Dustin dan Renee berlari secepat yang mereka bisa untuk melarikan diri dari orang bertopeng yang kini mengejar mereka. Orang bertopeng itu memegang sebuah pistol tapi hingga kini dia belum menembakan pelurunya pada Dustin dan Renee. Akan tetapi, Dustin tahu betul orang itu terus mengejar dirinya dan Renee.
"Du-Dustin istirahat sebentar, aku sudah tidak kuat. Leherku sakit sekali."
Dustin bisa memahami rasa lelah dan sakit yang dirasakan Renee setelah apa yang dialaminya tadi. Dia menuruti permintaan gadis itu. Begitu menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi, dia membawa Renee bersembunyi di sana. Beruntung di sana terdapat sebuah lubang besar menyerupai gua. Dustin membawa Renee bersembunyi di dalam gua itu.
"Apa kau yakin si pembunuh tidak akan menemukan kita?" Tanya Renee, wajahnya semakin pucat karena menahan sakit di lehernya juga karena tengah dilanda ketakutan yang berlebihan.
"Entahlah, tapi untuk sementara kita beristirahat sebentar di sini. Setelah itu, kita lari dan segera menemui teman-teman kita."
Renee menganggukkan kepalanya, menyetujui keputusan Dustin. "Kau selalu bisa diandalkan seperti biasanya," katanya dengan suara lirih.
"Kau berlebihan, Re," sahut Dustin, dirinya semakin khawatir melihat wajah Renee yang semakin pucat.
"Tidak. Ini kenyataan.” Renee masih terus berbicara. “Oh iya Dustin, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."
Meski dirinya cemas si pria bertopeng akan menemukan tempat persembunyian mereka, Dustin masih setia menanggapi ucapan Renee. "Hm, apa itu? Katakan saja," katanya sambil matanya awas menatap sekitar, memastikan si pria misterius tidak mengejar mereka sampai ke gua itu.
Renee menundukkan kepala untuk sesaat, lalu kembali menatap wajah Dustin dan terlihat jelas semburat merah menjalar di wajah hingga ke telinganya seolah gadis itu sedang menahan malu.
"Se-Sebenarnya aku berbohong saat mengatakan sudah tidak menyukaimu," ucap Renee pelan, namun Dustin masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dustin tercengang mendengar pengakuan Renee itu, di saat yang bersamaan dia pun merasa mulai gugup.
"Aku masih menyukaimu, perasaanku padamu tidak pernah berubah. Tapi ..." Renee menggantung ucapannya, membuat Dustin mengernyitkan alis. Pria itu penasaran ingin mendengar kelanjutannya. "Tapi, kenapa?" Tanyanya.
"Sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali menyatakan perasaanku padamu, tapi aku tahu itu percuma saja. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Kau tidak mungkin mencintaiku karena aku tahu kau mencintai Freya."
Sekali lagi Dustin dibuat tercengang mendengar pengakuan Renee. Dia sangat terkejut karena Renee menyadari perasaan cintanya pada Freya. Padahal selama ini Dustin selalu menyembunyikannya. Tak ada yang tahu tentang perasaannya pada Freya selain dirinya sendiri.
Dustin terkekeh sambil menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tak gatal, "K-Kau ini bicara apa? Aku tidak ...."
"Tidak perlu berbohong. Asal kau tahu aku selalu memperhatikanmu diam-diam. Dari caramu melihat Freya dan dari sikapmu padanya, aku tahu kau menyukainya. Alasanmu menghilang selama dua tahun ini juga pasti karena kau tidak sanggup melihat kebersamaan Freya dan Thomas, bukan?"
Dustin tidak mampu berkata-kata lagi, tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada Renee. Mungkinkah dia harus mengakui bahwa semua yang dikatakan Renee itu memang benar? Tapi Dustin terlalu malu untuk mengakui kenyataan pahit itu pada Renee.
"Dustin jawablah pertanyaaanku. Anggap ini untuk mengabulkan permintaan terakhirku."
Tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata betapa terkejutnya Dustin saat ini mendengar perkataan Renee. Dustin sama sekali tidak mengerti kenapa Renee mengatakan perkataan yang mengerikan seperti itu, seolah-olah gadis itu akan pergi dan tidak akan pernah kembali.
"Kau ini bicara apa, Re?"
Renee mengembuskan napas pelan, sebelum menundukan wajah dan memasang wajah sendu, "Aku merasa tidak akan selamat dari si pembunuh itu."
Seketika Dustin terbelalak, "Jangan bicara sembarangan. Kita pasti bisa melarikan diri darinya lalu menemui teman-teman kita. Setelah itu kita pergi dari tempat berbahaya ini dan kembali ke rumah dengan selamat."
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Renee, menatap serius pada Dustin yang masih saja memiliki kepercayaan diri yang tinggi meski situasi mereka sedang terdesak. Di luar sana, mungkin si pembunuh sudah menunggu mereka.
"Ya, aku sangat yakin,” ucap Dustin. Dia memegang bahu Renee dan menatapnya serius, “Aku akan melindungimu," tambahnya.
Renee tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit, hatinya menghangat mendengar betapa Dustin begitu mempedulikan dirinya. Bagi Renee ini sudah lebih dari cukup, tidak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia selain mendapat perhatian dari pria yang dicintainya. Dustin menatap Renee sendu, belum pernah sebelumnya dia melihat Renee tersenyum seperti itu.
"Terima kasih, Dustin,” kata Renee, tulus dari hatinya. Dan hal itu membuat Dustin semakin cemas. Dari raut wajahnya, terlihat Renee sudah menyerah dengan keadaan.
“Oh iya, menurutmu kenapa si pembunuh itu membunuh Edmund dan mengejar kita?" Renee tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan. Dustin ikut berpikir, dia pun memikirkan hal yang sama. Merasa aneh karena si pembunuh sampai membunuh Edmund sekejam itu, lalu sekarang mengejar mereka. Padahal Dustin yakin dia dan teman-temannya tidak mengusik pembunuh itu. mereka datang ke tempat ini hanya untuk berlibur, bukan untuk ikut campur urusan siapa pun. Lantas, kenapa mereka jadi diincar si pembunuh itu? Benak Dustin penuh dengan tanda tanya.
"Entahlah, mungkin dia orang gila dan psikopat yang membunuh siapa saja orang yang dia temui. Aku benar-benar marah padanya. Dia membunuh Edmund dengan begitu kejam. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatannya itu." Hanya ini yang menurut Dustin masuk akal. Alasan si pria bertopeng membunuh Edmund dan mengincar mereka tidak lebih karena dia seorang psikopat yang sudah kehilangan kewarasannya.
"Ya, kau benar. Entah siapa orang itu sebenarnya? Kau harus menangkapnya, Dustin. Berjanjilah padaku."
Dustin membulatkan mata, “Aku menangkapnya?” Ucapnya mengulang perkataan Renee sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
Renee mengangguk yakin, “Ya. Kau ini cerdas. Aku percaya kau bisa menemukan identitas si pembunuh yang sebenarnya dan mencari tahu alasan dia melakukan kekejaman ini pada Edmund dan kita berdua.”
Dustin tertegun, namun ... melihat sorot mata Renee yang terlihat menaruh harapan besar padanya, Dustin tak tega untuk mengelak lagi. Dia pun akhirnya hanya bisa mengangguk untuk menenangkan Renee, "Ya tentu saja. Kita akan menangkapnya," katanya.
Wajah Renee terlihat sangat pucat dan peluh sebiji jagung tak hentinya mengalir di pelipis gadis itu, membuat Dustin mulai mengkhawatirkannya. "Renee, kau baik-baik saja, kan? Kau pucat sekali."
"Aku baik-baik saja."
"Jangan berbohong."
Dustin mengingat apa yang dialami Renee tadi, sebuah pemikiran mengerikan pun terlintas di pikirannya. Dia memegang kedua bahu Renee dan membalik tubuhnya sehingga posisi Renee kini membelakangi Dustin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Renee, hendak berontak dan kembali berbalik badan, namun Dustin tak membiarkannya.
"Diamlah. Aku akan melihat lehermu,” ucap Dustin tegas.
Dustin menyampirkan rambut Renee ke samping dan menarik kerah baju yang menutupi leher Renee. Sekarang terlihatlah dengan jelas luka di leher Renee. Luka itu melingkar di sekeliling leher Renee, kulitnya lecet dan terkelupas sehingga mengeluarkan darah. Luka itu pasti akibat tali yang menjerat leher Renee tadi. Sekarang Dustin mengerti alasan Renee terlihat pucat, luka di lehernya itu terus mengeluarkan darah.
"Renee, lukamu cukup parah."
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Dustin berdecak, tahu betul Renee sedang berbohong, "Kau harus segera diobati. Kita harus segera pergi ke tempat teman-teman kita."
"Tapi aku tidak kuat lagi untuk berjalan. Kau pergi saja sendiri. Biarkan aku di sini."
Dustin mengembuskan napas berat, Renee kembali menyerah untuk memperjuangkan hidupnya. Tentu saja Dustin tak akan membiarkan itu. dia akan membawa Renee keluar dari tempat ini bagaimana pun caranya.
"Kau ini bicara apa? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan menggendongmu jadi cepat kita pergi dari sini."
Dustin sudah bersiap menggendong Renee, dia bahkan sudah berjongkok di depan gadis itu.
"Tidak!" Tolak Renee, yang membuat Dustin geram karena gadis itu tidak bisa diajak kerja sama di saat kondisi mereka sedang terdesak seperti ini.
"Renee, aku mohon jangan keras kepala. Turuti perintahku," pinta Dustin, masih berusaha membujuk.
“Aku tidak ingin menyusahkanmu, Dust. Membawaku hanya akan membuatmu sulit berlari. Kau pergilah dari sini.”
“Dan meninggalkanmu sendirian di sini?” Tanya Dustin, yang direspon Renee dengan anggukan lemah.
“Kau pikir aku mau melakukan itu? Menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan temanku di sini.”
“Aku hanya akan jadi penghambat.” Renee masih bersikukuh.
“Kau bilang selalu mengawasiku diam-diam, seharusnya kau tahu persis aku orang seperti apa, kan? Apa menurutmu aku akan bersedia meninggalkanmu sendirian di sini? Tidak, Renee. Aku pasti membawamu keluar dari sini dengan selamat.”
“Percuma. Aku tetap akan mati. Aku merasa tubuhku semakin lemas.”
“Karena itulah lukamu harus segera diobati. Jangan menyerah, Re. Kau pasti akan selamat, aku janji.”
Tanpa menunggu respon Renee, Dustin melakukan tindakan nekat dengan menggendongnya secara paksa. Dia naikkan tubuh Renee ke punggungnya, lalu mulai berdiri. Tak memiliki tenaga untuk meronta, akhirnya Renee menyerah dan bersedia digendong oleh Dustin. Mereka berdua pun keluar dari gua itu.
Dustin berjalan dengan begitu hati-hati, tentu saja matanya awas memperhatikan sekeliling. Dustin sudah sangat waspada, mengawasi kemungkinan pria misterius itu mengikuti atau mengintai mereka dari kejauhan.
DORRR!
Namun, suara tembakan terdengar dari arah belakang, membuat Dustin tersentak. Ternyata ketakutannya terbukti benar, si pembunuh itu masih mengikuti mereka, mungkin sejak tadi mengintai dari kejauhan dan menunggu mereka keluar dari tempat persembunyian. Dustin mempercepat langkah kakinya.
DORRR! DORRR!
Orang itu terus menembak, untuk menghindarinya Dustin terus berlari sambil tetap menggendong Renee.
"Du-Dustin."
Suara Renee terdengar begitu pelan dan terbata-bata, membuat Dustin semakin mengkhawatirkannya. Tapi dia tidak bisa berhenti berlari sekarang, si pembunuh itu sedang gencar mengejar mereka, Dustin harus terus berlari jika ingin selamat darinya.
"Ada apa, Re? Kau baik-baik saja, kan?" Dustin tetap menanyakan kondisi Renee, meskipun tak bisa memeriksa kondisinya secara langsung.
"Tu-Turunkan aku. Uhuuk ... uhuuuk ..."
Darah menyembur dari mulut Renee dan membasahi pundak Dustin. Dustin terbelalak, tahu betul Renee sama sekali tidak baik-baik saja. Sesuatu yang buruk menimpa gadis itu.
"Renee, kau kenapa?" Suara Dustin terdengar lebih panik dibanding sebelumnya. Terlebih saat suara Renee tak lagi terdengar.
Dustin kembali menggulirkan mata untuk menatap sekeliling. Ketika dilihatnya semak-semak liar tak jauh darinya, dia pun berlari menerobos semak-semak itu dan menurunkan Renee dari gendongannya. Dengan perlahan dan hati-hati, Dustin merangkul tubuh Renee dalam dekapannya. Renee terlihat begitu kesakitan.
"Re, kau kenapa?"
"A-Aku te ... tertembak ..." sahut Renee, terbata-bata.
Dustin terkejut luar biasa hingga kedua matanya membulat sempurna disertai mulut yang menganga, dia panik tiada tara. Dengan cepat Dustin memeriksa tubuh Renee dan benar saja seperti yang dikatakan gadis itu, di punggungnya terdapat luka tembakan. Rupanya tembakan yang dilepaskan oleh si pembunuh itu berhasil mengenai punggung Renee.
"A ... ku akan mati. Aku su ... dah tahu ini akan ter ... jadi." Setiap kali berbicara, darah akan menyembur dari mulut gadis itu.
Dustin menggelengkan kepala berulang kali, "Tidak, Re. Kau pasti akan selamat. Aku akan segera membawamu ke tempat teman-teman kita."
Dustin mencoba untuk menggendong Renee kembali, namun gadis itu menolak dengan menggeleng-gelengkan kepala, Dustin pun mengurungkan niat. Kembali dia dekap erat tubuh Renee yang lemas. Napas gadis itu semakin berat dan raut wajahnya begitu kentara sedang menahan sakit.
"A ... ku su ... dah ti ... dak ta ... han la ... gi. Ini sa ... kit seka ... li ..."
"Bertahanlah, Re. Jangan menyerah." Dengan telapak tangannya, Dustin mencoba menahan luka tembakan di punggung Renee agar berhenti mengeluarkan darah. Namun gagal, darah itu terus keluar deras hingga melumuri telapak tangan Dustin.
"Teri ... ma ... ka ... sih, Dus ... tin. Sudah beru ... saha menyelamat ... kanku. To ... long jawab per ... tanyaanku tadi ... tentang pe ... rasaanmu pa ... da Fre ... ya ..."
Dustin tertegun, dia tahu tak ada cara untuk menyelamatkan Renee. Kondisinya sudah terlalu parah. Darah itu tak mau berhenti mengalir hingga tanpa sadar air mata pria itu mulai menetes. Dia juga menyadari tidak lama lagi Renee akan mengembuskan napas terakhir, gadis itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dustin ingin memberikan kebahagiaan pada Renee di detik-detik terakhirnya ini.
"Iya. Aku menyukai Freya. Maafkan aku, Re." Pengakuan itu pun akhirnya meluncur dari mulut Dustin yang wajahnya sudah banjir air mata karena menangisi sahabatnya yang sedang meregang nyawa tepat di depan matanya.
Renee tersenyum setelah mendengar jawaban Dustin, "Kau ha ... rus menya ... takan perasaan ... mu ini pa ... da Fre ... ya. Kau ti ... dak bo ... leh me ... ninggalkan ... nya."
"Iya. Aku pasti mengatakan padanya suatu hari nanti."
Renee mengangguk perlahan, “A ... aku ... harap, ka ... lian bi ... sa ber ... sa ... ma.”
Dustin tak merespon apa pun karena menurutnya keinginan Renee itu tidak akan pernah terjadi. Freya sudah bersama Thomas, jadi mustahil mereka bisa bersama. Lalu ...
Tatapan mata Renee tiba-tiba menjadi kosong, tubuhnya berhenti bergerak, dadanya diam tidak ada gerakan apa pun yang menandakan dia sudah berhenti bernapas. Tangannya yang sedang digenggam Distin pun terkulai lemas seolah seluruh tenaga gadis itu tersedot habis dari raganya.
Untuk memastikan keadaan Renee, Dustin memeriksa napas Renee dengan menyentuh hidungnya, memeriksa denyut nadinya serta menempelkan telinganya di d**a Renee untuk mendengarkan detak jantungnya. Akan tetapi, kenyataan pahitlah yang didapatkan Dustin. Tidak ada tanda-tanda Renee sedang bernapas pada hidungnya, dia juga tidak dapat menemukan denyut nadi Renee, yang paling menyakitkan jantung gadis itu tak lagi berdetak. Dustin menyadari Renee sudah meninggal dunia. Air matanya semakin mengalir deras tanpa mampu Dustin bendung lagi.
Sreek ... Sreek ... Sreeek ...
Suara langkah kaki yang menginjak ranting-ranting pohon yang berserakan di tanah, terdengar oleh Dustin. Ya, Dustin menyadari si pembunuh sedang berjalan mendekatinya. Dia memiliki pistol sehingga Dustin harus berhati-hati menghadapinya.
Untuk terakhir kalinya, Dustin menatap wajah Renee. Dia masih tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa Renee telah tiada dan dia telah gagal menyelamatkannya. Bahkan Dustin tak mampu menepati janjinya untuk melindungi gadis itu. Padahal Dustin sudah membulatkan hati untuk melindungi Renee bagaimana pun caranya. Untuk pertama kalinya Dustin merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di dunia ini, dia bahkan tidak bisa menyelamatkan sahabatnya sendiri.
Tapi Dustin menyadari saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyerah dan menyalahkan dirinya sendiri. Dia harus selamat dan menyelamatkan teman-temannya yang lain dari si pembunuh itu. Dustin bertekad akan membawa teman-temannya pergi sejauh mungkin dari tempat yang berbahaya ini.
Secara perlahan kepala Renee yang sejak tadi dia rangkul dalam dekapannya, Dustin letakkan di atas tanah. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dustin mengucapkan permintaan maaf pada Renee karena tidak bisa menyelamatkan dan membawanya pergi.
Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, yang menandakan si pembunuh semakin mendekati tempat persembunyian Dustin.
Tidak ada jalan lain bagi Dustin untuk melarikan diri. Karena itu, dia berlari lurus ke depan meskipun akibatnya si pembunuh itu pasti akan melihat sosoknya. Meskipun ketakutan sempat berkecamuk di dalam hati, pada akhirnya Dustin memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari sekencang-kencangnya.
DORR ... DORR ...
Suara tembakan kembali terdengar, si pembunuh kembali melepaskan tembakannya secara bertubi-tubi. Beruntung dua tembakan yang dilepaskan si pembunuh itu tidak ada yang berhasil mengenai Dustin.
Dustin terus berlari sekencang-kencangnya, begitupun dengan si pembunuh. Dia ikut berlari mengejar Dustin. Sebenarnya hingga kini Dustin tidak memahami kenapa orang itu ingin sekali membunuhnya dan teman-temannya. Dustin tidak pernah memahami alasan orang membunuh orang lain. Sebagai sesama manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta, Dustin sama sekali tidak mengerti alasan seseorang tega melenyapkan nyawa orang lain.
Jika boleh jujur, Dustin ingin sekali menangkap orang itu dan membawanya ke polisi, tidak ada satu pun alasan bagi Dustin untuk memaafkan orang itu. Dustin sudah memantapkan hatinya akan memberikan hukuman yang setimpal untuk si pembunuh itu karena dia telah membunuh dua sahabatnya dengan kejam. Akan tetapi, dalam situasi seperti ini, Dustin sama sekali tidak berdaya. Dia bahkan tidak mampu melawan orang yang memiliki senjata api itu. Satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya sekarang hanyalah terus berlari menghindari orang itu. Dia harus bertahan hidup.
DOORRR!!
Satu suara tembakan itu terdengar begitu nyaring, dan rasa sakit yang amat sangat dirasakan Dustin pada betisnya. Ya, peluru yang ditembakan orang bertopeng itu telah berhasil mengenai betis Dustin.
Dustin terjatuh dan kesulitan untuk kembali berdiri. Darah segar mengalir dari luka tembakan di betisnya. Dustin merintih kesakitan, lalu ...
Moncong pistol itu tepat berada di depan kening Dustin. Entah sejak kapan orang misterius itu sudah berdiri tepat di depannya? Dustin sungguh terkejut karena gerakan orang itu sangat cepat. Dia bahkan berhasil mengejar Dustin dalam waktu yang singkat.
Dustin menelan ludahnya saat menatap moncong pistol yang tepat berada di depan mata bahkan menempel di keningnya.
"Siapa kau? Kenapa kau ingin membunuh kami?" Tanya Dustin, meski takut dirinya masih sempat melontarnya pertanyaan.
Orang bertopeng itu sama sekali tidak menimpali ucapan Dustin. Pada bagian wajah yang tidak tertutupi topeng, orang itu menyunggingkan seulas senyum yang terlihat sangat menjijikkan di mata Dustin. Orang itu menarik pelatuk pistolnya, tidak diragukan lagi benar-benar berniat untuk membunuh Dustin.
Dustin berada dalam situasi yang membuatnya terjepit. Entah apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan diri dari tembakan itu yang tidak diragukan lagi akan berhasil merenggut nyawanya jika Dustin hanya berdiam diri seperti ini.
Meskipun kedua mata orang itu terhalang oleh topeng sehingga tidak terlihat jelas, namun Dustin menyadari bahwa tatapan orang itu sedang fokus pada dirinya. Hal ini pun dimanfaatkan Dustin sebaik mungkin. Tangan kanannya meremas tanah yang berada di sekelilingnya. Beruntung tanah itu sangat halus bagaikan pasir, hal ini mungkin disebabkan karena tanah di sekitarnya sangat kering dan gersang. Hanya di tempat Dustin dan orang itu berada saat ini, tidak ada satu pun pohon ataupun semak-semak yang tumbuh. Hanya lahan kosong yang menjadi saksi bisu keadaan menegangkan yang tengah terjadi antara Dustin dan si pembunuh.
Dustin melemparkan tanah yang digenggamnya itu tepat ke wajah si pembunuh. Meskipun sedang memakai topeng tapi Orang misterius itu mengusap-usap mata, tampaknya Dustin berhasil membuatnya tidak bisa melihat untuk sementara waktu. Ya, kondisi ini hanya akan berlangsung sementara, tidak lama lagi orang bertopeng itu akan kembali bisa melihat.
Dustin mati-matian menahan sakit yang dia rasakan di betisnya. Dia memaksakan diri untuk berdiri dan berlari. Tekad kuatnya untuk mempertahankan hidup telah membuat Dustin berhasil melawan rasa sakit. Dustin berlari dengan menyeret satu kakinya yang tertembak.
Namun ...
Belum terlalu jauh Dustin berlari, seketika dia menghentikan langkah. Tepat di hadapannya sebuah jurang membentang luas. Dustin memberanikan diri untuk menatap ke bawah jurang itu. Sebuah air terjun dengan arusnya yang deras berada tepat di bawah jurang. Air terjun itu mengalir mengikuti arus sungai. Melihat sungai itu, Dustin pun menyadari bahwa inilah jalan keluar baginya. Dia yakin sungai itu akan membawanya kembali ke tempat teman-temannya. Namun, yang jadi pertanyaannya sekarang, sanggupkah dia selamat jika melompat dari ketinggian seperti ini? Sanggupkah dia melawan arus yang kuat dari air terjun dengan keadaan kakinya yang terluka seperti ini?
Dustin kembali menatap ke arah belakang, dia merasa lega ketika tidak melihat si pembunuh itu. Ini menandakan bahwa orang itu belum pulih dari keadaan buta sementaranya. Tetapi, tidak lama lagi dia pasti akan pulih dan kembali mengejar Dustin. Jika Dustin hanya diam tanpa melakukan apa pun sekarang, maka dia tidak akan memiliki kesempatan kedua untuk menyelamatkan diri.
Dengan pemikiran seperti itu, Dustin memutar otak untuk mengambil keputusan yang terbaik baginya. Dengan kondisi kakinya yang terluka, Dustin menyadari tidak mungkin sanggup terus berlari menghindari orang itu. Si pembunuh misterius itu pasti dengan mudah akan menemukannya dan jika dia berhasil menemukan Dustin lagi, maka kali ini dia pasti akan langsung menembakan senjatanya pada Dustin.
Yang ada di pikiran Dustin dan yang paling diinginkannya saat ini hanyalah meloloskan diri dari orang bertopeng itu. Kemudian secepatnya membawa teman-temannya pergi dari tempat ini. Dustin pun menghilangkan keraguannya. Dia sudah membulatkan tekad akan melompati jurang dan semoga tubuhnya benar-benar mendarat di dalam sungai. Ya, inilah satu-satunya jalan tercepat bagi Dustin untuk lari dari orang itu dan tiba di tempat teman-temannya.
Dustin mengambil ancang-ancang dan tanpa pikir panjang lagi melompat dari atas tepi jurang itu.
DOOORRR!!
Bersamaan dengan itu, suara tembakan kembali terdengar. Si pembunuh misterius telah pulih dari kebutaannya dan kembali menembakkan pistolnya pada Dustin.