa diputar ulang. “Mau jelasin ini?” Tania menggelengkan kepalanya. “Ak-aku berani sumpah kalau tadi nggak sengaja, Sayang!” “Nggak sengaja?” Faris meraup wajahnya sambil menghela nafas. “Gara-gara kamu nggak bisa ngendaliin emosi, Sila bisa keguguran, Tania! Dan kita dalam masalah.” “Bukannya, itu baik buat kita, Sayang?” Tania membekap mulutnya. “Baik?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD