SOG | Mencari Gaun Pesta

1290 Words
Saat ini Sherina dan Yasmine tengah berada di tengah pusat perbelanjaan. Siang tadi Ardhio mengabari jika malam nanti dia meminta Sherina untuk menemaninya menghadiri pesta yang diadakan oleh rekan bisnisnya. Sehingga di sinilah Sherina sekarang. "Kamu mau nyari gaun yang kaya gimana sih, Sher?" tanya Yasmine celingukan. Pasalnya sudah beberapa outlet pakaian yang mereka datangi. Tapi Sherina tak kunjung mendapatkan gaun yang cocok untuk dirinya. "Semua gaun yang kamu pilih tadi terlalu terbuka, Yas. Aku nggak nyaman pakai gaun kaya gitu." Sherina mengeluarkan uneg-unegnya. Gaun-gaun yang Yasmine pilih sebelumnya kebanyakan terlalu terbuka. Potongan dadanya terlalu rendah. Ada juga yang belahannya sampai hampir mencapai pangkal paha. "Kebanyakan gaun pesta ya kaya gitu lah, Sherina. Kalau kamu mau pake yang tertutup ya pake gamis aja." gerutu Yasmine yang mulai kelelahan. Sherina mendengus dan kembali berjalan mengitari mall. Walaupun sambil menggerutu, Yasmine tetap mengikuti kemana sahabatnya itu pergi. Langkah kaki Sherina akhirnya berhenti di salah satu outlet pakaian yang tidak terlalu ramai. Di sana banyak berjajar gaun-gaun pesta dalam berbagai model. Sejak masuk ke dalamnya, netra Sherina langsung tertuju pada gaun pesta berwarna pink pucat yang terpasang di etalase. Panjangnya menjuntai sampai mata kaki dan belahannya hanya mencapai lutut. Bagian atasnya juga tidak terlalu terbuka. "Gimana, Yas?" Sherina menoleh ke arah sahabatnya meminta pendapat. Yasmine tampak mengapit ujung dagunya,"Not bad." Sherina mengulas senyum dan segera memanggil penjaga toko. Gadis itu akan mencobanya di ruang ganti. Memastikan jika pilihannya tidak salah. Yasmine menunggu dengan sabar di depan ruang ganti. Gadis itu sibuk bermain ponsel sembari memeluk tas sekolah yang sebelumnya Sherina titipkan padanya. "Yas.." panggilan lembut itu membuat Yasmine mengalihkan perhatiannya dari layar hp-nya. Gadis itu melongo dan hampir menjatuhkan ponselnya ketika melihat penampilan Sherina di depannya. "Oh my gosh. You look stunning, girl." puji Yasmine terkesan berlebihan bagi Sherina. Gadis itu mendengus malu namun bibirnya mengulas senyum tipis. Sherina merasa lega karena pilihannya memilih gaun ini tidak salah. "Tinggal muka kamu dipoles dikit sama rambut panjang kamu ditata rapi, fix kamu bakalan keliatan cantik banget." Yasmine masih terus melontarkan pujiannya pada Sherina. Sherina tidak dapat menyembunyikan wajah tersipunya. Yasmine memang terlalu frontal jika menyangkut dengan penampilannya. Padahal menurutnya dia biasa-biasa saja. "Come on! Kita ke rumah kamu. Aku bakal bantu kamu dandan." ajak Yasmine setelah Sherina selesai membayar tagihan gaun yang dia beli. Pasangan sahabat itu lantas keluar dari pusat perbelanjaan dengan mengendarai mobil Yasmine. Sherina sempat menolak bantuan sahabatnya itu karena merasa tidak enak. Tapi tentu saja Yasmine mengatakan jika hal itu tidak masalah. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Sherina lebih lama karena merasa bosan di rumah sendirian. Orang tuanya tengah berada di luar kota mengurus bisnisnya. Setengah jam kemudian, keduanya akhirnya sampai di rumah Sherina. Mereka langsung naik ke lantai atas dimana kamar Sherina berada. "Masih ada waktu tiga jam buat siap-siap." cetus Yasmine menatap arloji di tangannya. "Nggak usah buru-buru, Yas. Hari ini aku juga nggak ada jadwal les. Jadi kita bisa santai dulu." timpal Sherina mengeluarkan barang-barang dari tas sekolahnya. Yasmine mengangguk dan memilih merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik Sherina. Tubuhnya benar-benar lelah karena hampir dua jam berjalan mengelilingi mall hanya untuk mencari gaun pesta untuk Sherina. "Aku buatin minuman dingin buat kamu. Tunggu aja di sini ya." setelah mengatakan kalimat itu Sherina keluar dari kamarnya. Meninggalkan Yasmine yang memilih untuk memejamkan matanya yang terasa berat. Sampai di dapur, Sherina langsung mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat minuman dingin. Ada sirup rasa melon, air dingin kosong, jeruk lemon serta biji selasih. Tidak lupa juga es batu sebagai pelengkapnya. Sherina ingin membuat minuman menyegarkan untuk dirinya dan Yasmine. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk membuat minuman tersebut. Kini sudah tersaji dua gelas minuman dingin yang Sherina letakkan di atas nampan. "Kayanya aku masih punya sisa kue dari Om Saga." gumam Sherina. Gadis itu membuka lemari pendingin dan menemukan dua potong cheesecake yang masih tersisa. Sherina menggigit bibir bawahnya ketika ingatannya akan Sagara muncul. Sosok tinggi dan tampan tapi memiliki sikap yang begitu dingin layaknya kutub es selatan. Sherina tidak habis pikir jika di dunia benar-benar ada pria seperti itu. Dia pikir karakter tersebut hanya ada di dalam novel-novel. Tapi ternyata di dunia nyata dia menemukan orang seperti Sagara. "Tapi sebenernya Om Saga orangnya baik sih walupun datar banget kaya triplek." Sherina kembali bergumam, mengingat kebaikan yang telah Sagara lakukan padanya. Di awal pertemuan mereka yang pertama, Sagara tak segan membantunya saat mobil miliknya mogok di jalan. Pria itu juga repot-repot menjemputnya dari sekolah dan memberinya banyak kue karena telah meminjamkannya motor. Padahal Sherina melakukan semua itu karena murni membantu. Ucapan terimakasih saja sudah cukup baginya. "Tapi maksud ucapan Om Saga waktu itu apa ya? Emangnya kita mau ketemu lagi?" langkah kaki Sherina terhenti saat mengingat ucapan Sagara. Dua hari ini dia jadi sering memikirkan pria dewasa itu. Sikapnya dingin, bahkan sesekali membuat Sherina kesal karena respon acuhnya. Tapi pria itu baik dan murah hati. "Haish.. udah, ah. Kenapa jadi mikirin Om Saga terus sih." gerutu Sherina mencoba mengenyahkan nama Sagara dari pikirannya. Di sisi lain, Sagara tampak duduk termenung di kursi kerjanya. Langit mulai berganti dengan warna jingga. Namun tak ada tanda-tanda pria itu akan beranjak dari kantornya. "Kenapa aku selalu memikirkan gadis itu?" Sagara mendesah berat karena lagi-lagi pikirannya dipenuhi oleh Sherina. Awalnya Sagara tidak begitu memperhatikan wajah Sherina saat pertama kali mereka bertemu. Namun kali kedua pertemuan mereka, Sagara akhirnya bisa benar-benar melihat bagaimana wajah asli gadis itu. Sherina memiliki wajah yang mungil dengan kedua pipi sedikit chubby. Wajahnya bersih, dan ada tahi lalat kecil di bawah matanya yang semakin membuatnya terlihat manis. Hidungnya kecil tapi mancung. Bibirnya.. Sagara buru-buru menggelengkan kepalanya begitu pikirannya mengarah pada bentuk bibir Sherina. Sial, mengingatnya saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar. Benar-benar tidak bisa dibiarkan. "Kenapa aku selalu gelisah setiap mengingat gadis itu." gumamnya aneh. Sagara merasa kali ini bukan seperti dirinya sendiri. Hanya karena bertemu dengan gadis muda seperti Sherina, tak mungkin membuatnya segelisah ini. Tapi walaupun dirinya mengelak, nyatanya Sagara memang tidak baik-baik saja setelah bertemu kembali dengan Sherina. "Tidak mungkin apa yang aku pikirkan terjadi. Ingat Sagara, gadis itu lebih pantas menjadi keponakanmu. Jangan sampai kamu berbuat gila. Semua ini hanya ketertarikan sesaat. Benar, aku yakin ini hanya akan berlangsung sebentar." Sagara terus mewanti dirinya agar tidak berpikir semakin jauh. Pria itu lantas kembali mencoba untuk menekuni berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Berharap dengan menyibukkan dirinya, dia bisa menghilangkan nama Sherina dari pikirannya. Baru beberapa menit dirinya fokus, ketukan pada pintu ruangannya membuyarkan konsentrasi Sagara. Pria itu mendengus dan tak memiliki pilihan selain mempersilakan seseorang itu untuk masuk. "Maaf, Tuan. Saya ingin mengingatkan kembali bahwa nanti malam Anda mendapat undangan dari Tuan Atmaja di Hotel Andalusia." ujar seorang pria berseragam rapi yang tak lain adalah sekretaris Sagara. Sagara memutar bolpoin di tangannya dalam diam. Seolah menimbang dirinya akan hadir atau tidak. Pasalnya Tuan Atmaja merupakan salah satu sahabat baik mendiang ayahnya. Tapi hari ini dia terlalu malas untuk datang. "Tuan Atmaja menitipkan pesan jika beliau sangat berharap Anda bisa hadir di pesta yang beliau gelar, Tuan." kata Reno menambahkan. Sagara menghembuskan napas berat sembari menyugar rambutnya ke belakang. Gerakan slow motion yang mungkin bisa membuat para gadis menjerit jika melihatnya. Sagara dengan segala pesonanya memang begitu memikat. "Baiklah. Saya akan datang. Siapkan pakaian untuk saya pakai nanti malam." akhirnya Sagara mengalah. Memutuskan untuk tetap hadir di acara tersebut. Sebagai bentuk hormatnya pada sosok Atmaja yang dulu pernah berkontribusi juga di perusahaan mendiang ayahnya. Reno menarik senyum lega karena Sagara setuju untuk datang. Biasanya memang agak sulit membuat pria itu menyetujuinya jika memang tidak ingin. Reno mengangguk sopan,"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi butik langganan Anda." Reno memutuskan undur diri setelah menyampaikan pesan dari Tuan Atmaja. Meninggalkan Sagara dalam keheningan yang kembali menghinggapi ruangan tersebut. "Mungkin sedikit pesta bisa membuat pikiran ku lebih baik." gumam Sagara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD