BAB 5 : Rina Marah Besar

1179 Words
Kutunggu teman-teman kantorku pulang satu per satu. Ibu Rina biasanya tidak langsung pulang begitu bel pulang sekolah berbunyi. Dia akan berdiam beberapa menit, menunggu jalanan sepi dari siswa-siswi yang beramai-ramai menunggu angkot. Ibu Rina hanya memainkan gawainya, tidak berbicara dengan siapapun. Kulihat dia dari belakang, dia sangat cantik menawan. Bila kulihat dia dari depan, wajahnya indah rupawan. Sesekali dia menengok ke luar pintu ruang guru. Pipi bakpaunya yang sedikit kemerahan membuatnya semakin menggemaskan. Kudekati dia perlahan. Kursi Pak Han tepat di belakangnya. Aku duduk di kursi itu, lalu aku bertanya kepadanya dengan suara yang sangat lembut, “Emmmm... Bu... bolehkah... saya bertanya?” “Mau bertanya apa, Pak?” Ibu Rina bertanya balik. “Kenapa ibu tidak mengajar Al-Quran?” tanyaku. “Jujur saja Pak, bacaan Al-Quran saya jelek, saya tidak terlalu pandai membaca Al-Quran. Jadi saya mohon kepada Ibu Kepala Sekolah untuk tidak memasukkan saya di Tim Pengajar Al-Quran.” Jelas Ibu Rina. “Ohhhh... begitu toh, Bu....” aku berhenti sejenak sembari menelan air liur, “Begini bu... maaf sebelumnya bukannya saya sok jago, bukannya saya sok pandai. Jika ibu tidak keberatan, saya siap jadi mentor untuk Ibu supaya Ibu bisa membaca Al-Quran dengan baik.” “Maksudnya, Pak?!!” Nada bicara Ibu Rina tiba-tiba meninggi. “Biar saya jelaskan, Bu..., maksud saya, jika Ibu ingin memperbaiki bacaan Al-Quran, Ibu bisa belajar kepada saya. Jika Ibu malu melakukannya secara langsung, Ibu bisa menghubungi saya kapanpun. Saya siap memperbaiki bacaan Al-Quran Ibu. Ibu bisa mengirimkan voice note bacaan Al-Quran ibu kepada saya, nanti akan saya koreksi jika ada kesalahan dan saya beri tahu cara membaca yang benar itu seperti apa.” Jelasku sambil keringat dingin mengucur deras. “WADUH!!” Ibu Rina kaget dengan penjelasanku. “Kenapa, Bu?” tanyaku “Jangan modus deh, Pak!! Bapak jangan membawa-bawa Al-Quran untuk mendapatkan voice note saya. Kenapa juga saya harus belajar kepada Bapak?! Di lingkungan saya banyak Ustazah, saya bisa belajar Al-Quran kepada mereka. Saya satu saya BODOH, Pak!!” “Eh... bukan begitu maksud saya, Bu.” Aku panik. Keringat dingin yang tadi mengucur deras, sekarang sudah membanjiri area punggungku. Bajuku basah. “Ya terus maksud Bapak apa?! Jangan pikir saya tidak tahu, Pak!!!” Ibu Rina membentakku. Aku hanya terdiam. Setelah tadi malam jariku bertindak bodoh, kali ini mulutku yang malah mengikuti. Ibu Rina melanjutkan omelannya, “Saya sudah memberi sinyal bahwa saya sudah ada yang memiliki. Bukankah Bapak pernah bertanya kepada Pak Han dan Pak Amad tentang itu? Jawaban mereka sama kan, Pak? Mereka berdua bilang jika saya sudah punya calon kan, Pak?” “Emmm.... i... iya bu, betul.” Aku hanya menunduk lesu. “Lalu bukankah Pak Han sudah memperlihatkan foto saya dengan calon suami saya?” tanya Ibu Rina. “I.....iya, Bu.” Jawabku terbata-bata. “Lalu bukankah Bapak pernah bercerita kepada Pak Nugroho tentang fantasi Bapak? Tentang body saya, goyangan saya... Bapak pernah bilang itu kepada Pak Nugroho kan, Pak?!! Dan hari ini Bapak berbicara tentang Al-Quran?! Saya tidak paham dengan cara berpikir Bapak!!” Ibu Rina langsung bergegas mengambil tasnya lalu keluar dari ruang guru dengan wajah yang memerah dan berderai air mata. Bukan karena flu seperti beberapa hari yang lalu, tapi karena marah besar kepadaku. Ibu Rina tiba-tiba kembali ke ruang guru. Di depan pintu masuk ruang guru, Ibu Rina berkata, “Pak Zein, tolong berhenti memberikan ini itu kepada saya!!” Ibu Rina pun langsung kembali ke motornya lalu tancap gas pergi. Aku tidak percaya Pak Nugroho menceritakan hal itu kepada Ibu Rina. Padahal kami sesama lelaki, aku pikir dia paham dengan hal itu. Mungkin Pak Han dan Pak Amad juga melakukan hal yang sama. Jika