SOG | Kesal

1354 Words
"Kamu kenapa sih, Sher dari kemarin keliatan kesel gitu?" Yasmine menatap bingung sahabatnya yang sejak kemarin berwajah muram. Sherina bergeming, menatap makanannya dengan tidak berselera. Setiap mengingat apa yang terjadi pada pesta kemarin, rasa kesalnya kembali muncul. Bagaimana tidak kesal jika ciuman pertamanya telah dicuri oleh Sagara, pria dewasa yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Walaupun Sagara sangat tampan, tetap saja Sherina tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu. Usia mereka terpaut sangat jauh dan seharusnya Sagara tidak melakukan hal itu pada dirinya yang masih belia. "Aku nggak papa, Yas. Cuma lagi males aja." jawab Sherina pada akhirnya. Tak ingin membuat sahabatnya itu khawatir. Sherina juga tidak ingin Yasmine tahu apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya. Yasmine memperhatikan Sherina sekali lagi untuk memastikan jika sahabatnya itu benar-benar baik-baik saja. Pasalnya, Sherina tergolong orang yang sulit bicara dan lebih suka memendam apa yang dia rasakan sendiri. Dan kali ini Yasmine melihat jika Sherina tengah dalam suasana hati yang buruk. Raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan saat ini. Tapi Yasmine tidak ingin memaksa Sherina untuk bercerita. Dia akan menunggu sampai gadis itu mau menceritakan apa yang terjadi padanya dengan sendirinya. Yasmine mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengubah topik obrolan mereka. Gadis itu membahas mengenai ulangan harian biologi yang akan diadakan nanti setelah jam istirahat pertama. Raut wajah Sherina seketika berubah menjadi tegang. Membuat Yasmine terheran-heran melihatnya. "Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini ada jadwal UH biologi, Sher?" tebak Yasmine dengan mata memicing. Sherina meringis dan meraup wajahnya dengan kasar. Kepalanya terasa pening dan raut wajahnya terlihat gelisah. "Aku lupa, Yas. A-Aku harus belajar mumpung masih ada waktu." Sherina tampak kebingungan dan setengah berlari meninggalkan kantin. Yasmine menghela napas berat melihat tingkah sahabatnya yang berbeda akhir-akhir ini. Dirinya takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada Sherina, sampai membuat gadis itu tidak fokus selama beberapa hari terakhir ini. Meninggalkan Yasmine yang masih berada di kantin, di dalam kelas Sherina tampak buru-buru membuka buku catatannya. Masih ada sisa waktu lima belas menit untuknya belajar. Sherina tidak akan menyia-nyiakan waktu singkat tersebut. "Gara-gara Om Saga aku jadi lupa kalau ada ujian hari ini." gerutu Sherina sembari matanya fokus menatap lembaran kertas di depannya. Waktu lima belas menit terasa sangat singkat bagi Sherina. Gadis itu mendesah berat kala bel masuk berbunyi nyaring. Menandakan jika jam pelajaran biologi telah dimulai. "Kamu nggak perlu setegang itu, Sher. Kamu kan anaknya pinter. Aku yakin tanpa belajar pun kamu bakal tetep dapet nilai yang bagus." celetuk Yasmine yang kini sudah duduk di bangkunya. Berniat menghibur sahabatnya itu agar tidak terlalu tertekan. Sherina menghela napas berat dengan muka memelas. Mengangguk kecil sebagai respon dari perhatian yang Yasmine berikan padanya. Semoga saja kali ini dia mendapat nilai yang bagus walaupun tidak maksimal dalam belajar. Tak lama, seorang guru wanita masuk ke dalam kelas mereka. Guru bernama Yunita itu meminta para siswa memasukkan seluruh buku yang ada di atas meja dan hanya menyisakan alat tulis saja. Sherina berusaha untuk tetap tenang kala lembar ujian mulai dibagikan. Gadis itu menatap lamat-lamat lembaran kertas berisikan soal ujian biologi. Senyum cerah seketika terbit di wajahnya karena hampir sebagian besar materinya telah dia kuasai. Sherina akhirnya kembali percaya diri dan mengerjakan ujiannya dengan tenang. Yasmine yang diam-diam memperhatikan sahabatnya itu tersenyum lega. Sherina telah kembali menjadi gadis yang ceria. Berbeda sekali dengan Sherina yang dia lihat beberapa waktu lalu. "Untung aja aku banyak inget materinya." gumam Sherina merapikan alat tulisnya setelah ulangan harian mata pelajaran biologi telah usai. Yasmine menepuk pundak Sherina lembut,"Gimana, Sher? Kamu pasti bisa jawab semua soalnya kan?" tebaknya. Sherina mengangguk kecil."Semoga aja ya, Yas." balasnya dengan senyum tipis. "Kayaknya ada yang udah balik ke setelan pabrik nih." goda Yasmine menyenggol lengan Sherina. Sherina tertawa kecil dan mengedikkan bahunya. Suasana hatinya kini tidak lagi sesuram tadi. Gadis itu telah kembali menjadi pribadi yang periang. "Pulang sekolah nanti kamu ada jadwal les nggak, Sher?" tanya Yasmine memecah lamunan Sherina. Sherina mengetuk dagunya dengan ujung telunjuk,"Em, Nggak ada sih, Yas. Emangnya ada apa? Kamu mau ngajak aku main?" tanya gadis itu. Yasmine mengangguk cepat sembari menampilkan senyum manisnya. "Aku ada janji sama klien pertama aku di cafe sebrang. Kamu temenin aku ya, Sher." mohon Yasmin menangkup kedua tangannya di depan wajah. Sherina yang melihat tingkah lucu sahabatnya tampak terkekeh geli."Iya deh aku temenin. Tapi jangan lama-lama ya, Yas. Takut dimarahin Papa kalau pulang telat." "Tenang aja, Sher. Nggak akan lama kok." balas Yasmine menenangkan. Sebelumnya, Yasmine dengan heboh menceritakan pada Sherina jika dirinya mendapat DM dari seorang wanita yang tertarik dengan keahliannya merias wajah Sherina beberapa waktu lalu. Dia mengajak Yasmine untuk bertemu dan membicarakan kerjasama. Dan tentu saja gadis yang suka menguncir rambutnya dengan gaya ponytail itu menyambutnya dengan antusias. Dan di sinilah mereka berdua, berdiri di depan cafe yang tengah hits di kalangan anak remaja saat ini. Yasmine menarik Sherina masuk ke dalam tempat tersebut dengan semangat. "Itu dia, Sher." tunjuk Yasmine begitu melihat seorang wanita melambaikan tangannya ke arah mereka. Sherina mengikuti langkah Yasmine dalam diam. Dan melempar senyum ramah ketika sampai di depan meja yang diduduki oleh wanita itu. "Sebelumnya aku udah pesenin kalian menu paling best seller di sini. Semoga aja kalian suka, ya." kata Nadine memamerkan senyum manisnya. Wanita itu terlihat ramah dan baik. Membuat Yasmine dan Sherina merasa tenang. Mereka tak langsung membicarakan bisnis. Ketiganya kini tengah menikmati kudapan yang tersaji di atas meja. Sesekali mereka saling melontarkan candaan yang membuat suasana menjadi lebih hangat dan ceria. Yasmine dan Nadine terlibat obrolan yang serius tapi seru. Wanita berkacamata itu ternyata adalah seorang makeup artis profesional. Dan dia tertarik untuk mengajak Yasmine bekerja sama. "Aku suka tau.. lihat hasil makeup look kamu waktu ngerias Sherina, Yas. Keliatan fresh banget dan nggak gradakan. Nggak sembarang MUA loh bisa ngasih hasil maksimal kaya gitu. Jadi aku putusin buat DM kamu dan ngajak kamu join di tim aku." tutur Nadine. Yasmine tampak malu-malu mendengar pujian yang Nadine lontarkan padanya. Sherina yang menyimak pembicaraan tersebut ikut senang mendengarnya. Yasmine memang memiliki bakat terpendam di bidang kecantikan. "Kak Nadine berlebihan, deh. Aku masih butuh banyak belajar kok, Kak. Tapi makasih ya, Kak pujiannya. Aku bener-bener seneng banget ada yang suka sama hasil makeup aku." balas Yasmine tersenyum cerah. Di saat Yasmine dan wanita bernama Nadine itu tengah membicarakan bisnis, Sherina tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Tempatnya yang luas dan aesthetic, menjadikan tempat ini digandrungi para remaja. Pandangan Sherina tertuju pada salah satu meja yang menarik perhatiannya. Di sana terdapat empat orang pria berjas rapi yang tengah terlibat obrolan serius. "Meeting di tempat seramai ini apa bisa fokus?" gumam Sherina heran melihat pria-pria kantoran tersebut. Sherina masih mengamati mereka, sampai akhirnya salah satu di antara para pria tersebut menoleh ke arahnya. Mata Sherina seketika membulat begitu mengenali sosok tersebut. Pria dewasa yang menjadi penyebab suasana hatinya buruk beberapa hari ini. "Kenapa dia bisa ada di sini, sih?" geram Sherina buru-buru memalingkan wajahnya. Yasmine melirik sahabatnya heran,"Ada apa, Sher?" tanya gadis itu. Sherina tersentak dan menggeleng cepat. Tak ingin Yasmine merasa curiga dengan perubahan sikapnya. "Nggak papa kok, Yas. Em, aku ijin ke toilet bentar ya." Sherina sempat melempar senyum ke arah Nadine, sebelum akhirnya beranjak dari kursinya. Sherina sama sekali tidak menoleh ke arah mana pun. Pandangannya lurus dengan raut wajah datar terkesan jengkel. Gadis itu tidak menyadari jika sedari tadi gerak-geriknya dipantau oleh sepasang netra jelaga yang mengamatinya dengan sudut bibir terangkat. "Akhirnya aku bisa melihat kamu lagi, Babybgirl." smirk orang itu. Setelah Sherina hilang dari pandangannya, orang tersebut lantas beranjak meninggalkan mejanya. Dengan seringai lebar dia berjalan menuju ke arah perginya Sherina. Sekitar tiga menit kemudian, Sherina akhirnya keluar dari bilik toilet. Gadis itu dengan santai bersenandung kecil sembari mencuci tangannya di depan wastafel. Gadis itu berdecak,"Ck. Bisa-bisanya aku ketemu sama dia di sini." Tangannya terjulur meraih selembar tissue untuk mengeringkan kedua tangannya yang basah. Lantas mengamati penampilannya di depan kaca. Setelah merasa penampilannya telah rapi, Sherina akhirnya keluar dari tempat tersebut. Namun ketika baru beberapa kali melangkahkan kakinya keluar, gadis itu sudah lebih dulu dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang tengah berdiri menyender di dinding sebelah pintu masuk toilet. "Astaga." Sherina setengah memekik saking terkejutnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD