Di atas meja, sebuah benda bulat dengan angka-angka yang melingkar tengah menunjuk waktu yang telah disetel. Berbunyi nyaring hingga membuat dua insan yang tak saling sadar melepas pelukan masing-masing. Menggeliat bagai ulat yang hendak berubah jadi kepompong.
Fatih membuka matanya karena merasakan pegal pada bagian tangan kanannya. Siapa sangka, dia melihat Rani sudah tak memakai jilbab lagi dan tidur di atas sebelah tangannya. Fatih hendak memindahkan kakinya yang tertindih sebelah kaki Rani. Namun, dalam hati jangan sampai gadis itu ikut terbangun atau melihatnya dalam keadaan begini.
Ketika mata terfokus hanya pada wajah, Fatih melihat raut yang begitu polos terlelap seperti bayi tanpa dosa. Rambut yang panjang dan berwarna hitam pekat itu sedikit menutupi pipi. Oleh pemuda itu disibak hingga ke belakang telinga. Putih bersih dan lembut bagai kapas, Fatih tak sadar ia telah membelainya.
Rani pun membuka mata karena terganggu dengan sentuhan-sentuhan itu. Digaruknya dengan telunjuk pada bagian yang terkena kulit tangan Fatih tadi. Senyuman tipis mengurai kagum pada sisi manis sang gadis, Fatih terus menatapnya hingga sebuah gerakan kelopak mata akhirnya melihat cakrawala dunia.
"Fatih!"
Rani mundur dan mengecek seluruh badannya. Masih lengkap, hanya saja jilbab sudah tak karuan. Lain halnya dengan Fatih yang berpura-pura tertidur. Ia memang sengaja, sampai Rani pergi dari sana.
Di kamar mandi terdengar guyuran air. Fatih pun membuka matanya. Kembali lukisan manis yang tercipta dari dua bibir bertumpuk. Ia bangkit dan menyibak selimut. Mencari handuk dan mandi di kamar mandi sebelah.
Air sudah mengguyur seluruh tubuhnya yang tampak lekukan perut hingga ke semua badan. Merata terdapat urat yang terlihat dirawat sehingga mendapat julukan roti sobek berjalan. Selesai dengan ritual di kamar mandi, ia menutup diri hanya dengan handuk segi empat.
Sebagian tubuh terekspos jelas. Saat ia memasuki kamar lagi, Rani tiba-tiba berteriak dan menutup wajah karena melihat penampilan Fatih.
"Tidak usah berlebihan! Aku masih menutup auratku. Nih!" Fatih menunjuk pusatnya yang tertutup hingga lutut yang tak terlihat.
"Tetap saja, Fatih! Kau harus cepat keluar. Ambil bajumu dan ganti di kamar lain saja!" Rani yang masih membelakangi pemuda itu mengangkat tangannya menuju pintu keluar.
Oleh Fatih, keadaan seperti itu malah memberikan kesempatan menurutnya. Ia bisa mengerjai Rani sepuasnya. Membuat Rani pasrah misalnya.
Seringai sinis terkesan menghina. Pemuda itu menarik setelan kantornya dan ke kamar mandi. Rani pun buru-buru menyiapkan diri. Ia harus lebih cepat daripada Fatih. Selesai semua apa yang dipersiapkan, Rani pun keluar menuju ruang makan yang terdapat Bram di sana.
Pria tua itu tampak segar dan menikmati jamuan pagi. Salat sayuran dan segelas s**u khusus yang tertera umur pada kemasan.
"Pagi, Pa." Rani segera mengambil posisi.
"Pagi, Nak. Mana si Fatih? Sepertinya semalam kalian nyenyak sekali hingga bangun sesiang ini." Bram tertawa.
"Hah?" Rani pun terkejut dan menoleh pada jam bandul yang teronggok di sudut ruangan. Senyum menyengir ala kuda tampak memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.
"Pagi, Pa?" Fatih datang. Ia langsung duduk di sebelah Rani. Bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Pagi. Fatih, apakah kalian memerlukan liburan berdua? Papa akan siapkan sepasang tiket untuk kalian ke Maldives Minggu ini kalau perlu. Urusan kantor lupakan dulu, hari ini Papa bahagia sekali. Mungkin untuk pekan depan sudah bisa ngantor lagi." Kembali tawa Bramantyo menggema.
Fatih dan Rani hanya saling melempar pandangan. Tak merespons apapun. Fatih memendam kecurigaannya pada pria itu. Namun, seutas kata pun tak keluar dari mulutnya.
"Fatih!" teriak Rani. Mengikuti langkah panjang dari si pemilik wajah tampan.
Tak mau mendengar bahkan pemuda dengan jas dark blue itu semakin mempercepat langkah kakinya.
"Fatih, tunggu! Apa kamu enggak tuli?" Rani berhenti.
Begitu juga dengan Fatih saat kata terakhir Rani berpusat pada pendengaran. Ada yang membakar di dalam sana. "Apa? Enggak ada kerjaan lain apa, ngejar-ngejar aku terus?" Kedua alis yang saling bertautan dengan urat rahang yang terlihat berkerut, Fatih menatap tajam.
"Siapa yang ngejar-ngejar kamu? Aku cuman mau tanya, kenapa kamu enggak menolak keinginan Papamu tadi?"
Di lorong kantor, keduanya beradu urat hingga menimbulkan perhatian sebagian karyawan lain yang lewat.
Fatih menghela napas kesal. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kedua tangannya berkacak pinggang seperti menantang. "Kenapa memangnya? Kamu kesenengen, kan? Tunggu saja, aku akan buat kamu menderita setelah ini."
"Fatih!" teriak Rani lagi. Masih kesal dengan sikap kasar pemuda itu, Rani hanya ingin meminta Fatih bicara pada Bram agar membatalkan rencana liburan itu.
Waktu bergulir begitu cepat. Duduk di ruangan ber-AC dengan setumpuk pekerjaan yang tiada ujungnya. Rani mengetik pada laptopnya. Di menit selanjutnya, Arfan datang membawa satu map.
"Hai?" Senyum pria berkumis tipis itu mengembang.
"Eh, Mas. Kebetulan banget, aku mau tanya karena enggak bisa." Rani menunjuk sebuah grafik.
Mereka mulai berdiskusi dan hanya berdua saja dalam ruangan itu. Sebelah tangan Arfan menopang meja dan yang satunya memegang kursi sandaran Rani, mereka tampak dekat hingga seorang pria masuk dengan tiba-tiba dan menemukan mereka dalam keadaan sedemikian rupa.
Ada sorot tajam yang melapisi bola mata. Spontan tangannya meremas dan bibir tertutup rapat.
"Fatih? Kau ada perlu dengan Rani?" Arfan bertanya. Ia kembali menegakkan punggungnya.
"Enggak juga. Cuman mau mengambil barang." Beralih pada Rani yang terlihat tak acuh, Fatih semakin kesal.
Rani menyerahkan dompet Fatih yang tadi ketinggalan karena mereka tidak berangkat bersamaan. Gadis itu pun meletakkan benda berlipat berwarna hitam milik Fatih itu ke atas meja.
Fatih segera menyambar dengan kasar dan wajah ditekuk terus memperhatikan gadis itu. Ia pergi setelah itu dengan membanting pintu.
Arfan yang sempat kaget karena benturan benda keras itu mengelus d**a dalam hati. Ia kembali membantu Rani mengerjakan tugasnya.
"Ran," panggil Arfan. Mereka tengah menikmati makan siang di luar.
"Hmm, kenapa, Mas?" Rani menjawab dengan sekilas menatap. Ia tengah menikmati bakso udang yang dibumbui pedas hingga tak sabar segera melahap.
"Kamu betah tinggal sama Fatih?"
Mendengar itu, Rani langsung tersedak. Jangan sampai Arfan tahu apa yang terjadi semalam.
"Pelan-pelan makannya!" Arfan tertawa lalu mengusap bibir Rani yang terdapat cipratan kuah.
Sesaat tatapan mereka bertemu di satu titik. Tangan masih di tempat, Fatih datang melihat adegan itu. Dadanya langsung panas. Namun, ia tak berbuat apa-apa selain menahan.
"Sudah, Mas." Mereka kembali menyembunyikan rona merah di kedua pipi. Mendadak suasana menjadi hening.
"Tadi, Mas Arfan tanya apa?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Lupakan saja! Sekarang habiskan makananmu." Arfan mengulum senyuman. Mereka terus menikmati waktu luang siang itu.
Sampai di kantor, seorang karyawati menghampiri mereka dengan jalan tergesa-gesa. Ada kepanikan di setiap inci wajahnya.
"Maaf, Pak Arfan dan Bu Rani. Sekarang ditunggu di ruangan direktur." Wanita dengan blazer merah maron itu menunduk sopan.
"Ada apa, ya, Mas?" Perasaan tak enak mulai menyergap.
"Kita ke sana saja." Mereka berjalan beriringan sementara dari balik dinding seorang pemuda tampak menaikkan sebelah alisnya dan seringai sinis terlukis puas.