sedang bersamaku mereka tertawa bersamaku, tapi dibelakangku mereka melaporkanku kepada Ibu Rina. Aku pikir mereka akan memaklumiku karena aku sudah menduda cukup lama. Ternyata tidak sama sekali. Di meja Ibu Rina tertumpuk beberapa buku tulis milik siswa-siswi, buku absensi dan.... keripik pisang yang tadi pagi kuberikan kepadanya. Tidak mungkin Ibu Rina lupa membawanya karena kantong merah berisi keripik pisang itu ada di atas mejanya. Keripik pisang yang kuharap bisa menghilangkan rasa malu justru malah membuatku tambah malu dan terpojok. Kini aku bingung bagaimana harus meminta maaf atas semua kebodohanku ini. Aku tidak membuat Ibu Rina mendekat kepadaku barang 1 cm pun. Aku malah membuatnya semakin menjauh. Aku berdiam sejenak untuk menenangkan diri. Kuhela nafas panjang berkali-kali. Pak Amad dan Ibu Leyya yang melihat kejadian itu hanya diam mematung. *** Sekolah agama telah selesai. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Tanpa basa-basi dengan Pak Amad dan Ibu Leyya, aku langsung pulang membawa keripik pisang Ibu Rina. Langkahku terhuyung lemas. Pak Amad menyuruhku untuk berhati-hati. Aku menangis sepanjang perjalanan. Usahaku untuk mendapatkan cinta Rina Handayani kandas, tak membuahkan hasil. Sesampainya di rumah, aku tidak berkata sepatah katapun kepada ibu dan bapakku. Langsung kututup pintu kamar dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat handphone-ku sekali-kali, barangkali ada pesan masuk, entah dari Ibu Rina atau dari siapapun. Kali ini aku berpikir bagaimana cara agar maafku bisa diterima oleh Ibu Rina. Kata-kata maaf beribu jumlahnya. Tapi apakah Ibu Rina akan menerima maafku, aku tidak tahu. Tok... tok... tok Ibuku mengetuk pintu kamarku, “Zein..... kamu kenapa Zein? Cerita, yuk!” Aku hanya diam.. tidak menjawab apapun. “ZEIN!!! BUKA PINTUNYA!!!” Ibuku meninggikan suaranya. Kubuka pintu kamarku. Wajah ibuku terlihat panik saat melihat mataku yang sedikit bengkak. “Ya Allah... Zein... kenapa kamu, Nak?” “Ri.... Rina.” ucapku sambil terisak-isak. “Ada apa dengan Rina, Zein?” tanya ibuku. “Rinaaa.... Rinaaa....” “Iya, kenapa dengan Rina?” ibuku menyela. “Rina marah besar kepada Zein, Bu. Zein memang bodoh! Tidak pernah belajar dari masa lalu.” Jelasku sambil memukul kepalaku sendiri. “Heyyy... jangan pukul kepalamu! Tenangkan dirimu dulu. Ibu akan keluar dari kamarmu, nanti jika kamu sudah tenang, temui ibu.” Ibu pun beranjak keluar dari kamarku. Azan magrib berkumandang. Di saat itu juga hatiku mulai tenang. Aku mengambil handuk di jemuran dan beranjak ke kamar mandi. Setelah mandi aku melaksanakan salat magrib di rumah. Aku terlalu malu untuk pergi ke masjid karena mata sembabku. Setelah salat kutemui ibuku dan aku mulai bercerita. Aku bercerita bahwa Ibu Rina marah besar kepadaku. Keripik pisang yang kuberikan pun ditinggalkan begitu saja di atas mejanya. Ibuku sesekali berusaha menghiburku, “Ambil keripik pisangnya, biar ibu dan bapak yang makan. Gratis kan Zein?” Aku kembali ke kamarku mengambil kantong keresek merah berisi keripik pisang 1 kg. “Ini ibu dan bapak saja yang makan, Zein tidak mau memakannya.” Ibuku hanya tertawa lalu berkata, “Yasudah kalau kamu tidak mau, biar ibu dan bapak saja yang makan.” Ibuku lantas memberiku nasihat, “Minta maaflah kepada Rina, tapi tunggu dia tenang dulu. Jangan kamu paksa dia. Ingatlah dia itu wanita. Lama-lama pasti takluk juga, Zein. Sabar.. tunggu waktu yang tepat untuk meminta maaf.” Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Minggu ini ibu sudah 2x tidak kebagian risoles dari masjid, Zein. Besok kembali ke masjid, hadiri pengajian dan bawakan risoles untuk ibu.” Dasar ibu. Di saat seperti ini masih memikirkan risoles. Tapi jujur... risoles dari masjid memang kualitas premium. Enak sekali rasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD