"Wajahmu terlihat sangat tidak senang. Apa kau kecewa karena yang datang adalah aku?" Sambil mengambil alih Elis dari gendongannya, pria ini pun sok akrab padaku. "Terima kasih, ya, Dok. Sudah mengantarkan Elis pada saya," ucapku mengabaikan pembicaraan sebelumnya. "Baik! Emmm ... kau tidak ingin tahu bagaimana kabar dari Rasya?" Dia masih mengekor padaku ternyata. "Elis sudah mandi, ya, rupanya. Tumben!" pujiku sambil mengusap surai anak kecil yang masih tampak setengah kering tersebut. "Iya, kata Teh Shina ada Pak Dokter ganteng, jadi Elis mau mandi." "Haaa ... begitu, ya?" Dasar bocah! "Bu Guru Shanum, sepertinya Anda sudah lama di sini, ya? Sampai-sampai Anda sangat akrab dengan anak ini." Dia mencoba menyambung obrolan. "Namanya Felisha, Dok. Dipanggil Elis." Dia menghel

