SOG | Pesta

1594 Words
Sherina menghela napas jengah karena Yasmine yang tak kunjung menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu mulai bosan dan lelah karena duduk terlalu lama. "Kapan selesainya sih, Yas? Aku beneran udah capek duduk terus dari tadi." keluh Sherina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan sedikit kasar. Yasmine menggigit ujung kuas sembari meneliti riasan Sherina,"Sabar dulu, Sher. Aku harus mastiin kalau penampilan kamu perfect." Sherina mendengus karena Yasmine selalu menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama sejak tadi. Dirinya benar-benar sudah lelah dan ingin segera beranjak. "Tenang dulu, Sher. Aku mau benerin alis kamu dulu." gerutu Yasmine. Dia harus memastikan bahwa penampilan Sherina malam ini akan membuatnya jadi pusat perhatian. "Percuma deh kamu dandanin aku sebagus ini kalau yang dateng kebanyakan om-om seusia papa aku." kata Sherina masih dengan mata terpejam. Yasmine tampak berpikir sebelum menggeleng kecil,"Walaupun kaya gitu, penampilan kamu harus tetep on point dong." "Ya ya ya.. terserah kamu deh. Asal kamu nggak capek aja make up in aku." timpal Sherina mengalah. Yasmine mengangkat jempolnya santai, tanda jika dia tidak masalah. Gadis itu memang suka berdandan. Dan merias seseorang tentu membuat hatinya merasa senang juga. "Open your eyes, girl!" Yasmine berbisik. Sherina lantas membuka kedua matanya dengan perlahan. Gadis itu seketika tertegun saat mendapati pantulan dirinya di cermin. "I-Ini beneran aku, Yas?" lirih Sherina tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Yasmine tersenyum bangga,"Gimana? Kamu suka kan sama hasil make up nya?" "Suka banget, Yas. Aku sampai pangling liat wajah aku sendiri." Sherina mengangguk beberapa kali. Benar-benar terpukau dengan penampilannya. Yasmine tertawa kecil,"Kamu berlebihan tau, Sher. Kamu tuh udah cantik dari sananya. Jadi aku cuma tinggal poles dikit aja." katanya merendah. Sherina mengulum bibirnya malu,"Maaf yah tadi aku buru-buruin kamu terus." Yasmine mengangguk santai tak mempermasalahkan hal tersebut. "Sekarang coba kamu berdiri di dekat jendela. Aku mau foto kamu, Sher." pinta Yasmine yang tak ingin melewatkan kesempatan untuk memotret Sherina. Sayang sekali jika hasil karyanya tersebut tidak diabadikan. Apalagi Sherina terlihat sangat cantik. Sherina menurut dan berjalan dengan anggun ke arah jendela. Mereka juga mengambil gambar di balkon kamar Sherina dengan latar pemandangan senja yang indah. "Aku upload di sosmed, yah. Sekalian aku tag akun kamu juga." Yasmine dengan semangat mengunggah foto Sherina ke sosial medianya. Tidak lupa dia juga menandai akun gadis itu. Sherina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Dia memang tidak terlalu aktif di sosial media. Sehingga Sherina membiarkan saja Yasmine melakukan apapun yang dia suka. Saat mereka tengah mengobrol, pintu kamar Sherina tiba-tiba terbuka dari luar. Sosok Ardhio masuk dengan setelan jas berwarna coklat tua yang melekat di tubuh atletisnya. "Kamu sudah siap, Sherina?" tanya Ardhio melirik sebentar ke arah Yasmine yang menatapnya dengan pandangan aneh. Sherina mengangguk,"Udah, Pah. Kita mau berangkat sekarang?" tanyanya balik. "Hn. Setengah jam lagi pestanya akan dimulai, kita tidak boleh terlambat." jawab Ardhio sembari menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lagi-lagi Sherina mengangguk sebagai respon. Dan Ardhio langsung keluar dari kamarnya setelah mengatakan kalimat itu. "Aku berangkat sekarang ya, Yas. Sekali lagi makasih udah mau dandanin aku sampai kaya gini." pamit Sherina pada sahabatnya yang masih tergugu di tempatnya. Sherina mengernyit heran,"Yas? Are you okay?" Yasmine tampak mengerjap dan menoleh ke arahnya dengan raut linglung. "A-Aku baik-baik aja kok, Sher. Cuma.. huft.. Om Ardhio ganteng banget gilakk." pekik Yasmine yang buru-buru menutup mulutnya karena kelepasan. Sherina menatap sahabatnya itu dengan heran. Tapi bibirnya tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. "Kamu ini.. aku pikir ada apa." Sherina terkekeh geli. "SHERINA!!" Panggilan keras itu menginterupsi obrolan keduanya. Sherina buru-buru keluar dari kamarnya setelah meminta Yasmine untuk menginap saja karena sudah hampir malam. Tapi gadis itu menolaknya dengan halus karena merasa tidak enak dengan Ardhio. "Kamu lama sekali." gerutu Ardhio yang telah duduk di kursi kemudi sesaat setelah Sherina masuk ke dalam mobil. "Maaf, Pah." cicit Sherina pelan dan memakai sabuk pengaman. Ardhio hanya mendengus dan segera menancap gas menuju ke tempat pesta. Sepanjang perjalanan Sherina hanya diam sembari meremas gaunnya karena gugup. Memang bukan sekali dua kali dirinya menemani sang ayah menghadiri pesta atau jamuan makan malam rekan bisnis Ardhio. Tapi tetap saja rasa gugup tak dapat Sherina hilangkan begitu saja. Setelah menempuh waktu selama dua puluh menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Seperti biasa, Ardhio akan meminta Sherina menggandeng lengannya sembari menebarkan senyum manis layaknya pasangan ayah dan anak yang harmonis. Sherina mengenal beberapa orang yang menyapa ayahnya. Karena banyak dari mereka yang pernah dia temui di kantor ayahnya atau saat acara seperti malam ini. Selang beberapa menit kemudian, ballroom hotel tempat acara diselenggarakan mulai penuh dengan tamu undangan. Suara denting gelas yang sengaja diketuk membuat riuh ramai yang sempat terdengar seketika senyap. Pemilik acara mulai maju ke atas panggung. Memberikan speech singkat dan ucapan terimakasihnya pada tamu undangan yang berkenan hadir di acaranya. Dari obrolan singkatnya bersama sang ayah tadi, diketahui jika pria paruh baya itu merupakan salah satu pendiri perusahaan raksasa yang telah memiliki banyak cabang di seluruh dunia. "Pah, Sherina ijin mau ke toilet." Sherina sedikit menggeser tubuhnya ke arah sang papa saat menyampaikan maksudnya. Ardhio mengangguk pelan dan membiarkan Sherina beranjak dari tempat duduknya seorang diri. Pria itu kembali berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya yang kebetulan satu meja dengannya. "Aku bosen." desah Sherina dengan wajah memberengut. Pasalnya kebanyakan dari tamu undangan sudah berusia setengah abad. Dan mereka terus saja membicarakan tentang bisnis. Setelah keluar dari toilet, Sherina tak langsung kembali ke mejanya. Gadis itu melipir, berjalan menuju tempat yang lebih sepi dan sedikit tersembunyi. Beberapa kali helaan napas bosan terdengar dari bibir Sherina. Gadis itu benar-benar lelah dan ingin segera pulang. Apalagi sejak tadi siang dia belum sempat istirahat setelah pulang sekolah. "Rasanya pengen kabur dari sini." gumam Sherina sembari menatap langit malam dari balkon tempatnya berdiri. "Bagaimana kalau kita kabur bersama saja?" celetuk sebuah suara berat yang ada di sampingnya. Sherina refleks menoleh dan membelalakkan matanya begitu mengetahui siapa yang ada di depannya saat ini. "Om Saga?" Sherina hampir memekik saking terkejutnya. Untung saja gadis itu bisa menahan diri. Pria di depannya yang ternyata adalah Sagara tampak tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat saking tipisnya. Dia menatap Sherina dengan lekat. "Kita bertemu lagi." ujar Sagara sembari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. Sherina menunduk malu sebelum akhirnya mengangguk. Suasana di antara mereka berubah canggung karena saling diam. Namun Sagara lebih dulu memecah kecanggungan di antara mereka. "Kamu datang bersama siapa?" tanya Sagara menoleh ke arah Sherina. Diam-diam mengagumi paras cantik gadis itu. Sherina menatap Sagara sebentar,"Sherina datang sama Papa, Om. Terus Om Saga ke sini sama siapa? Istri Om?" dia balik bertanya. Sagara tersenyum kecut, yang membuat Sherina heran. "Saya tidak punya istri." jawab Sagara sembari menatap lurus ke depan. "Jadi Om Saga duda?" Sherina kembali bertanya dengan nada penasaran. Sagara berdecak, menatap jengkel pada sosok gadis manis di depannya. "Apa wajah saya terlihat seperti seorang duda?" tanya Sagara dengan nada sarkas. Sherina mengulum bibirnya malu sembari meringis. Perlahan kepalanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Sagara melipat kedua tangannya di depan d**a dengan muka masam. Enak saja Sherina mengatainya duda. Pacaran saja Sagara tidak pernah. Melihat pria dewasa di sampingnya diam saja dan tampak tersinggung, Sherina buru-buru mendekat. "Ma-Maaf kalau Sherina salah ngomong, Om." kata Sherina menggoyang-goyang lengan Sagara. Sagara cukup terkejut karena Sherina berani menyentuhnya. Jika seperti ini gadis itu jadi mirip keponakannya yang berusaha membujuknya agar tidak merajuk lagi. Memutar bola matanya malas, Sagara akhirnya mengangguk dan perlahan menyingkirkan tangan Sherina dari lengannya. Sebagai gantinya pria itu justru merengkuh pinggang Sherina dengan erat. "O-Om.." lirih Sherina dengan suara tercekat. Terkejut dengan apa yang Sagara lakukan padanya. Sherina berusaha melepaskan rengkuhan Sagara karena tidak nyaman. Mereka terlalu dekat. Bahkan dia bisa merasakan terpaan napas hangat dari Sagara. "Kamu berisik sekali, Sherina." desis Sagara menatap Sherina dengan tajam. Tubuh Sherina bergetar takut melihat tatapan mematikan yang Sagara layangkan padanya. Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya dan masih berusaha melepaskan diri. Sagara tersenyum sinis dan semakin mengeratkan rangkulannya. Pria itu mencubit dagu runcing Sherina, hingga membuat gadis itu mendongak ke arahnya. "Apa kamu tidak bisa tenang?" suara berat Sagara berhasil menghipnotis Sherina. Jarak di antara mereka begitu dekat. Ujung hidung keduanya saling bersentuhan dengan bibir yang nyaris menempel. Sherina menatap manik kelam Sagara yang menatapnya dalam. Dari jarak sedekat ini, pria itu terlihat semakin tampan. Dan Sherina tidak memungkiri hal itu. Tapi.. "Engh.." Sherina buru-buru merapatkan bibirnya kalau suara aneh itu keluar saat Sagara meremas pinggangnya. Gadis itu dilanda rasa panik saat tangan Sagara semakin menjalar naik. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Sagara tidak boleh menyentuhnya lebih jauh lagi. Semua ini sudah kelewatan. Pekik Sherina dalam hati. "Lep-umphh.." Baru saja Sherina hendak bersuara, bibirnya dengan cepat dibungkam oleh bibir Sagara. Gadis itu membelalak dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sepersekian detik Sherina hanya dapat mematung dengan tubuh membeku. Di sisi lain Sagara tidak sekalipun memusingkan hal tersebut. Pria itu lebih tertarik menikmati bibir Sherina yang terasa manis. Sagara jadi enggan untuk melepaskannya barang sejenak saja. Sherina yang awalnya diam saja saat bibirnya dicium oleh Sagara seketika tersadar. Wajahnya memerah dengan kemarahan yang tergambar jelas di sorot matanya. Sampai kemudian.. Plak Bruk "Dasar Om genit." pekik Sherina menampar Sagara dan mendorong pria itu kuat hingga tubuhnya menghantam dinding yang ada di belakangnya. Sherina tak peduli dengan apa yang terjadi pada Sagara. Gadis itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan Sagara dengan berderai air mata. Sagara yang melihat kepergian Sherina tampak biasa saja. Bahkan pria itu terlihat tenang tanpa merasa bersalah. Sudut bibirnya terangkat naik, dengan binar gelora yang jelas di netra jelaganya. "Aku tidak akan melepaskan kamu, Sherina. Kamu milikku mulai sekarang." smirk Sagara mengusap bibirnya yang basah karena baru saja mencuri ciuman pertama Sherina. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD