Kayden terpaksa menyambangi kediaman Rilley, memastikan jika Selina baik-baik saja. Entah kenapa, perkataan Arash tadi membuat Kayden tak bisa tidur hingga dini hari.
Dia benci hal-hal seperti ini, membuat Kayden seperti orang bodoh yang tidak tahu harus melakukan apa dan akhirnya dia memilih nekat dan mengabaikan harga dirinya.
Kalau Selina tahu dia khawatir, bisa jingkrak-jingkrak anak itu.
"Saya harap, ini yang terakhir kali kamu mengganggu kehidupan saya, Kalselina!" Kayden menggerutu sebal.
Mobil Kayden sudah berada di depan gerbang kediaman Rilley, dia terpaksa membuka blokiran nomor Selina, kemudian menghubungi gadis ceriwis itu.
Jika panggilan pertama, kedua atau ketiga nanti tidak terjawab, Kayden akan pulang dan mengubur niat baiknya untuk bertemu Selina. Gengsinya setinggi Everest, jadi tidak ingin terlihat seolah mengemis hanya untuk memastikan keadaan Selina.
Namun, baru dering ketiga pada panggilan pertama, sambungan mereka terhubung. Kayden sampai mengerutkan kening, memicing curiga.
Kenapa saat Arash yang meneleponnya, Selina tak menjawab sama sekali, tetapi ketika Kayden yang melakukannya, respon Selina lebih cepat daripada mobil?
"Calon suami! Kamu khawatirin aku? Aku senang, deh." Terdengar dari nada bicaranya, Selina sedang tersenyum malu-malu di telepon Kayden duluan. Hatinya berbunga-bunga, seperti ada yang meletup-letup di dalam sana.
Kayden menjauhkan ponsel itu dari telinganya, mendumel beberapa saat. "Ternyata kamu baik-baik saja. Saya tutup kalau begitu telep—"
"Jangan. Kamu di mana? Aku lagi di rumah sakit. Ke sini dong, aku sendirian dari kemaren."
"Ngapain di rumah sakit?"
"Nggak mungkin dong aku lomba renang di sini, jangan bercanda kamu." Selina mencebikkan bibir, tidak terima dengan pertanyaan Kayden. "Aku sekarat, hampir mati. Sayangnya, masih panjang umur."
"Orang sekarat tidak ada yang bangun dan mengangkat telepon jam segini."
Selina terkekeh. "Aku lagi di taman rumah sakit, duduk nyari angin kayak anak hilang. Kamu mau ke sini?"
"Besok saja. Jam besuk sudah habis."
"Menyelinap aja, lewat gerbang belakang. Sogok uang satpamnya, nanti juga dibolehin masuk. Aku ada di ruangan VIP paling ujung, nenek mengasingkan aku di sini."
"Besok."
"Sekalian bawain aku nasi goreng. Aku laper."
Kayden menghela berat, tampak jengah. "Saya malas direpotin kamu."
"Pakai acar yang banyak, pedes juga."
"Saya bilang tidak."
"Enggak pakai lama, aku tungguin di sini sampai kamu datang."
"Keras kepala."
"Sekalian telurnya dua, aku lapar banget. Terima kasih, calon suami aku. Jadi makin sayang, deh." Selina memberikan kecupan pada ponselnya, terdengar sampai ke telinga Kayden.
Kayden cepat-cepat memutuskan sambungan telepon mereka, mencengkeram kuat-kuat setir mobilnya. Dia hanya ingin memastikan keadaan Selina, bukan malah dimanfaatkan seperti ini.
Satu lagi, Kayden tidak mau jadi penolong Selina lagi, hingga membuat gadis itu berharap lebih padanya.
Anggap saja sejak awal memang salah Kayden. Harusnya dia tidak perlu khawatir di tengah malam begini. Selina akan tetap baik-baik saja apapun yang terjadi, dia lebih kuat dari yang Kayden kira. Buktinya meski sekarat—katanya, dia tetap berisik dan bisa menggoda Kayden.
***
“Kenapa masih di sini?”
Dari arah belakang, sosok pria jangkung hadir dari kegelapan malam. Dia menenteng beberapa kantong plastik.
Senyum Selina merekah. Dia lantas melangkah lebar sambil membawa selang infusnya dan memeluk Kayden. Tanpa sadar, Selina menangis—menumpahkan segala rasa yang sejak kemarin membuatnya begitu kewalahan.
“Meski lama banget dan aku hampir pingsan nunggunya, terima kasih udah datang. Aku pikir, aku bakal kedinginan di sini sampai besok pagi.”
“Kamu menyedihkan.”
Tangis Selina terhenti, dia memukul dadaa Kayden sambil berbunyi renyah. “Aku lapar. Nasi gorengnya wangi banget, cacing di perut aku udah pada demo, minta dikasih asupan.”
“Harusnya tidak perlu nunggu saya. Berdirilah di kaki kamu sendiri, Kalsel, jangan apa-apa harus bersama saya. Saya bukan orangnya.”
Selina menoleh, terdiam beberapa saat. “Kalsel? Nama aku Selina.”
“Dengarkan ucapan saya, ini terakhir kalinya saya ingatkan.”
“Enggak mau denger.” Selina duduk di sofa, tersenyum lebar melihat nasi goreng sesuai pesanannya ada di depan mata. “Kamu nggak makan?” Tanpa ba-bi-bu, Selina langsung menikmati makanannya dengan lahap.
Keterdiaman Kayden melihat Selina makan, membuat suasana di antara mereka sempat hening beberapa saat. Tidak lama, mulai terdengar isak tangis Selina di sela-sela suapannya.
Kening Kayden mengerut, cukup kaget. “Ada apa? Tersedak?”
“Terima kasih, ya. Aku dari kemarin sore belum makan, lapar banget sampai badan aku gemeteran. Nenek enggak bolehin aku makan sampai Papa datang.”
“Dan kamu benar-benar nggak makan?”
Selina menggeleng. “Aku takut.” Sambil tersenyum polos seolah dia beneran baik-baik saja, hingga membuat Kayden nyaris kehilangan akalnya.
Kayden pandangi wajah yang biasanya terlihat ceria itu, kini memiliki beberapa luka di bibir, tulang pipi, hingga pelipisnya. Belum lagi memar di lengan dan bagian tubuh lainnya yang mungkin tidak bisa ditangkap mata oleh Kayden langsung.
“Kenapa tidak kabur saat dipukul?”
“Kamu belum bawa aku kabur.”
Kayden kehabisan kata, mengusap rahangnya. “Kamu bisa menghindar, jangan dirasakan saja sakitnya.”
Selina tersenyum lagi. Tapi entah kenapa, dari binar matanya terlihat banyak kesedihan di sana. “Enggak bisa. Bisa makin bonyok kalau kabur dari amukan nenek. Aku pernah coba membela diri, tapi mulut aku dihantam habis-habisan, untung gigi aku enggak patah.”
“Kenapa sampai segitunya?”
“Nenek enggak sayang aku.” Meski tersenyum lagi, tapi kali ini air mata Selina runtuh membasahi pipinya. Bibir dia bergetar menahan tangis. Benar-benar menyedihkan.
“Pak Alley tahu ini?”
“Enggak boleh ngadu ke Papa, nanti kalau Papa pergi ke luar kota berikutnya, nenek bisa pukul aku lagi. Lagian, enggak mungkin Papa marahin nenek demi bela aku, ‘kan? Papa sayang banget sama nenek. Kata Papa, aku harus nurut sama nenek, bikin nenek bahagia, enggak boleh bikin nenek sedih.”
“Tapi diri kamu bukan samsak hidup-hidup nenek kamu, Kalselina!”
“Makanya, bawa aku pergi dari nenek, Kayden. Ayo, kita menikah.”
Kayden menatap Selina datar, tidak senang jika pembahasan mereka akhirnya merembet ke arah pernikahan. Kayden berpikir ini hanya akal-akalan Selina karena dia sangat tergila-gilaa padanya.
“Apa tidak pernah kamu perlihatkan keadaan kamu ini pada Pak Alley?”
“Siapa yang peduli?” Sebungkus nasi goreng sudah habis. Selina menggigit sendoknya, menatap Kayden cukup lama. “Boleh nambah? Aku masih laper.”
“Kamu bisa tinggal sendiri di apartemen sebagai bentuk perlindungan diri. Tidak mungkin Pak Alley tidak mampu membiayai hidupmu, ‘kan?”
“Enggak bisa, Kayden. Tugas aku di rumah itu menjaga nenek.”
Melihat Selina sangat lahap, Kayden kembali terdiam. Dia bisa melihat betapa gadis itu sedang kelaparan.
Andai tadi Kayden tetap ngotot pulang saja dan mengabaikan permintaan Selina, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu.
Tadinya Kayden sudah tiba di kediamannya, memilih untuk tidak mengiyakan pinta Selina. Cukup lama dia di parkiran—bergelut dengan pikirannya, hingga akhirnya memutuskan kembali melaju mencari pedagang nasi goreng yang buka di jam setengah dua dini hari.
Kayden tidak menyangka jika Selina benar-benar akan menunggunya di kursi taman. Duduk sendirian dengan sisa tenaga yang dia miliki.
“Apa hanya dengan menikah, kamu bisa keluar dari rumah itu, Kalselina?”