Bab 13

1131 Words
"Hallo?" Arfan mengangkat panggilan dari nomor kantor. Suara wanita di seberang sana terdengar panik dan gugup. Pria berkumis tipis itu pun mendelik kala sebuah nama terkabarkan kembali memasuki ruangan IGD. Rani yang mendengar lirih dari balik telepon itu juga tak kalah kaget. Mereka saling melempar pandangan dan Rani segera berdiri menyamai Arfan. "Kenapa dengan Om Bram, Mas? Ada apa?" Tubuh yang terasa meremang kembali menekan debat dalam d**a. "Om Bram masuk rumah sakit lagi. Dia telah menulis wasiat untuk kalian, kabarnya. Ayo, kita ke sana!" Arfan mengemasi barang-barang yang tergeletak di meja makan. Mereka segera meluncur ke rumah sakit. Brankar didorong dengan kuat dan kaki-kaki berlari mempercepat penanganan. Masuk ke ruangan khusus dan lampu-lampu berpusat di tengah. Bram sudah tak sadarkan diri. Napasnya lemah dan denyut jantung kembali dipompa. Fatih hanya bisa menyesali perbuatannya dan duduk menunggu di depan ruangan tertutup itu. Kedua telapak tangan berubah dingin dan berkeringat. Tubuhnya panas seketika dan kepala pun ikut pening. "Saudara Fatih?" Dokter yang keluar dari ruangan itu langsung menyebut nama putra Bramantyo. "Saya, Dok!" Fatih dengan cepat berdiri. Ia mengikuti langkah sang dokter dan menuju ke arah Bramantyo. Selang infus tertancap kuat, cup oksigen menutup bagian hidung hingga mulut. Fatih menatap nanar pada sosok yang sempat ia benci beberapa saat lalu. Ia sudah tak mampu berkata apapun. Rasa bersalah yang dikalahkan oleh rasa benci. Teringat pria itu yang tengah berduaan dengan Rani. Fatih mengurungkan langkahnya ketika tinggal dua jengkal kaki mendekati ranjang rumah sakit. Pemuda keturunan Jawa-Sumatera itu terpaku saat Bram hanya membuka sedikit kelopak matanya. Ada yang ia ingin sampaikan tetapi Fatih tak terlalu paham. "Fatih, bagaimana keadaan ...." Suara Rani tercekat di tenggorokan. Batal keluar dengan sempurna saat melihat Bramantyo dalam keadaan memprihatinkan. Fatih sama sekali tak menoleh pada sumber suara yang sangat akrab dengannya. Sempat terbesit meninggalkan ruangan itu, Fatih masih terombang-ambing dalam bayangan semu. Rani mendekati, sekilas tatapannya pada Fatih yang termenung. Lalu, pada Bram yang sedikit membuka mulut ingin bicara. "Katakan saja, Om! Apa yang ingin disampaikan." Rani menyentuh pinggiran brankar. Arfan hanya berdiri di belakang Fatih. Mengangguk pada dokter yang pamit keluar. Belum bisa mengucapkan apapun, Bram memberi isyarat kerlingan mata yang seperti aliran air. Antara Fatih dan Rani, secara bergantian. Rani menoleh pada pemuda yang hanya diam membisu. "Fatih, mendekatlah! Om Bram ingin bicara padamu." Kalau bukan karena perasaan itu, Fatih tak akan mau. Akhirnya, ia tak menolak lagi. Tangan Bram terangkat pelan. Sangat pelan. Menyentuh jemari putranya dan menumpuk di atas tangan Rani. Fatih menoleh pada Rani, tanpa kata, mereka sudah paham maksud pria itu. "Saya terima nikah dan kawinnya, Rani Althafunnisa binti Santoso dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima miliyar dibayar tunai." Dengan lantang, Fatih mengucapkan janji suci di hadapan beberapa saksi. Ada bening melingkari bola mata. Membuat genangan yang tak terkira. Seperti mendung yang telah memeras hujan, Rani memeluk Ibunya. Anggi yang juga ikut menyaksikan pernikahan sederhana itu ikut terharu. Semua orang saling menatap dan mengucap kata 'sah'. Sesaat, ruangan yang tadinya hening dan kaku berubah menjadi lautan kebahagiaan bagi Bram. Ia telah berhasil menunaikan amanah yang selama ini menghantuinya. "Selamat, Ran." Wajah sendu menoreh luka tanpa balutan. Arfan tak pernah menyangka akan merasakan hari patah hati itu saat ini juga. Tak pernah menyiapkan tempat menumpahkan rasa kecewa dan sakit hatinya sama sekali. Ia harus menyaksikan pernikahan gadis impiannya di rumah sakit. "Maafkan aku, Mas." Sudah lama Rani paham atas sikap manis pria itu. Namun, selama kedekatan mereka, tak ada kata ungkapan yang mengarah ke ranah serius. Mungkinkah, Arfan masih menyiapkannya. Akan tetapi, Fatih telah mendahului dengan jalan yang tak pernah disangka. "Tak apa. Maafkan aku juga yang mungkin kurang cepat. Atau memang aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita." Di luar ruangan yang hanya ada mereka berdua. Arfan mencoba meredam rasa yang sempat membara. "Semua sudah jalannya, Mas. Kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku juga tidak tahu, apakah aku akan bertahan dengan sikap Fatih hanya demi Om Bram. Entahlah, pikiranku tiba-tiba melayang. Sempat terbesit ini semua hanyalah rekayasa. Tapi, setelah mendengar sendiri apa kata dokter, Om Bram memang mengalami serangan jantung." "Kau tahu, keluargamu banyak dibantu oleh Om Bram. Semoga Fatih bisa membimbingmu kelak." Arfan kembali mengajak Rani bertemu Erika dan yang lain di depan ruangan. Di sana, mereka semua menunggu kabar operasi yang tengah dijalani oleh Bramantyo. * Selama Bram di rawat, Rani bolak-balik ke rumah sakit. Tentunya bersama Fatih meski mereka saling bungkam dan membuang muka saat berada di dalam satu mobil. Rani tetap pulang ke rumahnya. Sementara Fatih pulang seperti biasa. Fatih dengan pelan menyuapi Papanya. Begitu bergantian dengan Rani. Sampai tiba masanya Bram diperbolehkan pulang. "Om, Rani pulang dulu." Rani menarik tangan pria itu dan hendak membalik badan. "Pulang ke mana, Ran? Di sini rumah kamu. Bersama Fatih. Kalian akan tinggal di sini menemaniku sampai tua nanti." Tatapan memelas itu membuat Rani bimbang. Fatih duduk di kursi dalam ruangan itu tetapi terlihat masih tak acuh. Sekilas Rani menatap pada Fatih yang sama sekali tak merespons. Bram yang tengah menyandar dipan ranjangnya terbatuk-batuk sehingga tak memungkinkan untuk Rani menyanggah permintaan pria tua itu. "Iya, Om." Rani tertunduk. "Jangan panggil saya, Om. Panggil Papa! Karena kamu sekarang adalah anak saya." Setiap kali Fatih mendengar ucapan itu, ia ingin sekali meninju dinding di kamar itu. Fatih menyangka, Bram masih tetap menyimpan rasa pada Ibunya Rani. Apalagi setiap melihat wajah wanita itu. Ingin sekali memaki karena dianggap sebagai penghancur rumah tangga kedua orangtuanya. Tubuh yang terasa pegal, punggung yang berbunyi gemeretuk saat diputar membuat Rani segera merebahkan diri di dalam kamar. Kamar di mana seorang pembantu membawa semua barangnya masuk. "Awas!" sentak Fatih. Ia mendorong tubuh Rani agar lebih ke samping. Lalu menghempaskan tubuh di tempat yang sama. Rani berdecak dan kesal. Ia meremas kepalanya sendiri. Lalu, mengedarkan pandangan yang tertuju pada sofa. Ia masih tahu diri kamar ini adalah milik Fatih. Sedikit pun tidak terbersit untuk memilikinya. Fatih sudah terpejam ia memunggungi Rani dengan memeluk guling. Rani berdiri dan mengambil salah satu bantal. Ia mulai melangkah ke sofa dan menikmati malam yang panjang di sana. Ketika gadis itu terpejam dalam lelap. Fatih membuka matanya. Ia menatap wajah putih berbalut jilbab dari tempatnya saat ini. Sudah satu pekan pernikahan mereka. Tak ada acara malam pertama atau yang lainnya. Hanya sebuah status yang telah berubah saja. Tepat pukul dini hari, Fatih mengangkat tubuh ringan di pojok ruangan dan memindahkan dengan sangat lembut ke atas peraduan. Sejujurnya, baru kali ini dia menyentuh tubuh seorang wanita. Se-nakal-nakalnya Fatih, dia masih tahu batasan dalam agama. Karena tak bisa tidur, ia berniat mengerjakan pekerjaan yang sudah menunggu di dalam laptopnya. Selimut yang ditariknya menutup tubuh Rani, telah tertindas kaki. Fatih yang tadinya fokus pada layar segi empat itu berdecak. Ia kembali meraih kain tebal itu dan menutupkan bukan hanya pada tubuh Rani. Melainkan pada tubuhnya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD