Lelaki yang Menyukai Zahra

1041 Words
Di ruang sakit, Attar duduk di samping Sandra sambil mengamati ponsel gadis itu. "Kamu sedang bertukar pesan dengan siapa, Sayang?" tanya Attar dengan rasa ingin tahu. Sandra melihat ke arah Attar dan menjawab, "Dengan sahabatku yang paling setia. Zahra." Mendengar nama Zahra, Attar hanya memberikan jawaban yang singkat, "Oh." Sandra merasa penasaran dengan reaksi Attar terhadap Zahra, jadi dia melanjutkan, "Aku heran deh kenapa sih kamu ga suka dengan Zahra? Padahal dia sholehah loh. Beda denganku." Attar mengangkat bahu acuh tak acuh. Sandra menggelengkan kepala dengan ekspresi tak percaya, lalu berkata, "Kalau aku berkerudung seperti Zahra dan tertutup. Apa kamu tak akan menyukaiku?" dia bertanya sambil membandingkan dirinya yang tidak berkerudung dengan Zahra. Attar menyimpan piring makanan yang sedari ia pegang ke atas meja, lalu mengambil gelas dan menyerahkannya pada Sandra. Sambil menatap ke arah lain, Attar berkata, "Jangan bahas dia. Tidak penting." Sandra mengambil gelas dari tangan Attar, lalu melanjutkan dengan senyuman, "Jangan terlalu begitu. Nanti kalau kamu suka sama Zahra, aku juga yang repot. Apalagi sampai detik ini Zahra belum pernah pacaran." Attar tak menanggapi ucapan Sandra. Sementara itu Zahra tiba di toko tempat dia bekerja, sebuah toko kue terkenal di pusat kota Calista Cake and Cookies. Ia memiliki peran penting sebagai salah satu pembuat kue di toko tersebut. Walaupun Zahra memiliki kemampuan untuk menjadi kasir, sang pemilik toko memilih agar Zahra tetap berada di bagian dapur, karena sejak Zahra terlibat dalam pembuatan kue, penjualan toko tersebut meningkat pesat. Saat Zahra berada di dapur, Calista wanita muda, sang pemilik toko, memasuki area itu dan dengan ramah menyapa, "Hai Zahra, apa kabarmu?" Zahra menjawab dengan senyum, "Saya baik, Mbak." Calista meminta Zahra untuk membuat cupcake dengan tiga varian rasa: green tea, coklat, dan red velvet. "Tolong buatkan cupcake ya, Zahra. Adikku akan datang dan dia sangat ingin mencicipi cupcake bestseller dari toko ini," ucap Calista. Zahra mengangguk dengan senyum, "Tentu saja, Mbak." Setelah Calista pergi, Zahra mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat cupcake. Ia bersemangat mengambil tepung, gula, telur, dan berbagai bahan lainnya. Dengan penuh konsentrasi, Zahra mulai mencampurkan bahan-bahan tersebut, mengukur proporsi dengan teliti, dan mengocok adonan dengan hati-hati. Ia sungguh berbakat dalam membuat kue, dan setiap langkahnya dilakukan dengan penuh perhatian. Dan di tempat lain Attar sedang dalam perjalanan di mobilnya, ia sedang menyetir menuju kantor tempatnya bekerja. Saat di jalan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Attar melihat dan ternyata panggilan masuk dari Keanu, asisten pribadi direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Attar segera menerima panggilan tersebut dan suara Keanu terdengar dari seberang telepon, "Attar, kamu dimana? Tuan Dirut mencarimu di ruangan kerjamu, tapi kamu tidak ada!" Attar merasa panik mendengar itu dan dengan cepat ia menjawab, "Maaf, saya lupa meminta izin. Saya baru saja dari rumah sakit karena calon istri saya mengalami kecelakaan." Suara Attar terdengar tergesa-gesa, mencoba memberikan penjelasan kepada Keanu tentang alasan ketidakhadirannya di kantor. Setibanya Attar di kantor dengan langkah cepat ia masuk ke ruang kerjanya. Namun, di dalam ruangan tersebut, ia langsung merasa terkejut melihat Keanu dan juga direktur utama, Argadana sedang berada di sana. Keanu yang berdiri memberikan isyarat kepada Attar, memberi kode agar Attar segera mengambil tindakan. Dengan sedikit ragu, Attar mendekati meja tempat Argadana duduk. Dengan penuh rasa hormat, ia berkata, "Permisi, Tuan. Saya ingin meminta maaf karena datang terlambat dan tidak memberi izin terlebih dahulu." Argadana melihat Attar dengan tajam, lalu mengangguk singkat. "Saya sudah menunggumu sejak tadi, Attar. Saya Ingin semua pegawai di perusahaan ini profesional, disiplin waktu sangat penting. Saya berharap kamu bisa lebih bertanggung jawab dalam hal ini." Attar merasa tertegun mendengar kata-kata Argadana. Ia mengangguk mengerti, "Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan. Saya akan berusaha untuk lebih baik kedepannya." Argadana hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa Attar bisa kembali ke pekerjaannya. Setelah itu Argadana diikuti Keanu keluar dari ruang kerja Attar. Attar pun kembali ke meja kerjanya dengan perasaan agak cemas, berusaha untuk fokus pada tugas-tugasnya hari itu. Setelah Argadana dan Keanu keluar dari ruangan kerja Attar, suasana pun menjadi lebih tenang. Attar duduj di meja kerjanyaz memejamkan matanya sejenak, merenungkan kata-kata dan peringatan yang baru saja ia terima. Dalam hatinya, ia merasa sedikit tertegun oleh teguran tersebut. Dengan suara pelan, Attar berbicara pada dirinya sendiri, "Baru kali ini aku mendapat teguran seperti ini. Tidak boleh lagi. Aku harus lebih disiplin dalam mengatur waktu dan pekerjaan. Aku punya potensi untuk naik jabatan tahun ini, dan aku tidak boleh melewatkan kesempatan itu." Dalam hati, Attar merasa semangat baru muncul. Ia merasa perlu untuk lebih fokus, bekerja lebih keras, dan menunjukkan dedikasi yang lebih besar terhadap pekerjaannya. Meskipun teguran tersebut mungkin terasa kurang menyenangkan, Attar memutuskan untuk memanfaatkannya sebagai cambuk motivasi untuk dirinya sendiri. Di toko Calista Cake n Cookies, Calista menghampiri Zahra dengan langkah ringan, melihat cupcake yang masih mengepulkan aroma lezat. "Harum sekali," ucap Calista sambil mencium udara. Dia kemudian meminta Zahra untuk menyajikan cupcake tersebut di ruangannya di lantai dua. "Zahra, adikku sudah menunggu di ruanganku. Bantu aku mengantarkan cupcake ini, ya!" Zahra mengangguk dan mengikuti Calista menuju lantai dua tempat ruang kerja Calista berada. Zahra naik tangga dengan hati-hati, masih mengenakan apron dapur. Sambil berjalan, Calista berbicara, "Adikku akan bekerja di kota ini. Aku sangat bangga padanya." Zahra tersenyum dan menjawab, "Alhamdulillah, Mbak." Sesampainya di ruangan Calista, mata Zahra tertuju pada seorang lelaki berpakaian rapi yang berdiri di sana. Zahra cepat-cepat menundukkan pandangannya sambil meletakkan cupcake di atas meja. Zahra meletakkan dengan lembut cupcake-cupcake yang indah di atas meja. Cahaya lembut ruangan menerangi karya seninya yang menggugah selera. Tak berapa lama, suara lembut "Ara" merayap masuk ke telinganya. Zahra perlahan mengangkat wajahnya dan melihat ke arah sumber suara itu. Matanya memenuhi wajah seorang lelaki yang dikenalnya sebagai kakak kelasnya, Hadi. Sorot mata mereka bertemu sejenak, memunculkan kilatan kenangan dari masa SMA. Calista yang ceria tidak ragu untuk bertanya apakah mereka saling mengenal. "Apa kamu mengenal Zahra?" Tanya Calista pada Hadi. Tersirat senyum di bibir Hadi saat ia mengangguk, mengakui bahwa Ara adalah adik kelasnya, "Ara adik kelasku saat SMA." Calista dengan ceria menjelaskan bahwa cupcake-cupcake tersebut adalah hasil karya Zahra. "Ayo, cicipi. Buatan Zahra loh," ajaknya dengan semangat. Hadi tak ragu langsung menanggapi dengan antusias, "Pasti." Setelah Zahra selesai menyajikan, ia pamit meninggalkan ruangan. "Saya permisi." Hadi mengajak Zahra untuk duduk bersama dan menikmati cupcake yang masih menghiasi piring-piring itu. "Ayo kita cicipi cupcakenya bersama," ajak Hadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD