Sagara menatap langit malam di balkon kamar hotelnya dengan pandangan menerawang. Segelas kopi hitam yang masih mengepul, nyatanya tidak mampu menghangatkan hatinya yang tengah gundah.
Sherina.
Nama itu terus terngiang di dalam pikirannya. Sosok gadis muda yang dengan kurang ajarnya menjungkir balikkan hidupnya.
Sagara tidak pernah menyangka jika hidupnya akan semenarik ini setelah bertemu dengan Sherina. Gadis itu tidak menggodanya, tapi justru dirinya yang tertarik lebih dulu. Segala tingkah alaminya berhasil membuat pria matang yang masih betah melajang itu kalang kabut.
Sebelum kedatangan Sherina, kehidupan Sagara berjalan biasa saja. Kesehariannya hanya bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu untuknya bermain wanita. Karena sejak dulu Sagara sangat anti dengan mereka.
Apa Sagara pernah mengalami pengkhianatan dari wanita yang dicintainya? Tidak, pria itu tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita sejak dulu. Lalu kenapa Sagara bersikap demikian? Karena luka di masa lalunya akibat perbuatan ibunya.
Sagara memang lahir dari keluarga konglomerat. Tapi hal itu tidak menjamin jika kehidupannya akan selalu bahagia. Karena kenyataannya, ketika Sagara berusia 15 tahun, dia harus melihat pengkhianatan dari wanita yang disayanginya.
Ibu Sagara tega mengkhianati ayahnya dengan pamannya sendiri. Sagara melihatnya langsung ketika sang ibu berbagi peluh dengan adik ayahnya. Dan dari sanalah kehancuran keluarganya bermula.
Ayahnya langsung menceraikan sang ibu detik itu juga. Pamannya juga dicoret dari daftar ahli waris karena perbuatannya. Mereka mendapat hukuman yang setimpal. Diusir dari rumah dan mendapatkan sanksi sosial.
Tapi bukan berarti semuanya berakhir begitu saja. Sang ayah yang kala itu terpuruk, melampiaskannya dengan mabuk-mabukan. Sagara menjadi sasaran kemarahan ayahnya. Sagara remaja sering babak belur karena menjadi samsak ayahnya ketika mabuk.
Beranjak dewasa, Sagara tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Auranya begitu dingin, dan tidak pernah lagi terlihat senyum di bibirnya. Sagara benar-benar menutup dirinya dari dunia luar, dan hanya fokus dengan perusahaan.
Kembali pada masa sekarang, Sagara tengah menatap langit malam kota Lombok dalam kesendirian. Pria itu memang penyendiri, dan selalu kesepian. Dan Sagara menyukainya.
Tapi malam ini dirinya merasa gelisah. Pikirannya tertuju pada Sherina yang berada jauh di sana. Terpisahkan oleh pulau dan lautan luas.
Sagara ingin melihat gadis itu. Memperhatikannya walau hanya dari kejauhan. Apa ini yang dinamakan rindu? Entahlah, yang jelas Sagara ingin sekali bertemu dengan Sherina.
"Apa aku harus menghubunginya?" gumam Sagara pada dirinya.
Tapi Sagara tidak yakin jika Sherina akan membalas pesannya. Atau yang lebih penting, bagaiman jika panggilannya ditolak?
Dengusan kasar keluar dari bibir Sagara. Segelas kopi yang ada di tangannya terlihat tidak lagi menarik. Pria itu lebih tertarik untuk menghubungi Sherina.
Maka dengan penuh tekad, Sagara menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Jemarinya berhenti, kala menemukan nama Sherina di dalam daftar kontaknya.
Fyiuhh..
Ibu jari Sagara menggantung di udara, dan dengan berat pria itu melempar ponselnya ke atas ranjang. Sagara meraup wajahnya dengan kasar, hampir bersikap di luar batas.
Ini jelas bukan dirinya. Sagara tidak pernah segelisah ini hanya karena seorang gadis. Tapi ketika ingatannya berputar pada sosok cantik Sherina, Sagara merasa jika semuanya terasa benar.
Pria itu akhirnya menyerah pada egonya, dan kembali meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Dengan mantap Sagara menekan tombol hijau, kali ini benar-benar menghubungi Sherina.
Setiap dering yang menggema terasa begitu menyiksa. Sagara hampir menyerah, percaya jika Sherina tidak akan menerima panggilannya. Tapi siapa sangka, di tengah keputusasaan itu suara Sherina memecah keheningan malam.
"Halo.."
Suara itu benar-benar nyata, dan terasa begitu dekat. Sagara berdehem pelan, berusaha mengusir suara berisik yang ada di dalam dadanya.
"Sherina." suara Sagara nyaris tercekat ketika menyebutkan nama itu.
Terdapat jeda yang cukup lama bagi Sagara untuk mendengar balasan dari gadis itu.
"Om Saga ngapain hubungin Sherina malem-malem?" tanya gadis itu terdengar ketus.
Sagara mengulum bibirnya, membayangkan raut wajah gadis itu saat ini. Ah, pasti lucu sekali jika melihatnya langsung.
"Kamu bisa menolak panggilan saya jika merasa terganggu." balasnya, kini lebih tenang.
Tak ada jawaban dari sebrang, Sagara menerka jika gadis itu pasti bersungut-sungut sekarang.
"Tapi kamu tidak menolaknya." lanjut Sagara dengan sudut bibirnya terangkat naik.
Terdengar decakan samar dari seberang sana."Kalau Om Saga hubungin Sherina cuma buat ini.. mending Sherina matiin."
Pasti gadis itu tengah memutar bola matanya jengah, pikir Sagara.
"Tidak, jangan." sergah Sagara cepat. Tak ingin kehilangan moment bersama Sherina.
Di seberang sana, Sherina menghela napas pelan.
"Ada apa?" tanya gadis itu datar, tapi tak lagi kasar.
Bibir Sagara berkedut, menahan senyum yang hampir merekah karena sepertinya Sherina mulai jinak.
"Saya rindu kamu." tiga kata itu akhirnya meluncur dari bibir Sagara. Membuat gadis yang berada jauh di sana mematung dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya.
***