CHAPTER 8

3310 Words
"Du-Dustin, bukankah itu pakaian yang dikenakan Edmund? Mungkinkah jasad itu, jasad Edmund?" Dustin tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena sebenarnya dia pun berpikiran sama dengan Renee. Hanya saja dia tidak dapat mempercayai bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa menimpa sahabatnya, Edmund. Dia dibunuh dengan sangat sadis. Bahkan kepala dan tangan sebelah kanannya hilang. "Dustin, ternyata memang benar, di sini sangat berbahaya. Kita harus segera pergi dari sini. Aku ... a...ku tidak mau mati." Renee terisak dan menangis dengan tersedu-sedu. Dustin mencoba menenangkannya meskipun sebenarnya DIA juga merasakan kepanikan dan ketakutan yang sama dengan Renee. "Tenanglah, Re. Kita pasti akan baik-baik saja," ucap Dustin sembari mengusap-usap punggung Renee. "Tidak, kita tidak akan baik-baik saja. Pembunuh itu, dia pasti mengincar kita juga. Aku tidak mau mati ... aku tidak mau mati ...!" Sebenarnya Dustin berniat untuk memindahkan jasad yang terapung itu ke pinggir sungai agar tidak terbawa arus. Namun, Renee tiba-tiba bersikap histeris, dengan tiba-tiba dirinya berjalan cepat keluar dari air sungai dan berlari tanpa mengatakan apa pun pada Dustin. Tentu saja Dustin sangat terkejut, dia pun segera mengejar Renee. "Re, kau mau kemana? Kita harus kembali ke tempat teman-teman kita!" Teriak Dustin namun Renee mengabaikannya. Gadis itu terus berlari tanpa arah. Renee berlari sangat kencang membuat Dustin cukup kesulitan mengejarnya. "Re, berhenti. Jangan pergi ke sana. Kita bisa tersesat!" Sekali lagi Renee mengabaikan ucapan Dustin. Dia tetap berlari tanpa mempedulikan arah yang diambil bertolak belakang dengan arah menuju ke perkemahan.  Kemudian, Renee menghentikan langkah ketika melihat sebuah rumah kecil berada tepat di depan matanya. "Re!" Renee menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya, yang tidak lain adalah Dustin. Dustin akhirnya berhasil menyusul dan kini berdiri di samping Renee. "Ada sebuah rumah di sana," kata Renee sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah rumah yang dia maksud. "Mungkin ada orang yang tinggal di rumah itu. Coba kita lihat," ajak Dustin, yang langsung dituruti Renee. Dustin berjalan mendekati rumah itu. Tapi, entah kenapa Renee merasakan keraguan di dalam hatinya untuk memasuki rumah itu. Hanya dengan melihat dari luar rumah, tubuh Renee sudah gemetaran. "Dustin, kau benar. Lebih baik kita kembali ke tempat teman-teman kita." "Aku hanya ingin tahu rumah itu ada penghuninya atau tidak. Re, lebih baik kau jangan jauh-jauh dariku. Setelah melihat ke dalam rumah ini, kita akan segera pergi dan kembali ke perkemahan." Renee masih ragu untuk mengikuti Dustin. Dirinya masih berdiri mematung tanpa ada keinginan sedikit pun untuk melangkah maju. "Aku janji, kita pasti akan baik-baik saja,” bujuk Dustin, masih tak menyerah. “Percayalah padaku," tambahnya. Dustin memberikan seulas senyum yang sangat menawan di mata Renee, membuat keraguan yang sejak tadi berkecamuk di dalam hatinya, melebur entah kemana. Renee mengangguk, menyetujui. Mereka berdua berjalan mendekati pintu rumah. Dustin beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada seorang pun yang membukanya. Ketika Dustin mencoba membuka pintu, mereka tercengang ketika pintu terbuka yang menandakan sejak awal pintu itu memang tidak dikunci. Bau yang sangat menyengat dari dalam rumah tercium oleh Dustin dan Renee begitu pintunya mereka buka. "Dustin, bau apa ini?" Tanya Renee sambil membekap hidungnya dengan telapak tangan. "Entahlah, seperti bau busuk. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pemilik rumah ini. Ayo kita periksa." Renee tidak bisa menyembunyikan rasa takut yang dia rasakan. Dia refleks memeluk tangan Dustin. Dustin bisa mengerti ketakutan Renee sehingga dia membiarkan gadis itu melakukan apa pun yang diinginkannya. Dustin tak keberatan Renee memeluknya. Mereka berdua memasuki rumah yang sangat sempit itu. Rumah yang hanya berupa ruangan yang sangat kecil. Banyak gambar-gambar menyeramkan di dinding ruangan. "Du-Dustin ... benda di atas meja itu ... I ... itu ..." Renee dengan terbata-bata menunjuk dengan jari telunjuknya ke sebuah meja yang terletak di tengah-tengah ruangan. Dustin berjalan mendekati meja itu dan Renee yang masih memeluk tangannya, terpaksa mengikutinya. "I-Ini." "Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!" Renee berteriak histeris begitu melihat dari dekat benda yang tergeletak di atas meja itu. Benda itu ... tidak diragukan lagi merupakan kepala manusia. Dan yang membuat mereka begitu terkejut, meskipun kedua bola mata kepala itu tidak ada, tapi mereka berdua sangat mengenali wajah itu. Ya, Dustin dan Renee menyadari bahwa kepala itu adalah kepala sahabat mereka ... Edmund ...   ***   Begitu tiba di tempat perkemahan, hal pertama yang ditemukan Thomas adalah sosok Charlos dan Andre yang berdiri dengan ekspresi tegang. Thomas menghampiri mereka dengan langkah cepat, dia penasaran apa yang sudah menimpa kedua sahabatnya itu.  “Char, Ndre. Kalian kenapa?” Tanyanya setelah kini berdiri tepat di hadapan dua sahabatnya.  Andre terdiam, bibirnya masih terkatup rapat seolah lupa untuk berbicara. Namun tubuh pria itu gemetaran seolah sedang menahan takut. Thomas pun kini menatap Charlos, berharap pria itu akan menjelaskan apa yang sudah menimpa mereka.  “Kami menemukan sesuatu,” ucap Charlis, akhirnya bersuara. “Menemukan apa?” Thomas balas bertanya.  Charlos tak mengatakan apa pun, pria itu tiba-tiba menunjuk dengan dagunya ke arah belakang. Thomas yang tak paham hanya mengernyitkan dahi.  “Itu di belakangmu,” tambah Charlos yang memahami Thomas sedang kebingungan. Tanpa pikir panjang, Thomas pun berbalik badan. Kini tubuhnya menegang dengan bola mata yang terbelalak sempurna, tepat di bawah pohon tergeletak potongan tangan manusia yang sudah terkoyak.  “I-Itu tangan siapa?” tanya Thomas. “Entahlah,” sahut Charlos sembari mengangkat kedua bahunya. “Itu pasti tangan Edmund.” Dan yang tiba-tiba menyela itu adalah Andre yang akhirnya angkat suara. Charlos dan Thomas seketika menatap pria itu.  “Berapa kali kubilang, jangan bicara sembarangan.” Charlos menggeram, semakin kesal dengan pikiran Andre yang menurutnya mustahil. Hingga detik ini Charlos percaya Edmund masih hidup dan baik-baik saja. Pria itu hanya sedang tersesat di suatu tempat.  “Coba lihat kain yang menempel di potongan tangan itu. Itu kan kaos yang dikenakan Edmund semalam.”  Thomas memperhatikan kain yang dimaksud Andre, wajahnya memucat saat dirinya menyadari kebenaran ucapan Andre.  “Andre benar, Char. Itu memang kaos yang dipakai Edmund.”  Charlos kembali menggeram, kesal karena Thomas tidak ada bedanya dengan Andre.  “Berhenti mengatakan omong kosong!” Bentaknya. “Edmund masih hidup!” “Aku tahu kau dan Edmund sangat dekat, tapi kau harus menerima kenyataan ini. Itu memang potongan tangan Edmund!” Thomas balas berteriak.  Jika Andre yang penakut, tidak berani balas membentak Charlos, tidak demikian dengan Thomas. Pria itu dengan berani beradu mulut dengan Charlos. “Coba kau perhatikan baik-baik, itu memang lengan Edmund. Bahkan ada tato di pergelangan tangannya.”  Charlos dan Andre saling berpandangan. Mereka baru teringat kalau Edmund memang memiliki tato di pergelangan tangannya. Jadi memang benar potongan lengan itu milik Edmund.  “Dimana kalian menemukan potongan tangan itu?” Tanya Thomas. “D-Di dalam hutan. Kami menemukannya sedang dimakan anjing liar,” sahut Andre karena Charlos hanya terdiam, tak merespon apa pun. Tatapan matanya tetap tertuju pada potongan lengan yang sengaja mereka bawa dari hutan lalu diletakan di bawah pohon.  “Kalau itu memang tangan Edmund, lalu dimana jasadnya?” Gumam Charlos pelan, namun Andre dan Thomas masih bisa mendengarnya dengan jelas.  “Jangan-jangan si pembunuh itu memutilasi tubuh Edmund, lalu potongan tubuhnya disebar di tempat yang berbeda.” Andre mengutarakan pendapatnya, dirinya yang semakin ketakutan tanpa sadar memeluk lengan Thomas.  “Seram sekali di sini. Ayo, lebih baik kita pergi saja.” “Jika benar itu potongan lengan Edmund, kita juga harus mencari jasadnya. Setelah melihat jasadnya dan benar itu Edmund, baru aku akan percaya,” kata Charlos, serius.  “Tapi, dimana kita mencarinya?” Tanya Andre. “Di dalam hutan.” “Jadi maksudmu, kita masuk lagi ke dalam hutan?” “Ya,” jawab Charlos tegas. “Tidak, tidak. Aku tidak mau masuk ke hutan lagi. aku kapok. Di sana menyeramkan.”  Charlos tak berkomentar apa pun, sudah menduga reaksi Andre yang pengecut pastilah seperti itu.  “Bagaimana menurutmu, Thom? Mau ikut mencari di hutan bersamaku?” Charlos kini meminta pendapat pada Thomas. Di saat Thomas sudah membuka mulutnya hendak bersuara, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia pun mengambilnya dan menemukan Freyalah yang meneleponnya.  “Ada telepon dari Freya, sebentar aku angkat dulu.” “Oh iya, aku tidak melihat Freya, dimana dia?” tanya Charlos, baru menyadari Thomas hanya datang seorang diri. “Aku meninggalkannya di desa. Di sana lebih aman untuknya.” Setelah mengatakan itu, Thomas pun mengangkat telepon, sengaja mengencangkan volume ponsel agar Charlos dan Andre bisa ikut berkomunikasi dengan Freya.  “Hallo, Frey,” ucap Thomas, menyapa pertama kali begitu telepon tersambung. “Kau sudah bertemu dengan mereka?” “Ya sudah, aku sedang bersama Charlos dan Andre di sini.” “Lalu Dustin dan Renee? Apa mereka juga ada di sana?”  Thomas menoleh pada Charlos dan Andre, meminta penjelasan tentang keberadaan Dustin dan Renee yang tak dilihatnya di tempat itu.  “Mereka berdua belum kembali. Mungkin masih di sekitar sungai mencari Edmund.” Yang menjawab adalah Charlos karena setahu dirinya Dustin dan Renee memang melakukan pencarian di sekitar sungai.  “Kalian sudah menghubungi mereka?” Freya kembali bertanya. “Sudah tadi sebelum aku menelepon kalian. Tapi ponsel mereka tidak aktif. Mungkin di tempat mereka berada tidak ada jaringan,” jawab Charlos. Benar dia dan Andre sudah menghubungi Dustin dan Renee sebelum mereka menghubungi Thomas dan Freya tadi.  “Jangan-jangan mereka juga menghilang,” gumam Freya, terdengar mulai panik. “Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku yakin mereka hanya masih mencari Edmund di sekitar sungai. Sungai itu kan luas dan panjang jadi wajar mereka lama mencarinya.” Thomas berusaha menenangkan kekasihnya yang mulai panik dan histeris di seberang sana.  “Kalian jemput aku!” Pinta Freya tiba-tiba. “Kau tunggu saja di sana. Di desa jauh lebih aman untukmu daripada di sini.”  Suara decakan Freya mengudara, tak suka mendengar ucapan Thomas. “Jadi menurutmu, aku bisa tenang menunggu di sini sedangkan teman-temanku sedang dalam bahaya? Mungkin kau bisa seperti itu, Thom. Tapi aku tidak. aku ingin membantu mencari mereka. Aku khawatir pada Dustin dan Renee.” Freya berujar dengan tegas.  “Aku setuju dengan Thomas, lebih baik kau tunggu saja di sana, Frey.” Charlos ikut membujuk.  “Char, kau kan yang pertama kali mendengar berita bahwa di sini ada pembunuh kejam? Aku juga mendengarnya dari warga desa. Mereka meyakinkanku agar segera pergi dari tempat ini sekarang juga. Kita harus segera mencari Dustin, Renee dan Edmund. Lalu mengajak mereka pergi. Tidak ada waktu lagi untuk ragu.”  “Tapi ...” “Kalau kalian tidak mau menjemputku, maka aku sendiri yang akan pergi ke sana.”  Thomas terbelalak, terkejut tentu saja mendengar keputusan Freya yang begitu keras kepala itu.  “OK, Frey, OK. Kami akan menjemputmu ke sana,” ujar Thomas cepat, dia khawatir Freya benar-benar nekat pergi seorang diri. “Cepat ke sini atau aku benar-benar akan pergi sendiri.” “Ya, ya, kami akan ke sana sekarang.” “OK, aku tunggu.” Sambungan telepon terputus karena Freya yang memutuskannya.  “Si Freya tidak pernah berubah ya, tetap keras kepala seperti dulu,” umpat Charlos, semakin tersulut emosi.  “Sudahlah, yang penting kita jemput dia dulu. Lalu kita kembali ke sini. Kita cari Dustin dan Renee, kemudian bergegas pergi dari sini.” “Terus jasad Edmund, bagaimana?” Tanya Charlos, tak terima jika jasad pria itu tidak dibawa pulang. “Kita pikirkan lagi masalah itu nanti. Sekarang kita jemput Freya dulu daripada dia nekat ke sini sendirian.” Thomas sudah mengambil keputusan, dia pun melangkah menuju mobilnya terparkir, diikuti Charlos dan Andre di belakangnya.  Mobil yang dikendarai Thomas itu pun mulai melaju meninggalkan area perkemahan menuju desa.   ***   Setibanya di desa, sosok Freya terlihat sedang berdiri di dekat gapura. Dia berlari begitu melihat mobil Thomas mendekat. Gadis itu membuka pintu mobil dan duduk tepat di samping Thomas. Diia menoleh ke belakang dan mendapati hanya Charlos dan Andre yang duduk di sana. "Dimana Dustin dan Renee? Kenapa mereka belum juga kembali?” Tanya Freya, semakin cemas karena sahabatnya yang menghilang bertambah menjadi tiga orang.            "Tenanglah, sayang. Mungkin mereka sedang berpacaran," sahut Thomas sambil terkekeh. Mungkin pria itu hanya bercanda, namun ucapannya sukses menyulut emosi teman-temannya. Thomas melakukan kecerobohan dengan bercanda di saat yang tidak tepat. Freya menatap dengan sinis pada kekasihnya itu. Dia tidak menyangka Thomas akan berkata demikian dalam situasi yang sangat genting seperti ini. "Kau ini sejak tadi bicara sembarangan terus ya, Thom?" Charlos kembali merasakan kekesalan yang amat besar di dalam hatinya kepada Thomas. "Aku kan hanya bercanda. Lagi pula kalian dengar sendiri kan pengakuan cinta Renee kemarin malam waktu kita mengadakan permainan itu?" Sahut Thomas, membela diri. "Ya, tapi tidak mungkin mereka berpacaran di saat kita semua sedang begitu mengkhawatirkan Edmund." Charlos membantah pemikiran Thomas yang keterlaluan menurutnya. "Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan sepasang pria dan wanita yang sedang dimabuk cinta seperti mereka berdua." Thomas mengatakan itu dengan diiringi senyuman mengejek, membuat Charlos semakin merasa kesal hingga suara gemeretak giginya terdengar jelas. Pada awalnya Charlos berniat untuk menimpali perkataan Thomas, tapi dia mengurungkan niat ketika mendengar perkataan Freya. "Hentikan. Bukan saatnya untuk berdebat, kita harus mencari Renee dan Dustin. Mereka sudah lama pergi." "Aku setuju dengan Freya, kita harus mencari mereka lalu segera pergi dari tempat ini." Andre yang sejak tadi terdiam, akhirnya angkat suara. “OK, kita kembali ke sana sekarang.” Thomas tak membantah lagi, dia memutar arah mobil, kini kembali menuju perkemahan.   Perjalanan mereka terasa sunyi, tak ada satu pun yang bersuara. Semua tampak serius dengan pemikiran masing-masing. Hingga mobil pun memasuki area perkemahan lagi, tak lama perjalanan yang mereka tempuh mengingat jarak antara desa dan area perkemahan memang cukup dekat.  Keempat orang itu turun dari mobil secara serempak setelah Thomas memarkirkannya dengan sempurna. “Ayo, kita pergi ke sungai sekarang. Mungkin mereka ada di sana sekarang,” ajak Andre. Dirinya sudah tidak tahan berlama-lama di tempat itu. Dia ingin segera menemukan Dustin dan Renee, lalu mengajak mereka pergi. "Tidak, Ndre. Kau dan Freya tunggulah di sini, mungkin saja mereka akan kembali ke sini. Biar aku dan Charlos yang mencari mereka. Bagaimana menurutmu, Charlos?" Thomas yang mengusulkan. Charlos mendengus disertai seringaian yang tiba-tiba tercetak di wajahnya. "Aku setuju, kita buktikan perkataanmu tadi benar atau tidak," katanya. "Hm, jadi ini seperti ajang pertaruhan ya? Aku tidak keberatan." Thomas balas menyeringai lebar. Charlos yang masih tak terima karena Thomas mengatakan Dustin dan Renee sedang bermesraan di saat mereka sedang kelimpungan mencari Edmund. Akan Charlos buktikan bahwa pemikiran Thomas hanyalah omong kosong belaka. Dia percaya Dustin dan Renee bukanlah orang egois yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, seperti yang dipikirkan Thomas Freya sangat kesal mendengar perdebatan antara Thomas dan Charlos yang tiada habisnya. Dia ingin mengakhiri semua perdebatan di antara mereka karena saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk bertentangan. Mereka harus bersatu dan kompak, tempat ini berbahaya. Dan satu-satunya cara agar mereka bisa pergi dengan selamat adalah dengan saling bekerja sama dan kompak. Itulah yang dipikirkan Freya saat ini. "Sudah cukup. Keselamatan teman-teman kita kenapa kalian jadikan bahan pertaruhan? Pikirkan tentang keselamatan mereka. Kalian ingat di sekitar sini ada seorang pembunuh sadis?"  Charlos dan Thomas saling berpandangan. Sebelum kepala mereka tertunduk karena perkataan Freya telah menyadarkan mereka. "Iya, Freya, kau benar. Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera mencari mereka. Kalian hubungi aku jika mereka kembali ke perkemahan." Freya dan Andre menganggukkan kepala secara bersamaan. Lalu Charlos melangkah pergi tanpa mempedulikan Thomas lagi. "Baiklah, aku juga pergi. Andre tolong jaga Freya." Thomas berucap demikian sebelum dirinya melenggang pergi dan mengambil arah yang sama dengan Charlos yaitu menuju sungai. "Kau tenang saja, Thom. Berhati-hatilah dan cepatlah kembali," balas Andre, menyemangati. "Tentu saja." "Hati-hati, Thom." Freya ikut berbicara. "Kau tidak perlu khawatir, sayang. Aku pasti baik-baik saja dan menemukan mereka." Thomas pun melangkahkan kakinya meninggalkan Freya dan Andre. Thomas dan Charlos akan mencari Dustin dan Renee, tanpa mereka ketahui sesuatu yang berbahaya tengah mengincar mereka di sana.   ***   "Tempat ini ... ini pasti rumah pembunuh itu. Kita harus segera pergi dari sini Dustin." Namun Dustin mengabaikan perkataan Renee, dia berjalan mendekati lemari dan membuka pintu lemari itu. Pemandangan yang begitu mengerikan kembali terlihat oleh Dustin. "Ada apa di dalam lemari itu, Dust?" Tanya Renee, dia pun jadi penasaran karena kini Dustin hanya diam mematung sambil menatap serius ke dalam lemari. Renee berniat melangkah, mendekati Dustin. Dustin tidak ingin membuat Renee melihat pemandangan ini, dia tidak ingin menambah kepanikan dan ketakutan Renee yang jelas akan bertambah besar jika melihat pemandangan di dalam lemari. "Jangan kemari!” Titahnya tegas. “Di sini sangat menjijikkan dan mengerikan. Aku bertaruh kau pasti tidak akan kuat melihat pemandangan ini." Renee menuruti perkataan Dustin, dia mengurungkan niat untuk melangkah dan memilih tetap berdiri di dekat meja dimana kepala Edmund tergeletak di sana. Semakin lama menatap kepala Edmund membuat Renee tidak kuasa lagi menahan kesedihannya. "Edmund, kenapa kau jadi seperti ini?" Air mata Renee berjatuhan bagai aliran sungai, membasahi wajahnya. Sebenarnya Dustin pun merasakan kesedihan yang sama dengan gadis itu. Tapi dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Dia harus bisa menguatkan Renee yang lebih rapuh darinya. Akan tetapi, tiba-tiba Renee merasakan sesuatu menjerat lehernya. Dan benda itu adalah sebuah tali yang sengaja dibuat melingkat. Lalu seseorang melemparkan tali itu dan tepat melingkar di leher Renee. Tali itu menyeret Renee dengan sangat kuat. "Du...Dustin...to long a ...ku..." Dustin yang tengah membelakangi Renee, mendengar permintaan tolong Renee dengan suaranya yang terbata-bata. Dustin segera berbalik badan dan menatap ke arah Renee. Dustin terbelalak ketika melihat Renee sedang diseret oleh tali. Tali yang sangat panjang sehingga dia tidak dapat melihat orang yang sedang memegang tali itu. Dustin segera berlari menghampiri Renee yang tengah diseret dengan tali itu. Dia berusaha melepaskan tali yang menjerat lehernya. "Re!!" Teriaknya panik karena melihat Renee tampak mulai kesulitan bernapas. "Du-Dustin ... uhuk ... uhuk ... uhuk ..." Dustin memegangi kaki Renee tapi tarikan dari tali itu sangatlah kuat. Dustin menyadari jika dia terus memegangi kaki Renee seperti ini maka Renee pasti akan mati karena lehernya tercekik tali. Dustin melepaskan kaki Renee dan gadis itu kembali terseret. Punggungnya bergesekan dengan lantai lalu berganti dengan tanah begitu tubuh Renee kini sudah tertarik hingga keluar ruangan. Jatuh bangun Dustin mengejar Renee. Tidak terhitung banyaknya pria itu terjatuh dan ikut terseret demi melepaskan Renee dari ikatan tali yang menjerat lehernya. Dustin tidak menyerah, dia tetap berusaha untuk menangkap dan melepaskan tali itu. Kerja keras dan kegigihan Dustin akhirnya berhasil. Dia berhasil menangkap tubuh Renee yang terlihat mulai lemas. Dustin memegang tali yang menjerat leher Renee dan memotong tali itu dengan pisau yang tadi dia ambil di dalam lemari sebelum mengejar Renee.  Tali itu sangat sulit untuk dipotong, terlebih seseorang terus menarik tali. Renee terus menjerit kesakitan. Jika terus seperti itu maka dirinya pasti akan tewas. Tapi Dustin tidak menyerah, tak peduli meskipun tangannya terluka karena ikut tersayat pisau, Dustin tetap berusaha memotong tali. Hingga akhirnya tali pun berhasil dipotongnya. Cepat-cepat Dustin melepaskan tali yang melingkari leher Renee. Gadis itu masih terbatuk hebat tapi setidaknya dia sudah bisa bernapas kembali. Dengan rakus Renee menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang nyaris kosong. "Kenapa tali ini bisa menjerat lehermu?" Tanya Dustin. Matanya bergulir ke sekeliling untuk mencari orang yang memegang tali. Namun, sosoknya tak Dustin temukan di mana pun. Sepertinya sosok itu sudah melarikan diri karena tali tergeletak begitu saja di tanah. "A-Aku bisa merasakan ada orang yang mendekatiku, suara langkah kakinya samar-samar terdengar. Lalu dia melemparkan tali itu ke leherku. Dia menarikku, semakin lama tarikannya semakin cepat." "Ya dan aku yakin bukan manusia yang menarik tali karena tidak mungkin tali ini akan menyeretmu secepat itu jika ditarik oleh manusia." Rasa penasaran Dustin telah membuatnya dengan nekat mengikuti arah tali itu memanjang. "Kau mau kemana Dustin?" Tanya Renee khawatir. Dirinya masih berbaring di tanah karena tubuhnya masih terasa lemas. "Aku harus menemukannya. Orang yang telah melakukan ini padamu." "Tapi ... tapi mungkin saja dia pembunuh sadis, pemilik rumah itu." "Pokoknya kita telusuri dulu tali ini. Orang itu pasti sedang memegangi tali ini." Dustin terus berjalan lurus mengikuti arah tali itu membentang. Renee perlahan bangkit berdiri. Dirinya tak mau ditinggalkan sendiri. Dengan tertatih-tatih, dia mengikuti langkah Dustin. Terlihat dengan jelas betapa kesakitan tubuhnya saat ini. Mereka berdua terus menelusuri tali hingga akhirnya mereka tiba di ujung tali itu. Sekarang Dustin mengerti alasan tali menyeret tubuh Renee dengan cepat dan kuat hingga dia kewalahan mengejarnya. Rupanya tali itu diikat pada sebuah mobil. Ya, ada sebuah mobil jeep sedang terparkir tepat di depan Dustin dan Renee saat ini. "Kenapa di sini bisa ada mobil?" "Ini pasti mobil milik si pembunuh itu, Dustin." Sebenarnya Dustin memiliki pemikiran yang sama dengan Renee. Dia ingin melihat sosok orang yang dengan kejamnya melakukan ini pada Renee sehingga dengan berani dia berjalan menghampiri mobil. "Du-Dustin." Renee yang berdiri di belakang Dustin memegangi tangan pria itu. Dustin bisa merasakan Renee begitu ketakutan saat ini. "Ada apa, Re?" Tanya Dustin dengan alis mengernyit karena melihat wajah Renee begitu pucat. Gadis itu sedang menatap lurus ke depan dengan bola mata membulat sempurna seolah sedang melihat sesuatu yang menyeramkan. "I-Itu ..." Dengan jari telunjuknya, Renee menunjuk ke suatu arah dan Dustin pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh gadis itu. Akhirnya Dustin menyadari alasan Renee begitu ketakutan. Di tempat yang ditunjuk oleh Renee, berdiri sesosok tubuh memakai pakaian serba hitam dan topeng yang menutupi wajahnya sehingga Dustin tidak bisa mengenalinya. "D-Dia pasti pembunuh itu, Dustin." Dustin tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari orang misterius itu. Lalu orang itu mengeluarkan suatu benda yang diselipkan di pinggangnya, sukses membuat Dustin tercengang. Benda itu sebuah pistol dan orang itu menodongkannya kepada mereka berdua. Dengan sigap Dustin memegang tangan Renee dan membawanya lari secepat mungkin. Dustin sangat memahami apa yang akan dilakukan oleh orang itu, dia ingin menembak mereka. Dia juga yakin orang itu tidak lain adalah si pembunuh sadis yang diceritakan Charlos dan mungkin yang telah membunuh Edmund. Yang ada di pikiran Dustin saat ini hanyalah bisa menghindari orang itu dan menyelamatkan Renee dari bahaya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD