Jam delapan malam, langit Sungai Geringging benar-benar gelap. Lampu jalan menyala redup, hanya cukup untuk menerangi aspal yang retak-retak. Di sebuah persimpangan dekat pasar, Farrel bertemu dengan Irfan dan Dani keduanya teman sekaligus “tangan kanannya” di SMK. Irfan bertubuh tambun dengan wajah bulat dan senyum cerah, sementara Dani tinggi kurus dengan tato kecil di lengan kirinya.
“Ada apa, Rel?” tanya Irfan.
Farrel mengeluarkan sebatang rokok dari baju, menyalakannya. “Adek gue, Yusri, bibirnya pecah. Lebam di muka.”
Dani mengernyit. “Berantem?”
“Gue tanya, dia cuma bilang jatuh.” Farrel mengepulkan asap. “Gue kenal adek gue. Dia gak bakal cerita. Tapi biasanya, anak pendiam kayak dia gak bakal diganggu kalo bukan karena apa.”
“Lu pikir siapa yang berani?” tanya Irfan.
Farrel diam sejenak. “Bisa jadi anak SMA. Deket sekolahnya banyak tongkrongan SMA 1 Taipan.”
“Kita cari di PS?” saran Dani. “Biasanya anak-anak nongkrong di belakang pasar. Deket Suger itu.”
Farrel mengangguk. Mereka langsung meluncur Farrel dengan motor King hitamnya yang bergemuruh, Irfan dan Dani membonceng di motor lain. Angin malam menyayat wajah, tapi Farrel tidak merasakannya. Yang dia rasakan hanyalah kemarahan yang mengental di dadanya. Bukan karena dia terlalu peduli pada Yusri setidaknya itulah yang ingin dia yakini pada dirinya sendiri. Tapi ada prinsip yang dia pegang, keluarga adalah harga mati. Siapa pun yang berani menyentuh keluarganya, akan berhadapan dengannya.
Tongkrongan PS begitu anak-anak muda menyebutnya adalah area parkir kosong di belakang pasar tradisional. Di malam hari, tempat ini berubah menjadi tempat nongkrong favorit anak-anak sekolah dari berbagai jenjang. Lampu penerangan hanya satu, dari tiang listrik tua yang sering mati. Tapi malam itu, lampu menyala terang, menerangi sekitar dua puluh anak muda yang duduk-duduk di atas motor atau lesehan di tikar plastik.
Farrel menghentikan motornya tepat di tengah kerumunan. Suara motor King-nya yang khas langsung membuat semua kepala menoleh. Irfan dan Dani ikut berhenti di sampingnya.
Siapa pun yang berada di tongkrongan PS malam itu langsung bergetar melihat Farrel. Tampan, putih, dengan mata tajam dan aura yang sulit dijelaskan itu adalah anak SMK paling ditakuti di daerah Pariaman. Tidak ada yang berani bergerak.
Farrel mematikan mesin, melangkah masuk ke tengah kerumunan. Matanya menyapu wajah satu per satu.
“Siapa yang sekolah SMP 4 Suger?” suaranya tegas.
Sekitar lima belas anak muda mengangkat tangan. Mereka semua teman Mikel,Mikel yang duduk di sudut, tampan dengan rambut kecoklatan, kulit putih, langsung tegang saat mendengar pertanyaan itu.
Mikel mengambil inisiatif. Dia berdiri, berjalan mendekati Farrel dengan langkah hati-hati. “Ada apa, Bang?”
Farrel menatap Mikel. “Lu kenal Yusri?”
Mikel terdiam. Dalam hati, dia berpikir cepat. Bang ini mau mukulin Yusri? Atau dia siapa? Wajah Farrel memang tidak mirip dengan Yusri,Yusri biasa saja, sementara Farrel tampan mencolok. Tapi ada kemiripan di sekitar mata, dan senyum yang sama manisnya.
Mikel memutuskan untuk menutupi. “Yusri? Gak tau, Bang. Emang siapa?”
Farrel menyipitkan mata. “Dia adek gue. Gue dengar dia di-buli di sekolah kalian.”
Mikel terkesiap. Matanya membelalak, lalu tanpa sadar dia tertawa lega. “Anjir, Bang! Maaf, Bang. Gue kira tadi Bang mau mukulin Yusri.” Dia mengusap keringat di dahi. “Tadi siang, Yusri lagi makan di warung depan sekolah. Tiba-tiba datang anak SMA Lima orang. Mereka makan, abis itu nyuruh Yusri bayarin.”
Farrel mendengarkan tanpa ekspresi.
“Yusri cuekin aja,” lanjut Mikel. “Terus bang Nizal sipenjaga warung tegor anak SMA itu. Tapi anak SMA itu malah mukul bang Nizal. Yusri liat, langsung ikut. Dia mukul balik. Terus anak-anak SMP lain ikut bantu. Jadilah lima anak SMA itu di-kroyok sama murid SMP, Bang. Sampai dua puluhan orang. Saya sendiri sampai takut ikut, nanti anak SMA itu gak bernafas.”
Farrel menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sama dengan Yusri. “Ooo... begitu kejadiannya.” Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Tepat saat dia berbalik hendak pergi, matanya menangkap sekelompok lima orang di sudut lain tongkrongan. Mereka duduk lesehan, wajah-wajah babak belur. Mikel menunjuk ke arah mereka. “Bang, itu orangnya.”
Farrel melihat ke arah mereka. Kelima anak SMA itu sudah dalam kondisi memprihatinkan mata lebam, bibir pecah, baju kotor. Mereka sedang makan mi instan dengan tangan gemetar.
Farrel menahan tawa. Dia berjalan mendekat, hanya sekadar untuk memastikan. Robi, yang paling menonjol di antara mereka, mengangkat kepala. Wajahnya biru di pipi kiri. Begitu melihat Farrel, dia langsung menunduk.
Farrel tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di depan mereka beberapa detik, lalu berbalik.
Sebelum naik motor, dia menoleh ke Mikel. “Kasih tau mereka awas ganggu adek gue lagi.”
Mikel mengangguk cepat. “Siap, Bang.”
Di perjalanan pulang, Irfan dan Dani di belakang Farrel tertawa keras. “Bang, bukan adek lu yang di-buli!Tapi Anak SMA itu yang di-buli sama adek lu!” teriak Irfan sambil memegangi perut.
Farrel ikut tertawa, suaranya pecah di tengah angin malam.
Sesampainya di rumah, Farrel langsung melangkah ke kamar Yusri tanpa membuka sepatu. Lampu kamar masih menyala redup. Yusri sudah berbaring di kasur, pura-pura tidur dengan selimut menutupi setengah wajah.
Farrel duduk di tepi kasur, lalu tanpa basa-basi menarik hidung Yusri. “Woi! Bangun! Lu belum makan malam, ya?”
“Apaan sih, Bang!” Yusri membuka mata dengan kesal. Dia mencoba memukul tangan Farrel, tapi Farrel sudah menariknya.
“Gue lihat tadi bibir lu,” kata Farrel, tiba-tiba serius.
Yusri terdiam.
“Gue tau lu berantem. Anak-anak SMP bilang, lu malah yang mukulin anak SMA.” Farrel menatap Yusri. “Bukan lu yang di-buli. Malah lu yang jadi pahlawan, katanya.”
Yusri tidak menjawab. Dia hanya membuang muka.
Farrel tersenyum kecil. “Ya sudah. Besok gue bawain lu mi goreng dari warung depan. Jangan lupa makan.” Dia berdiri, berjalan ke pintu.
“Bang,” panggil Yusri pelan.
Farrel berhenti, menoleh.
“Makasih.”
Farrel tidak menjawab. Dia hanya tersenyum senyum manis yang sama dengan senyum Yusri lalu menutup pintu.
Di balik pintu, Yusri menarik napas dalam-dalam. Di luar, Farrel bersandar di dinding lorong, merokok lagi sambil tersenyum kecil. Keluarga mereka memang rumit. Elli di Pariaman dengan warung dan suaminya, Basrizal entah di mana di Malaysia, Lazuardi yang cerdas tapi jauh di luar negeri. Dan mereka berdua Farrel dan Yusri yang sepertinya hanya bisa menunjukkan kasih sayang melalui candaan jahat dan pertengkaran.
Tapi malam itu, di antara dering telinga yang dulu dan darah yang tak terucap, mereka berdua mengerti keluarga adalah rumah. Dan tidak peduli seberapa jauh atau rumitnya, mereka akan saling melindungi.