Hari ini hari Selasa. Seperti biasa setelah salat subuh aku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah mandi dan sarapan, aku pamit kepada ibu bapakku. Tapi ketika melewati meja makan, aku melihat ada 3 kotak mochi khas Sukabumi.
“Bu... mochi dari siapa ini, Bu? Zein baru lihat.”
“Itu mochi dari Bu Ani.. dia kemarin dari Sukabumi. Ambil saja Zein. Kemarin ibu sama bapak makan lumayan banyak. Tinggal sisa segitu.. Ibu lupa memberitahumu.. hehe.” Jelas ibuku.
“Zein bawa satu ya, Bu. Untuk Rina.” ucapku sambil berbisik kepada ibuku.
“Ambil saja, jangan satu dong. Semuanya saja...” tegas ibuku.
“Zein ambil satu saja, Bu, yang 2 lagi untuk bapak sama ibu saja di sini.”
“Yasudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, jangan melamunkan Rina...” ucap ibuku sambil tertawa tipis.
“Iya bu, Zein berangkat ya. Pak, Zein berangkat dulu.” Aku pamit kepada ibu bapakku.
“Bekalmu sudah ada di dalam tasmu. Ibu masak agak banyak hari ini. Berbagilah dengan temanmu di kantor, Zein.”
Karena hari ini tidak ada upacara bendera, aku kembali ke setelan pabrik. Berangkat pukul 06 lewat dan biasanya sampai di sekolah pada pukul 06.50. Jalanan sedikit padat karena banyak anak-anak sekolah yang berangkat pada waktu yang bersamaan.
Sesampainya di sekolah, terlihat ada beberapa guru Al-Quran yang sudah tiba. Memang di sekolahku setiap hari Selasa sampai Jumat ada pembelajaran Al-Quran. Kami mendatangkan beberapa guru dari luar karena kami kekurangan guru Al-Quran. Ditambah sistem kelas yang biasa memakai sistem reguler berganti menjadi sistem kelompok.
Guru Al-Quran yang sudah ada di sekolah antara lain; Ibu Cici, Ibu Hayati, Ibu Alma, Ibu Zahra dan Ibu Aini. Aku kenal beberapa di antaranya karena Pak Han. Pak Han juga mengajar Al-Quran. Dan dia mudah bergaul dengan orang-orang baru, apalagi perempuan.
Sayang sekali Ibu Rina tidak mengajar Al-Quran. Dia biasanya datang pukul 08.00, saat pembelajaran Al-Quran telah selesai.
Aku ingat hari ini aku membawa sekotak mochi sebagai tanda tulusnya aku menyukai Ibu Rina. Semoga Ibu Rina suka dengan sekotak ketulusan ini.
Pembelajaran Al-Quran telah selesai. Tapi Ibu Rina belum tiba. Mungkin kesiangan, ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian, Ibu Rina datang. Hidungnya kali ini tidak semerah kemarin. Dia menenteng air minum botol ukuran 1,5 liter.
“Selamat pagi Ibu Rinaaaa.” aku menyapa dengan penuh semangat.
Ibu Rina hanya tertawa. Tidak membalas dengan ucapan selamat pagi. Aku menghampiri meja Ibu Rina, lalu memberikan sekotak mochi kepadanya.
“Ada sedikit oleh-oleh dari Sukabumi. Diterima ya buuu.”
“Ya Allah, apa ini? Makasih loh, Pak.” timbal Ibu Rina cuek.
Aku langsung kembali ke mejaku dan bersiap untuk masuk kelas. Kali ini aku tidak akan mengajak Ibu Rina berjalan bersamaku menuju kelas. Aku tau dia pasti akan menolak.
Aku, Pak Aries, Pak Han dan Pak Nugroho berjalan bersama menuju kelas. Aku dan Pak Han mengajar di lantai dua, sedangkan Pak Aries dan Pak Nugroho mengajar di lantai tiga. Ibu Rina? Ibu Rina mengajar di lantai dua, tepat di samping kelasku.
Aku masuk ke dalam kelas. Siswa yang ku ajar adalah siswa kelas IX. Terlihat kelasnya masih kotor, banyak sampah bekas makanan ringan.
“Sebelum berdoa, coba yang piket laksanakan opsih dulu! Kalian sudah kelas IX tapi kesadaran akan sampah masih sangat kurang. Ayo kerjakan!!”
Sebagian opsih di dalam kelas, dan sebagian lainnya opsih di beranda kelas. Aku mengawasi mereka yang melaksanakan opsih di beranda kelas. Sementara yang mengawasi opsih di dalam kelas kuserahkan kepada KM.
Aku melihat siswa-siswi di kelas sebelahku juga sama-sama melaksanakan opsih. Mungkin Ibu Rina juga akan keluar kelas untuk megawasi jalannya opsih.
Ibu Rina pun keluar kelas. Mengawasi siswa-siswi yang sedang melaksanakan opsih di beranda kelas. Aku pun menyapanya,
“Opsih juga, Bu?” tanyaku singkat.
“Iya nih, Pak. Kotor sekali kelasnya, apalagi berandanya.”
Ibu Rina seorang perempuan. Dia lebih peka terhadap kebersihan. Sesekali dia menyuruh siswa-siswi dari kelasku untuk memperhatikan detail-detailnya.
“Tuh lihat di dekat tembok, masih kotor. Sapukan lagi!! Ayo jangan malas. Sapukan sampai bersih!”
Sementara aku hanya tersenyum. Membayangkannya menjadi istriku ...... ah tunggu dulu. Kok aku berpikir ke sana di saat seperti ini. Jangan berpikir macam-macam, Zein. Pelan-pelan saja seperti lagu Kotak.
Aku mengalihkan fokusku dari Ibu Rina ke siswa-siswi kelasku yang sedang melaksanakan piket,
“Sudah bersih belum?” tanyaku.
“Sudah Paaaak..” jawab seluruh siswa.
“Okee. Semuanya masuk kelas. Kita akan mulai pelajaran hari ini.”
***
Pelajaran berlangsung selama 3 jam pelajaran. Cukup melelahkan mengajar 3 jam pelajaran sekaligus. Tapi setiap kuingat Rina, lelahku hilang entah kemana.
Aku tahu Ibu Rina selalu curhat kepada Pak Han. Rencananya, setelah pelajaran selesai, aku akan bertanya kepada Pak Han perihal informasi terbaru dari Ibu Rina.
Kriiing... Kriiing... Kriiing
Bel istirahat telah berbunyi. Sesuai rencanaku, aku akan bertanya kepada Pak Han. Biasanya ketika istirahat, bapak-bapak akan berkumpul bersama sambil makan.
Guru laki-laki yang biasa makan di kantor hanya beberapa orang; Aku, Pak Han, Pak Aries dan Pak Nugroho. Sisanya akan pergi ke luar sekolah untuk menghisap beberapa batang rokok. Sedangkan Pak Uun yang sudah senior biasa berkumpul bersama ibu-ibu.
Sambil membuka perbekalanku, ku ajak ketiga temanku ini untuk makan dan mengobrol bersama. Sengaja hari ini ibuku membawakanku bekal yang lumayan banyak,
“Ayo.... anggap saja ini masakan ibuku.” Ucapku bercanda. Jokes bapak-bapak.
“Pak Zein bekalnya banyak hari ini. Bukankah ini harusnya untuk Pak Zein dan Ibu Rina? Saya jadi tidak enak.” Jelas Pak Nugroho.
“Hehh... syuttt!” jariku memberi isyarat untuk diam, “Ayo makan saja.”
Kami pun makan bersama. Selagi makan, Aku bertanya kepada Pak Han,
“Pak Han, ada informasi baru tidak nih?” tanyaku penasaran.
“Emmm..., saya belum mengobrol dengan Ibu Rina hari ini. Belum ada informasi apapun.” Jawab Pak Han.
“Ohhh... yasudah. Kita lanjut makan saja.” Tegasku.
Saat sedang asyik makan, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Kami segera menghabiskan makanan kami yang tinggal beberapa suap lagi. Lalu kami bergantian mencuci tangan dan membersihkan meja dari butiran nasi yang berjatuhan.
Saat hendak mencuci tangan di wastafel, aku tak sengaja mendengar Ibu Rina dan Ibu Dina yang sedang berbincang di wastafel. Antara wastafel dan ruang guru terhalang oleh sebuah dinding. Aku tidak bisa melihat Ibu Rina dan Ibu Dina, tapi aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Bu Dina, tau gak?! Kemarin Pak Zein memberikan oleh-oleh sekotak mochi dari Sukabumi.. tapi dia hanya ngasih 1 kotak. Daripada ngasih hanya 1 kotak, menurut aku lebih baik tidak usah ngasih, bukan?” ucap Ibu Rina kepada Ibu Dina.
“Pak Zein hanya ngasih 1 kotak kecil begitu? Dan cuma ngasih ke Bu Rina saja? Ke guru yang lain?” tanya Ibu Dina.
“Sepertinya hanya ngasih ke aku saja Bu Din, aku ga liat dia ngasih ke guru yang lain. Aku jadi takuuuttt...” Ujar Ibu Rina khawatir.
“Laaah.... takut kenapa?” tanya Ibu Dina.
“Sebenarnya dari gerak-geriknya aku tau dia suka sama aku. Tapi belakangan ini dia sangat terlihat jelas kalau dia mau serius sama aku. Tapi masalahnya aku sudah ada si Aa, calonku...” jelas Ibu Rina.
Jlebbbb
Kalimat terakhir itu membuatku down. Sekotak ketulusan berisi mochi harus dibayar dengan fakta bahwa Ibu Rina sudah punya calon. Apa pemberianku kurang banyak?
Aku langsung menyusun rencana baru. Aku kan menjual keripik pisang. Besok akan kuberikan kepadanya 1 kg keripik pisang yang kujual.
Aku menjauh sedikit dari tembok pengahalang antara wastafel dan ruang guru agar tidak kedapatan menguping pembicaraan Ibu Rina dan Ibu Dina. Setelah keduanya beranjak dari wastafel, aku pun mencuci tanganku.
Setelah mencuci tangan, aku siap kembali mengajar.