Kriiing... Kriiing... Kriiing... Kriiing... Kriiing
Bel pulang sekolah sebanyak 5x telah berbunyi. Aku berlari menuju ruang guru. Barangkali ada guru-guru yang ingin memesan keripik pisangku untuk besok.
Alhamdulillah, ada pesanan keripik pisang untuk besok. Ibu Rika memesan 1 kg dan Ibu Siska memesan 1 kg. Berarti, besok aku akan membawa 3 kg keripik pisang; untuk Ibu Rika 1 kg, untuk Ibu Siska 1 kg dan gratis 1 kg untuk Ibu Rina sang pujaan hatiku.
Waktu menunjukkan pukul 13.00. Waktunya aku, Pak Amad dan Ibu Leyya mengajar sekolah agama. Setelah mengajar aku langsung tancap gas ke tempat pembuatan keripik pisang.
Setelah selesai membawa pesanan untuk diantar besok, aku langsung pulang. Hari ini untungnya tidak hujan. Matahari terlihat bersinar cerah, langit pun tidak mendung.
“Siapa yang memesan itu Zein?” tanya ibuku begitu dia melihat sepeda motorku mengangkut keripik pisang.
“Ini pesanan Ibu Rika dan Ibu Siska, Bu.” Jawabku.
“Siapa yang memesan 2 kg?” tanya ibuku.
“Emmm... tidak ada yang memesan 2 kg, Bu. Rencananya besok Zein mau ngasih 1 kg gratis untuk Ibu Rina.” jelasku.
“Oh... Ibu kira ada yang memesan 2 kg. Yasudah, bawa masuk keripiknya, simpan di kamarmu. Kalau disimpan di tengah rumah nanti dimakan bapakmu.” Untungnya ibuku tidak berkomentar yang aneh-aneh.
Waktu terus berjalan. Kegiatanku di sore hari sampai malam hari berjalan seperti biasanya. Tak sabar rasanya menunggu esok pagi.
Aku sadar pemberianku untuk Rina tempo hari sangat kurang, hanya sekotak mochi yang berisi 5 butir mochi. Kali ini kugandakan berkali-kali lipat. Semoga Rina menerima dan senang dengan pemberianku.
***
Ting..
Notifikasi WA-ku berbunyi. 1 pesan masuk dari Pak Han. Waktu menunjukkan pukul 21.00.
“Pak, mau informasi gak nih?” Tanya Pak Han.
Waaahh.. sepertinya ada kabar baik. Aku sangat antusias menyimak informasi yang akan diberikan oleh Pak Han.
“Wahhh... mau dong, Pak. Tolong ceritakan yang detail, Pak!” balasku.
Ternyata yang dimaksud informasi oleh Pak Han bukanlah sebuah cerita. Melainkan Pak Han mengirimkan screenshoot status w******p Ibu Rina kepadaku melalui pesan sekali lihat.
Melalui screenshoot itu, aku paham bahwa Ibu Rina tidak mau aku terluka. Jangan sampai rasa sayangku terlalu dalam. Ibu Rina menegaskan bahwa dia sudah memiliki calon. Dalam foto itu, Ibu Rina tampak berfoto dengan calon suaminya. Calon Ibu Rina merangkul pundak Ibu Rina, sedangkan Ibu Rina memeluk calon suaminya. Namun wajah calon suaminya ditutupi oleh stiker, sehingga aku tidak tahu bagaimana rupa calonnya itu.
Aku membalas chat Pak Han dengan singkat,
“Makasih infonya, Pak.”
Aku tidak menyangka informasi yang Pak Han berikan adalah hal seperti ini. Aku pun baru sadar status w******p Ibu Rina tidak muncul di w******p-ku. Pasti statusnya dikecualikan dariku. Aku kecewa malam ini, perasaanku campur aduk.
Padahal aku baru saja berniat memberikan keripik pisang yang kujual. Apa aku urungkan saja niatku ini?
Untuk menghilangkan perasaan campur aduk ini, aku membuka instagramku. Aku tidak begitu aktif di t****k. Reels di i********: sudah cukup menghiburku. Sampailah aku pada sebuah postingan video yang di dalamnya tertulis kata-kata romantis.
Aku mengikuti kata otakku. Kuunduh video itu lalu kukirimkan langsung ke Ibu Rina. Nekat memang... tapi aku berencana menghapus pesan ini. Supaya nanti Ibu Rina bertanya,
"Ada apa, Pak? Kok dihapus." Imajinasiku sangat segar hari ini.
Sialnya pesanku langsung dibaca dalam beberapa detik. Aku menepuk jidatku sambil berucap dalam hati,
“Dasar bodoh kamu Zein...!!!!”
Senyap, tidak ada balasan apapun dari Ibu Rina. Aku malu, malu sekali... bagaimana aku menjelaskannya kepada Ibu Rina?
Seketika aku menghapus pesan itu, meskipun pesan itu sudah dilihat oleh Ibu Rina. Untuk sekedar mengusir rasa malu, kukirimkan foto keripik pisang yang akan kuberikan kepada Ibu Rina dengan kutipan, “Insya Allah ada sedikit rezeki buat Bu Rina.” ditambah dengan emotikon senyum.
Pesanku hanya dibaca saja, tidak dibalas walau satu huruf pun. Maaf Pak Amad, aku lupa dengan wejanganmu yang menyuruhku berhati-hati.
***
Pagi pun tiba. Tidak ada yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Salat subuh, mandi, sarapan lalu berangkat. Motorku sedikit berat kali ini karena aku mengangkut keripik pisang seberat 3 kg. Tapi lajunya masih oke, walaupun motorku keluaran tahun 2008.
Namun ada yang berbeda pagi ini. Jika biasanya kehadiran Ibu Rina selalu menyenangkanku, kali ini aku diliputi rasa malu yang amat mendalam. Semoga Ibu Rina tidak membahas kejadian semalam, harapku.
Ibu Rika dan Ibu Siska sudah tiba di sekolah. Langsung kuhantarkan pesanan mereka ke meja mereka masing-masing.
“Ini pesanannya, Bu.” sambil menyimpan pesanan mereka di mejanya masing-masing.
“Wah makasih, Pak. Berapa harganya, Pak?” tanya Ibu Rika.
“12.000 saja, Bu. Murah meriah kok.” Jawabku.
Setelah menerima uang dari mereka berdua, aku kembali ke mejaku. Tersisa 1 plastik besar keripik pisang yang akan kuberikan pada Ibu Rina.
Sebelum bel pembelajaran Al-Quran berbunyi, ibu-ibu guru al-Quran eksternal berbondong-bondong menuju toilet di ruang guru.
"Pak, numpang ke toilet ya." Seorang wanita berniqab meminta izin kepadaku.
Perasaan tidak ada guru Al-Quran yang menggunakan niqab. Aku pun bertanya kepada guru-guru Al-Quran yang lain,
"Itu yang sedang di toilet siapa, Bu?"
Ibu Cici, yang paling senior di antara mereka menjawab,
"Itu Bu Aini, baru hari ini dia berniqab. Ya kita doakan yang terbaik untuk dia."
Oh, Bu Aini rupanya. Penampilannya berbeda hari ini. Sampai-sampai aku tidak mengenalinya.
Kami pun berkumpul dengan siswa-siswi sesuai kelompok kami masing-masing. Ada yang belajarnya di dalam kelas, ada yang belajarnya di ruangan aula, bahkan ada yang menggelar karpet di lapangan olahraga. Pembelajaran Al-Quran memang lebih leluasa secara tempat.
Aku memilih ruangan kelas sebagai tempat untuk siswa-siswi belajar Al-Quran. Aku bisa lebih mudah untuk memantau gerak-gerik siswa-siswiku.
Setelah selesai mengajar Al-Quran, Ibu Rina tiba dengan mengendarai sepeda motornya dengan tas yang digantungkan di bagian depan badannya. Ibu Rina turun dari motornya, berjalan menuju ruang guru, lalu duduk di kursinya. Tanpa basa-basi, langsung kuberikan keripik pisang itu.
“Ini yang saya janjikan tadi malam, Bu. Selamat menikmati.”
Bu Rina menjawab dengan bingung,
“Terimakasih, Pak. Tapi ini banyak sekali.”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya ikhlas kok. Mohon diterima ya, Bu.” Aku membujuknya agar menerimanya. Semoga tidak ada keluhan seperti saat aku memberikan sekotak mochi kepadanya.
“Terimakasih banyak, Pak.” ucap Ibu Rina.
Syukurlah Ibu Rina tidak membahas kejadian semalam. Rasa malu karena kejadian tadi malam perlahan hilang. Bayangkan jika Ibu Rina tiba-tiba bertanya, "Maksud bapak mengirim video itu apa ya?". Aku bingung harus menjawab apa jika itu terjadi.
Dan bayangkan jika teman-teman kantorku tahu tentang video yang aku kirimkan kepada Ibu Rina. Bisa-bisa aku "dirundung" habis-habisan, terutama oleh Pak Amad yang memberiku nasihat supaya berhati-hati.