"Kamu lagi?"
Kayden menaruh laptop dan dokumennya ke meja—baru selesai rapat dan rasanya sangat melelahkan, lalu tensinya seketika naik melihat Selina berada di ruangan pribadinya.
Selonjoran dan seperti penguasa wilayahnya tanpa raut berdosa itu.
"Ah, calon suami aku udah datang." Dia menyambut riang.
"Di sana saja, tidak usah genit-genit."
Selina terkikik, mengurungkan niatnya untuk bersikap manja yang menggelikan.
"Aku bawain kamu makan siang. Bukan aku yang masak, tapi Bibi Mira. Sekarang aku belum bisa masak, nanti kalau jadi istri kamu, aku bakalan belajar."
Selina menyusun beberapa menu ke meja, meski Kayden belum bilang dia setuju makan siang bersama Selina.
"Saya ada janji makan siang bersama Arash di luar."
"Batalin aja, lebih penting makan siang bareng aku." Selina mengulum senyum, menaik turunkan alisnya. "Arash nggak bakal marah kok, nanti aku yang bujuk dia."
Kayden tidak peduli, tetap menghubungi Arash untuk makan siang bersama di luar. Sengaja, ingin menghindari Selina dan berusaha membuat gadis itu menyerah saja.
Anehnya, meski sudah puluhan kali Kayden tolak, Selina tidak mundur, malah semakin gencar mendekati dirinya. Hampir setiap hari, Kayden selalu ketempelan Selina.
"Mau ke mana?" Selina merentangkan tangannya menghalangi Kayden. "Jangan bilang kamu beneran nolak aku?" Wajahnya berubah sendu, menahan tangis.
Arash datang, Kayden menghela lega. Dia jadi tidak harus menjawab pertanyaan Selina. Bosan menjelaskan hal yang sama berkali-kali.
"Kalian makan bersama?" Arash menatap ke meja yang sudah dipenuhi makanan.
Selina mengangguk, sementara Kayden menggeleng.
"Huh, nyebelin. Ya udah, kalau kamu mau makan di luar sama Arash, aku ikut aja." Selina buru-buru membereskan makanannya, kemudian menenteng wadah makanan itu. "Ayo, pergi sekarang."
Kayden menipiskan bibir, kehabisan akal untuk mengusir Selina. Gadis itu banyak akal, bahkan untuk hal-hal yang di luar nalar.
"Kamu bercanda membawa makanan sendiri ke restoran?"
"Aku nggak malu kok, nggak tau kalau kamu, ya? Lagian siapa suruh kamu ngeselin." Selina membuang muka, kemudian menarik Arash untuk pergi duluan. "Kamu nggak malu ngajakin aku 'kan, Arash?"
Arash hanya mengangguk sopan.
Mau tak mau, Kayden akhirnya menyusul Arash dan Selina. Sepanjang jalan, dia diam saja dan berusaha untuk tidak mengumpat mendengar Selina yang berisik. Ada saja obrolan gadis itu, dia tidak bisa diam untuk memberi Kayden ketenangan.
"Kamu kapan mau ajak aku kabur? Aku udah siap." Selina duduk menghadap Kayden, menopang dagu dengan wajah yang berusaha dia dekatkan. Senyumnya, kedipan matanya, semuanya membuat Kayden geli.
"Duduk yang benar, kalau tidak mau saya turunkan di pinggir jalan."
Selina mendengkus, membenarkan duduknya dengan melihat kedua tangan di dadaa. "Aku harus lakuin apa ya, biar kamu suka aku."
"Tidak perlu, saya tidak akan suka kamu."
"Oh, ya?" Selina memicing, lantas mencolek Kayden dengan ekspresi konyolnya. "Mau bertaruh? Aku yakin, kamu bakal suka aku."
Kayden memejam, memilih mendengarkan musik daripada mendengarkan celotehan Selina yang tidak ada habisnya.
"Arash, kasih tau nih Kayden, jangan sampai aku pergi ke dukun buat jampii-jampii dia."
***
Setibanya di restoran, Selina tidak sengaja berpapasan dengan neneknya yang kebetulan sedang makan siang bersama dengan teman-teman sosialitanya. Selina sudah berusaha bersembunyi di balik tubuh besar Kayden, tetapi neneknya lebih dulu melihat dirinya.
"Mati aku!" Selina berpegangan pada jas kerja Kayden, masih bersembunyi sampai neneknya yang menyapa lebih dulu.
"Kamu di sini, Selina?" tanya Nenek Juwi terdengar ramah dan hangat, padahan dari sorot matanya, ada amarah yang ditahan.
Karena tertangkap basah, mau tak mau, Selina keluar dari punggung Kayden. Dia mengangguk kecil, bersikap sopan karena sedang di tempat umum. "Iya, diajakin Om Kayden makan siang bersama."
Kayden menaikkan alis, merasa keberatan namanya dibawa-bawa.
"Setelah ini langsung pulang," lanjut Selina menunduk dalam.
"Ya sudah, jangan pulang terlalu malam." Nenek Juwi niatnya ingin mengusap lengan Selina, tetapi karena terbiasa mendapatkan perlakuan kasar sejak kecil, akhirnya tubuh Selina refleks menolak.
Nenek Juwi tersinggung dan menggeram dalam hati, apalagi teman-temannya melihat hal itu. Tapi karena tak mungkin menghajar Selina di tempat umum, akhirnya dia coba alihkan situasi ini. "Kenapa, Selina? Kamu kelihatan pucat. Lagi sakit, ya?"
"Enggak, Nek."
Setelah itu, Selina coba berpamitan duluan, dengan alasan karena Kayden dan Arash hanya memiliki waktu satu jam untuk makan siang.
Terbebas dari neneknya, Selina menghela lega. Entah apa yang akan terjadi di rumah nanti, Selina pikirkan belakangan.
Padahal hari ini Selina sedang dihukum, tidak boleh keluar rumah sampai Alley tiba dari luar kota. Kesalahannya sederhana, karena Selina tak sengaja menabrak pot bunga neneknya hingga pecah.
"Kamu kok enggak lindungin aku dari nenek?" Selina menatap Kayden, kecewa. "Apa kamu Kayden yang sama kayak lima atau sepuluh tahun lalu?"
"Dia tidak memukul kamu."
"Kalau setelah ini aku dipukulin, kamu bakalan datang buat tolongin aku?"
Kayden menghentikan gerakannya memilih menu, menatap Selina beberapa saat. "Kamu bukan anak kecil lagi, tidak mungkin ceroboh sampai nenekmu marah dan memukul."
Selina terdiam cukup lama, kemudian tersenyum kecut. "Jadi selama ini kamu ngiranya aku bocah nakal, ya?" Lantas mengangguk-angguk paham.
Selina tidak lagi menatap Kayden. Setelah memesan satu menu untuknya, dia lebih banyak diam dan tak membuka obrolan apapun hingga mereka pulang. Saat Arash tawarkan untuk mengantar Selina pun, dia tolak dan memilih naik taksi saja.
"Dia kayaknya beneran sedih dengan kalimat Anda tadi, Tuan. Rasanya cukup aneh melihat dia tiba-tiba menjadi pendiam."
"Biarkan saja."
Kayden masuk ke mobil lebih dulu, tidak berniat membicarakan Selina lebih banyak.
Jika pertolongannya sepuluh tahun lalu menjadi alasan Selina menyukainya, maka mulai hari ini, Kayden putuskan untuk tidak pernah mengulanginya lagi.
***
Setelah kejadian di restoran siang itu, Selina benar-benar menghilang tanpa kabar. Kayden merasa lebih tenang tanpa gangguan pesan beruntun maupun telepon iseng dari Selina.
Gadis itu senang menghubungi Kayden tengah malam hanya untuk menanyakan apakah Kayden sudah tidur atau belum. Dia juga sesekali menggombal dan menggenit, sampai Kayden marah dan memblokir nomornya.
Nanti keesokan paginya, Selina mengamuk menyambangi kediaman pribadi Kayden sebagai bentuk protes kenapa nomornya diblokir.
Tidak sekali dua kali, Selina ganti nomor akibat ulah Kayden.
“Selamat pagi, Tuan. Ada kiriman untuk Anda.”
Kayden baru selesai joging, Arash memberinya keranjang berisi hewan peliharaan lagi. Kali ini bukan anak anjing, melainkan anak harimau.
“Siapa yang ngirim?”
“Nona Selina. Katanya dia sedang sibuk, tidak bisa mengantarkan langsung, jadi terpaksa orang lain yang melakukannya.”
Kayden memijat dahi, menatap anak harimau dalam kandang tersebut.
“Dia suruh saya bikin kebun binatang atau jadiin saya penitipan hewan?”
Arash terkekeh. “Tingkahnya memang ada-ada saja, Tuan.”
“Pulangkan harimau ini padanya, saya tidak berminat memelihara hewan buas.”
“Baik, Tuan, nanti setelah mengantarkan Anda ke kantor, akan saya antarkan harimau ini ke kediaman Nona Selina.”
“Bicaralah pada satpam di depan, bilang ingin bertemu Selina langsung. Tidak usah bertemu neneknya, bicara pada orang tua masalah seperti ini cukup ribet.”
“Ya, Tuan.”
Sekitar pukul sembilan pagi, Arash tiba di kediaman Selina. Dia sudah bicara pada satpam depan sesuai pinta Kayden, tetapi katanya Selina sedang tidak di rumah. Arash coba hubungi, nomornya juga tidak aktif.
Arash terpaksa pulang dan membawa kembali anak harimau itu ke rumah Kayden.
Mau tak mau, sementara Selina tak bisa dihubungi, Kayden memanggil orang untuk memberi makan harimau tersebut. Dia tidak bisa meraba bagaimana merawat hewan buas.
“Ke mana anak itu. Tiba-tiba hilang dan bikin saya kerepotan. Anak harimau ini bisa mengganggu ketenangan saya.”
“Apa dia benar-benar dipukuli neneknya?” Arash tiba-tiba teringat ucapan Selina kemarin, penasaran.
Kayden terdiam beberapa saat, kemudian melepaskan kacamatanya. Dia menatap Arash, lantas menaikkan bahu. “Paling akal-akalan dia saja.”
“Kalau ternyata dia beneran dipukul?”
“Dia bukan anak kecil, Arash. Sebelum dipukul, harusnya dia lari. Dia sendiri yang bisa memutuskan harus melakukan apa. Jika tetap diam, maka terima saja sakitnya.”
“Apa Nona Selina sejak kecil sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu, Tuan? Saya dengar, berkali-kali dia meminta dilindungi dan ingin kabur bersama Anda.”
Kayden tak mau membahasnya, tapi Arash terus saja menanyakan hal ini lebih lanjut.
“Saya tidak tahu. Waktu dia kecil, kami hanya pernah bertemu beberapa kali.”
“Apa tidak sebaiknya Tuan cek dulu keadaan Nona Selina di rumahnya? Setidaknya untuk memastikan dia baik-baik saja.”
“Tidak perlu.”
Kayden memilih tidak ingin ikut campur. Hidupnya mungkin jauh lebih rumit daripada Selina. Ada banyak hal yang harus dia selesaikan sebelum ayahnya mengamuk akibat kerjaannya tak becus. Memedulikan gadis seperti Selina, bukan urusan Kayden.
“Entah kenapa, saya yakin dia sedang butuh Anda, Tuan.”