Attar tersenyum sendiri, merasa senang telah menemukan sumber cupcake yang enak ini. Ia membayangkan dirinya kembali ke toko itu suatu hari nanti untuk mencoba lebih banyak varian kue yang mereka tawarkan. Rasanya seperti menemukan sebuah tempat istimewa yang bisa menjadi langganan favoritnya.
Saat Attar baru saja selesai minum, tiba-tiba Liliana bertanya dengan penuh harap, "Kapan kamu akan memberikan ibu cucu?"
Pertanyaan itu membuat suasana hati Attar berubah drastis. Wajahnya tiba-tiba menjadi serius, bahkan kesal.
Attar menjawab dengan nada kesal, "Jangan harap aku punya anak dari dia ya."
Dia yang dimaksud Attar tentu saja Zahra, istrinya.
Attar pun meninggalkan Liliana yang terkejut dengan pernyataannya yang tegas. Ia melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun pada ibunya. Liliana mencoba memanggilnya, "Attar!"
Namun, Attar tetap melangkah dengan langkah mantap, tidak peduli dengan panggilan ibunya. Liliana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Liliana, setelah percakapan sebelumnya dengan Attar, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka berdua. Ia berkata dengan nada yang lebih lembut, "Attar, kamu bisa saja bersikap seperti ini sekarang. Tapi ibu yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi sangat menyayangi Zahra."
Attar membuka pintu kamarnya dan melihat Zahra sedang duduk di sofa yang ada di kamar. Ia segera menyadari kehadiran istrinya dan dengan tegas, Attar pun berkata, "Keluar dari kamar ini."
Zahra memandang ke arah Attar dengan wajah yang penuh ketegangan. Ia merasa tak berani melawan perintah suaminya. "Aku mau mandi, dan aku pasti akan berpakaian. Aku tidak ingin kamu di kamarku. Keluar," pintanya lagi.
Zahra mengangguk dan ia segera menyimpan ponselnya ke dalam tas miliknya. Setelah itu, ia keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah keluar dari kamar, Zahra memutuskan untuk berjalan ke arah dapur.
Sambil berjalan, ia berpikir, "Lebih baik aku mempersiapkan makanan untuk malam nanti. Sepertinya aku harus mulai beradaptasi dengan rumah ini."
Saat Zahra memasuki ruang keluarga, ia melihat bahwa Liliana masih berada di sana. Liliana menyapanya dengan ramah, "Halo, selamat sore, Ara."
Zahra tersenyum dan menjawab sopan, "Selamat sore juga, Bu."
Liliana mengajaknya, "Ayo sini, duduk sama ibu."
Zahra patuh dan duduk di sofa sesuai permintaan ibu mertuanya itu. Setelah Zahra duduk, Liliana mencoba memulai percakapan.
"Ara, ibu belum bertanya, kamu bekerja di mana sih?"
Zahra menjawab dengan baik, "Aku bekerja di toko kue, Bu."
Liliana bertanya dengan antusias, "Apa kamu tidak keberatan ibu bertanya seperti ini?"
Zahra menjawab, "Iya, tidak apa-apa kok, Bu. Aku akan memberitahukan gimana aku kerja."
Liliana kembali bertanya, "Di mana kamu kerja?"
Zahra menjelaskan, "Aku kerja di toko Calista Cake and Cookies."
Mendengar nama itu, Liliana langsung tersenyum. "Wow, ini sangat luar biasa."
Liliana tersenyum ramah sementara Zahra merasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, "Kenapa, Bu?" tanya Zahra.
Liliana menjawab dengan tegas sambil menutup box kue yang ada di atas meja dan menuju ke bagian yang mencantumkan nama toko. "Apa kamu bekerja di toko kue ini, benar-benar di 'Calista Cake and Cookies' ini?" tanyanya.
Zahra mengangguk, "Ya, memang aku bekerja di toko itu, Bu."
Liliana berkomentar dengan antusias, "Apa kamu tahu, Attar baru saja makan kue dari situ?"
Zahra terkejut, "Benarkah?"
Liliana mengangguk, dan Liliana melanjutkan, "Dia sangat menyukainya, apalagi cupcake-nya. Luar biasa, ini."
Zahra memberi tahu Liliana dengan permintaan, "Tapi, Bu, kalau bisa, jangan bilang pada Attar ya kalau aku kerja di toko kue ini."
Liliana bertanya, "Kenapa, sayang? Mengapa ibu harus merahasiakannya?"
Liliana menjelaskan, "Ini adalah hal yang sangat penting. Kamu bisa lebih dekat dengannya karena kue buatanmu."
Zahra menggeleng dan berkata, "Tapi, Attar bisa saja nanti bilang tidak menyukai kue buatanku ya karena dia tidak suka padaku."
Liliana pun memperhatikan setiap kata yang dikeluarkan oleh Zahra dan itu membuatnya mengerti.
Liliana mengatakan dengan penuh kasih sayang, "Baiklah, kalau begitu, sayang. Maafkan Ibu yang kamu terpaksa menikah dengan Atar, tapi ibu percaya, Ibu yakin, pasti suatu saat nanti Attar akan menyayangi kamu dan menganggap kamu ada, yang kuat. Ibu sangat sayang padamu."
Zahra merasa sangat senang mendengar kata-kata penyemangat dari Liliana. Ia tersenyum kepada Liliana dan berkata, "Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha yang terbaik."
Zahra dengan lembut bertanya kepada Liliana, "Bu, bolehkah aku memasak untuk makan malam?"
Liliana tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, sayang. Kamu boleh memasak apa yang kamu suka."
Zahra mengangguk, menghargai izin yang diberikan. Liliana menambahkan dengan penuh semangat, "Ibu sangat senang jika kamu ingin memasak. Itu artinya kamu berusaha beradaptasi dengan rumah ini."
Zahra merasa lega mendengar dukungan dari Liliana. Namun,Liliana ingin memastikan bahwa dia tidak memberi beban pada Zahra. "Tapi, jika lelah, jangan paksakan ya, sayang. Kamu sepertinya sekarang sedang lelah."
Liliana dengan lembut meminta, "nanti saja ya, masaknya. Lebih baik temani ibu di sini."
Zahra, yang memang sedang kelelahan, merasa sangat senang mendengar perhatian dan dukungan dari Liliana. "Baiklah, Bu. Lain kali saja aku masaknya. Aku akan menemani Ibu di sini," ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Setelah itu, mereka berdua duduk bersama di ruang keluarga, menciptakan momen yang membuat Zahra merasa disayangi oleh ibu mertuanya.
Sementara itu di kamar, Attar baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Setelah mandi, ia merasa segar dan siap untuk mengangkat telepon yang terus berdering. Ia melihat layar ponselnya dan ternyata itu adalah panggilan dari Sandra. Attar pun langsung mengangkat panggilan itu sambil berkata, "Halo."
Sandra dari seberang telepon menjawab, "Halo, sayang. Kamu sedang apa?" tanyanya dengan suara lembut.
Attar tersenyum, "Aku baru saja selesai mandi."
Sandra menggoda, "Seandainya kita sudah menikah, pasti aku bisa melihatmu bertelanjang d**a, dan aku akan menggodamu."
Attar tertawa mendengar perkataan Sandra. Ia pun bertanya dengan rasa ingin tahu, "Memangnya kamu akan menggodaku seperti apa?"
Sandra menjawab dengan nada merayu, "Aku akan memegang lenganmu yang berotot, lalu mengitarimu. Kemudian, aku akan mengusap dagu. Setelah itu, aku akan meninggalkanmu. Ya, aku tidak boleh berbuat lebih dari itu, nanti kamu akan terpancing sendiri." Sandra tertawa ringan.
Perkataan Sandra membuat Attar terhibur. Ia berpikir dalam hati, 'Ya, memangnya, seandainya saja aku menikah denganmu, pasti ceritanya akan berbeda. Kenapa sih ibu malah menikahkan aku dengan si cewek alim itu? Ini sangat menyebalkan dan tidak asik.'
Di seberang telepon, Sandra terus memanggil nama Attar dengan penuh perhatian, "Attar, Attar, sayang, apa kamu masih di sana?"
Attar tersadar dari lamunannya, "Maaf, sayang, aku masih di sini kok. Aku pakai baju dulu ya, dingin," ucapnya dengan alasan.
Sandra menjawab, "Oke, deh. Aku ga akan ngintip," ujar Sandra dengan senyuman dalam suaranya.
Attar pun tersenyum, menutup obrolan telepon, dan mulai mengenakan pakaiannya.
Sementara itu Sandra yang sedang berada di ruang perawatan rumah sakit tersenyum setelah panggilan dengan Attar berakhir. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Sandra kaget saat melihat siapa yang datang.