"Langsung pulang, Sher?" tanya Yasmine melihat Sherina mengemasi barang-barangnya.
Sherina mengangguk, sembari menyelipkan helai rambutnya yang jatuh ke balik telinganya.
"Jam 5 sore nanti aku ada bimbel sama Mr. Andrew buat persiapan olimpiade fisika bulan depan." jawab Sherina menjelaskan kegiatannya.
Yasmine bergumam tidak jelas, merasa kasihan juga takjub dengan sahabatnya itu. Waktunya selalu dihabiskan dengan belajar. Sampai-sampai tidak ada waktu istirahat untuk Sherina.
"Mau balik sama aku, Sher? Motor kamu kan dibawa om tadi." Yasmine menawarkan diri.
Sherina ingin sekali menolak karena arah rumah mereka berbeda. Tapi melihat Yasmine yang sudah berbaik hati menawarkan diri membuat Sherina akhirnya tidak tega menolaknya.
"Makasih ya, Yas udah ngasih aku tumpangan." Sherina tersenyum tulus.
Yasmine membalasnya dengan senyum kecil sembari menggandeng tangan Sherina keluar kelas. Suasana di koridor masih cukup ramai. Dan keduanya sempat beberapa kali berhenti saat disapa oleh siswa lain.
"Kamu tunggu sini aja, Sher. Aku ambil mobil dulu." kata Yasmine ketika mereka sampai di parkiran.
Sherina menurut dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Saat tatapannya tertuju pada gerbang sekolah, dirinya dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang mengendarai motor matic miliknya tengah berhenti dekat pos satpam.
"Loh, Om Sagara?" kejut Sherina.
"Ayo, Sher naik!" ajak Yasmine yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya.
Sherina merasa bimbang antara ikut dengan Yasmine atau menghampiri Sagara.
"Kenapa, Sher?" tanya Yasmine peka melihat gelagat sahabatnya.
Sherina menunjuk ke arah gerbang sekolah tanpa suara. Yasmine mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu dan akhirnya mengangguk paham.
"Kamu udah dijemput sama om tadi ternyata." gumam Yasmine tersenyum kecut.
"Aku juga nggak tau kalau Om Sagara mau nyamperin ke sini, Yas. Maaf banget yah." sesal Sherina.
Yasmine tersenyum tipis,"Santai aja lagi, Sher. Next time kita bisa pulang bareng."
Sherina mengangguk samar dan tersenyum lega karena respon Yasmine. Apalagi sahabatnya itu juga menyuruhnya untuk segera menghampiri Sagara.
Diam-diam Yasmine mengamati dari kejauhan. Matanya melebar begitu melihat wajah pria yang menjemput sahabatnya itu.
"Gilak! Mimpi apa Sherina bisa dijemput sama om ganteng spek Sehun kaya gitu." takjub Yasmine yang merasa terpesona dengan paras tampan Sagara.
"Om.." panggil Sherina begitu berhenti di samping Sagara yang tengah fokus dengan ponselnya.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Sherina dengan intens.
"Saya hampir minta bantuan Pak Satpam untuk mencari kamu di kelas." ujar Sagara sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahannya.
Sherina hendak bersuara, namun urung setelah mengingat siapa Sagara. Benar, pria itu adalah cucu pemilik sekolahnya berada. Jadi tidak heran jika Sagara dengan mudah meminta bantuan siapapun di sini.
"Kamu tidak mau mampir ke suatu tempat, kan?" tanya Sagara sembari mengangsurkan helm pink milik Sherina ke arah gadis itu.
Pria itu sudah berganti menggunakan helm sport berwarna hitam. Dan Sherina benar-benar baru menyadarinya.
"Nggak kok, Om. Sherina mau langsung pulang aja. Ada jadwal bimbel jam 5 nanti." jawab Sherina. Gadis itu segera memakai helm miliknya dan duduk di jok belakang.
Sagara mengangguk paham dan mulai melajukan motor milik Sherina meninggalkan sekolah. Sepanjang jalan, keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Kok Om Saga bisa jemput Sherina? Nggak sibuk di kantor, Om?" tanya Sherina setelah lama diam. Gadis itu sedikit memajukan wajahnya agar Sagara dapat mendengar suaranya.
Sagara melirik Sherina dari kaca spion,"Saya mau mengembalikan motor kamu." jawabnya. Di balik helmnya, Sagara tanpa sadar tersenyum mendengar Sherina memanggil namanya.
"Kan Om Saga bisa minta seseorang buat nganter motor Sherina. Jadi Om nggak perlu repot-repot nganter langsung." kata Sherina lagi yang merasa heran.
"Saya sedang tidak sibuk." jawab Sagara sekenanya.
Sherina mengulum bibirnya tak lagi bersuara. Jawaban datar Sagara sudah cukup baginya. Dia kembali bungkam dan menikmati angin sepoi yang menampar wajahnya beberapa kali karena kaca helm yang sengaja dia buka.
"Sherina." panggil Sagara terdengar ragu. Namun walau begitu suaranya masih terdengar jelas.
"Kenapa, Om?" tanya Sherina memajukan wajahnya. Jaraknya cukup dekat sampai Sagara lagi-lagi dapat merasakan gundukan kenyal yang pagi tadi mengusik pikirannya.
Dalam hati Sagara mengumpat karena tekanan pada punggungnya terasa begitu nyata. Jiwa laki-lakinya bergejolak, dengan suhu tubuh yang mulai memanas. Bagaimanapun, Sagara juga pria normal. Tidak mungkin dirinya tidak tertarik dengan perempuan. Apalagi jika gadis itu secantik dan se-menggoda Sherina.
"Sial. Rasanya kenyal sekali." umpat Sagara dalam hati sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"I-Itu, kamu keberatan jika kita mampir dulu sebentar di suatu tempat?" Sagara berusaha berbicara se-normal mungkin.
Sherina tak langsung menjawab. Gadis itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya seolah tengah menimbang.
"Boleh sih, Om. Tapi Sherina nggak bisa lama-lama. Takut nanti telat nyampek rumahnya." jawab Sherina akhirnya.
Sagara berdehem pelan dan kembali fokus pada kemudinya. Tapi diam-diam dia merasa heran dengan jawaban Sherina yang mengatakan jika dirinya takut telat sampai di rumahnya sendiri. Apa gadis itu se-patuh itu pada kedua orang tuanya?
Namun Sagara tak lantas menanyakan hal itu pada Sherina. Dia tidak ingin ikut campur lebih jauh dalam kehidupan gadis itu.
Di balik punggungnya, Sherina menyimpan penasaran akan kemana Sagara membawanya. Pria itu tidak mengatakan dengan jelas kemana tujuan mereka saat ini.
Sampai akhirnya rasa penasaran Sherina terjawab ketika Sagara menghentikan laju motornya di depan toko bakery. Sherina mengerjap bingung namun tak urung juga turun dari motor.
"Kamu mau ikut saya masuk ke dalam?" tawar Sagara begitu selesai melepas helmnya.
Sherina menggeleng pelan, terlihat tidak yakin.
"Sherina nunggu di sini aja, Om." jawab gadis itu menolak.
Sagara tak mengatakan apapun, juga tidak menggerakkan kepalanya untuk mengangguk atau menggeleng. Dia pergi meninggalkan Sherina dalam kebingungan karena respon dinginnya.
"Dingin banget." gumam Sherina mengernyitkan dahinya heran.
Tak sampai 10 menit, terlihat Sagara keluar dari pintu toko bakery sembari menjinjing sebuah paper bag berukuran sedang di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menggulir ponsel dengan mata yang fokus menatap layar.
"Ayo!" ajak Sagara santai.
Sherina menaikkan sebelah alisnya, namun tak urung segera naik ke boncengan Sagara. Mereka kembali melaju membelah jalanan kota sore ini. Dengan keduanya yang saling bungkam tanpa ada percakapan lagi.
***