Bab 2

1062 Words
Rumah Yusri terletak di ujung gang kecil tak jauh dari sungai. Rumah papan tua berwarna hijau pudar dengan halaman sempit yang ditumbuhi rumput liar. Di sinilah Yusri dibesarkan bersama kelima saudaranya, di tengah hiruk-pikuk keluarga yang tak pernah sunyi dari tawa, tangis, dan pertengkaran. Yusri adalah anak kelima dari lima bersaudara. Kakak pertama, Elli, adalah sosok yang paling lembut di antara mereka. Wajahnya cantik dan manis, dengan senyum yang mirip dengan senyum Yusri mewarisi dari ibu mereka. Elli sudah menikah dengan Naldi, seorang pria berbadan tegar dan tampan yang bekerja sebagai nelayan sekaligus penjaga warung. Mereka tinggal di Pariaman, tidak terlalu jauh dari rumah orang tua. Setiap pagi, Elli dan Naldi membuka warung sarapan di pinggir jalan, menjual nasi goreng dan mie rebus yang selalu ramai pembeli. Mereka sudah dikaruniai seorang anak perempuan berusia satu tahun, lucu dengan pipi tembem dan rambut tipis ikal. Elli memang jarang pulang, tapi setiap kali datang, dia selalu membawa makanan dan kadang uang saku untuk adik-adiknya. Kakak kedua, Basrizal. Wajahnya tampan lebih tampan dari Farrel sekalipun, kata orang orang. Tiga tahun lalu, Basrizal pergi ke Malaysia merantau. Katanya mau kerja di sana, tapi hingga kini belum pernah pulang sekalipun. Teleponnya jarang, kabarnya putus-putus. Ibu Riana sering menangis kalau malam minggu tiba, duduk di teras sambil memandang ke arah jalan, seolah-olah Basrizal akan muncul kapan saja. Yang mereka tahu, Basrizal bilang akan pulang setelah lima tahun. Dua tahun lagi. Dua tahun yang terasa seperti selamanya. Kakak ketiga, Lazuardi, adalah anak paling cerdas di keluarga ini. Matanya tajam, rambutnya selalu berantakan karena terlalu asyik dengan komputernya. Tamat SMA, dia langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama di luar negeri. Tidak ada yang tahu persis pekerjaannya,katanya di bidang komputer, ada juga yang bilang dia peretas handal. Lazuardi jarang cerita tentang pekerjaannya, tapi sesekali dia mengirimkan uang yang cukup besar untuk keluarga. Sepupunya sering bercanda kalau Lazuardi pasti bekerja untuk intelijen negara. Tapi Lazuardi hanya tertawa kecil kalau ditanya. Lalu ada Farrel Kakak keempat, yang paling dekat dengan Yusri dalam arti paling sering bertengkar. Farrel tampan sekali. Wajahnya putih bersih, hidungnya mancung, rambutnya hitam legam, dan senyumnya manis seperti Elli. Badannya tinggi dan tegap, membuatnya tampak gagah setiap kali memakai seragam SMK. Dia sekarang kelas 3 di SMK 2 Ngaung, sekolah kejuruan yang reputasinya cukup terkenal di daerah itu. Tapi yang paling terkenal bukan reputasi sekolahnya, melainkan reputasi Farrel sendiri. Di SMK 2 Ngaung, nama Farrel di atas angin. Dia adalah anak yang paling ditakuti. Bukan karena dia preman atau suka berkelahi tanpa alasan, tapi karena dia dikenal tidak segan-segan menghajar siapa pun yang berani macam-macam. Tapi anehnya, keluarganya terutama Yusri,tidak ada yang tahu reputasi itu. Yusri hanya tahu abangnya itu jahat sama dia. Setiap pagi, Farrel selalu membangunkan Yusri dengan cara menarik hidungnya atau mencubit pipinya sambil tertawa. Kadang mereka bertengkar soal hal-hal sepele, seperti rebutan kamar mandi atau masalah jagak jelas. “Woi, tidur melulu! Sekolah kau!” teriak Farrel setiap pagi sambil menyeret selimut Yusri. “Bang, jam enam kurang! Masih pagi!” protes Yusri dengan suara serak. “Bangun, bangun! Nanti kau ditinggal motor!” Dan benar saja, Farrel sering meninggalkan Yusri jika adiknya bangun kesiangan. Yusri harus berjalan kaki atau menumpang dengan Yasril yang kebetulan rumahnya searah. Kadang Yasril sudah menunggu di depan gang dengan sepeda ontelnya sambil tersenyum. “Kau ditinggal lagi, Ri?” “Iya, bangku gila itu,” gerutu Yusri. Tapi meski sering jahil, Farrel juga punya sisi perhatian yang tidak pernah diakuinya. Kalau Yusri pulang terlambat, Farrel yang pertama bertanya. Kalau Yusri sakit, Farrel yang membelikan obat. Hanya saja, cara mereka berdua menunjukkan kasih sayang selalu kacau selalu berakhir dengan pertengkaran dan umpatan. Salah satu kejadian yang paling membekas dalam ingatan Yusri terjadi ketika dia masih kelas 1 SMP. Waktu itu, Farrel sedang dalam mood jailnya. Dia terus mengganggu Yusri yang sedang belajar di ruang tamu. Menarik rambutnya, menutup buku catatannya, bahkan sampai menyembunyikan pensil kesayangan Yusri. “Bang, berhenti! Aku lagi belajar!” denngan wajah kesal Yusri. “Belajar terus,Biar kayak Lazuardi, lupakan keluarga,” ledek Farrel sambil mencubit pipi Yusri. Yusri diam. Tapi kemarahannya memuncak ketika Farrel menjambak rambutnya agak keras. Mungkin hanya bercanda, tapi bagi Yusri yang saat itu masih labil, itu terlalu berlebihan. Dengan refleks, Yusri meninju Farrel tepat di bawah telinga kirinya. Seketika Farrel terdiam. Wajahnya berubah pucat. Dia memegangi telinganya, matanya terpejam. Sebuah suara dering keras terdengar di keheningan ruangan suara yang bahkan Yusri bisa dengar. Farrel merintih kesakitan, tubuhnya sedikit membungkuk. Dan kemudian, Yusri melihat sesuatu yang tidak pernah dia duga,kakaknya yang galak itu menangis. Air mata jatuh dari mata Farrel yang terpejam, bukan karena sakit semata, tapi karena betapa terkejutnya dia melihat adiknya bisa melukainya sejauh itu. Yusri langsung membeku. Tangannya gemetar. Dia melihat kakaknya menangis, merintih, dan tiba-tiba rasa takut yang luar biasa menyergapnya. Bukan takut dimarahi, tapi takut dia telah melukai abangnya terlalu parah. Sejak hari itu, Yusri berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah berkelahi jika tidak terpaksa. Dia takut, jika emosinya meledak, dia akan melukai orang lain seperti dia melukai Farrel. Dia takut melihat air mata di wajah orang yang dia sayangi. Dan itulah mengapa Yusri selama ini memilih diam, memilih untuk tidak membalas ketika diganggu, memilih untuk menjadi anak pendiam yang gampang tersinggung. Bukan karena dia lemah. Tapi karena dia tahu, kekuatannya terlalu besar untuk sebuah candaan.Tapi hari ini, Yusri melanggar janjinya sendiri. Malam itu, sekitar pukul setengah delapan, Yusri pulang ke rumah dengan bibir pecah-pecah dan lebam kecil di pelipis kirinya. Dia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk saat masuk, tapi Farrel yang sedang duduk di teras sambil merokok langsung melihatnya. Mata Farrel menyipit. “Lu kenapa, Dek?” tanyanya, suaranya datar tapi ada nada tajam di baliknya. “Jatuh, Bang,” jawab Yusri singkat tanpa menatap. Farrel tidak percaya. Dia tahu sifat adiknya. Yusri tidak pernah cerita tentang masalahnya, tidak pernah mengadu. Semua dipendam sendiri. Ada perasaan benci sekaligus sayang yang rumit di antara mereka benci karena mereka terlalu sering bertengkar, tapi sayang karena darah yang sama mengalir di tubuh mereka. Farrel juga ingat kejadian dulu, ketika dia menangis karena tinju Yusri. Sejak itu dia tahu, adiknya bukan anak lemah. Yusri hanya memilih untuk diam. Farrel menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang puntungnya ke halaman. Dia berdiri dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa. Tapi di kamarnya, dia langsung mengambil ponsel. “Irfan,” katanya setelah sambungan telepon terjawab. “Kumpulin Danijuga. Ada yang perlu kita cari.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD