Attar: Kamu Kan Istriku?

1000 Words
Zahra masih berada di dalam bis, merasakan getaran halus di ponselnya. Ia melihat nama "Ibu" tertera di layar ponselnya dan tersenyum. Dengan penuh rasa hormat, Zahra menjawab panggilan tersebut. Zahra mengangkat panggilan itu sambil tersenyum, "Halo, Ibu. Assalamualaikum." Ibu yang saat itu sedang di ruang tamu menjawab salam Zahra dengan hangat, "Waalaikumsalam, Nak." Ranti pun memulai obrolan di telepon. "Apa kabarmu Ara?" Zahra menjawab dengan penuh kasih, "Aku baik-baik saja, Bu. Aku baru pulang dari toko." "Oh, kamu tetap bekerja ya setelah menikah?" Zahra menjawab sambil tersenyum, "Ya, Bu. Sepertinya aku sudah terbiasa bekerja, dan aku rasa akan bosan jika diam saja di rumah." "Baiklah." Kemudian ibu bertanya lagi, "Oh iya, Ara, Ibu hanya ingin bercerita. Alhamdulillah, Ayah mendapatkan pengobatan gratis di salah satu rumah sakit swasta terbaik." Zahra merasa senang mendengarnya dan bersyukur. "Alhamdulillah, Ibu. Aku senang mendengarnya." Setelah itu Zahra menyampaikan keinginannya yang ingin bertemu dengan ibu dan ayahnya. "Bu, Ara ingin bertemu ibu dan Bapak. Kapan Ara boleh bertemu kalian?" Tanyanya. Ranti kemudian mengatakan, "Nanti saja, kalau di rumah sakit saat Ayah sedang menjalani terapi." Zahra dengan tulus menjawab, "Baiklah, Ibu. Ara setuju." Mereka berdua pun melanjutkan obrolan hangat, merencanakan pertemuan mereka di rumah sakit saat Ayah menjalani terapi pengobatan. Dalam sambungan telepon, Ranti, ibu Zahra, bertanya dengan penuh perhatian. "Sekarang kamu tinggal di mana, Ara?" Zahra menjawab dengan lembut, "Aku sekarang tinggal di rumah ibu mertuaku." Ranti mengeluarkan suara lega, "Syukurlah." Kemudian ia bertanya lagi, "Bagaimana kamu, betah di sana? Apa mertuamu baik?" Zahra menjawab dengan tulus, "Mertuaku sangat baik, Bu. Ibu tidak usah khawatir." Ranti merasa lega mendengarnya. "Ah, syukurlah. Ibu senang mendengarnya." Zahra kemudian menyatakan, "Oh iya, Bu, nanti kita sambung lagi ya. Sebentar lagi aku akan turun dari bis." Ranti mengiyakan, "Iya, baiklah, Nak. Tetap jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan." Zahra menjawab, "Terima kasih, Ibu. Ibu juga jaga kesehatan selalu ya." Percakapan mereka pun berakhir dengan hangat, dan Zahra turun dari bis dengan senyuman di wajahnya, merasa bahagia setelah berbicara dengan ibunya. Setibanya di rumah Attar, Zahra langsung masuk ke dalam kamarnya dan ia taka menemukan Attar. Zahra menghela nafas lega "Sepertinya Attar belum pulang. Lebih baik aku mandi sekarang, rasanya badanku lengket setelah seharian berkutat di dapur." Setelah berkata demikian, Zahra meletakkan tas selempangnya dengan hati-hati dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa senang dengan ide untuk mandi terlebih dahulu, mengetahui bahwa momen santai dan kesejukan air akan sangat menyegarkan setelah seharian yang panjang di dapur. Tak lama setelah Zahra masuk ke kamar mandi Attar masuk ke kamar dan ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Attar memilih duduk di tepi ranjang dan memainkan ponselnya ia tengah membalas pesan pada sandra. Setelah itu ia bermain game online. Setengah jam kemudian Zahra hendak keluar dari kamar mandi, dan ia hanya mengenakan handuk, Zahra tidak menyadari bahwa Attar sudah berada di dalam kamar. Saat ia membuka pintu kamar mandi, pandangannya terkejut dan wajahnya memerah begitu ia melihat Attar yang sedang duduk santai di ranjang. Zahra dengan cepat menutup kembali pintu kamar mandi, sambil berteriak kepada Attar, "Bisakah kamu keluar sebentar?" Attar mendengar Zahra, tapi ia tetap duduk diam di ranjang. Attar merasa malas menanggapi Zahra. Sadar tidak ada jawaban dari suaminya itu. Zahra merasa kesal karena Attar tidak meresponsnya. Zahra berkata dengan nada kesal "Tolong keluar dulu dari kamar, aku ingin memakai pakaianku." Namun, Attar tetap tidak menjawab. Zahra semakin kesal dan akhirnya berkata, "Maaf, tuan, apa Anda tuli?" Mendengar ucapan Zahra, Attar akhirnya menoleh ke arahnya. Ia tampak tenang saat ia berkata, "Kalau mau pakai baju, ya di sini saja, di depanku. Bukanlah kamu istriku? Kamu bahkan tetap memakai kerudung di depanku." Zahra tercengang mendengar kata-kata Attar yang begitu tegas. Ia merasa tidak percaya bahwa Attar benar-benar mau berbicara padanya dengan nada seperti itu. Zahra berkata lagi dengan rasa kesal dan memohon, "Saya mohon, tuan..." Namun, Attar memotong dengan dingin, "Kalau begitu, lakukanlah dengan sangat." Zahra merasa sangat kesal dan tak habis pikir dengan perilaku Attar. Mendengar perkataan Attar yang mengejutkan itu, Zahra hanya bisa menanggapi dengan nada rendah, "Saya mohon tuan, saya ingin memakai pakaian saya." Dengan rasa kesal yang memuncak, Attar pun akhirnya keluar dari kamar, merasa malas untuk berdebat lebih lanjut dengan Zahra. Attar keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal. Selain merasa kesal, ia juga merasa lapar setelah insiden di kamar. Ia memutuskan untuk pergi ke arah dapur dalam mencari sesuatu yang bisa memenuhi perutnya. Ketika ia melewati ruang keluarga, ia melihat Liliana, ibunya sedang duduk di sana. Liliana pun bertanya, "Kamu mau ke mana?" Attar pun menjawab, "Aku merasa lapar." Liliana tersenyum dan mengajaknya, "Sini, duduklah. Ibu punya kue yang sangat enak nih. Tadi ibu dapat ini dari teman ibu." Attar setuju dan akhirnya duduk di sofa bersama Liliana. Mereka mulai menikmati kue tersebut. Liliana, pun bertanya, "Bagaimana, kamu suka?" Attar dengan suara antusias mengatakan, "Aku suka, kue ini sangat enak." Liliana tersenyum dan menjawab, "Baguslah kalau kamu suka. Kalau kamu mau, kamu bisa habiskan semuanya. tadi ibu sudah makan satu, Ibu masih kenyang karena tadi sudah makan." Attar senang karena ia bisa menikmati cupcake yang lezat, meskipun ia masih merasa kesal terhadap insiden sebelumnya di kamar. Ia tetap melanjutkan makan cupcake itu. Attar yang lapar mulai menghabiskan tiga cupcake yang ada dalam box tersebut. Setiap gigitannya penuh kenikmatan, dan ia merasa sangat menyukai rasa cupcake tersebut. Setiap varian rasa memberikan sensasi manis yang sempurna dan tekstur yang lembut di lidahnya. Saat ia hampir selesai dengan cupcake terakhir, rasa penasarannya memuncak. Attar ingin tahu lebih banyak tentang toko yang menjual cupcake ini. Ia merasa bahwa tempat ini memiliki kualitas yang luar biasa. Attar pun menutup box cupcake dan melihat di sekitarnya, mencari tahu lebih banyak tentang toko ini. Akhirnya, matanya tertuju pada tulisan yang tertulis, "Calista Cake and Cookies." Attar tersenyum sendiri, merasa senang telah menemukan sumber cupcake yang enak ini. Ia memutuskan bahwa suatu hari nanti ia akan kembali ke toko ini dan mencoba lebih banyak varian kue yang mereka tawarkan. Saat Attar baru saja selesai minum, tiba-tiba Liliana menanyakan hal yang membuat Attar kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD