SOG | Bertemu Lagi

1285 Words
Sherina menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di depan meja belajarnya. Tugas-tugas sekolahnya yang seharusnya dikumpulkan minggu depan telah dia selesaikan. Benar-benar cerminan siswi teladan. Setelah menyelesaikan tugasnya, Sherina kemudian langsung merapikan buku-buku dan alat tulisnya. Memasukkan beberapa buku sesuai jadwal untuk besok ke dalam tasnya. Ketika Sherina tengah memasukkan bolpoin ke dalam kotak pensil, gadis itu menemukan selembar kertas yang menarik perhatiannya. Diambilnya kertas itu yang ternyata merupakan kartu nama seseorang. "Erliano Sagara." gumam Sherina mengeja nama yang tertera di kertas kecil tersebut. Kedua alisnya tampak berkerut, mencoba mengingat siapa nama tersebut. Sedetik kemudian gadis itu membolakan matanya begitu mengingat sesuatu. "Aku inget, dia Om yang waktu itu bantuin aku." ujar Sherina menjentikkan jarinya. Gadis itu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Kembali mengingat pria matang yang telah berbaik hati membantunya dalam kesulitan. Setelah membantu Sherina mengganti ban mobilnya, pria itu tak lupa memperkenalkan namanya. Dan Sherina berkali-kali mengucapkan terimakasih pada pria tersebut. Pria yang akhirnya Sherina ketahui namanya Sagara itu bahkan dengan mudah memberikan kartu namanya. Mengatakan jika Sherina bisa menghubunginya kapanpun dia butuh bantuan. "Aku belum sempat balas kebaikan Om Sagara." desah Sherina merasa tak enak hati. Sherina merasa jika ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan Om Sagara. "Apa aku kasih sesuatu aja ya buat Om Sagara." celetuk Sherina tampak berpikir. Dia lantas kembali melirik kartu nama milik Om Sagara yang tersemat juga nama perusahaannya. Sebagai salah satu putri pengusaha, Sherina tentu mengetahui nama-nama perusahaan besar yang sukses di kotanya. Dan perusahaan milik Om Sagara merupakan tiga di antara perusahaan besar incaran banyak investor. Ceklek Di tengah lamunannya, Sherina dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dari luar. Disusul masuknya seorang pria yang memakai piyama tidur ke dalam kamarnya. "Kamu sudah selesai mengerjakan tugas?" tanya pria itu. Sherina mengangguk kecil."Udah, Pah. Sherina juga udah selesai ngerjain tugas buat minggu depan." Pria yang dipanggil Sherina dengan sebutan papa tersebut tampak mengangguk puas. "Ya sudah, lebih baik kamu segera tidur. Jangan sampai Papa memergoki kamu begadang seperti kemarin malam." ujar Papa Sherina yang bernama Ardhio. "Iya, Pah." jawab Sherina sembari mengulum bibirnya. Papa Ardhio kemudian keluar setelah memeriksa keadaan Sherina. Tidak lupa menutup pintu kamar putrinya dengan perlahan. Sherina menarik napas lega sesaat setelah sang papa keluar dari kamarnya. Gadis itu merasa bersyukur karena hari ini tidak mendapat omelan dari papanya. Papanya memang akan bersikap baik jika dirinya menjadi anak yang patuh dan rajin. Tidak akan marah selama Sherina tidak membuat masalah. "Hah.. kepalaku pusing banget gara-gara belajar sampai tiga jam." keluh Sherina memijat pangkal hidungnya. Setelah makan malam selesai, seperti biasa Sherina akan langsung naik ke kamarnya untuk belajar. Semua itu sudah menjadi kebiasaannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sehingga tidak heran jika Sherina menjadi anak yang pandai karena rajin belajar. Selain karena Sherina dikenal suka belajar, tuntutan Papa Ardhio yang menyuruhnya untuk selalu mendapatkan nilai sempurna menjadikan Sherina menjadi anak yang begitu rajin. Karena jika sampai nilainya turun, Sherina akan mendapat hukuman dari Papa Ardhio. Setelah merapikan barang-barang miliknya yang ada di atas meja belajar, Sherina lantas beranjak dari tempat duduknya. Jam weker yang ada di atas nakas telah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah waktunya Sherina untuk beristirahat setelah beraktivitas seharian. Sherina membaringkan tubuhnya di atas ranjang queen size miliknya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas d**a. Gadis itu mencoba untuk memejamkan matanya. Dan tak membutuhkan waktu yang lama bagi gadis itu untuk jatuh terlelap di dalam tidurnya. Waktu terus bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa, langit yang tadinya gelap kini telah berganti cerah. Dan suara jam weker yang berdering nyaring mulai terdengar mengusik tidur Sherina. Tepat pukul 6 pagi, Sherina bangun dari tidur lelapnya. Gadis itu bergegas beranjak dari ranjang nyamannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam waktu setengah jam, Sherina telah siap dengan seragam sekolah yang membalut tubuhnya. Turun menuju lantai bawah, Sherina langsung disambut dengan pemandangan Papa Ardhio yang tengah duduk di depan meja makan dengan iPad di tangannya. Secangkir kopi yang masih mengepul tampak tersaji di depan pria itu. "Pagi, Pah." sapa Sherina sembari memberikan kecupan singkat pada pipi papanya. Papa Ardhio hanya membalasnya dengan gumaman samar dan masih fokus dengan benda pipih di tangannya. Sherina tersenyum kecut, sudah terbiasa dengan respon pasif papanya. Pasangan ayah dan anak itu memakan sarapan dalam diam. Keheningan yang menyergap membuat Sherina merasa sesak. Dia merindukan masa-masa dimana sang mama masih ada. Mereka akan berceloteh panjang mengenai banyak hal. Tapi semuanya seketika berubah setelah mamanya meninggal beberapa tahun yang lalu. Kala itu Sherina baru saja duduk di kelas 6 sekolah dasar. Dan sejak saat itu, keadaan rumah yang tadinya hangat berubah menjadi suram. Papanya yang semula bersikap hangat dan penyayang mulai berubah menjadi dingin dan menakutkan. Singkat cerita, Sherina telah menyelesaikan sarapan paginya bersama Papa Ardhio. Keduanya lantas berpisah di ruang makan karena Papa Ardhio lebih dulu berangkat ke kantornya. Disusul dengan Sherina yang pergi selang beberapa menit setelahnya. Waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat 40 menit. Sherina memutuskan untuk segera berangkat ke sekolahnya saat itu juga. Walaupun jadwal masuk sekolahnya pukul 8 pagi, Sherina memilih untuk berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan. Benar saja, baru beberapa ratus meter Sherina keluar dari gerbang rumahnya, gadis itu sudah terjebak macet yang cukup panjang. Keadaan yang sudah biasa terjadi di kota-kota besar saat jam masuk kerja. Sherina mulai jenuh menunggu kendaraan roda empat di depannya bisa berjalan. Netra coklatnya mengedar, memandang mobil yang padat merayap hingga ujung jalan. Di tengah situasi tersebut, netra coklat Sherina tak sengaja menangkap sosok yang baru-baru ini dikenalnya. Pria itu seperti tengah dalam keadaan gelisah sembari menatap arloji yang melingkar di tangannya. Awalnya Sherina ragu untuk menemui pria itu. Namun mengingat jika dirinya pernah ditolong oleh orang tersebut membuat Sherina memutuskan untuk turun dari motornya. Pagi ini gadis itu memang tidak berangkat menggunakan mobilnya. "Om Sagara." panggil Sherina sembari menghampiri sosok tersebut. Pria itu menoleh dan menatap gadis cantik yang baru saja memanggil namanya. "Sherina?" gumam pria itu tampak tidak yakin. Sherina mengangguk kecil sembari mengulas senyum. Memilin kedua tangannya dengan gugup. Pasalnya ini kali kedua mereka bertemu lagi. Dan rasanya benar-benar canggung. "A-Aku nggak sengaja lihat Om Sagara mondar-mandir dari tadi. Em, apa ada masalah, Om?" Sherina mencoba menekan rasa gugupnya dengan bertanya pada Om Sagara. Om Sagara tak langsung menjawab pertanyaan dari Sherina. Pria itu kembali menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru kemudian melirik ke arah Sherina yang menunggu jawabannya. "Sebenarnya pagi ini saya ada meeting dengan klien. Tapi sekarang saya justru terjebak macet." Om Sagara mengungkapkan keresahannya. Melihat bagaimana raut wajah pria di depannya saat ini, Sherina dapat menyimpulkan jika klien yang Om Sagara maksud pastilah penting sampai membuat pria itu gelisah seperti ini. Sherina tampak berpikir sejenak untuk mencari solusi. Sampai akhirnya tercetus sebuah ide yang sebenarnya ragu untuk dia utarakan. "Em, Sebenernya sekarang Sherina bawa motor sih, Om. Tapi.. apa iya Om Sagara mau berangkat ke kantor naik itu?" ujar Sherina agak ragu. Om Sagara mengangkat sebelah alisnya."Kamu serius membiarkan saya memakai motor kamu? Saya ini orang asing, Sherina. Memangnya kamu tidak takut saya membawa kabur motor kamu?" Sherina menggeleng pelan. Pikirannya justru tidak sampai ke situ. Lagipula kekayaan Om Sagara tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan papanya. Pria itu jelas-jelas pemilik perusahaan besar yang sangat terkenal. Jadi tidak mungkin Om Sagara akan membawa kabur motor miliknya. "Sherina percaya kok sama Om Sagara." kata gadis itu tanpa ragu. Dia hanya tidak yakin saja jika Sagara mau menggunakan motor miliknya untuk pergi ke kantor. Melihat tampilan pria itu yang terlihat sangat rapi. Sagara tampak menimang tawaran dari Sherina. Sherina yang melihat pria itu tak kunjung menyetujuinya menjadi gemas sendiri. "Ish, Om Sagara mikirnya lama. Udah, sekarang ikut Sherina aja ambil motornya." kata Sherina gemas sembari menyeret Sagara yang tampak enggan mengikutinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD