SOG | Kecewa

1035 Words
Sherina berjalan lunglai masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Hari mulai petang ketika gadis itu sampai. Tapi Sherina belum menemukan mobil papanya terparkir di dalam garasi. Sepertinya pria itu belum pulang. Atau mungkin papanya memilih untuk menghabiskan waktunya bersama peliharaannya? Asumsi itu seketika membuat langkah kaki Sherina terhenti. Dia masih mengingat bagaimana wajah sumringah papanya ketika merangkul gadis seumurannya masuk ke dalam hotel. Raut wajah yang sudah lama tidak pernah dia lihat semenjak mamanya meninggal. Jujur saja Sherina merasa kecewa jika papanya benar-benar memiliki simpanan. Apalagi Ardhio tampak memperlakukan perempuan itu dengan lembut. Beda sekali ketika sedang bersamanya. Papanya akan lebih sering marah dan bersikap kasar padanya. "Kayaknya Papa lebih suka ngabisin waktunya sama simpanannya daripada sama aku yang anaknya sendiri." gumam Sherina merasa sedih. Gadis itu lantas memejamkan matanya, menghalau air mata yang hendak keluar dari tempatnya. Sherina tidak ingin dianggap cengeng. Tapi beban hidupnya benar-benar terasa berat. Sejak mamanya meninggal, Sherina tidak lagi mempunyai tempat untuk mengadu. Papanya semakin menjaga jarak dan jarang berada di rumah. Alasannya selalu sibuk bekerja. Dulu mungkin Sherina akan percaya. Tapi sejak melihat Ardhio bersama perempuan lain dia tidak lagi mempercayai alasan itu. Papanya terlalu pandai menyembunyikan kebohongan. Sampai dirinya terperdaya dan terus percaya. Bibit-bibit keraguan mulai memupuk di dalam diri Sherina. Gadis itu ingin memberontak, namun rasa takutnya masih mendominasi. Selama ini Sherina selalu menjadi anak yang penurut. Wajar jika gadis itu merasa takut untuk memberontak. Di tengah kemelut yang melanda hatinya, Sherina tiba-tiba saja mengingat percakapannya bersama Sagara tempo hari. Dengan gilanya pria itu memintanya untuk menjadi simpanannya. Terdengar sangat tabu bagi Sherina kala itu. Tapi beberapa hari kemudian dia justru menemukan fakta jika papanya sedang bermain gila dengan gadis SMA di sebuah hotel. Memang belum seratus persen akurat karena Sherina baru memergokinya satu kali. Tapi dia bukan gadis bodoh yang tidak mengetahui apa yang terjadi di antara dua orang lawan jenis di dalam hotel. "Apa sekarang emang jamannya punya simpanan anak SMA?" tanya Sherina entah pada siapa. Gadis itu menarik napas dalam, sebelum menghembuskannya dengan kasar. Sherina merasa lelah dengan apa yang dia pikirkan tentang papanya. Kenapa harus bermain-main dengan gadis muda? Apa papanya itu tidak tahu jika dia hanya dimanfaatkan saja? "Kalau Papa deket sama wanita dewasa mungkin aku bakal terima. Asal dia bisa ngurus Papa, baik sama aku juga." pikir Sherina. Wajah gadis itu berubah sendu, dengan sorot kecewa yang tidak dapat dibohongi."Tapi kenapa Papa malah main-main sama gadis seumuran aku?" keluhnya. Sherina menggulingkan tubuhnya ke sisi ranjang yang lain. Tangannya terulur mengambil pigura kecil yang ada di atas nakas. Dipandanginya potret keluarganya dengan senyum sendu. Di dalam pigura kecil itu terdapat foto dirinya, sang mama dan papanya, Ardhio. Ketiganya tampak tersenyum lebar, dengan Sherina yang duduk di pangkuan papanya. "Mah, Sherina kangen." lirih gadis itu sembari mengusap wajah mamanya dengan ibu jarinya. Air mata mulai membasahi kedua pipi Sherina. Teringat akan sang mama yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya sejak beberapa tahun yang lalu. Kepergian mamanya menyisakan luka yang mendalam bagi Sherina. Usianya masih begitu kecil ketika dirinya kehilangan sang mama. "Papa makin berubah, Mah. Papa udah nggak sayang lagi sama Sherina. Sherina sering dimarahin, nggak dipeduliin. Sherina sendirian di sini, Mah." lirih Sherina pilu. Sherina meluapkan keluh kesahnya dengan mengadu pada sang mama yang tidak mungkin bisa mendengarnya. Gadis itu benar-benar rapuh, dan tengah kebingungan. Luka akan kehilangan sang mama belum kering ketika papanya mulai berubah. Ardhio, entah sengaja atau tidak semakin menarik diri dari Sherina. Tanpa memikirkan perasaan gadis kecil itu yang masih membutuhkan kasih sayang. Ketika Sherina tengah menangisi hidupnya yang menyedihkan, sang papa justru tengah bersenang-senang dengan simpanannya. Tebakan Sherina memang benar, Ardhio saat ini tengah menghabiskan waktunya dengan seorang gadis di dalam sebuah hotel. "Kamu benar-benar nikmat, Baby." bisik Ardhio dengan suara berat sesaat setelah mereka menyelesaikan permainan panasnya. Pria itu berbaring telentang menatap langit-langit kamar hotel yang menjadi tempat dirinya melepaskan dahaga. Disusul dengan sang gadis yang menjadi partner bermainnya yang membaringkan kepalanya di d**a bidang pria itu. "Om Dhio mau langsung pulang habis ini?" tanya gadis itu dengan suara lemah, lelah setelah menuruti na-fsu pria tersebut. Ardhio menghela napas sebentar sebelum menatap gadisnya,"Saya masih ingin di sini." balasnya. Jujur saja gadis itu merasa bimbang. Di satu sisi dia merasa senang karena dirinya masih bisa berlama-lama dengan pria itu. Tapi di sisi lain, dia juga memikirkan seseorang yang akan kesepian jika Ardhio tidak pulang. "Kenapa? Kamu memikirkan dia?" tanya Ardhio datar. Gadis itu mengangguk dengan sorot redup. Yang justru membuat Ardhio kembali tergoda ingin mengulang permainannya. "Om.." lirih gadis itu saat merasakan usapan sen-sual di punggungnya. "Saya ingin lagi." ujar Ardhio serak. Tangan besarnya menangkup gundukan kenyal di bawah punggung gadis itu yang polos. Lantas mere-masnya dengan cukup kuat hingga membuat gadis itu merintih. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan suara laknat yang ingin keluar."Kita baru selesai tadi. Emangnya Om Dhio belum puas?" tanyanya dengan mata sayu. "Satu ronde saja belum cukup, Baby. Kamu terlalu candu untuk saya lewatkan." desis Ardhio mencengkram rahang gadis itu dengan erat, tapi tidak menyakitkan. Gadis itu semakin dilanda rasa resah, membuat Ardhio tersenyum penuh kemenangan. Baginya melihat kabut ga-irah di mata gadisnya menjadi kesenangan tersendiri. Ardhio begitu menikmati waktunya setiap bersama gadis itu. Dengan mudah Ardhio mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya. Ditatapnya wajah bule gadisnya yang sangat cantik. Bibir penuhnya membuat Ardhio tak sabar untuk mencicipinya lagi. "Kamu tahu, sejak kamu nekat naik ke atas ranjang saya, saya sudah bertekad untuk tidak akan pernah melepaskan kamu." Ardhio mengatakannya dengan sorot serius. Semburat merah tampak menghiasi kedua pipi gadis itu. Namun raut wajahnya berubah ketika mengingat sesuatu. "Gimana kalau dia tau hubungan kita, Om? Aku takut dia jadi benci sama aku." lirihnya dengan suara bergetar. Tak siap membayangkan raut kecewa dari sosok itu. "Dia tidak akan tahu selama kita bermain rapi. Kita cukup bersandiwara di depannya, seolah-olah kita tidak dekat." kata Ardhio dengan kobaran ga-irah yang tergambar jelas di matanya. Ardhio yang sudah tidak tahan lagi menahan diri, mulai melancarkan sentuhan-sentuhan nakal yang membuat gadis itu lemah. Bibirnya bergerak mel-umat bibir manis gadisnya dengan rakus. Sedangkan tangannya terus menjalar ke beberapa titik sensitif gadis itu. "Saya akan memuaskan kamu, Baby." bisik Ardhio tersenyum menyeringai dan mulai melancarkan aksinya. Membuat gadisnya menjerit nikmat di bawah kungkungannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD