Bab 12

1097 Words
Rani sudah tak sanggup lagi mendengar yang sangat keterlaluan menurutnya. Akhirnya, mobil sampai juga di pelataran kantor. Rani pun kembali mencoba membuka pintu berkaca itu tetapi percuma. Fatih masih menguncinya. Seringai yang terlukis di sudut bibir pria egois itu menunjukkan betapa dia telah puas melontarkan semua kata yang patut untuk Rani. "Buka pintunya, Fatih! Kau masih belum puas juga menghinaku? Suatu saat hinaanmu itu akan kembali pada dirimu sendiri." Sudah tak tahan lagi, kedua mata Rani pun memerah siap meletupkan buliran bening. Mereka saling berbalas tatapan dan beradu emosi. "Aku belum puas!" Fatih terus menajamkan tatapannya. Bahkan dia sudah berani semakin mendekatkan wajahnya pada Rani tetapi gadis itu segera memberikan kepalan tangannya yang akhirnya berhasil membuat Fatih meringis, menahan panasnya tamparan. "Jangan macam-macam kamu, Fatih! Aku tidak segan-segan membuatmu menyesal nanti. Cepat buka pintunya!" Kembali terdengar sentakan keras Rani. Fatih pun segera menekan smart lock mobilnya. Fatih semakin tidak terima. Ia tidak akan tinggal diam setelah kejadian menyebalkan di dalam mobil tadi. Begitu Rani keluar, ia melihat Arfan menghampirinya. Mereka tambah bicara sebentar lalu masuk secara bersamaan. Waktu meeting, Fatih bukannya mendengarkan dengan jelas apa yang harusnya dia pahami. Namun, fokusnya terus pada Rani yang duduk di sebelah Arfan. Sekilas beralih pada Bram yang katanya ingin menjodohkan mereka. Tiba-tiba bimbang merasuki relung hati Fatih. "Ran, nanti tolong temui saya di ruangan saya!" kata Bram lalu mengakhiri acara meeting yang dihadiri hanya dirinya dan jajaran perusahaan. "Baik, Pak!" Rani mengulas senyuman. Ia menata berkas dan siap keluar dari ruangan itu. Arfan yang juga berjalan beriringan dengan gadis itu kembali memberikan kerlingan sekilas ke belakang tepatnya saat Fatih menatap mereka. "Mas, aku ke ruangan Om Bram dulu. Nanti kalau sudah jam makan siang aku akan temui kamu." Mereka berhenti tepat di depan pintu ruangan Bram. "Oke, Ran. Aku tunggu selesai ini. Jangan lupa, aku titip pertanyaan tadi," pesan Arfan. Ia melangkah pergi sementara Rani membuka pintu dan masuk. Fatih dengan d**a yang sakit melihat mereka, lantas segera menguping di dekat pintu yang tak tertutup rapat. Ada canda tawa di antara Papanya dan gadis itu di dalam. Suara mereka sungguh membuat Fatih kembali mendidih. Setelah memastikan keadaan lorong itu aman, ia mencoba membuka sedikit celah pintu. Terlihat Rani berdiri di dekat Bram yang tengah duduk. Seketika kedua tangan berotot Fatih mengepal dan bibirnya mengunci rapat. Garis otot rahangnya mengeras mempertemukan aliran darah panas yang siap meletup pada mereka di dalam. Pintu terbuka dengan kasar, Fatih memasang wajah marah. Rani pun terkejut dan sedikit mundur dari tempatnya semula. Ia tak ingin Fatih salah paham. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Fatih berontak lagi. "Apa pantas seorang bawahan dan atasan berduaan dan tidak berjarak seperti ini?" Keras, kencang dan menumpahkan segala amarahnya, Fatih tak bisa menahan nafsu amarah. "Bicara apa kamu, Fatih? Jangan sembarang menuduh! Kenapa lagi denganmu? Papa itu memang suka gaya Rani yang profesional dan mudah dipahami ketika dia menjelaskan sesuatu. Maka dari itu Rani ini adalah salah satu aset perusahaan yang harus dipertahankan. Papa sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Sekali lagi kami mengulang kata-k********r itu, Papa tidak segan-segan mengeluarkan kamu dari perusahaan!" Bram kembali terpancing semosi oleh putranya sendiri. Tak mau kalah, Fatih pun selalu saja menjawab setiap penjelasan Bram dengan sebuah argumen memalukan. "Sudah cukup Ibumu saja yang berhasil membuat Papaku pisah dengan Mama, Ran! Kau jangan coba-coba juga menggodanya! Anak dan Ibu sama saja!" Fatih pun segera keluar lagi dengan membanting pintu. Rani terpaku di pojok ruangan dengan kedua mata mengembun. Kenapa Fatih selalu menuduhnya dengan tuduhan keji. Tatapan penuh kesedihan terlukis menggenangi bola mata, Rani meminta izin keluar pada pria tua itu. "Saya keluar dulu, Pak." "Ran," cegah Bram. Rani pun membalik badan tanpa mendongak. "Maafkan Fatih. Dia masih belum terima aku dan Mamanya berpisah. Aku minta dengan terhormat padamu dan Erika agar selalu memaafkan dia. Jangan benci dia, Ran. Sesungguhnya dia hanya butuh teman dalam hidup yang bisa membuka mata hatinya." Bram menekan kuat-kuat rasa harap pada Rani. Ia yakin kalau gadis itu mampu merubah sifat Fatih yang jauh dari kata dewasa. "Tidak apa-apa, Pak. Kami akan memahami keadaan ini. Maafkan saya juga Ibu yang selalu merepotkan. Permisi!" Perasaan bersalah menjerat hati Bramantyo. Pria setengah abad itu kembali memegang dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Mempunyai satu anak putra membuatnya makan hati setiap hari. Selang lima menit berlalu, seorang wanita berambut pendek mengetuk pintu ruangannya. Bram menyuruhnya masuk dan terlihatlah anak sulungnya datang. Berkas di tangan diletakkan di atas meja. Tatapan heran mengarah ke setiap jengkal tubuh sang Papa. "Papa, kenapa?" Wanita bernama Dini itu duduk segera. "Tidak, Din. Papa hanya pusing saja sama Fatih. Papa kira dia sudah sadar dan tidak mengulang sikap kasarnya lagi. Tapi ...." Bram tidak melanjutkan ucapannya. Ia memutar kursi menghadap ke arah jendela kaca. Wanita dengan wajah tirus itu menyilangkan kaki. Tidak terlihat begitu khawatir dengan keadaan Papanya yang tampak tidak baik-baik saja. Kedua bola matanya melirik setiap berkas yang tercecer di atas meja. Satu map berwarna kuning menyita perhatian. Mungkin, di sana ia akan menemukan jawaban yang selama ini mengganggu pikiran. Kesempatan itu diambilnya, tangan Dini hendak meraih map tadi tetapi keburu Bram membalik kursinya lagi. Wajah tua dengan garis melipat kening, Bram mengatur napas agar dadanya tidak semakin sempit. Apalagi, ia harus memperhatikan pola hidupnya akhir-akhir ini kata dokter. Bukan lagi usia muda, pria berjas hitam dengan tubuh besar itu berdiri. Ia menghampiri Dini dan mengajak ke ruangan lain. Dini pun segera berdiri tetapi sebelum itu ia mengetik pesan pada sang suami agar melancarkan rencana mereka sekarang juga. *** "Ran, makanannya keburu dingin nanti. "Arfan menyenggol lengan lawan bicaranya. Mereka duduk di sebuah bangku dalam restoran yang tak jauh dari kantor. "Ceritakan padaku, apa yang Om Bram katakan tadi padamu. Kenapa setelah dari sana, kamu murung seperti ini?" Arfan mulai menyantap soto ayam yang sudah tak lagi mengepulkan asap. "Tiba-tiba, aku enggak enak makan aja, Mas. Selera makan sudah hilang," balas Rani. Hanya diaduk-aduk tanpa henti oleh sang pemilik tatapan kosong menu makan siang yang baginya tak lagi sedap. "Memangnya Om Bram bilang apa sama kamu? Aku tahu, pasti sumber masalah berasal dari sana. Atau ... Fatih lagi?" Jawaban yang tepat. Semua berasal dari anak keturunan Bramantyo. Rani pun menghela napas panjang. "Apakah aku harus keluar dari perusahaan ini, Mas? Agar Fatih tidak lagi menghinaku dan Ibu? Aku tak bisa terus menerus mendengar setiap ucapan pahit yang keluar dari lisannya. Sepertinya dia sangat membenciku." "Apa, Fatih lagi? Kenapa dengan dia? Apakah dia mengatakan sesuatu lagi saat kamu di ruangan Om Bram membahas pesanku tadi?" Arfan menggeleng kepalanya. Lagi-lagi Fatih yang mencoba melukai gadis yang ia sukai. Rani mengangguk pasrah. Buliran bening yang hampir runtuh itu kembali diseka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD