Wedding...

2929 Words
Di Texas Rina menyewa Apartmen bersebrangan dengan Sisi, sahabat kecilnya. Rina akan stay selama setahun. “Semoga dapat jodoh bule neng.” Goda Sisi “Semoga.” Senyum Rina. Rina menikmati cuaca yang lumayan sejuk. Sisi sangat pandai menghibur hati sahabatnya agar selalu bahagia. “Asyiiiik yah di sini.” Rina mencium anjing kesayangannya puppy. Rina belum dapat melupakan Seno Prayoga. Seno selalu hadir dalam kerinduan hatinya. Rina nggak tau, apakah dia bisa memaafkan Seno.? Rina selalu melihat pesan dari Seno, dari awal berjumpa, melihat fhoto - fhoto Seno yang di kirim Bram. Rina resaign dari kerjaan, Aldo melanjutkan proyek perusahaan mereka. “Kapan kamu mau balik, kita masih siap menerima kamu Rin.” Kata - kata Aldo terakhir waktu mengantar Rina ke Bandara. Sisi dan Irham balik deluan ke Texas, sementaa Rina mempersiapkan visa izin tinggal. Semua panggilan Seno tak pernah di angkat lagi. Rina benar - benar membenahi diri untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan di negeri pamangsam. Rina wanita paling beruntung di dunia, semua yang dia inginkan selalu tersedia. Rina tidak manja, dia selalu berusaha berdiri di kakinya sendiri. Agar tetap bisa betahan saat goncanngan itu tiba. Rina berpapasan dengan seorang pria di seberang jalan. Melihat menuju gedung apartmen Sisi. “Siapa tamu barusan Si.?” Menggunakan woddy putih dengan menggunakan topi dan kaca mata hitam. “Hmmmmmmm… temennya Irham.” Sisi mempersilahkan Rina masuk dengan gaya yang tak seperti biasa. Rina melihat sebuah amplop coklat bertuliskan nama Seno Prayoga.”Si… ini nama Seno.?” “Aduuuh..” Sisi cepat mengambil amplop tersebut dari tangan Rina. “Kamu nggak nyembunyikan apa apakan Si, dari gue.?” Tanya Rina kesal melihat amplop itu. Perasaan Rina mulai tak nyaman. Rina memohon izin untuk balik ke apartmen. Sisi merasa nggak enak karena keteledorannya, berharap Rina akan baik - baik saja dengan kejadian siang ini. Minggu pagi Rina sibuk menghabiskan waktu di taman bersama anjing kesayangannya. Begitu indah duduk di taman pagi itu. Membuat Rina hanya fokus mengurus anjing sambil membaca buku. Duduk sendiri, mengawasi anjingnya. “Hallo..” sapa seseorang dengan suara tak asing di telinga Rina menyapa . Rina melihat orang tersebut dengan keanehan. “Hmmmm…” “How are you.?” Seno membuka kacamata. “Abaaaaang.” Rina memukul pria itu dengan keras. “Aduuuuuuh… sakit. Duuuuh…” Rina berusaha tenang dengan kehadiran Seno di Texas. Tersenyum, merasa semua seperti mimpi. “Abang mencari kamu lama.” Jelas Seno. “Oya…?” “Hmmmmm… kamu makin cantik.” “Pasti.” “Kapan ke Bandung.?” “Mau di sini dulu.” “Oooooh.” “Anjinya lucu.” Tunjuk seno. Seno mengambil tangan Rina. “Mau kah menikah dengan Abang.?” Seno berdiri di hadapan Rina. Rina nggak kuat menahan rindu, langsung berdiri dan memeluk Seno. “Neng kngen abang.” Tangis Rina pecah seketika. “Kita pulang yah. Abang mohon. Jangan pergi lagi.” Rina tak melepaskan pelukan Seno. Seno memanggil anjing puppy dan membawa Rina balik ke apartmen. Seno tak melepas pelukan awal bertemu Rina. Seno ingin mengulang kembali semua kisah yang pernah di lalui bersama Rina. Rina pergi menemui Sisi, meminta berkas Seno kembali. Ternyata isinya adalah surat non aktif Seno selama 6 bulan ke depan. “Mulai dari awal neng.” Saran Sisi. Rina tersenyum. Seno tinggal nggak jauh dari kediaman Rina. Hanya 2 blok dari tempat Rina. Malam yang dingin Rina habiskan waktu sendiri di kamarnya. Tiiiiing toooong….. Rina melihat Irham dan Sisi di balik pintu. “Heeeeeeiii…” Sapa Sisi. “Nggak kmana mana kah.?” Tanya Irham. Rina tersenyum. Tak menjawab pertanyaan pasangan super seru itu. “Seno nggak ke sini.?” “Kamu kepo yah darl.” Ledek Irham. “Seno lagi ada urusan, Rina buka suara.” Sambil tersenum. Irham dan Sisi saling bertatapan. Meyakinkan hati mereka, bahwa Rina baik – baik saja. ‘Butuh waktu untuk kita berfikir mencari yang terbaik untuk semua dan diri sendiri. Pergi bukan untuk menghindar, melainkan memposisikan diri di posisi dia.’ Sisi melihat sebuah catatan kecil di buku Rina. “Loe nggak nolak Seno kan Rin.?” Tanya Sisi penasaran. “Gue masih berharap kok.” Rina tersenyum. Ternyata Seno sudah berdiri dari tadi di belakang Rina. Sisi dan Irham sengaja mengundang Seno malam ini untuk minum whine bersama. Karena cuaca sangat dingin. Rina menyiapkan 2 botol whine yang di beli di supermarket deket apartmen. “Udah…. Gue aja. Sana temanin Seno.” Sisi mengerti akan sahabatnya. Rina menarik tangan Seno ke dalam kamar yang sangat besar dan indah view kalau malam. “Masih sayang yah.” Seno mencium pipi Rina. Rina langsung memeluk Seno, “Neng kangen sama abang, kngen banget.” Rina memeluk Seno erat hingga malam semakin larut. Seno merasakan apa yang di rasakan Rina,”perasaan kita sama geulis.” Goda Seno. Rina mencium bibir Seno, meyakinkan hatinya. Seno membalas dengan penuh perasaan rindu dan cinta. “Apa akan seperti kemaren.?” Tanya Rina. Seno membalas ciuman itu lagi, dan lagi. “Apakah Arjuna tak pernah menyentuh mu.?” Pertanyaan Seno membuat semua terhenti. “Apa itu penting.?” Balas Rina. “Nggak penting, hanya ingin semua lebih jelas.” Goda Seno lagi. “Menurut Abang.?” “Sudah ada di kertas.” Ledek Seno. “Apa kertas itu cukup,” Rina melanjutkan. “Entahlah…. Yang pasti neng membuat Abang gila beberapa tahun ini.” Sisi menggedor kamar Rina. “Rin…. Gue balik yah.” Rina berlari membuka pintu kamar. “nggak nginep.?” Ejek Rina. “Hmmmmmm….. kayaknya akan menjadi sejarah, gue nggak mau jadi saksi.” Sisi pergi sambil menggandeng tangan Irham. “See you.” Rina menutup pintu apartmen. Seno masih tertidur di kamar Rina, berdiri sambil mencari makanan. “Laper neng.” Rina mengerenyitkan kening, sambil menunjuk kulkas yang berada di depan Seno. Seno mencari beberapa makanan kecil. “Apa kegiatan neng sekarang.?” “Membantu Papi, seperti Sisi.” “Oooh… nggak nerusin kuliah seperti Irham.?” “Usia sudah 28 lebih bang. Belum kepikiran. Masih menikmati indahnya kesendirian.” Jelas Rina. “Sweet…” Goda Seno. “Abang besok akan balik ke Jakarta.” Rina terkejut. “Why.?” “Rindu Jakarta.” Suara Seno menggoda. Rina berlari kearah Seno memeluk dan mencium bibir Seno. Seno yang dalam pengaruh whine malam itu sangat menggebu menerima ciuman Rina. Rina menciumi Seno, takut akan kehilangan lagi. Seno menikmati tubuh gadis itu. Rina yang menggunakan baju kaos tipis dan celana pendek, tak kuasa menerima sentuhan dari tangan Seno, begitu hangat, sempurna. Kecupan Seno di lekukan tubuh Rina membuat tubuh Rina menggeliat penuh gairah. Satu persatu Seno melepaskan pakaian Rina, bra, dan celana pendeknya. Seno melihat seluruh tubuh Rina yang sangat bersih dan mulus. Seno membuka baju dan celana jeansnya. Mereka hanya menggunakan celana dalam. Rina benar benar terangsang. Melihat tubuh mulus Rina, perlahan Seno ciumi dari bibir, payudara yang mengeras menantang, menjilati semua bagian perut Rina. Tubuh Rina menggeliat, berharap Seno akan memberikan semua. Seno membuka g-string yang di gunakan Rina, menjilati bagian intimnya. Memainkan lidahnya di area bibir v****a Rina yang sangat bersih dan wangi. Rina menggelinjang, mendesah hebat meminta Seno melakukan sesuatu. Seno tak sanggup menahan semua desakan Rina, hingga akhirnya Seno memasukkan perlahan penisnya yang dari tadi berharap dapat pelabuhan terindah pada v****a Rina. “Abaaaaaaang…” Rina merintih kesakitan. Seno tau, ini takkan mudah baginya. Seno mengeluarkan penisnya yang hampir masuk menembus keperawanannya, mencoba merangsang Rina kembali. Rina memeluk Seno erat, sambil berbisik “sakiiit bang.” Rintih Rina manja.Seno menenangkan Rina. Mengurungkan niat untuk itu. Seno betul - betul tak tega mendengar rintihan Rina. Seno mencium tubuh Rina, yang masih kurang nyaman karena perasaan perih di bagian vaginanya. Seno terus mengusap tubuh mulus itu .“Kenapa berhenti bang.?” Suara Rina masih penuh gairah. Seno menatap wajah Rina meyakinkan hatinya.”kita tidur aja.” Jujur Seno tak sanggup melakukan semuanya. Seno tak bisa mengulangi kesalahan dan melanggar komitmen pada dirinya sendiri. Seno takut mengecewakan keluarga dan orang tua Rina. Nggak mudah bagi Seno. ”Kok tidur.?” Bisik Rina. Seno yang masih belum stabil, hanya tersenyum, menahan rasa. Rasa yang hanya bisa di rasakan oleh Pria. “Abang… neng sayang abang.” Seno memeluk tubuh Rina, hingga Rina merasa nyaman. “Seperti inikah.?” Tanya Rina yang berada di pelukan Seno. “Hmmmmm.” Seno menciumi wajah Rina yang mulai terbuai oleh mimpi. Rina terlelap dengan sendirinya di pelukan Seno. Perlahan Seno duduk memasang bajunya, melihat Rina sudah terlelap. Seno mengambil hpnya, menelfon Papa yang berada di Bandung. “Pa… segera urus pernikahan Seno. Seno akan menikahi Rina di Jakarta.” Pinta Seno. “Apa…? Kamu sudah yakin.?” Papa meyakinkan putranya. “Sudah. Segera. Seno nggak bisa terlalu lama begini.” Jelas Seno. “Baik.”Papa tersenyum, memberitahu kepada istrinya. Seno menutup telfonnya kembali ke ranjang Rina. Melanjutkan tidur di samping Rina. takkan membiarkan Rina kesepian. Seno menatap wajah gadis di sampingnya, yang begitu cantik. Seno mengelus punggung Rina membuat Rina makin nyaman tidur malam itu. ‘Bahagia ku melihat mu neng.’ Rina terbangun dari tidurnya, melihat wajah Seno yang sangat tampan pagi itu. Rina menciumi Seno. “Banguuuun….” Masih sambil menciumi Seno, yang sengaja membuka matanya sebelah. a panjang. “Siap komando.” Sahut Seno. Rina yang mendengar bergegas menyiapkan sarapan untuk Seno. Seno menutup telfon, memeluk Rina dari belakang, bebisik “Pernikahan kita akan segera dalam tiga hari ini.” Rina mendengar sangat senang. “Kita balik yah ke Jakarta.?” Pinta Seno. “Apaaa.? Mesti hari ini.?” Rina agak kesal. “Ya…. Abang nggak mau jauh dari neng.” “Gombal.” Rina berlari masuk ke kamar mandi. Saat Seno sedang bersiap siap Rina video call Mami, “Mi, mami ke sini yah.?” “Kamana neng…? Ke Texas.? Mbung, Mami mau jalan – jalan ke Jakarta ama Papi. Mami tunggu neng di Jakarta yah.?” “Mami…” Rina merengek seperti anak kecil hingga terdengar oleh Seno. Tanpa di sadari Rina, Seno meng iya kan untuk segera balik ke Jakarta. Rina menutup segera sambungan telfon, karena takut di ketahui Papi. Semua sudah di ketahui oleh Pak Brata. Tentang Seno dan Rina. Rina ingin semua seperti kehendaknya. Tapi tidak dengan keluarga mereka. Harus pulang. “Bang… kita di sini aja yah.?” “Neng… kita harus balik ke Jakarta. Harus. Abang nggak mau kita terus begini. Dosa neng.” Tegas Seno. Rina terdiam.”Kan bisa menikah di sini.?” “Balik neng.” Sudah setahun lebih Rina menghabiskan waktu di Texas. Merasa terbiasa dan nyaman, tapi Rina harus mengikuti saran Seno dan Mami untuk tetap balik ke Jakarta. Sisi memeluk Rina di bandara Dallas Fort Wort . Mengucapkan selamat pada Seno. Berharap semua menjadi lebih baik. “Baik baik jadi istri.” Celetuk Sisi. Rina hanya tersenyum, mendengar nasehat sahabat kecilnya. Irham tersenyum, “ini baru permulaan, belum ending, awal masih mesra, belum ngambek, cemburu, manja, beeeeegh.” Seno terbahak mendengar ucapan Irham. “Setidaknya saya tau gimana Rina.” Seno menatap Rina seraya menggoda. “See you darling.” Sisi memeluk erat Rina. Irham memeluk Seno dan Rina tanda salam perpisahan. Penerbangan yang melelahkan bagi Rina untuk sampai di Jakarta. 27 jam, Seno bisa menemani Rina yang terkadang badmood dalam penerbangannya. “Abang, setelah menikah kita stay dimana.?” “ Terserah neng. Bandung atau Jakarta.?” “Balik ke Texas lagi yah.?” Pinta Rina. “Hmmmmm…. Susah donk neng,” jelas Seno. “Abang masih bolehin neng kerja kan.?” Seno terdiam. Sambil memeluk tubuh Rina yang tampak lelah. Seno sangat menyayangi Rina.”Hmmmm…. abang mau, neng stay at home aja. Nemanin Mami dan Mama.” Rina hanya mendengarkan pinta Seno tanpa menjawab Ya atau Tidak. Setiba di Bandara Soeta, Rina dan Seno berpisah. Menunggu peresmian pernikahan mereka. Rina balik ke apartmen, Seno ke rumah Papa yang di Jakarta. Pertemuan kedua keluarga sudah selesai, pernikahan akan di adakan di Gereja ternama di Jakarta. Hanya pernikahan saja, tanpa resepsi. Karena setelah menikah, Seno akan di kirim ke Australia, selama setahun. Rina baru melihat jadwal yang di berikan Papi, begitu tiba di kamar apartmen. Rina mendapat surat resmi dari kantor Seno, untuk penempatan selanjutnya. Perasaan Rina bercampur aduk, antara bahagia atau sedih. Ini pilihan, yang harus di tentukan. Rina memeluk Mami yang dari tadi menemani Rina di dalam kamar. “Mi, apakah menjadi Istri harus patuh terhadap suami.?” Rina mencoba gaun pengantin yang akan di pakai ke acara sacral pernikahan besok. “Ya ho oh atuh neng.” Mami sambil memeriksa hp android seri terbarunya. Papi sangat takjub melihat Rina mengenakan baju pengantin yang sengaja di siapkan Mami dari Bandung. “Beautiful geulis Papi.” Papi memeluk Rina menangis haru melihat putri semata wayang akan melepas masa lajangnya sebagai seorang istri, Seno Prayoga. “Cantik ken Pi… memang anak kita geulis.” Peluk Mami. Mami Papi meminta Rina untuk tenang. “Papi tau telah tiba masanya neng.” Mata papi memerah tak dapat membendung tangis harunya. “Papi… neng akan ikut apa kata abang. Neng akan menjadi istri yang baik.” Rina memeluk Papi. “Malam ini neng mau bobo sama Papi.” Pinta Rina manja. Papi menggendong putrinya ke ranjang, tanpa menjawab permintaan Rina. “Neng, ini adalah asset neng, yang selama ini Papi kumpulkan untuk neng.” Rina menerima sebuah amplop coklat yang di beri pita merah. Rina membuka melihat semua isi surat berharga dan ATM. Dengan jumlah yang sangat besar. Rina memeluk Papi,”terimakasih pi.” Tangis Rina pecah dalam pelukan Mami dan Papi. Pagi pernikahan Seno dan Rina. Tangan Rina yang dingin di gengam oleh Mami di dalam ruangan sebelum menuju altar. Rina menggunakan gaun pengantin berwarna putih, make up lebih natural menunjukkan kesederhanaan gadis desa yang cantik serta anggun. Papi masuk ke dalam ruangan, untuk menggandeng putrinya berjalan menuju altar. “Rina nervers Pi.” “Trust me.” Senyum Papi. Di depan pintu menuju altar, beberapa kerabat Papi dan Papa Seno tampak terlihat. Rina di sambut pedang pora sebelum sampai ke tangan Seno. Semua mata tertuju pada Rina. Elegant, cantik, sangat berseri. Rina tersenyum memandang Seno yang sudah berdiri gagah menanti bersama seorang Pasteur. Seno tersenyum melihat Rina, di gandeng Papi. Tampak Aldo dan Jessy di sebelah kirinya. Bram di sebelah keluarga Seno. Ada beberapa tamu yang Rina tak mengenalnya, undangan sangat terbatas. Rina sampai altar di terima Seno. Seno sangat tampan menggunakan jas putih, membuat mata Rina tak berkedip. “Bagitu tampan.” Bisik Rina. Pasteur melakasanakan pernikahan sakral, secara spiritual Rina bukan gadis yang jauh akan Tuhan, melainkan kesuksesannya berkat keyakinan dan kegigihan keluarga campur tangan Tuhan di dalamnya. “Seno Prayoga, bersediakah kau menerima Rina Prameswary Brata sebagai istrimu, dalam susah dan senang, sakit dan sehat mu.?” “Bersedia.” Suara tegas Seno bergetar, menatap Rina yang ada di hadapannya. “Rina Prameswary Brata, bersediakah kau menerima Seno Prayoga sebagai suamimu, dalam susah dan senang, sakit dan sehatmu.?” “Bersedia.?” Suara lembut Rina menggetarkan seluruh ruangan. “Pakaikan cincin ini Seno pada strimu dan Rina pada suamimu. Atas nama Bapa Putra dan Roh Kudus kalian sah menjadi suami istri.” “Apa yang di persatukan Tuhan tidak bisa di pisahkan oleh manusia.” “Amiiiin.” Seno dan Rina terharu, hari ini mereka sah menjadi suami istri. Seno membuka slayer putih yang menutupi wajah Rina. Rina tersenyum melihat suami tampan ada di hadapannya. “Berikan ciuman mu Seno. Tuhan telah mempersatukan kalian.” Pasteur meberikan tetesan air sakral. Seno mencium bibir Rina dengan lembut. Saat ini mereka sudah sah secara Agama dan Negara. Rina menggandeng Seno untuk keluar dari dalam Gereja. Di sambut gemuruhnya Pesta di depan gedung Gereja. Begitu hikmat untuk kedua keluarga. Rina melemparkan bunga kepada kerabat yang belum menikah. Seno benar – benar beruntung mendapakan Rina. Karier Seno juga di bantu full dari Papi secara materi, tanpa sepengetahuan Rina. Seno dan Rina akan segera berangkat ke Australi, setelah sehari pernikahan mereka. Acara keluarga selanjutnya di lakukan secara tertutup, berlanjut di kediaman Jendral. Begitu penuh suka cita. Beberapa kerabat yang hadir ikut bahagia. “Congret yah Sen.?” Bisik Jessy, saat Seno berada di depan minuman yang akan di ambil untuk istrinya. Seno mengulurkan tangannya, “Thanks Jessy for coming.” “You look more handsome Sen.” Goda Jessy. “Of course, sure… nice to meet you, happy for you Jessy.” Seno meninggalkan Jessy. “Are you going to take Rina to Australi Seno.?” Jessy berteriak kecil. Langkah Seno terhenti, membalikkan tubuhnya, “Ya. Everything will be fine.” Rina melihat kea rah Seno, menunggu kehadiran Seno yang akan mengambil minuman untuk Rina. “Are you sure all will be well,? does Rina not know our relationship.?” Jessy menantang. Seno terdiam,”Everything will be fine, I will make sure of it.” Tegas Seno menatap mata Jessy, pergi meninggalkan Jessy. Perasaan Seno tak menentu. Berusaha menutupi di depan Rina. “You oke.?” Tanya Rina. “Ya… I’m oke.” Seno tersenyum. “Neng, Mami is going home to Bandung, if anything happens, call mami. Oke geulis.?” Mami memeluk Rina salam perpisahan. “Baik – baik sama Seno. Mami sayang neng.?” Mami mencium kening putrinya. “Seno, take care of Rina, don’t hurt him. Now Rina your responsibility, Mami believe in you.” Seno memeluk Mami. Begitu banyak pesan Papi dan Mami sebelum Seno menikahi Rina. Sangat banyak. “Bang… apa kita menginap di sini.?” “Nggak neng. Kita ke apartmen aja. Atau neng punya planning lain.?” Goda Seno Rina memberi satu amplop. Ini dari Aldo. Untuk malam indah kita. Seno memeluk istrinya yang sangat polos juga baik hati. Acara selesai. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD