5. Sisi Kehidupan Kayden

1384 Words
Sampai Selina menghabiskan bungkusan kedua nasi gorengnya, Kayden masih diam dan hanya memperhatikan. Tiba-tiba saja obrolan di antara mereka terhenti. Kayden bergelut dengan pikirannya, sementara Selina sibuk mengisi perut agar cepat sehat. Kebetulan nasi goreng yang Kayden belikan ini sangat enak, Selina berkali-kali tersenyum dan memuji rasanya. Dia tidak pernah makan sebanyak ini pada malam hari, tapi kali ini terasa berbeda. Selina percaya jika rasanya semakin enak karena ada campur kekhawatiran Kayden tentang kondisinya. "Bungkus ketiganya tidak dihabiskan?" Selina menggeleng, bersandar pada sofa sambil mengusap perutnya puas. "Aku udah kenyang banget. Harusnya kamu ikut makan, bukan malah liatin aku doang." "Apa aku kelihatan masih cantik, Om?" "Saya tidak tahu." "Berarti masih cantik, kamu cuma gengsi bilangnya. Makasih, loh, aku terharu." Selina tersenyum, tidak berhenti menatap Kayden sejak tadi. Pria itu melayaninya dengan baik, meski wajahnya datar dan sesekali mendumel karena malas berurusan dengan Selina. "Temenin aku sampai tidur, ya? Aku enggak bisa tidur dari tadi, karena takut." "Apa yang kamu takutkan? Bukannya sejak dulu kamu tidak takut apa-apa?" "Aku selalu dibayangi kalau orang-orang enggak menyayangi aku. Aku sendirian di dunia ini, Kayden, bahkan saat berada di antara keluarga aku sendiri. Aku sebenarnya benci bersembunyi, tapi saat di bawah meja, aku ngerasa aku lebih terlindungi." Kayden menatap Selina, menghela napasnya. "Hanya pemikiran kamu saja." "Kamu juga benci aku. Padahal dulu saat kita pertama kali ketemu, saat kamu ulurin tangan ajak aku keluar dari kolong meja, aku liatnya kamu kayak pangeran yang berusaha kasih perlindungan. Tapi setelah aku dewasa, tatapan kamu berubah. Apa bener kata nenek, aku semenyebalkan itu?" Melihat Kayden terdiam dan tidak menjawab apa pun, Selina hanya bisa tersenyum kecut. "Padahal aku selalu berusaha jadi anak baik. Kalau kamu bener-bener sebenci itu sama aku, bener-bener enggak pengen liat aku lagi, suruh aja aku pergi dari hidup kamu, ya? Aku bakalan berusaha pergi saat itu juga." Kayden selesai membersihkan bekas makanan Selina di meja, menyimpannya ke tempat sampahh. "Sebaiknya kamu istirahat. Kamu sakit, jangan bersikap seolah-olah bisa menerjang dunia dalam keadaan seperti ini." "Kamu mau temenin aku sampai ketiduran?" "Hanya sampai jam tiga. Besok saya harus bekerja, saya belum ada tidur sama sekali." "Iya. Aku gosok gigi dulu." Selina cepat-cepat membersihkan dirinya, kemudian berbaring di kasurnya dengan keadaan lebih tenang dan riang. Dia sangat bahagia karena Kayden tidak menjaga jarak. "Kamu duduk di sana? Kejauhan dong. Sini, deket-deket aku." Kayden masih di sofa tadi, dan jaraknya cukup jauh dari tempat tidur Selina. "Kasur aku lumayan lebar nih, kamu enggak berniat ikut tiduran? Aku dengan senang hati istirahat di pelukan kamu." "Tidur, Kalselina. Ini sudah jam setengah tiga. Setengah jam lagi, kalau tidak tidur juga, kamu saya tinggal." Kayden menarik kursi, duduk di samping Selina tanpa mengiyakannya untuk berbaring bersama. Gilaa aja! Selina mengulurkan tangannya. "Genggam aku dong, Om, biar kerasa bener-bener dijagain. Aku janji bakal langsung tidur abis ini." Kayden mendengkus, tetapi mengiyakan saja permintaan Selina. "Kamu sangat menyebalkan, kamu tahu?" "Heum, aku tahu. Tapi aku selalu senang setiap kali bikin kamu marah." "Tidurlah, jangan banyak bicara." Selina mengangguk, buru-buru memejamkan mata dan mencari posisi yang nyaman. Kayden hanya menatap gadis itu dalam diam. "Om, kenapa kamu nggak suka aku? Apa kekurangan aku yang paling enggak bisa kamu maklumi?" Dalam perjalanan tidurnya, Selina tiba-tiba kepikiran hal ini. Aneh saja, padahal dirinya sangat cantik dan pintar. Di kampus pun, Selina cukup menjadi primadona. "Kurang diam." Selina tertawa, kemudian membuka matanya sebentar. "Kalau gitu, aku bakal tetap berisik sampai kamu terbiasa dan akhirnya menyukai si berisik ini." Dia mengubah posisinya menghadap Kayden, menjadikan tangan besar pria itu sebagai bantalan di pipinya. "Tangan kamu hangat, rasanya masih sama seperti pertama kali kita ketemu waktu itu. Aku selalu berharap pada Tuhan, buat kembaliin Kayden yang dulu. Aku enggak terlalu suka Kayden yang sekarang. Cuek dan kejam banget." "Entah apa yang bikin kamu sampai berubah kayak gini, aku masih mencari tahu. Kamu bener-bener berubah jadi pria dewasa yang dingin, Kayden." "Tapi aku senang, meski kamu enggak lagi berusaha lindungin aku, malam ini ... kamu datang ke sini. Aku enggak liat kamu khawatir, tapi aku percaya kamu lagi berusaha memastikan keadaan aku." "Bicara terus, kapan tidurnya?" Selina berdecih, kemudian benar-benar diam dan tidak lama napasnya mulai terdengar beraturan. Tepat pukul tiga pagi sesuai janjinya, Kayden pulang. Dia meninggalkan Selina saat gadis itu pulas dan tidak terganggu dengan gerakannya saat melepaskan genggaman mereka. *** Dua hari setelah malam itu, Selina tidak ada kabar, Kayden pun hanya sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tidak saling berhubungan, bahkan melalui telepon. Selina tidak sempat mengganggu Kayden karena fokus pada kesembuhannya, katanya besok Alley akan kembali dari luar kota. Jika tidak cepat pulih dan menyembuhkan lukanya, Selina akan dimarahi oleh neneknya lagi. Selesai kelas, Selina cepat-cepat menyambangi kantor Kayden. Dia tidak sabar untuk bertemu dan menyapa pria itu. Rasanya dua hari tidak ketemu, seperti dua tahun saja. "Kayden, aku datang!" Keluar dari lift, Selina langsung menyapa. Dia melihat Kayden sedang bicara bersama Arash tak jauh dari posisinya. "Astaga. Dia sembuh, Arash." Kayden memijat pelipisnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana. Malas sekali menghadapi energi Selina yang melimpah ruah begini. “Om, makasih sekali lagi ya, buat nasi gorengnya dan kamu diam-diam obatin luka aku. Aku makin cinta sama kamu.” Ketika Selina bangun, dia merasa lukanya lebih mengering dan tidak terlalu perih lagi, ternyata sebelum pulang malam itu, Kayden mengoleskan salap pada luka-luka Selina. Selina menganggap hal itu adalah bentuk perhatian diam-diam dari Kayden yang membuatnya salah tingkah dan makin jatuh hati. Arash terkikik. "Saya pergi dulu kalau begitu, Tuan. Selamat bersenang-senang dengan Nona Selina." "Kurang ajar kamu!" Kayden menatap tajam, kemudian berlalu lebih dulu memasuki ruangannya—diikuti oleh Selina. "Akhirnya aku menghirup udara segar di sekitar kamu. Syukurlah aku enggak jadi mati." Kayden melipat kedua tangannya di dadaa, menatap Selina seperti punya dendam yang belum tersalurkan. "Berhenti mengirimkan saya hewan peliharaan, Kalsel. Meski lagi sakit, setiap hari kamu tetap mengirimi saya hewan aneh-aneh. Waktu itu anak anjing, anak harimau, anak singa, kemudian anak kucing. Kamu pikir rumah saya penitipan hewan?” Selina tergelak, mengulum senyum kesenangan karena Kayden marah. Dia malah terhibur melihat ekspresi pria itu. “Mereka semua lucu, ‘kan? Aku pilih mereka yang gemesin, biar bisa temenin waktu senggang kamu di rumah.” “Tidak usah, saya sangat terganggu. Saya harus cari orang untuk merawat mereka, membuatkan mereka lahan tersendiri untuk tetap hidup dengan nyaman. Lama-lama, halaman belakang saya jadi kebun binatang.” “Itu emang niat aku.” “Kalselina!” Kayden menggeram, mengusap wajahnya kasar. “Jangan bersikap seenaknya.” “Nikahi aku, nanti aku bantuin rawat mereka semua di rumah kamu. Ide bagus, ‘kan?” “Jangan gilaa kamu!” “Terlambat, aku udah keburu gilaa.” “Jemput mereka semua, saya tidak berniat merawatnya.” “Ih, jahatnya!” Selina memajukan bibir, balas memberengut. “Padahal aku lagi berusaha kabulin impian kamu satu persatu. Aku lihat banyak lukisan hewan di rumah kamu, aku pikir kamu suka mereka semua.” “Tidak bisa, Kalselina. Kamu tidak tahu apa-apa tentang saya.” “Kalau gitu, beri tahu aku, biar aku ngerti tentang hidup kamu.” Kayden melenggang dari hadapan Selina, berdiri menghadap area luar yang dibalut kaca tebal—menampilkan gedung-gedung pencakar langit yang megah. Dia membelakangi Selina, meredam emosinya. “Aku tahu kamu suka sama hewan-hewan itu.” Itu benar, tetapi tidak dengan ayahnya. Segala hal tentang hidup Kayden diatur oleh Leo. Bahkan untuk kediaman pribadi Kayden pun, tidak lepas dari segala aturan Leo. Apapun yang Kayden sukai dan itu bertentangan dengan aturan Leo, semuanya tidak boleh. Leo tidak menyuka hewan, karena dianggap kotor dan bulu-bulu mereka akan mengganggu saluran pernapasannya. Dulu Kayden pernah memelihara anak anjing saat tinggal di luar negeri, tetapi ketika Leo datang, mereka semua harus diungsikan ke penitipan hewan. Saat Kayden memutuskan tinggal sendiri dan butuh privasi, awalnya Leo menentang. Tapi karena ini permintaan Kayden sebelum menjadi penerus keluarga, akhirnya Leo menyetujui dengan syarat bahwa Kayden tetap mengikuti aturan Leo seumur hidupnya. Kayden adalah robot Leo, dan dia tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Jika Leo tahu jika Kayden memiliki kebun binatang di area rumahnya dan membuat Leo tak bisa ke sana, Leo akan mengamuk. Itu sama saja Kayden menentang aturan ayahnya. “Apa yang kamu takutin, Kayden? Hiduplah sesuai yang kamu inginkan. Aku cuma mau kamu bahagia.” “Jangan berkaca di air keruh, Kalselina. Harusnya kalimat itu lebih pantas untuk dirimu sendiri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD