Ada yang namanya setia. Ada yang namanya cinta. Dan ada yang namanya berusaha untuk setia setelah mencinta
Suasana malam hari kali ini tidak jauh berbeda dari biasanya. Hanya saja rintikan hujan sudah membasahi kota sejak pergantian terang ke gelap tadi. Rasanya kalau hujan seperti ini, lebih baik untuk tidur, dibanding keliling malam untuk bermain bersama teman. Itu sih menurut Gilang.
Sama seperti apa yang ada di dalam pikirannya, Gilang memilih untuk bersantai dengan gitar yang berada di pelukannya. Seharusnya, ia tidak berada di sini. Karena malam ini teman-temannya sudah mengajaknya berkumpul di tempat biasa. Sayangnya, kakinya terlalu malas untuk melangkah keluar kamar, dan memilih berdiam di balkon kamarnya.
Angin hujan tidak terlalu kencang, sehingga airnya tidak terlalu mengganggu Gilang yang duduk di balkon lantai dua kamarnya itu.
Petikan-petikan dari tangannya mulai menghasilkan alunan indah dari gitar berwarna cokelat muda itu. Itu bukan gitarnya, lebih tepatnya milik Kiara yang diambil paksa olehnya. Kenapa? Karena Kiara itu sama sekali tidak berbakat dalam musik, tetapi selalu menghabiskan uangnya untuk membeli alat musik. Jadi dari pada tidak terpakai, lebih baik untuk Gilang.
Fokus Gilang teralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Sebuah nama terpampang jelas di layarnya itu, membuat sang empunua tersenyum kecil.
Araya's calling...
Tanpa perlu menyingkirkan gitar Kiara dari pelukannya, Gilang langsung mengambil ponselnya dan menyambungkan panggilan tersebut.
"Hai." Gilang menyapa lebih dulu ketika ia yakin panggilan sudah tersambung.
"Gilang, laper!"
Gilang tertawa mendengarnya. Jadi Gilang ditelfon oleh cewek di seberang sana untuk mengabari kalau gadis itu kelaparan?
"Makan dong," balasnya dengan kekehan.
"Kamu di mana?"
"Di rumah."
"Masa? Tumben banget kamu di rumah malam Selasa!"
Lagi Gilang tertawa kecil. Ternyata Araya, cewek yang menghubunginya itu sudah hafal betul dengan kebiasaanya.
"Iya. Hujan, enak di rumah."
"Kalau aku minta kamu buat keluar sama aku, kita makan bareng, mau gak?"
"Tunggu ya. Aku jalan sekarang." Gilang menjawab tanpa berpikir.
Ia menutup panggilan dan langsung memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian. Berarti niatnya untuk menikmati hujan malam ini harus ditunda dulu. Karena ada hal penting lainnya yang menunggu dirinya.
Araya, gadis berambut panjang yang berhasil mengambil hatinya sejak tahun pertama ia menjadi murid SMA Angkasa. Gadis manja yang selalu menjadi kebanggaannya, dan gadis cantik yang selalu punya banyak penggemar. Sifatnya? Tidak jauh berbeda dari Gilang. Anggap saja Araya adalah Gilang versi perempuan. Sama-sama menjujung tinggi sikap senioritas, tetapi tetap peduli dengan lingkungan sekitar.
Tanpa perlu waktu yang lama, Gilang sudah siap dengan balutan kaos hitam polos dan celana pendek berwarna senada, serta sendal jepit yang nyaman. Ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, dan lebih dulu pergi ke ruang keluarga. Karena biasanya, Kiara selalu berdiam di dalam sana menikmati acara televisi, sampai ia ketiduran di sana. Gilang suka heran sendiri, Kiara itu punya kamar sendiri, punya televisi juga di dalamnya, tetapi adiknya itu malah suka sekali menghabiskan waktunya di ruang keluarga. Aneh.
Sesuai dugaannya, Kiara sedang duduk manis di salah satu sofa yang berada di ruang keluarga dengan segelas es krim di tangannya.
Kiara menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya 'kenapa' pada Gilang.
"Aku main ya," pamit Gilang yang langsung diangguki oleh Kiara.
"Jangan tidur di sini, dingin. Di kamar aja, ada selimut."
Lagi Kiara hanya mengangguk atas ucapan Gilang.
"Hati-hati, Abang!" Kiara berseru semangat, dengan tangan kanannya yang melambai pada Gilang.
Gilang tertawa geli, di rumah Kiara bersifat manja seolah ia adalah adik yang paling baik dan membutuhkan dirinya sekali. Tetapi kenapa saat di sekolah, Kiara bersifat galak dan bahkan tidak ada rasa manja sama sekali padanya.
Setelahnya, ia melangkah meninggalkan ruang keluarga dan langsung menuju mobilnya. Tujuannya sekarang adalah rumah Araya.
Tanpa perlu waktu lebih dari dua puluh menit, mobil hitam yang dikendarai Gilang sudah terparkir manis di depan gerbang rumah Araya. Dan tanpa perlu Gilang turun dari mobilnya, Araya sudah lebih dulu muncul dari gerbang rumahnya dan berlari kecil menuju mobil Gilang.
"Hai!" Araya menyapa semangat, sembari merapikan barang-barangnya, serta mengelap beberapa bagian tubuhnya yang basah karena air hujan.
Gilang berdecak, kemudian mengambil alih tas putih kecil milik Araya, membiarkan cewek itu mempunyai ruang yang lebih besar untuk bergerak.
"Kamu ngapain hujan-hujanan sih? Bukannya nunggu aku aja!" Gilang memprotes.
Araya nyegir. "Kamu udah meluangkan waktu untuk nemenin aku makan. Masa aku suruh kamu hujan-hujanan juga."
Mendengarnya Gilang hanya tersenyum. Ia kemudian mulai menginjak gasnya untuk mencari restoran yang dapat memenuhi kemauan perut Araya.
"Lang."
"Hm?"
"Daffa ngedeketin aku lagi."
Wow. Untung saja otak Gilang tidak terlalu terkejut dengan ucapan Araya. Kalau tidak, bisa-bisa kepala Araya sudah memantuk pada dashboard mobil Gilang.
Cukup lama Gilang diam. Bukannya tidak mau menjawab, hanya saja otaknya sedang berpikir apa maksud lelaki bernama Daffa itu mendekati pacarnya. Ini bukan yang pertama, bukan juga yang kedua, tetapi sudah berkali-kali. Dan syukurlah, Araya selalu mengaku pada Gilang dan tidak pernah berniat untuk menutupi hal itu.
"Daffa anak Panca?" tanya Gilang memastikan.
Panca yang dimaksud Gilang adalah sekolah swasta yang berbanding jauh dengan Angkasa. Sekolah yang selalu menjadi musuh nomor satu Angkasa.
"Iya." Araya membalas pasti. Tidak ada nada khawatir dalam nada bicaranya. Mungkin karena Araya sudah tahu, Gilang akan selalu bersamanya dan tidak mungkin melepasnya semudah itu.
"Biar aku bicarain sama anak-anak nanti," balasnya. "Kalau dia mulai kelewat batas, bilang aku."
...
Kiara menaruh es krimnya yang sudah habis ia makan. Tangannya yang kosong ia gantikan dengan ponselnya yang sedari tadi berada di meja. Pandangannya yang awalnya ingin tetap menuju ke televisi, seketika tertarik menatap layar ponselnya. Wah, hebat. Banyak sekali notifikasi baru dari media sosial yang ia miliki. Tumben sekali.
Ia menautkan kedua alisnya. Bahkan banyak sekali pesan masuk yang ia dapat dari aplikasi line maupun i********:.
Raditcka : hi, salken.
Okay, basi. Kiara berkomentar.
Fariszda : hi, boleh minta id line?
Oke, geli.
Ratuan10 : follback ya.
Males banget.
Geryawan : hai cantik.
Udah tau.
Okey, Kiara tidak akan bisa bertahan dengan pesan-pesan menggelikan ini. Lebih baik ia menghapusnya saja. Tidak mungkin ia akan membiarkan pesan-pesan ini berdiam di message box nya.
Ternyata tidak jauh berbeda dengan banyaknya pesan masuk. Jumlah akun yang meminta untuk mengikutinya juga cukup membuatnya terkejut. Baru sehari ia bersekolah di Angkasa dan sudah sebanyak ini yang ingin mengikutinya. Ada lebih dari 150 akun yang sudah mengikutinya. Mungkin Kiara sekarang sedang menjadi top search.
Ia beralih menuju aplikasi line dan lagi-lagi harus dibuat keheranan. Kenapa banyak sekali yang mengiriminya permintaan pertemanan, dan bahkan tak jarang yang juga langsung mengiriminya pesan. Melihatnya saja, Kiara sudah dapat memastikan bahwa 90% yang mengiriminya pesan adalah laki-laki. Astaga.
Benjamin Anandita : lo buat masalah ya??
Kiara tertawa kecil. Di antara banyak pesan, hanya pesan Ben saja yang mampu menarik matanya. Pasti sepupunya itu melihat tindakan brutalnya tadi.
Iya. Pemanasan.
Benjamin Anandita : Gilang mungkin tahan kelakuan lo. Tapi temen-temennya Gilang sih gue gatau. Ati-ati aja lo!
Lo juga temennya Bang Gilang.
Benjamin Anandita : Lah gue mah sepupunya. Jadi udah kebal sama kelakuan bengal lu!
Tidak ada jawaban lanjutan dari Kiara. Ia hanya tersenyum kecil. Mungkin dirinya di Angkasa bukanlah siapa-siapa saat ini. Tetapi nantinya akan Kiara buktikan, bahwa ia adalah siapa-siapa di Angkasa. Supaya siapapun yang meremehkannya akan menyesal nantinya. Terlebih untuk Aldo, si gila tadi.