SOG | Keputusan Sherina

978 Words
Ujian semester telah selesai satu minggu yang lalu. Dan hari ini sekolah tengah mengadakan acara pertemuan wali murid untuk penerimaan rapot serta pengumuman peringkat paralel. Sherina merasa lega karena papanya turut hadir memenuhi undangan dari wali kelasnya. Gadis itu kini tengah harap-harap cemas menanti pengumuman tersebut. "Please deh, Sher. Kamu nggak perlu setegang itu. Aku yakin kok kamu bakal dapet juara." timpal Yasmine tampak jengah melihat sahabatnya yang sejak tadi mondar-mandir tidak jelas di depannya. Sherina tersenyum tipis,"Semoga aja tahun ini aku dapet peringkat paralel. Kamu tau sendiri kan, Yas.. akhir-akhir ini nilaiku anjlok. Aku takut nggak sesuai ekspektasi aku." Yasmine mencoba menenangkan Sherina yang tampak gelisah. Dalam hati dia bersungut-sungut pada seseorang yang telah membuat gadis itu tak tenang. "Awas aja kalo sampek nanti dia dimarahin di rumah. Aku nggak bakal tinggal diem." gumam Yasmine. Beberapa jam terlewati dengan cepat. Kini para wali murid dan juga seluruh siswa diperbolehkan untuk pulang. Begitu juga Sherina dan Ardhio yang kini tengah berada di dalam perjalanan pulang. Sedari tadi Sherina tampak mencuri pandang ke arah papanya yang diam saja sejak keluar dari ruang auditorium. Sherina akhirnya mencoba memberanikan diri untuk memanggil papanya ketika mereka telah sampai di rumah. "Pah.." panggil Sherina ragu. Plak Arghh.. Sherina memekik dan terkesiap ketika Ardhio tiba-tiba saja menamparnya dengan keras. Membuatnya tersungkur di atas lantai. Matanya berkaca-kaca menatap sang papa dengan raut tidak percaya. "Dasar tidak tahu diuntung! Mendapat peringkat satu saja tidak becus. Apa saja yang kamu lakukan selama ini, hah?" marah seorang Ardhio pada putri semata wayangnya itu Sedangkan di depannya, kini terduduk Sherina yang masih berseragam putih abu tengah memegangi pipinya yang memerah karena baru saja mendapatkan tamparan dari sang papa. Saat ini Sherina tengah dimarahi habis-habisan oleh Ardhio karena gagal mendapat peringkat paralel di sekolahnya. "Selama ini Papa sudah membiayai semua kebutuhan kamu. Mencarikan tempat les yang bagus supaya kamu mendapat peringkat satu. Tapi apa sekarang? Kamu hanya mendapat peringkat dua." Ardhio kembali meluapkan amarahnya dengan menuding Sherina dengan telunjuknya. Jika biasanya gadis itu akan menangis ketika mendapat amukan dari sang papa, kali ini dia memilih untuk diam saja. Namun di balik keterdiamannya, terselip amarah yang sejak dulu dia pendam. Sang papa selalu menuntutnya untuk mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Dia akan selalu marah ketika Sherina tidak mendapat nilai sempurna saat ujian. Ardhio memang pria yang kolot dan ambisius. Sejak Sherina masih duduk di sekolah dasar, dia selalu menuntut putrinya untuk menjadi bintang kelas. Dan dia akan dengan bangga menceritakan pencapaian Sherina pada kolega bisnisnya. "Sebagai hukumannya, mobil dan kartu debit kamu Papa sita selama satu bulan." ujar Ardhio dengan tegas. Sherina yang tadinya diam saja dengan raut wajah datar sontak tercengang. Kenapa sang papa begitu tega melakukan hal itu padanya? Lalu bagaimana nasib dirinya selama satu bulan ke depan? "Tapi, Pa.." Sherina dengan suara tercekat hanya bisa menelan ucapannya ketika sang papa telah berlalu meninggalkannya. Gadis itu meremas kedua tangannya dengan ekspresi keruh. Buku-buku jarinya tampak memutih saking kuatnya kepalan tangannya. Sherina benar-benar merasa marah dengan apa yang papanya lakukan. "Dari dulu, aku selalu nurutin semua perintah Papa. Semua waktuku aku habisin buat belajar dan belajar. Tapi Papa nggak pernah ngehargain kerja keras aku." gumam Sherina dengan rahang mengeras. Netra coklatnya menatap kepergian Ardhio dengan kilat tajam. Wajah datarnya menambah kesan dingin dalam dirinya. Sherina benar-benar telah berada di ambang batasnya. Gadis itu sudah benar-benar muak dengan sikap papanya yang semena-mena. "Jangan salahin aku kalau kali ini aku membangkang, Pah. Ini semua karena salah Papa sendiri yang nggak ngehargain aku." desis Sherina. Dengan pipi yang masih memerah bekas tamparan sang papa, Sherina bangkit dari posisinya. Gadis itu lantas berjalan menuju kamarnya. Lalu keluar selang beberapa menit kemudian dengan penampilan yang berbeda. Dengan pakaian yang cukup terbuka untuk usianya yang masih remaja, Sherina berjalan penuh tekad keluar dari rumahnya. Rambutnya yang tergerai indah, beberapa kali beterbangan tertiup angin hingga menutupi wajah cantiknya. Sherina dengan cerdik memanfaatkan waktu istirahat satpam rumahnya untuk menyelinap keluar. Gadis itu lantas dengan cepat menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan rumahnya. "Hotel Belmond, Pak." ujar gadis itu tanpa ragu. Netranya begitu fokus menatap layar ponselnya. Sepertinya Sherina tengah berbalas pesan dengan seseorang. Setengah jam kemudian, Sherina akhirnya sampai di tempat tujuan. Dengan penuh percaya diri gadis itu berhenti di depan meja resepsionis. Lalu menyebutkan nama seseorang yang telah memesan salah satu kamar di hotel tersebut. Langkah jenjang Sherina membawa dirinya ke depan pintu kamar bernomor 203. Setelah mengetuknya dua kali, gadis itu lantas tanpa ragu masuk ke dalam kamar tersebut. "Om Saga.." panggil Sherina dengan suara mendayu. Gadis itu melangkah dengan tenang menuju seorang pria matang yang tengah duduk di atas sofa. Jantungnya berdegup kencang saat iris coklatnya bersitatap dengan netra jelaga milik pria tersebut. "Sherina.." suara itu terdengar berat namun seksi. Sherina mengulum senyum gugup sembari menyelipkan helaian rambutnya ke balik telinga dengan gerakan anggun. Langkahnya berubah pelan saat jarak di antara mereka kian terkikis. "Apa tawaran waktu itu masih berlaku, Om?" tanya Sherina sembari meremas ujung dress pendek yang dia kenakan. Pria matang bernama Erliano Sagara itu menaikkan sebelah alisnya. Ujung bibirnya tertarik, membentuk senyuman miring yang semakin menambah ketampanannya. "Kamu berubah pikiran?" bukannya menjawab pertanyaan Sherina, pria itu justru balik bertanya. Sherina mengangguk kecil dengan jantung yang masih bertalu kencang. Apa yang dia lakukan saat ini benar-benar keputusan yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Namun karena Sherina merasa sudah muak dengan tuntutan papanya, dia akhirnya nekat melakukan semua ini. Memutuskan suatu kesepakatan yang nanti akan mengubah hidupnya 180 derajat. "Iya, Om. Sherina setuju jadi simpanan Om Sagara." balas Sherina dengan tekad bulat. Sagara tampak tersenyum lebar mendengar jawaban Sherina. Pria matang itu kemudian meminta Sherina untuk mendekat. Lalu menarik tubuh gadis itu dengan mudah hingga jatuh ke atas pangkuannya. "Pilihan yang tepat, Sherina. Tapi ingat, sekali kamu memutuskan, saya tidak akan melepaskan kamu sampai kapanpun." ujar Sagara dengan suara tenang namun mengancam. Lalu menarik dagu Sherina untuk dia kecup bibirnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD