"Ih, enggak jelas!" Rani hendak menghindar tetapi tangannya langsung dicekal oleh Fatih. Ia berusaha melepaskan tetapi tetap saja percuma.
Keramaian pagi itu tak membuat surut nyali Faith untuk mengganggu ketenangan Rani. Padahal, hanya menyapa saja, Fatih merasa Rani telah menggoda Papanya.
"Jangan sok-sokan mencari muka di hadapan Papa! Dia itu sudah tua sementara kamu gadis dari desa. Jangan sok perhatian!"
"Astaga, Fatih! Jaga ucapan kamu! Aku bukan seperti yang kau tuduhkan." Napas Rani naik turun. Ia mencoba mengalah karena menjaga Marwah keluarga.
Seringai tajam Fatih berhasil membuat Rani menahan luka. "Sudahlah, Ran! Tidak usah menutupi. Kau sam saja dengan Ibumu yang berniat mengambil hati Papaku! Enyah kau dari hadapanku!" Fatih menabrak gadis itu dan mendekati Papanya yang kebetulan tidak melihat pertengkaran mereka.
"Mbak, siapa, sih itu? Kenapa omongannya pedes banget? Amit-amit, deh, aku punya laki begitu. Sembarangan nuduh orang." Anggi mulai menunjukkan perhatian. Gadis itu menepuk pundak kakaknya agar lebih tegar saja menghadapi ujian hidup.
"Dia itu Fatih sama Om Bram, Ang. Om Bram yang memberikan rumah yang kita tempati karena rasa iba. Yang tadi maki-maki itu anaknya. Sejak Om Bram bercerai dengan istrinya, Fatih sangat sensitif sekali. Awalnya tidak begitu saat kami masih menjejaki bangku SMA. Dia baik dan perhatian. Namun, saat dia tau kalau Om Bram akan menikahi Ibu, dia berontak dan menjadi seperti sekarang." Tatapan mereka masih lurus pada seorang pria muda yang duduk dengan kaki bertopang menatap Papanya sambil meneguk air mineral, Rani tak habis pikir.
"Oh, jadi itu yang namanya Om Bram? Sampai mau menikahi Ibu? Astaghfirullah." Anggi menggeleng kepalanya.
"Pulang aja, kita." Rani kembali berlari-lari kecil meninggalkan tempat itu. Mereka bergegas pulang.
Sampai di rumah, hati masih saja tak enak. Melihat Erika yang sedang menyapu halaman pun Rani tetap diam dan tak bisa menurunkan wajah manisnya. Rani mendesah lelah. Mendapat hinaan dari pemuda yang dulunya sangat manis, kini berubah menyebalkan, sungguh menyakitkan.
"Kalian sudah pulang?" Erika meletakkan sapu lidi yang telah bercampur tanah itu ke dekat pohon.
"Sudah, Bu." Hanya Anggi yang menjawab.
Mereka duduk di teras sambil mengunyah tahu goreng yang baru saja matang. Sengaja Erika meletakkan makanan sederhana itu di meja teras. Agar dua anak gadisnya bisa segera menyantap setelah pulang nanti. Duduk menghadap ke arah jalan tetapi pikiran melayang, Rani berusaha menghapus jejak keburukan sikap Fatih padanya. Apalagi kemarin, pemuda itu yang merawatnya.
"Ran, kamu kenapa? Sepetinya sedang ada masalah."
Wajah kesalnya saat itu mudah dibaca oleh Erika. Wanita tua yang telah melahirkannya 25 tahun yang lalu.
"Enggak, Bu. Cuman capek aja," jawab Rani, bohong.
Erika yang duduk di dekat mereka beralih pada Anggi yang asik makan tahu. "Kenapa dengan Mbakmu, Ang?"
"Lagi habis ketemu jambret, Bu." Anggi tertawa puas. Apalagi saat mendapati wajah kakaknya.
"Apa, jambret? Kalian di jambret? Makanya, kalau mau olahraga itu tidak usah bawa uang." Wong, Ibu juga sudah masak. Kalau haus, ya, bawa minuman di botol." Erika terus memberikan ceramah pada dua gadisnya, hingga sebuah klakson mobil tiba-tiba berbunyi dan membuat mereka bertiga menoleh keluar.
"Siapa, tuh?" Gerakan melompat dari atas kursi, bak seorang olahragawan, Anggi melejit mengintip dari balik pintu. Begitu melihat siapa yang keluar dari mobil, seketika mulutnya ternganga.
"Siapa, Ang?" Rani pun penasaran karena posisinya terbatas gorden.
"Mereka lagi, Mbak." Menjawab dengan fokus masih pada dua lelaki di luar sana, Anggi kemudian membalik badan dan menemui Ibu dan kakaknya.
Erika yang masih belum paham pembahasan kedua putrinya itu masih plonga-plongo. Wanita tua yang mengenakan jilbab soft green itu ditarik masuk ke kamar. Mereka bertiga berunding di dalam sana. Namun, waktu sudah menunjukkan untuk mereka segera keluar.
Suara ketukan pintu yang disertai dengan salam lembut dari sosok gagah Bramantyo, membuat Erika terperanjat. Ia baru paham kalau sejak tadi dua gadisnya tengah membicarakan pria itu. Pria yang sempat melamarnya tetapi gagal.
"Itu Pak Bram," pekik Erika.
"Udah, Bu. Ibu di dalam aja! Tidak perlu keluar karena kita tidak bisa menjamin ucapan si Fatih tidak akan menyakiti Ibu." Rani memberikan peringatan.
"Bener kata Mbak Rani, Bu. Tunggu sini, kita yang akan keluar," tambah Anggi.
Mereka pun berpura-pura bersikap biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu, mereka keluar menjawab salam secara bersamaan. Saat Rani membalas tatapan pada Fatih, pria itu terlihat mencebik dan memutar bola mata malasnya.
"Silakan, Om!" Rani mempersilakan mereka masuk.
"Tidak usah, di luar saja. Anginnya seger," balas Bram. Ia mengenyakkan bobotnya pada duduk-an yang terjalin dari anyaman bambu. Punggung menyandar dinding dan menikmati pemandangan hijau di teras.
Sesaat suasana hening tak terdengar suara dari mereka. Namun, dalam keheningan itu, Bram memantapkan niatnya. Tarian angin yang menyapu wajah, mengingatkan kembali pesan lama dari seorang pria tua yang pergi meninggalkan banyak hutang.
Sahabat baik sekaligus tokoh religius yang dekat dengan Bram pergi setelah mendapatkan anggukan dari dirinya. Napas Bram terdengar berat dan terkadang d**a terasa nyeri. Bram takut hidupnya tak akan lama lagi. Maka dari itu, ia harus mengambil sebuah keputusan besar. Jika dia tidak bisa menikahi Erika, biarlah jalan lain yang akan menyatukan keluarga mereka.
"Ran," panggilnya seraya menoleh pada sosok cantik yang duduk menunggu pertanyaan. "Mana Ibumu? Om, ingin bicara. Kalian berkumpullah!" tambahnya.
"Em." Rani tampak panik. Ia menoleh pada adiknya yang tak kalah gelisah. Mereka saling dorong dan melempar pandangan. Selang beberapa detik, belum sempat Rani berdiri, Erika muncul dengan air minum berwarna kuning. Terlihat gelas-gelas berkeringat dan terasa sejuk.
"Silakan, Pak, Den Fatih!" Satu nampan diletakkan di dekat mereka.
"Makasih," balas Bram. "Baru saja Rani mau panggil kamu, eh, kamu datang di waktu yang tepat." Tawa sumbang Bramantyo terdengar membosankan bagi Fatih.
Sejak tadi pemuda itu memalingkan wajahnya dan sibuk dengan ponselnya sendiri. Namun, tampilan ponsel tersebut mengarah pada sebuah akun sosial media yang memperlihatkan salah seorang gadis yang kini tengah duduk berseberangan dengan mereka.
"Ada apa, Pak?" Erika duduk di sebelah putri-putrinya. Siap mendengarkan apa yang hendak Bram katakan.
"Begini, Er." Bram menarik dalam-dalam udara dan memasukkan ke dalam paru-parunya. Melepas setelah terasa aliran sejuk masuk ke dalam sana. "Aku berniat menikahkan Fatih dengan Rani."
Rani dan Fatih yang awalnya santai dan sibuk dengan pikirannya masing-masing, kini seperti tersentak dan mendapat musibah besar. Mungkin lain dengan Fatih, tetapi Rani merasa hidupnya tak punya masa depan jika harus bersatu dalam biduk rumah tangga bersama pemuda itu.
"Tapi ...." Erika bimbang. Ia tertunduk memikirkan nasib Rani. Ia tahu betul bagaimana sifat Fatih sekarang. Bukan lagi sosok yang lembut melainkan temperamental.