SOG | Hadiah Kecil Dari Om Sagara

1281 Words
"Loh, Non Sherina kok bisa.." kata pak satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Sherina dengan heran ketika melihat kedatangan nona mudanya bersama seorang pria yang memboncengnya. Walaupun begitu, pria paruh baya itu tetap membukakan pintu gerbang untuk Sherina. Gadis itu tak lupa mengucapkan terimakasih pada Pak Tarno, penjaga rumahnya. Lantas menyuruh Sagara untuk memasukkan motornya ke dalam garasi sekalian. "Makasih, Om udah nganter Sherina pulang." kata Sherina dengan senyum kecilnya. Sagara dengan gaya santai memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Netranya menatap ke sekeliling rumah Sherina yang tampak sepi. "Tidak juga. Saya sebenarnya hanya ingin mengembalikan motor kamu saja." jawabnya tanpa raut berdosa. Sherina sontak tertohok dengan ucapan Sagara barusan. Sialan, umpat gadis itu dalam hati mendengar jawaban Sagara. "Y-Ya intinya Sherina mau bilang makasih." Sherina tampak bersungut-sungut tapi dia tahan. Diam-diam Sagara menggigit pipi bagian dalamnya menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi menggemaskan Sherina. Entahlah, tingkah gadis itu selalu saja terlihat menarik di matanya. "Ini untuk kamu." kata Sagara menyodorkan paper bag berisi berbagai macam kue ke arah Sherina. Sherina mengerjap bingung,"I-Ini buat Sherina, Om?" Sagara mendengus pelan karena Sherina tak langsung menerima pemberiannya. Namun walaupun begitu dia tetap mengangguk. Senyum sumringah seketika terbit di wajah Sherina. Dengan senang gadis itu menerima hadiah kecil dari Sagara. "Makasih, Om Saga." kata Sherina tersenyum manis. Sagara yang awalnya acuh diam-diam tertegun saat menatap wajah Sherina yang tampak manis ketika tersenyum. Kecantikannya bertambah berkali lipat saat gadis itu tersenyum. Sagara berdehem dengan semburat merah tipis yang menghinggapi wajahnya,"H-Hn." hanya konsonan itu yang keluar dari bibirnya. Sherina tak lagi mempermasalahkan sikap acuh Sagara. Hatinya tengah diliputi rasa senang karena baru saja mendapat banyak kue. Sama seperti kebanyakan perempuan di luar sana, Sherina juga menyukai makanan manis. "Masuklah. Saya harus pulang." suruh Sagara dengan ekspresi datar. "Mobil jemputan Om Saga udah sampai?" tanya Sherina celingukan menatap pagar rumahnya. Sagara menggeleng kecil,"Sebentar lagi." Sherina manggut-manggut tapi masih belum beranjak dari posisinya. Membuat Sagara meliriknya dengan tatapan heran. "Kenapa masih di sini?" tanya Sagara. Sherina menoleh sembari menyunggingkan senyum tipis,"Sherina mau nunggu di sini sampai mobil Om Saga datang." Sagara akhirnya membiarkan saja Sherina melakukan apa yang dia mau. Keduanya saling diam, terduduk di teras rumah dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya sebuah mobil memasuki pelataran rumah Sherina. "Mr. Andrew." gumam Sherina begitu melihat siapa yang datang. Gadis itu buru-buru berdiri, menghampiri seorang pria berkacamata yang menjadi tutornya untuk olimpiade fisika bulan depan. "Kamu baru sampai rumah, Sherina?" tanya Andrew ramah ketika melihat anak didiknya masih berbalut seragam sekolah lengkap dengan tas yang tergantung di balik punggungnya. Sherina terlihat kikuk, melirik ke arah dimana Sagara berada sebentar sebelum kemudian menjawab pertanyaan Andrew. "Iya, Mr. Em, Anda datang lebih awal." Sherina mencoba berbasa-basi. Andrew mengangguk kecil sembari mengulas senyum tipis,"Yeah, setelah dari sekolah saya langsung ke sini. Sekalian ingin menumpang istirahat di rumah kamu, mungkin." katanya diakhiri tawa kecil. Sherina tersenyum kikuk mendengar perkataan guru fisikanya tersebut. Berbanding terbalik dengan Sagara yang sejak tadi diam. Entah kenapa dia merasa tidak suka melihat pria bernama Andrew. Terlihat sekali jika pria itu tertarik dengan Sherina dalam artian yang berbeda. "Cih." Sagara mendecih sembari memutar bola matanya malas. Pria itu lantas berdiri sembari menatap ponsel di genggamannya. Sopirnya sudah berada di depan gerbang rumah Sherina. Hanya tinggal menunggu mobil miliknya masuk dan dia akan segera pergi dari rumah gadis itu. Di tengah perbincangan Sherina dan Andrew, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic berhenti tepat di samping mobil milik Andrew. Seorang pria setengah baya turun menghampiri Sagara yang berdiri diam di tempatnya. "Maaf, Tuan. Di persimpangan jalan tadi terjadi kecelakaan kecil yang membuat lalu lintas terganggu." jelas pria tersebut. Sagara hanya mengangguk dan menjawab dengan dua konsonan andalannya. Pria itu lantas berjalan dengan santai menuju mobilnya. Namun sebelum itu.. "Om Saga.." panggilan Sherina menghentikan langkah kaki Sagara. Pria itu menoleh, masih dengan gaya cool-nya. "Sekali lagi makasih untuk kue-kuenya, Om." ujar Sherina tulus. Sagara menarik sudut bibirnya kecil,"Lain kali saya akan membelikan yang lebih banyak dari itu." katanya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Sherina menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti. Memangnya setelah ini mereka akan bertemu lagi? "Dia siapa, Sherina?" Andrew yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Pria itu tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya sejak tadi. Sherina yang tadinya masih menatap kepergian Sagara lantas menoleh. Melempar senyum ke arah Andrew dengan lugu. "Ada materi yang mau Sherina tanyakan, Mr." kata Sherina memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Andrew. Gadis itu berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumahnya. Para maid hanya akan datang ketika pagi dan pulang saat sore hari. Sehingga suasana di rumahnya akan terasa sangat sepi. Andrew langsung menempatkan dirinya duduk di sofa single yang ada di ruang tamu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia harus menunggu Sherina berganti baju di kamarnya yang berada di lantai dua. Rasa penasaran Andrew masih belum terpuaskan karena Sherina menolak untuk menjawab pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari sikap keduanya. Baik Sherina dan pria yang dipanggil Saga tadi tampak baik-baik saja. Beberapa menit kemudian, Sherina akhirnya turun dari lantai atas. Gadis itu tampak manis mengenakan kaos pendek dipadukan dengan rok selutut. Penampilan yang sesuai dengan usianya. "Baiklah. Bisa kita mulai belajarnya sekarang?" Andrew melempar senyum hangat ke arah Sherina. Gadis itu mengangguk,"Yes, Sir." jawabnya dengan nada jenaka. Keduanya saling tertawa sebelum akhirnya fokus dengan beberapa lembar soal yang ada di atas meja. Sherina tampak serius mengerjakan soal-soal yang Andrew berikan. Tanpa menyadari jika dirinya tengah ditatap oleh pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak Sherina masih duduk di kelas 10, Andrew diam-diam sudah tertarik dengan gadis itu. Parasnya yang rupawan dengan segudang prestasi yang diraihnya sejak di bangku sekolah dasar, menjadi point plus bagi Sherina. Apalagi gadis itu juga memiliki hati yang baik dan lemah lembut. Tidak pernah menyombongkan apa yang dia miliki. Singkatnya, Andrew jatuh cinta pada pandangan yang pertama pada Sherina. Pria itu selalu berusaha untuk menarik perhatian Sherina. Dan ketika mengetahui jika ayah Sherina tengah mencari guru private untuk gadis itu, Andrew tanpa pikir panjang langsung mencalonkan dirinya. Berharap jika dengan hal itu dia bisa semakin dekat dengan pujaan hatinya. "Mr. Andrew." panggilan yang cukup keras dari Sherina seketika membuat Andrew tersadar dari lamunannya. Pria itu tidak sadar jika sedari tadi dirinya tengah melamun. Sherina mengernyit heran dengan sikap Andrew yang tidak seperti biasanya. Baru kali ini pria itu melamun di tengah bimbingan. "Maaf, Sherina. Sa-Saya tidak melamun, hanya mengingat-ingat barang apa yang lupa saya bawa dari sekolah." kata Andrew beralasan. "Em, ada yang mau kamu tanyakan?" Andrew berusaha mengalihkan perhatian. Sherina mengangguk cepat tidak mempermasalahkan apa yang terjadi."Ini, Mr. Gimana cara nyelesain soal yang ini?" Sherina menunjuk soal no. 9 dengan ujung bolpoinnya. Dia merasa bingung karena cara yang dia pakai tidak menemukan hasil. "Ah, yang ini. Kamu bisa menggunakan rumus yang ini, Sher." Andrew dengan tenang membuka salah satu buku yang ada di samping Sherina. Membuka lembar bab mengenai termodinamika. Salah satu bab yang sering dianggap sulit. Jika Sherina tengah sibuk dengan bimbingan belajarnya bersama Andrew, Sagara justru tengah disibukkan dengan pikirannya mengenai Sherina. Sherina seperti memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang sulit mengabaikannya. "Sial. Kenapa aku terus memikirkan gadis itu." umpat Sagara tersadar dengan apa yang dia lamunkan. Sagara merasa gelisah karena mengingat apa yang terjadi saat dirinya membonceng gadis itu. Saat dimana Sherina memajukan tubuhnya hingga membuat Sagara dapat merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya. Bagaimanapun Sagara adalah pria normal yang berusia matang. Biasanya dia tidak mudah tergoda sekalipun melihat wanita tel@njang bulat di depannya. Tapi anehnya, kenapa dirinya justru bereaksi saat tidak sengaja merasakan bukit kembar Sherina yang menekan punggungnya? "Haish, sial. Gara-gara gadis itu aku harus mandi air dingin." umpat Sagara bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD