Luka mengantarkan Marcelo terlebih dahulu ke apartemen karena letaknya tak jauh dari coffe shop tadi. Kini giliran mengantarkan Anggi ke rumah kontrakan. Selama perjalanan, Anggi memilih diam seribu bahasa. Setelah ini, ia tidak mau lagi dekat dengan Luka. "Nggi, boleh aku tahu satu hal?" Luka mencoba membuka obrolan itu. "Bagaimana kamu bisa tahu jika kuliah pasca sarjana itu luar biasa sibuk?" tanya Luka yang sangat penasaran. Luka lebih tepatnya curiga pada Anggi. Gadis yang kini memilih diam itu tampak bukan seperti gadis biasa. Rasanya sangat aneh ketika wajah Anggi dan kedua orang tuanya sangatlah jauh berbeda. Lalu, Anggi juga sangat berwawasan luas. "Tahu saja, kenapa memang?" Anggi balik bertanya dan menatap Luka. "Aku tahu Bapak curiga padaku. Silakan saja curiga sepuasnya," l

