Dia tidak tahu persis apa yang terjadi dalam pikirannya saat itu. Mungkin itu kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun. Mungkin itu keinginan untuk membuktikan bahwa dia tidak lemah. Mungkin itu hanya naluri seorang sahabat yang melihat ketidakadilan.
Tapi sebelum dia sadar, kakinya sudah bergerak. Dia melompat dari bangku, dan dengan satu tendangan keras dari belakang, Robi tersungkur ke depan, wajahnya membentur meja kayu.
“Kurang ajar lo!” teriak Yusri. Matanya merah, napasnya tersengal. “Sekolah SMA tapi g****k! Gak mau bayar, terus pukulin penjaga warung? Otak lu kemana, anjing?!”
Dia meninju Robi sekali, dua kali. Robi yang masih terkejut berusaha bangkit, tapi Yusri terus menghujani pukulan.
Yasril, yang awalnya kaget melihat perubahan drastis pada sahabatnya itu, akhirnya ikut bertindak. Dia menarik salah satu teman Robi yang hendak menyerang dari samping. Dengan gerakan yang lincah, Yasril menghindari pukulan dan membalas dengan tendangan ke perut.
Dua lawan lima. Pertarungan berlangsung sengit.
Tapi Yusri tidak sendirian. Siswa SMP lain yang sejak tadi hanya menonton mulai bergerak. Mereka yang tadinya takut, kini mendapat keberanian dari perlawanan Yusri. Satu per satu, mereka ikut mengeroyok kelima siswa SMA itu.
Dalam hitungan menit, keadaan berubah total. Kelima siswa SMA itu terdesak, kewalahan menghadapi belasan siswa SMP yang tiba-tiba berubah menjadi gerombolan yang garang.
Di dalam warung, seorang siswa yang sedari tadi duduk di sudut, memperhatikan dengan mata membelalak. Namanya Mikel. Wajahnya tampan, rambutnya kecoklatan, kulitnya putih bersih dia adalah idaman hampir semua cewek di SMP 4 Suger. Tapi bukan itu yang membuatnya kaget saat ini.
Mikel terpaku melihat Yusri.
Dia mengenal Yusri. Seluruh sekolah mengenal Yusri. Anak pendiam yang gampang tersinggung, yang tidak bisa diajak bercanda, yang lebih suka menyendiri di pojok kelas. Bukan anak yang sedang sekarang memukuli siswa SMA dengan mata merah menyala.
“Mikel, kita hajar juga yuk!” desak teman di sampingnya yang sedari tadi ingin ikut. “Anak SMA gak tau diri!”
Tapi Mikel menggeleng. “Gak usah.”
“Kenapa?”
“Sepertinya Yusri bisa mengatasi.” Mikel mengamati dengan seksama. “Dan lihat, siswa lain juga bantu. Ada lima belas... tujuh belas orang. Banyak itu. Ngapain kita ikut? Nanti mati konyol kena batunya.”
Temannya tertawa. “Iya juga sih. Kau ini cerdas, Mikel.”
Mikel tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada Yusri yang sedang meninju Robi sekali lagi. Ada sesuatu dalam tatapan Mikel bukan ketakutan, bukan kekaguman. Tapi rasa ingin tahu yang dalam.
Siapa sebenarnya Yusri?
Di luar warung, pertarungan mulai mereda. Kelima siswa SMA itu akhirnya babak belur, melarikan diri dengan motor mereka setelah merelakan uang untuk membayar makanan yang mereka konsumsi. Zainal yang terkapar sejak awal berhasil bangun dengan bantuan Yasril. Wajahnya lebam, tapi dia tersenyum.
“Makasih, dek,” katanya pada Yusri. “Kau berani banget.”
Yusri tidak menjawab. Dia hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Matanya masih menyala, tapi perlahan api itu meredup.
Yasril mendekati. “Kau gila, Ri. Tadi kau seperti kesurupan.”
“Mungkin,” jawab Yusri singkat.
Mereka berjalan menjauhi warung, meninggalkan keramaian yang masih membicarakan kejadian tadi. Sore berganti senja. Langit Sungai Geringging mulai gelap, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
“Jadi, itu alasan kau berubah?” tanya Yasril ketika mereka sudah agak jauh.
Yusri berhenti. Menatap Yasril dengan mata yang terlihat lebih tua dari usianya.
“Aku lelah, Ril. Selama tiga tahun di SMP, aku selalu jadi anak pendiam. Gampang tersinggung. Tidak bisa diajak bercanda. Orang mengira aku lemah. Bahkan guru-guru sering memandangku dengan iba, seolah aku butuh dikasihani. Tapi kau tahu?” suaranya bergetar. “Aku tidak lemah. Aku hanya tidak ingin membuang energiku untuk hal-hal yang tidak penting. Tapi hari ini... hari ini aku sadar. Kadang, kita harus menunjukkan siapa kita sebenarnya. Bukan karena ingin diakui. Tapi karena kalau kita diam terus, orang-orang akan menginjak kita.”
Yasril terdiam. Lalu dia tertawa kecil.
“Kau tahu, sejak kau berubah jadi anak yang suka bercanda dan cari lawan itu, aku sebenarnya agak khawatir. Tapi sekarang aku paham. Kau bukan berubah, Ri. Kau hanya... menjadi dirimu yang sebenarnya.”
Yusri tersenyum. Senyum manisnya. “Terima kasih sudah selalu di sampingku, Ril. Dari kelas satu sampai sekarang, kau satu-satunya yang tidak pernah menyerah menghadapiku.”
“Kita sahabat,” kata Yasril sambil mengacungkan jempol. “Itu tugas kita.”
Mereka berjalan beriringan dalam diam. Angin malam membawa bau tanah basah dari sawah di kejauhan. Langit benar-benar gelap, tapi bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Tiga bulan lagi kelulusan. Tiga bulan lagi mereka akan meninggalkan SMP 4 Suger. Tiga bulan lagi, babak baru kehidupan akan dimulai.
Yusri tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Tapi satu hal yang dia yakini: dia tidak akan pernah menjadi anak pendiam yang gampang tersinggung lagi. Bukan karena dia ingin dianggap hebat. Tapi karena dia sudah menemukan bahwa di dalam dirinya, ada keberanian yang selama ini tertidur.
Dan senyum manis itu akan selalu menjadi senjata utamanya.
Di warung pinggir jalan, Zainal membereskan meja-meja yang berantakan. Di sudut ruangan, Mikel masih duduk, memandang ke arah jalan tempat Yusri dan Yasril menghilang.
“Mikel, pulang yuk!” panggil temannya.
“Iya,” jawab Mikel sambil berdiri.
Tapi pikirannya masih pada Yusri. Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia duga. Dan dia tahu, ini bukanlah kali terakhir nama Yusri akan terdengar.
Di SMP 4 Suger yang muridnya sangat banyak itu, Yusri yang berwajah biasa saja, yang dulu hanya dikenal karena senyum manisnya, kini mulai meninggalkan jejak yang tidak akan mudah dilupakan.
Dan semuanya dimulai dari sore mendung di warung pinggir jalan, ketika sekelompok anak SMA datang dan membuat kesalahan terbesar mereka meremehkan anak SMP.