Malam itu, sekitar pukul sepuluh, ketukan pintu terdengar dari ruang tamu. Ibu Riana yang sedang duduk di kursi anyaman bambu sambil melipat pakaian segera menoleh ke arah kamar Yusri.
“Yus! Buka pintu! Ayah pulang!” serunya.
Yusri yang baru saja merebahkan diri setelah kejadian sore itu, langsung bangkit. Tapi sebelum dia sempat melangkah, Farrel sudah lebih dulu melesat dari kamarnya. Kakaknya itu berjalan cepat menuju pintu, seolah-olah ingin memastikan sesuatu.
Farrel takut. Takut kalau ayah melihat luka di bibir Yusri.
“Saya saja, Mak,” kata Farrel sambil membuka kunci pintu.
Pintu terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya dengan kemeja lusuh dan wajah letih. Itu ayah mereka Rayendra. Wajahnya sama seperti biasa: lesu, penuh kerutan kelelahan, dengan kantung mata yang menggantung berat.
Farrel menyapa dengan nada biasa. “Ayah. Bagaimana jualan jam nya?”
Rayendra hanya menunduk. Dia melepas sandal karetnya perlahan, lalu menjawab dengan suara lirih, “Seperti biasa... sepi. Sekarang udah jarang orang beli jam.”
Farrel mendengar itu. Dia diam, hanya mengangguk pelan. Dia paham. Ayahnya sudah puluhan tahun berjualan jam keliling di pasar-pasar dan toko-toko. Dulu, usaha itu cukup untuk menghidupi semua anak. Tapi sekarang zaman berubah. Orang lebih suka lihat jam di ponsel. Jam dinding pun kebanyakan orang beli di toko modern. Ayahnya hanya bisa pulang dengan tangan hampa, atau paling banter menjual satu atau dua jam seharga makan sehari.
Farrel tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengambil tas kresek berisi jam-jam yang tidak laku dari tangan ayahnya, lalu membawanya masuk ke dalam.
Yusri, yang berdiri di pintu kamar, melihat ayahnya berjalan lemas menuju ruang tengah. Ada rasa sesak di dadanya. Tapi seperti biasa, dia tidak bisa mengungkapkannya.
Pagi harinya, langit Sungai Geringging cerah. Matahari baru saja naik, menyinari ubin-ubin rumah yang lembap karena embun. Farrel sudah bersiap dengan seragam SMK-nya, rapi dan wangi. Yusri menyusul dari kamar dengan seragam SMP yang sedikit kusut.
“Cepat, lu lambat,” omel Farrel sambil menyalakan motor King-nya.
Yusri menaiki motor di belakang kakaknya tanpa membantah. Mereka melaju melewati gang-gang sempit, melewati sawah yang mulai menghijau, hingga sampai di sebuah persimpangan jalan tak jauh dari gerbang SMP 4 Suger.
Farrel menghentikan motor. “Turun.”
Yusri turun, lalu melirik ke arah gerbang sekolah yang hanya berjarak sekitar seratus meter. “Makasih, Bang.”
Farrel hanya mengangguk, lalu tancap gas meninggalkan Yusri tanpa menoleh.
Dari kejauhan, di depan gerbang sekolah, Mikel yang baru saja turun dari motor temannya melihat adegan itu. Dia memperhatikan Yusri yang berjalan kaki menuju gerbang, lalu matanya mengikuti motor King hitam yang melaju ke arah SMK 2 Ngaung.
Itu kakaknya, pikir Mikel. Yang kemarin malam datang ke tongkrongan PS.
Mikel tidak menghampiri Yusri. Dia hanya memperhatikan dari jauh, lalu berbalik dan masuk ke dalam gerbang sekolah. Ada sesuatu dalam pikirannya tentang Yusri tentang anak pendiam yang tiba-tiba berubah, tentang senyum manis yang ternyata menyimpan pukulan keras, tentang kakaknya yang ternyata anak SMK paling ditakuti. Tapi Mikel memilih untuk diam. Bukan urusannya.
Jam pertama. Ruang kelas 9A terasa pengap meskipun jendela-jendela sudah dibuka lebar. Meja dan kursi kayu yang berderit menjadi saksi bisu rutinitas pagi itu.
Pelajaran Seni Budaya. Mata pelajaran kesukaan Yusri. Bukan karena dia suka menggambar atau menari, tapi karena guru pengajarnya, Bu Wati, tidak pernah memarahinya. Bu Wati selalu bersikap lembut pada Yusri, kadang tersenyum, kadang menanyakan kabar. Yusri tidak tahu persis kenapa. Ternyata, tanpa disadarinya, Bu Wati mengenal ayahnya. Dulu, ayah Rayendra sering berjualan jam di depan rumah Bu Wati. Itu sebabnya Bu Wati selalu memperlakukan Yusri dengan istimewa. Tapi Yusri tidak pernah tahu.
Pelajaran berjalan lancar pada awalnya. Bu Wati menerangkan tentang ragam hias tradisional Sumatra Barat, suaranya yang lembut membuat sebagian siswa mulai mengantuk. Tapi suasana berubah ketika di bangku belakang mulai terdengar suara-suara kecil.
Ternyata, ada dua siswa yang sedang asyik ngobrol sambil bermain dasi. Yang satu Farhan siswa cerdas yang selalu duduk di deretan tengah dan yang lain Riyan siswa paling bandel di kelas itu.
Bu Wati berhenti menjelaskan. Matanya menyapu ruangan, lalu jatuh pada Riyan yang duduk di pojok belakang.
“Riyan!” panggil Bu Wati dengan nada tegas. “Kamu yang ribut dari tadi, ya? Sana maju ke depan!”
Riyan mengernyitkan dahi. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Saya, Bu? Bukan saya yang ribut.”
“Bukan kamu siapa lagi? Di kelas ini yang paling bandel ya kamu!”
Riyan geleng-geleng. “Bukan saya, Bu. Yang ribut itu Farhan. Dia main-main dasi dari tadi.”
Farhan yang disebut namanya langsung terdiam, mukanya sedikit pucat. Tapi Bu Wati tidak menggubris. Dia sudah terlanjur meyakini bahwa Riyanlah biang keroknya.
“Jangan bohong, Riyan!” bentak Bu Wati. “Emang bukan kamu yang ribut, tapi pasti kamu yang ngajarin dia begitu!”
Riyan terdiam. Hatinya terasa seperti ditusuk. Sejelek itukah namaku di sekolah ini? Dia menunduk, jari-jarinya menggenggam erat ujung seragam.
Bu Wati berjalan mendekat. Dia tidak hanya memarahi Farhan yang sebenarnya memang bersalah tapi juga menghampiri Riyan. Dengan gerakan cepat, dia mengambil penggaris kayu di meja, lalu memukul tangan Riyan sekali, dua kali.
PLAAAAAK! PLAAAAK!
Riyan menarik tangannya. Matanya memerah. Bukan karena sakit di tangan, tapi karena sakit di hati.
“Kenapa saya dipukul, Bu?! Saya tidak melakukan apa-apa!” suaranya meninggi. “Iya, saya bandel dulu! Tapi sekarang saya gak gitu lagi! Apa sejelek itu nama saya di mata Ibu?!”
Air mata mulai berlinang di pipi Riyan. Dia seorang laki-laki, dan menangis di depan teman-teman sekelas adalah hal yang paling memalukan. Tapi dia tidak bisa menahannya. Semua beban selama ini selalu disalahkan, selalu jadi kambing hitam tumpah di pagi itu.
Bu Wati tidak luluh. Dia malah membalas dengan nada sinis, “Iya, emang kamu bandel. Banyak guru lain bilang begitu. Kamu sering ngelawan guru. Dan jangan pura-pura nangis, dong! Kamu cowok!”
Tawa kecil terdengar dari beberapa siswa. Ada yang ikut menertawakan Riyan, ada pula yang diam dan menunduk, tidak tega. Farhan, yang sebenarnya menjadi penyebab keributan, hanya diam di tempat duduknya dengan wajah bersalah, tapi tidak berani angkat bicara.
Yusri dan Yasril yang duduk di bangku depan saling pandang. Jijik terasa di perut Yusri. Bukan karena Riyan, tapi karena Bu Wati. Guru yang selama ini dia kira baik, ternyata bisa berkata begitu kejam pada seorang anak.
Yasril menggumam pelan, “Bu Wati kok gitu...”
Yusri tidak menjawab. Dia hanya mengepalkan tinjunya di bawah meja.