Setelah Zahra selesai menyajikan, ia pamit meninggalkan ruangan.
"Saya permisi."
Hadi mengajak Zahra untuk duduk bersama dan menikmati cupcake yang masih menghiasi piring-piring itu.
"Ara, ayo kita cicipi cupcakenya bersama," ajak Had pada Zahra.
Namun, Zahra menolak dengan sopan, mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan."
Hadi tak memaksa, dan ia membiarkan Zahra keluar dari ruang kerja Calista.
Hadi dan Calista melihat Zahra meninggalkan ruangan dengan langkah lembut. Hadi tersenyum kecil, lalu dengan penuh keingintahuan, ia mengambil salah satu cupcake dari piring.
Calista melihat tingkah laku Hadi dengan tatapan penuh arti, seakan merasakan ada lebih dari sekadar kesukaan pada cupcake di mata Hadi.
"Tampaknya dia masih sama seperti dulu, Kak. Ara suka memprioritaskan pekerjaan dan tanggung jawabnya," ucap Hadi memuji.
Calista mengangguk setuju, "Ya, memang begitu. Zahra adalah orang yang sangat tekun dalam bekerja. Itulah mengapa kue-kue buatannya selalu istimewa."
Hadi tersenyum, lalu mengambil sepotong cupcake lagi yang sudah dihidangkan oleh Zahra. Ia mencicipinya dan tak bisa menyembunyikan ekspresi kagum di wajahnya. "Rasanya luar biasa, Kak. Ara memang benar-benar ahli dalam membuat kue."
Calista tersenyum puas, "kakak sudah memberitahumu, kan? Ini adalah cupcake bestseller kami. Zahra adalah salah satu alasan mengapa kue-kue di toko kakak sangat diminati."
Hadi mengangguk setuju sambil masih menikmati setiap gigitan cupcake.
Calista dan Hadi pun melanjutkan makan cupcake sambil berbincang-bincang. Hadi menanyakan berbagai hal tentang Zahra, bagaimana dia sekarang, apa yang dia lakukan, dan lain-lain. Calista menjelaskan bahwa Zahra adalah salah satu karyawan terbaik di toko kuenya dan selalu memberikan yang terbaik dalam setiap karyanya.
Sementara itu, Zahra sibuk di dapur dengan tugasnya. Meskipun dia merasa canggung di depan Hadi, dia tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Setelah selesai dengan beberapa tugas, dia memutuskan untuk istirahat sejenak dan minum air putih sambil duduk di kursi sudut dapur.
Zahra kembali berdiri dan melangkah kembali untuk membuat kue.
Setelah berjumpa dengan Hadi. Ingatan masa lalu seketika berputar di benak Zahra. Hadi, kakak kelas yang dulu pernah mengungkapkan perasaan cintanya padanya. Namun, Zahra mengingat betul bahwa ia telah menolak tawaran Hadi untuk berpacaran saat itu.
Zahra benar-benar tidak menyangka Jika ia akan bertemu lagi dengan Hadi dalam situasi seperti ini. Hadi mungkin saja akan sering ada toko kue itu dan bertemu dengannya.
Zahra berusaha mengatasi kekacauan emosionalnya, mencoba menjaga ketenangan di tengah keterkejutan ini. Ia tahu bahwa tindakannya saat itu, menolak Hadi, adalah keputusan yang ia yakini dan tak ingin merasa menyesal. Namun, menghadapi Hadi dalam situasi seperti ini, membuatnya merasa adanya kebingungan yang sulit dihindari.
Di ruang kerja Calista, kakak beradik sedang membahas Zahra.
Calista bertanya dengan rasa ingin tahu, "Hadi, apa ada cerita antara kamu dan Zahra?"
Hadi langsung menoleh ke arah Calista, lalu menjawab dengan santai, "Ada. Dulu aku pernah menyatakan cinta kepada Ara dan memintanya untuk menjadi pacarku, namun Ara menolak." Ucap Hadi sambil tersenyum.
Calista mengerutkan keningnya, tertarik dengan cerita ini. "Zahra menolak cinta adikku yang tampan ini? Bagaimana bisa?"
Hadi tersenyum penuh pengertian, "Ara berkata tidak ingin berpacaran."
Calista menganggukkan kepala dengan pemahaman. "Oh, begitu." Kemudian ia kembali bertanya, "Oh iya, Kak, apa Ara sudah menikah?"
Calista pun menjawab, "Sepertinya belum. Kalaupun sudah, pasti dia izin cuti kerja. Namun, kalau tidak salah, kemarin Zahra pernah mengambil cuti. Tapi yang menikah bukan Zahra, melainkan Sandra, sahabatnya."
Hadi pun bernafas lega, "aku masih punya kesempatan."
"Oh, iya Sandra. Iya, aku juga mengenalnya. Sandra adalah sahabat dekat Ara."
Calista pun tersenyum. "Kamu tahu banyak ya tentang Zahra."
Hadi tersenyum, "Tidak banyak, cuma beberapa hal saja."
Calista tersenyum penuh arti, "Tapi kamu tetap tahu."
Hadi hanya tersenyum semakin lebar, ia benar-benar senang bisa bertemu dengan Ara kembali.
Sementara itu di tempat lain, Attar tengah sibuk di ruang kerjanya, tenggelam dalam pekerjaan yang diperintahkan oleh Direktur Utama. Ketika ia tengah fokus, ponselnya yang terletak di atas meja mulai bergetar. Pandangannya teralih ke ponsel, dan melihat panggilan masuk dari Sandra, ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Sandra. Ada apa, Sayang?" tanya Attar dengan cepat, terburu-buru karena pekerjaannya.
Sandra di seberang telepon menjawab, "Aku hanya ingin bicara dan ngobrol denganmu. Aku sangat bosan di sini. Aku ingin pulang dan ingin jalan-jalan."
Attar mengerutkan kening, merasa terganggu oleh panggilan tersebut. Ia mencoba menjelaskan, "Maaf, sayang. Aku tidak bisa bicara berlama-lama. Aku sedang mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan oleh direktur. Maaf ya, Sayang."
Sandra yang sedang duduk di atas tempat tidur di rumah sakit memainkan bibirnya dengan wajah kecewa. "Baiklah, tidak apa-apa," ucapnya dengan nada pasrah.
Setelah panggilan terputus, Attar memejamkan matanya sejenak. Ia merasa khawatir bahwa Sandra mungkin sangat marah atau kecewa dengan sikapnya yang terburu-buru dan tampaknya tidak bisa memberikan perhatian yang cukup pada saat itu.
Sore harinya, Zahra telah selesai bekerja dan melangkah keluar dari toko kue milik Calista. Saat ia berdiri di depan toko, seseorang memanggilnya dengan lembut. Zahra pun menoleh dan tersenyum saat menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Calista.
"Zahra, mau pulang bersama? Ayo naik mobilku."
Namun, Zahra menolak tawaran tersebut dengan sopan. Ia menjelaskan, "Maaf, mbak. Saya ada kepentingan dahulu yang berlawanan arah dengan rumah Mbak."
Calista mengangguk dengan pengertian. "Oh iya. Kalau begitu, hati-hati di perjalanan ya."
Zahra tersenyum mengucapkan terima kasih, lalu melihat Calista meninggalkan tempat itu dengan mobilnya. Zahra pun melanjutkan langkahnya sendiri, menuju ke arah yang berlawanan.
Setelah kepergian Calista, Zahra menunggu dengan sabar di halte bus, menatap jalan yang mulai ramai. Waktu terus berjalan, dan bus yang dinantikannya akhirnya tiba. Dengan mantap, ia masuk ke dalam bis. Sekarang sudah pukul lima sore dan ia akan pulang ke rumah Attar.
Sementara itu, di tempat lain, Attar baru saja tiba di rumah sakit. Ia membawa sebuah bingkisan yang ingin diberikan kepada Sandra. Saat ia memasuki ruang perawatan, Sandra berada di sana.
"Halo, Sayang. Aku membawa sesuatu untukmu."
Sandra pun tersenyum bahagia melihat kedatangan Attar. "Oh, terima kasih, Sayang. Kamu selalu memberikan kejutan yang manis."
Attar memberikan bingkisan tersebut kepada Sandra, lalu duduk disisi tempat tidur Sandra. Ia ingin meminta maaf kepada Sandra karena tadi siang tidak bisa mengobrol terlalu lama dengannya.
"Maaf, tadi siang aku terburu-buru. Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."
Sandra tersenyum dengan pengertian. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti bahwa kamu juga memiliki tanggung jawab pekerjaan."
Sandra dan Attar masih dalam obrolan yang penuh kasih di ruang perawatan rumah sakit. Sandra, dengan rasa bahagia di hatinya, tiba-tiba menanyakan sesuatu yang menggantung di pikirannya.
"Attar, kapan kita akan melaksanakan pernikahan yang tertunda?"
Sebelum Attar sempat menjawab, tiba-tiba Nessa, ibu Attar, masuk ke dalam ruangan dengan senyum di wajahnya. Ia dengan lembut menjawab pertanyaan Sandra atas nama Attar.
"Sayang, ibu tidak ingin kamu buru-buru menikah. Yang penting sekarang adalah kesembuhanmu."
Sandra tersenyum, merasa terharu oleh perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ibunya. "Tentu, Bu. Kesembuhan adalah yang terpenting."
Attar tersenyum lega mendengar respons Sandra yang bijaksana.
Disisi lain Zahra masih berada di dalam bis, dan ia merasa getaran di ponselnya. Zahra melihat siapa yang menelpon.