Jantung Sherina tak henti berdebar mendengar ucapan Sagara beberapa menit yang lalu. Netra hazelnya menatap layar hitam di ponselnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Hanya satu kata, tapi berimbas cukup dahsyat bagi dirinya. Awalnya Sherina merasa ragu menerima panggilan dari Sagara. Tapi entah kenapa, dia akhirnya menerimanya. Dan apa itu tadi? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Sagara mengatakan jika dia merindukannya.
Sherina sontak kehilangan kata-katanya, tak mampu bersuara. Dan lagi, dia juga merasa bingung harus menanggapinya bagaimana. Alhasil gadis itu memutuskan untuk mematikan panggilan tersebut. Menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang setelah mendengar pengakuan Sagara.
"Ini beneran gila. Kenapa aku jadi deg-degan gini setelah denger ucapan Om Saga barusan?" Sherina mencoba menerka. Menanyakan pada hatinya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Suara Sagara jadi terngiang-ngiang di dalam benaknya. Membuat Sherina terus kepikiran dan berakhir tidak bisa tidur. Gadis itu terus membolak-balikkan tubuhnya. Mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi ucapan Sagara tadi terus menghantuinya. Bersama bayang-bayang pria itu yang berkeliaran di dalam pikirannya.
"Bisa nggak sih Om Saga jangan gangguin aku? Aku tuh mau tidur." keluh Sherina entah pada siapa. Karena objek yang dia bicarakan nyatanya tidak berada di dekatnya.
Sherina terlihat gusar, dan menendang selimutnya dengan kesal. Gadis itu lantas bangun, terduduk di atas ranjangnya dalam keadaan berantakan.
Sherina sudah mencoba mengusir bayang-bayang Sagara dari benaknya. Tapi sepertinya bayangan itu sama menyebalkannya dengan Sagara. Selalu mengusik, dan tak ingin menyerah.
Ting
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponselnya. Sherina mengernyit, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Siapa yang mengiriminya pesan selarut ini?
Merasa penasaran, Sherina akhirnya menggapai benda pipih tersebut. Matanya seketika membulat begitu tahu siapa yang baru saja menghubunginya.
"Dia maunya apa sih?" kesal Sherina begitu tahu jika Sagara-lah pengirimnya.
Dalam pesan itu Sagara mengatakan jika dua hari lagi dia akan kembali ke Jakarta. Dan pria itu ingin bertemu dengannya.
Hampir saja Sherina menekan tombol blokir pada nomor kontak Sagara. Tapi entah kenapa, jarinya terhenti dan niatnya urung terjadi.
Sherina memilih untuk tidak membalasnya. Mencoba mengabaikan pesan dari Sagara, yang mungkin tengah menunggu balasannya.
Tak lama, pesan masuk kembali Sherina terima. Kali ini disertai dengan sebuah foto yang menunjukkan sosok Sagara di depan cermin. Pria itu tampak memakai kemeja, dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka. Mempertontonkan d**a bidangnya yang tampak keras, dan ditumbuhi bulu-bulu halus.
Bruk
Sherina refleks melempar ponselnya, jatuh menghantam headboard. Wajahnya memerah, dengan mulut sedikit menganga. Teringat akan sesuatu yang baru saja dia lihat.
"Gilak. Om Saga bener-bener gila. Ngapain dia ngirimin aku foto kayak gitu." umpat Sherina menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.
Bayang-bayang Sagara dengan penampilannya yang menggoda kini menghantui Sherina. Perutnya terasa geli, dengan perasaan yang gelisah. Dalam hati bertanya-tanya, apa tujuan Sagara yang sebenarnya.
Apa pria itu hanya ingin mengganggunya saja? Tapi kenapa suara pria itu terdengar tulus dan jujur?
Sherina mencoba mengingat-ingat pertemuan pertama mereka. Kala itu dia sempat berpikir jika Sagara memiliki pribadi yang dingin dan kolot. Tapi semakin sering berinteraksi dengan pria itu, Sherina mulai melihat Sagara dengan pandangan yang berbeda. Pria itu memang dingin, tapi bersamanya bisa berubah menjadi hangat. Walau sikap menyebalkan dan mesoomnya tidak dapat tertolong lagi.
"Apa aku terima aja ya tawaran Om Saga?" tiba-tiba saja pikiran itu tercetus begitu saja dari bibir Sherina.
Sherina masih mengingat ucapan Sagara waktu itu. Pria itu tahu jika dirinya tidak baik-baik saja. Dan Sagara menawarkan sesuatu yang benar-benar membuatnya syok.
Sherina sempat berpikir kenapa harus menjadi simpanan di saat mereka sama-sama tidak memiliki pasangan?
Lalu akhirnya Sherina bisa menyimpulkan satu hal. Sagara tidak ingin melibatkan perasaan di antara mereka. Pria itu pernah mengatakan jika dia tidak pernah percaya akan adanya cinta. Sagara pernah dikecewakan oleh ibunya, dan Sherina tahu hal itu.
Di sisi lain, seumur hidupnya Sherina juga belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta. Hidupnya terlalu monoton dan selalu disetir oleh papanya, Ardhio. Pria itu tidak pernah mengenalkan apa arti cinta pada Sherina. Karena Ardhio lebih sibuk dengan dunianya.
"Om Saga sebenernya baik sih sama aku. Dia selalu perhatian dan keliatan penyayang orangnya." gumam Sherina yang kini memuji Sagara.
Kekecewaannya terhadap Ardhio membuat pandangan Sherina terhadap Sagara berubah. Dan siapa yang akan menyangka jika dari pemikiran itulah Sherina mulai tertarik untuk menerima tawaran gila dari Sagara.
Di waktu yang sama, namun berbeda tempat. Saat ini Sagara masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih tertuju pada Sherina, gadis cantik pemilik senyum manis yang berhasil mencuri perhatiannya.
Jika tadi pria itu terlihat gusar, sekarang yang ada Sagara justru tidak berhenti tersenyum. Mengingat percakapan singkatnya bersama Sherina. Walau berakhir dengan gadis itu memutuskan panggilannya secara sepihak. Tapi setidaknya rasa rindu yang sempat melanda, sedikit terobati.
"Ah, dia masih belum membalas pesanku." keluh Sagara menatap layar ponselnya. Menunggu balasan dari Sherina yang tak kunjung datang.
Sagara menggigit pipi dalamnya,"Apa aku terlalu agresif ya?" gumamnya, mengingat pesan terakhir yang dia kirim ke Sherina.
Sagara lantas menatap penampilannya yang belum berganti. Kemeja putih yang tampak kusut dengan tiga kancing teratas yang dia biarkan terbuka, masih melekat di tubuhnya.
"Sepertinya cara yang aku lihat di artikel tadi salah. Bukannya membuatnya terpesona, jangan-jangan Sherina menjadi ilfeel." terka Sagara.
Pria itu mengerang kesal, mengacak-acak rambutnya sampai berantakan. Dengan kasar dia kembali berbaring, menatap langit-langit kamar hotel tempatnya menginap dengan tatapan muram.
"Kalau cara itu benar-benar tidak berhasil, aku akan menuntut ganti rugi pada pengirim artikel tersebut karena sudah membuat tutorial palsu." gerutu Sagara yang dengan lucunya justru menyalahkan author.
***