“Jadi, kamu belain cewek murahan itu? Cewek bekas yang udah hamil di luar nikah dan maksa kamu jadi suaminya? Kamu cuman dijebak, Ris!” Tania mengepalkan, memukul dan mendorong Faris untuk menjauh.
Faris menangkap kedua tangan Tania, lalu menggenggamnya supaya berhenti untuk memberontak. Mereka sedang berada di tempat umum, banyak pasang mata yang memperhatikan, sedangkan Sila dilarikan ke rumah sakit masih memakai baju pernikahan.
“Kita bicarakan ini nanti, oke?” Faris menarik Tania hingga tersisa sedikit jarak di antara mereka, menatap lekat kedua bola mata basah itu.
“Aku nggak mau! Sekarang, kamu pilih anter aku pulang atau cewek sialan itu!” gertak Tania melepaskan tangan Faris, melihat Faris hanya diam saja dan tak kunjung menjawab, Tania pun tertawa kecil. “Lebih baik kita putus nggak sih kalau gini?”
“Tania ....”
Wanita itu mundur dan menggelengkan kepalanya, menepis setiap kali Faris hendak meraih tangannya itu. Sekian lama menjalin hubungan, baru sekarang mereka bertengkar hebat, itu pun Faris tidak bisa mengejar dirinya seperti biasanya.
“Oke, kalau kamu emang keras kepala. Terserah, pulang sana!” ucap Faris membuat mata kekasihnya merebak merah dan basah. “Aku emang cinta sama kamu, tapi kalau kamu salah, aku bakal akan tetep salahin, nggak ada pembelaan, Tania. Yang kamu lakuin berbahaya, bukan cuman buat Sila, tapi juga nama baik kamu, tapi kamu nggak ngerti. Sekarang, silakan kalau mau pergi, sana!”
Setelah mengucapkan itu, Faris benar-benar meninggalkan Tania daripada emosi semakin menguasai dirinya sehingga suasana semakin buruk, sedangkan Tania terpaksa menelan kembali air matanya dan pulang dengan taksi. Itu pertengkaran pertama mereka dan tidak pernah Faris meninggalkannya seperti itu, sepanjang perjalanan Tania menangis sambil terus mengumpat dan memaki Sila, ia berjanji akan membalaskan sakit hatinya malam itu suatu hari nanti. Faris harus berada di pihaknya, bukan wanita hamil di luar nikah itu.
Di rumah sakit, Faris terperanjat begitu Mia meminta dirinya lah yang akan bertanggung jawab pada Sila selama masa perawatan, sebab sekarang status Faris bukan lagi sekadar keluarga untuk Sila, melainkan seorang suami.
“Apa masih kurang aku nikahin dia, Ma? Masih kurang juga harus akuin anak yang dia kandung itu anakku juga?” Faris ingin memaki Sila, tetapi tidak mungkin di hadapan ibunya, ia tampak sangat kesal karena kehadiran Sila membuat hubungannya dengan Tania berantakan.
Mia mengaku bersalah dan menyadari itu, tetapi ia tidak mungkin melemahkan posisinya di depan Faris, tidak ada lagi yang bisa diandalkan selain putra sulungnya itu, ia pun hancur dengan kenyataan yang Rendi bawa.
“Mama nggak mau tau, kamu harus jagain Sila. Kalau ada apa-apa, Mama nggak akan maafin kamu!” ucap Mia terdengar egois, lalu mengajak suaminya pulang begitu semua urusan administrasi diurus.
Kilatan benci tampak jelas di mata Faris untuk Sila meskipun ia tahu Tania bersalah dan kondisi wanita hamil itu sedang lemah lagi kasihan. Sila membuat dirinya tega membentak Tania, bahkan membiarkan wanita itu pulang sendiri tanpa pembelaan darinya. Dan dari Sila juga, impiannya memperkenalkan Tania sebagai calon istri hancur, wanita hamil itu merusak citra baiknya sebagai laki-laki yang selalu menepati janjinya pada seorang wanita. Faris menatap tajam Sila yang baru saja sadar dan dipindahkan ke ruang inap VIP, tatapan wanita itu setengah kosong, seperti bingung sedang ada di mana. Hanya satu hal yang Sila ingat, tangannya meraba perut bawahnya yang masih terasa kram.
“Anak lo selamat,” ucap Faris mengagetkan, Sila lantas menoleh ke arahnya, laki-laki itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Setelah Rendi dan lo enak-enakan, gue yang kena getahnya. Nikahin, jadi calon ayah dadakan, pacar gue nggak terima, hampir putus ... dan sekarang, gue harus duduk di sini jagain lo. Emang ya, Rendi aja nggak cukup buat gue susah, harus ada lo juga,” imbuhnya menatap benci pada Sila.
Sila menelan salivanya cukup berat, tenggorokannya kering, tetapi takut meminta tolong pada Faris yang tampak sangat tidak menyukainya itu.
“Sok polos, lemah, bekas lagi!” batin Faris memaki, walaupun Sila itu cantik, tetapi untuk apa kalau bekas dan hamil lagi.
Beberapa saat mereka saling diam, Sila hanya menatap kosong langit-langit kamar itu sambil mencoba menenangkan diri dari rasa takut berada di dekat Faris meskipun pria itu telah sah menjadi suaminya, mereka tetaplah dua orang asing yang terjebak pada satu situasi rumit. Sila merasa sangat egois, seharusnya dia menolak saat Mia menikahkannya dengan Faris atau waktu itu Sila harusnya kabur tanpa menangis di hadapan mereka semua, dengan begitu hubungan Faris dan Tania akan baik-baik saja, pasti Faris dan keluarganya telah mengetahui apa saja yang Tania lakukan pada dirinya tadi.
“Kak,” panggil Sila memberanikan diri dengan sekuat tenaganya, Faris pun menoleh merasa dirinya terpanggil. “Aku minta maaf karena kehadiranku dan masalah ini buat kamu susah,” ucapnya menitihkan air mata.
Faris berdecak, lalu memalingkan wajahnya ke jendela.
“Terima kasih udah nikahin aku dan selametin anak ini, aku janji nggak akan bikin kamu susah lagi dan ganggu hubunganmu itu,” ucap Sila sesak, berada di posisinya juga tidak enak. Kalau saja kakinya kuat, Sila pasti pergi dari sana dan tidak akan terbaring lemah begitu, mencari pekerjaan apa saja dan tinggal seadanya bersama sang buah hati, tetapi dia tidak berdaya sekarang.
“Gue nikahin lo cuman buat nama baik keluarga, nggak lebih!” kata Faris terdengar ketus.
Sila tersenyum dalam tangisnya, ia pun menyeka air matanya itu. “Aku tau, karena itu aku sangat berterima kasih dan minta maaf. Ak-aku nggak akan jadi duri di hubungan kalian,” balasnya.
Faris berdecih, lalu menggelengkan kepalanya terheran. “Duri? Hahaha ... sok polos! Sejak gue dipaksa nikahin lo, lo udah jadi duri, ngerti!”
“Maaf.” Hanya itu yang bisa Sila katakan.
Faris tidak menyahut lagi, ia memilih ke luar dan meminta seorang perawat membantu dan melayani Sila, sebab Faris tidak mungkin berinteraksi lebih bersama wanita itu, di hatinya hanya ada Tania dan sekarang wanita itu sedang marah padanya. Namun, baru saja Faris mendapatkan udara segar di depan, seorang perawat berlari menghampirinya.
“Ada apa?” Faris ikut panik melihat ekspresi wanita paruh baya di depannya itu.
“Pak, karena pasien tidak memakai pampers. Bisa tolong bantu gendong ke toilet?”
Faris menganga, menggendong Tania saja dirinya tidak pernah, sekarang harus menggendong wanita lain yang bahkan sedang hamil anak orang lain juga.
“Saya?” tanya Faris menunjuk dirinya sendiri, ia tampak bingung sekaligus tidak percaya itu.
“Iya, anda suaminya, kan?”