Bab 11

1117 Words
"Baiklah, saya akan pulang dulu." Lelaki berwibawa itu menegakkan punggungnya lagi setelah menekan lutut dengan menahan nyeri pada d**a yang akhir-akhir ini kembali mengikat dari dalam. "Saya tunggu jawaban kamu, Ran. Bersedialah menjadi menantu saya. Bukan hanya hutang Bapakmu saja yang lunas, tetapi aku akan sangat lega karena telah menjalankan satu amanah besar almarhum." Begitu besar harapan pria itu pada Rani, tak peduli dengan Fatih yang akan menolak atau tidak. Bram tahu persis, Fatih tidak akan bisa hidup tanpa naungan darinya. "Insyaallah, Om. Tapi ... saya tidak bisa janji akan menjawab dengan cepat. Bagi saya, itu permintaan yang sangat berat." Rani berdiri diapit oleh dua wanita lainnya. Mereka mengantar Bram hingga pergi dari sana. "Oke. Saya pamit dulu, assalamualaikum?" Bram mulai melangkah mendekati mobil. Sebenarnya, ia masih sangat ingin menginjak tanah subur di bawah pepohonan rindang itu. Sebab, dia begitu betah di sana. Akan tetapi, tak enak dengan tetangga yang mulai memperhatikan mereka sejak pertama datang. Fatih mulai menyalakan mesin mobil. Ia tetap tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar dengan bibir mengatup rapat. Ada kesan dingin di setiap tatapannya. "Mpok Erika, siape, tuh? Deket banget kayaknya." Seorang wanita bertubuh gemuk menyuarakan isi hatinya. Rumah yang berhadapan, terlihat jelas obrolan para tamu Erika tadi. Namun, kebisingan dari kendaraan yang lewat tak cukup kuat untuk wanita itu menangkap inti berita. "Hanya saudara, Mpok." Erika menyahut. Ia bingung mau menjawab apa. "Oh, kirain mau ngelamar Mpok. Abisnye, tadi Aye denger kurang lebih begitu." Gaya khas Betawi melekat jelas pada sosok wanita kelahiran Tegal itu. Sudah sekitar dua puluh tahun tinggal di tanah rantau, kota metropolitan. Dia sangat mahir menggunakan bahasa sehari-hari di sana. Erika pun terkejut dengan ucapan wanita itu. Ia sempat memegangi dadanya yang berdebar kencang. Tak menyangka akan ada pertanyaan yang sangat menyengat hatiseperti itu. "Sudah, Bu. Jangan dihiraukan! Namanya juga tetangga. Macem-macem sifatnya." Rani mengajak Ibunya masuk lagi. Mereka melampiaskan lelah di lantai beralaskan karpet depan televisi. Rani mengambilkan bantal agar Erika bisa rebahan sambil menjernihkan pikiran. "Bu, minum dulu." Anggi pun merasa kasihan dengan Ibunya. Hidup di tempat orang memang tak senyaman di kampung mereka dulu. Suasana pedesaan yang mereka rindukan kembali terlintas di ruang kepala. Ingin pulang tetapi hutang Santoso sudah terlanjur banyak. "Makasih, Ang." Erika pun meneguk teh buatan tadi pagi yang memang sudah dingin. "Bagaimana ini, Ran? Apakah kamu akan mengabulkan permintaan Pak Bram? Masa depanmu akan tergadaikan. Jika kau tidak yakin, jangan terima. Biar kita pelan-pelan saja membayar hutang Bapak yang karena ditipu orang waktu itu." "Rani juga bingung, Bu. Kenapa juga Om Bram meminta Rani agar menikah dengan Fatih. Jika boleh memilih, lebih baik dengan Mas Arfan. Dia ternyata keponakan Om Bram." Ucapan Rani barusan membuat dua bibir mengerucut dan wajah kesal sang adik. Saat Rani menyadari sesuatu, ia segera meminta maaf. "Sorry, Ang. Bukan maksudku begitu. Cuman andai saja." Rani terkekeh. Ia tahu, Anggi sudah terpikat dengan Arfan sejak pertama bertemu. "Halah." Anggi masih kesal. Sudah tahu dia menyukai Arfan, Rani masih saja meledeknya. "Semua terserah kamu, Ran. Ibu tidak bisa apa-apa selain do'a. Kita juga tidak tahu jika memang di Lauhul Mahfuzh, kau memang berjodoh dengan Fatih. Siapa tau, dia bisa berubah lebih baik lagi." Erika menepuk pundak putrinya. Kedua kakinya sejajar karena tiba-tiba terasa kesemutan dan tak kuat lagi lama-lama berdiri. Mereka tak menemukan jawaban, tetapi masih ada waktu kata Bram. Semalam suntuk, Rani tak bisa tidur. Membalik badan ke samping kanan kiri pun tetap rasanya mata sulit terpejam. Sekilas gadis berlesung pipi itu menoleh adiknya yang tetap lelap dalam mimpi. Kenikmatan hidup yang jarang mereka miliki sejak kepergian sang Bapak sangat dirindukan. Canda tawa terbebas dari semua tekanan, Rani seperti sedang menatap Santoso di keheningan malam. Bintang bertabur menorehkan garis-garis cahaya, terang memikat jiwa yang tengah kosong dalam kebingungan. Rani bangkit dan membuka gorden untuk membuang sedikit rasa bimbang. Haruskah memulai hidup dengan pria kasar itu. "Rani berangkat dulu, Bu." Gadis itu menarik tas hitamnya dan meletakkan di atas pundak. Selesai meneguk segelas air putih dengan sarapan nasi uduk buatan Erika, ia segera mencium punggung tangan keriput itu. "Enggak bareng sama Anggi?" tanya Erika. Wanita tua itu menajamkan indera pendengaran ke arah kamar mandi yang masih terdengar suara gemercik air. "Dia masuk siang katanya, Bu. Rani juga buru-buru karena pagi ini ada meeting di hotel sama Mas Arfan, juga sama Om Bram pastinya," tambah Rani. Lepas berpamitan, ia segara berjalan ke depan gang dan menunggu angkot. Takdir tak bisa diubah jika Allah sudah berkehendak. Baru saja berhenti di tempat biasa, tempatnya mangkal menunggu angkutan umum, hujan tiba-tiba melanda. Rani sibuk mencari payungnya yang kebetulan memang ia siapkan sebelum berangkat. Patung lipat berwarna biru, menaungi tubuh kurus dengan balutan blazer hitam. Biasanya hujan-hujan begini, angkot memang jarang. Beberapa kali mendengkus dan lelah berdiri, ia melirik benda mungil di tangan kanan. Sudah sepuluh menitan ia menunggu, sementara meeting akan diadakan tiga puluh menit dari sekarang. Sebuah mobil melaju dengan pelan. Sang penghuninya membuka kaca dan menekan klakson. Tampak wajah putih bersih dengan bibir semu kemerahan. Ada anak rambut yang sengaja dicat warna pirang, semakin menambah kesan tampan pria itu. "Masuk!" teriakan dari dalam masih dipertimbangkan oleh sang gadis. Akan tetapi, hatinya tak siap untuk melanjutkan debat lagi. Ia sudah lelah padahal belum dimulai. "Cepetan! Keburu telat nanti hanya gara-gara kamu!" Kembali suara kasar menyayat hati itu membuat Rani kesal. Namun, apa boleh buat. Memang benar apa kata Fatih. Ia akan telat kalau terus menunggu angkot. Rani segera menutup kembali payungnya dan masuk ke dalam mobil. Detik selanjutnya, Fatih memasukkan gigi mobil dan mereka pergi menuju ke tempat yang sama. Diam tanpa kata, membuat suasana dalam mobil terlihat canggung. Rani tak mau menatap lurus atau bahkan menoleh pada pria itu. Ia menatap ke arah jendela dan memilih berpikir menyiapkan bahan untuk meeting. Fatih pun sama halnya, ia enggan bertanya tetapi isi dalam tempurung kepala membuat tak tahan lagi. "Kenapa kamu tidak menolak saja permintaan Papa kemarin?" Rani masih diam untuk detik-detik yang terlewati. Membuat Fatih berdecak seraya berkata, "Apa kamu tidak mendengar pertanyaanku tadi?" Rani mendengkus. "Jika aku memikirkan diriku sendiri, jelas aku langsung menolak tanpa disuruh." Jawaban ketus itu membuat Fatih menyeringai. "Jadi, siapa yang membuatmu menimbang keputusan itu? Hutang Bapakmu? Sama saja kau menjual dirimu padaku jika begitu." "Fatih! Jaga ucapanmu!" Panas dingin Rani menahan gejolak api yang tengah membara membakar dadanya. "Aku bukan seperti yang kamu tuduhkan! Lihat saja dirimu sendiri, jangan mengurusi urusanku. Tanya pada dirimu sendiri kenapa kau juga diam saja kemarin? Harusnya kau menolak jika memang menganggapku menjual diri padamu!" Rani mencoba membuka pintu mobil, tetapi nihil. "Turunkan aku di sini! Kalau bukan karena membalas jasa kebaikan Papamu, aku juga tak sudi satu kantor denganmu." "Hem, aku tak percaya. Bagiku, keluarga kalian itu seperti benalu. Memanfaatkan kebaikan orang saja!" Fatih terus menyudutkan perasaan Rani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD