SOG | Dibonceng Sagara

1067 Words
"Se-sepertinya tidak perlu, Sherina. Saya bisa menu-" Sagara mengatupkan bibirnya kala Sherina tiba-tiba saja meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. Sepersekian detik keduanya saling terdiam. Sebelum kemudian Sherina menurunkan jarinya dan melengos ke arah lain. Gadis itu merutuki dirinya yang refleks melakukan hal tersebut. Sherina hanya ingin Sagara tidak banyak protes dan mengikutinya saja. Karena dia sebenarnya juga sedang diburu waktu. Di sisi lain, Sagara masih berdiri mematung sesaat setelah Sherina meletakkan telunjuknya ke depan bibirnya. Entah kenapa dadanya tiba-tiba berdebar dengan kencang. Dan sesuatu di dalam dirinya mulai merasakan hal yang berbeda pada gadis itu. Tapi Sagara buru-buru mengenyahkan pikiran tersebut. Tidak mungkin dirinya tiba-tiba menyukai Sherina hanya karena hal itu. Lagipula gadis itu masih belum dewasa untuk dirinya yang telah berusia matang. "U-Udah, Om Sagara ikutin Sherina aja. Itu tuh motor Sherina udah deket." tunjuk Sherina saat melihat motornya yang terparkir di pinggir jalan. Sebenarnya Sagara bisa saja menolak, mengingat dia belum lama ini mengenal Sherina. Tapi entah kenapa dia justru menurut saja saat gadis itu menggandeng tangannya, bahkan setengah menyeretnya. Hal itu membuat jantungnya berdebar kencang tanpa dia ketahui pasti penyebabnya. "Om Sagara bisa pakai motor ini buat berangkat ke kantor." kata Sherina menunjukkan sebuah motor matic yang sebelumnya dia kendarai. "Memangnya tidak apa-apa saya memakai ini? Kalau Papa kamu tahu pasti kamu akan mendapat masalah karena meminjamkan motor kesayangan kamu pada orang asing." Sagara masih meragu. Sherina merenung sebentar sebelum menggeleng. Ardhio tidak akan mungkin marah besar jika tahu siapa yang membawa motornya. Mengingat Sagara bukan orang main-main. "Nggak papa, Om. Sherina yakin Papa nggak akan marah." jawab Sherina mantap. Sagara masih bergeming, menimbang apakah dirinya akan memutuskan untuk membawa motor Sherina atau tidak. Sekali lagi pria itu menatap arloji yang melingkar di tangannya. Masih tersisa 20 menit dari sekarang. Dan itu waktu yang cukup untuk dirinya bisa sampai di kantor jika mengendarai kendaraan roda dua. "Baiklah. Kalau begitu saya pinjam motor kamu." putus Sagara pada akhirnya. Sherina tersenyum kecil karena akhirnya Sagara mau menyetujui usulannya. Kini tinggal dirinya memikirkan bagaimana untuk segera sampai di sekolahnya. "Ya udah, Om bawa aja dulu motor Sherina. Jaga baik-baik ya, Om. Kalau lecet dikit aja, Sherina bakal tuntut Om Sagara." Sherina bergurau yang membuat pria itu tersenyum sangat tipis. Namun wajah Sagara dengan cepat berganti menjadi raut keheranan kala melihat gadis yang mengobrol bersamanya beberapa detik lalu justru tengah melepaskan helmnya. "Kenapa kamu lepas?" Sagara menunjuk benda bulat yang menjadi tempat pelindung kepala tersebut dengan kernyitan samar. "Biar bisa Om pakai lah." jawab Sherina santai dan mengulurkan helm yang sempat dia pakai ke arah Sagara. Dengan ragu Sagara menerima helm berwarna pink tersebut. Sial, kenapa harus warna menjijikkan tersebut di saat banyak warna yang lain. "Ti-Tidak usah. Lebih baik kamu saja yang pakai dan kita segera berangkat." Sagara menyerahkan kembali helm tersebut pada pemiliknya. Sherina mengerjap mendengar ucapan Sagara barusan. Apa dia tidak salah dengar jika pria itu mengajaknya berangkat bersama? "Kita? Maksudnya Om Sagara mau Sherina ikut juga?" Sherina menunjuk dirinya sendiri dengan sebelah alis terangkat. Sagara menatap gemas gadis cantik di depannya ini. "Tentu saja. Memangnya kamu mau berangkat pakai apa jika bukan dengan motor ini." kata Sagara gemas. "Sudah, tidak perlu lama-lama berpikir. Cepat naik, sebelum kita berdua terlambat." Sagara kembali bersuara, setengah menyuruh Sherina. Entah sejak kapan pria itu sudah duduk manis di atas motor Sherina. Sherina menatap ragu ke arah jok kosong di belakang Sagara. Selama ini dia tidak pernah dibonceng oleh siapapun. Terlebih dia juga sering mengendarai mobilnya sendiri. "Ayo, Sherina. Jangan membuang-buang waktu lagi." ajak Sagara sedikit kesal karena Sherina tak kunjung naik ke boncengannya. Sherina yang masih ragu-ragu akhirnya terpaksa menurut dan duduk di jok belakang Sagara. Gadis itu sedikit bergeser ke belakang untuk menjaga jarak. Tapi tetap saja posisi mereka terlampau dekat bagi keduanya. Mengingat sebelumnya mereka tidak pernah berada di jarak sedekat ini. "Gilak. Nih Om-Om wangi banget." Sherina bergumam dalam hati ketika indra penciumannya tak sengaja menghirup aroma parfum mahal milik Sagara. Gadis itu merasa nyaman dengan bau parfum yang menempel di jas mahal milik pria itu tersebut. Belum lama Sherina duduk, Sagara langsung melajukan motor tersebut meninggalkan tempat pertama mereka. Menyelinap di tengah kepadatan kendaraan yang tidak dapat bergerak karena kemacetan yang cukup parah. "Ternyata ada pohon tumbang." Sagara berbicara pada dirinya sendiri begitu melihat keramaian yang tak jauh dari posisi mereka sekarang. Sherina yang samar-samar masih bisa mendengarnya ikut celingukan. Pandangannya terhalang oleh mobil yang ada di depannya. Dan karena penasaran, gadis itu tanpa sadar menjadikan pundak Sagara sebagai tumpuan agar dapat berdiri sebentar mengintip apa yang tengah terjadi. "Eh?" Sagara cukup terkejut merasakan sentuhan pada kedua pundaknya. Pria itu menunduk, mendapati sepasang tangan mungil yang mencengkram pundaknya dengan lembut. Pria itu melarikan matanya ke arah spion. Mengamati gadis di boncengannya yang saat ini setengah berdiri di atas motor. "Hei, duduk yang benar. Jangan sampai kamu jatuh, Sherina." tegur Sagara yang tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Sherina gelagapan dan sontak kembali duduk seperti semula. Gadis itu meringis canggung karena mendapat teguran dari pria dewasa di depannya. "Ma-Maaf, Om." cicit Sherina sembari menggigit bibir bawahnya gugup. Sagara berdehem pelan sebagai balasan tanpa melirik ke arah Sherina. Pria itu kembali fokus pada jalanan di depannya. Sagara dengan gesit menerobos jalanan yang padat merayap akan kendaraan. Hingga melewati area pohon tumbang yang menjadi penyebab dari kemacetan yang terjadi pagi ini. "Om Sagara keren banget. Kalau Sherina pasti nggak akan berani nerobos kaya gitu." puji Sherina tanpa sadar memajukan tubuhnya hingga membuat jarak keduanya semakin dekat. Sagara mengerjap merasakan tekanan lembut dari belakang punggungnya. Tanpa bisa dia cegah, semburat merah yang sangat tipis menghiasi kedua pipinya. Sagara jelas-jelas dapat merasakan kelembutan dari benda yang menekannya tadi. Tak mendapat respon dari pria di depannya, tak lantas membuat Sherina diam. Gadis itu semakin memajukan tubuhnya untuk dapat melihat wajah Sagara. "Om.." panggil Sherina lembut. Seakan tersadar dari kenyataan, Sagara buru-buru menoleh. Tersenyum tipis untuk menghilangkan kecanggungan di dalam dirinya sendiri. "Kalau tidak seperti itu kita bisa terlambat." jawab Sagara sekenanya. Sherina manggut-manggut dan kembali pada posisi awal. Sagara tanpa sadar menghembuskan napas lega setelahnya. Apa yang gadis itu lakukan tadi benar-benar membuat dirinya panas dingin. Padahal hanya sentuhan kecil, tapi cukup berimbas besar untuk dirinya. "Jangan gila kamu, Sagara. Tidak mungkin kamu tegang hanya karena gadis kecil macam Sherina." Sagara merutuki dirinya dalam hati. Mencoba menyangkal jika apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini bukan karena Sherina, gadis cantik yang pernah dia tolong waktu itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD