Punggung lelah, seharian dalam perjalanan. Kini, menggelepar sudah menyandar kursi sederhana dalam ruang tamu yang juga tampak apa adanya. Anggi datang membawa nampan berisi dua gelas minuman segar dan satu piring pisang goreng yang masih terlihat kepulan panas.
"Silakan," ucap Anggi. Senyumnya tak berhenti berkibar karena kedua mata tak lepas dari melirik sosok tampan berbalut jaket bombers keluaran terbaru.
"Mas Arfan, silakan, Mas! Jangan sungkan. Di sini adanya ini. " Beralih pada sang adik yang terus salah tingkah, Rani bertanya, "Siapa yang bikin, Ang? Eh, Ibu mana? Kenapa dari tadi enggak ada?" Sambil mengunyah, Rani melirik lebih ke dalam. Lalu, tatapan keluar lagi karena memang tampak sepi sejak tadi.
Pria dengan potongan rambut rapi itu mulai meraih makanan yang disediakan di meja. Arfan adalah tipe lelaki yang sangat menghargai pemberian siapa pun.
"Ang? Aang?" Rani kembali mengulangi pertanyaannya. Ia menyadari sebuah kerlingan mata yang baru saja beralih padanya. "Heeem, pantesan." Gadis itu terkekeh.
"Eh, kenapa, Mbak? Ibu? Ada, di dalam. Eh, bukan, ada di rumah Bu Rt." Anggi semakin tersipu malu ketika Arfan mulai menatapnya.
"Ada apa memangnya di sana? Tumben. Rencananya aku pulang kemarin, tapi karena kendala, jadi mundur." Rani terus saja berbicara. Ia juga menanyakan pasal pekerjaan pada pria di hadapannya yang hanya terbatas oleh sebuah meja kayu berlapis selembar kain bordiran.
Sinar jingga yang mulai redup di makan waktu, menoreh kisah perpisahan di antara mereka. Arfan berpamitan pada dua gadis yang berdiri mengiringinya keluar hingga mendekati mobil.
"Hati-hati, Mas." Rani dan adiknya melambai. Mereka belum juga pergi dari sana ketika mobil telah lenyap dari pandangan mata.
"Ehem." Rani sengaja berdehem. Ia membalik badan dan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan gadis yang usianya tak jauh di bawahnya.
Anggi yang merasa tersindir pun mengikuti langkah sang kakak dengan berbagai pertanyaan mencuat di benaknya. Ia ingin mengajukan pertanyaan perihal pria yang bisa-bisanya menjemput Rani dan berdua saja di dalam mobil.
"Mbak!"
"Mbak, duh, dipanggil malah jalan terus." Gadis berjilbab putih itu berdecak seraya menyipitkan mata malas.
"Ada apa, sih, kalian ini? Udah mau Maghrib, kok, malah teriak-teriak!" Wanita tua itu menatap heran dengan dua putrinya yang jika bertemu masih saja suka beradu tingkah.
"Mana ada, Bu, Rani teriak-teriak? Yang ada Anggi, tuh." Rani pun menunjuk gadis yang tengah duduk di kursi dengan bibirnya. "Malu-maluin aja ngeliatin Mas Arfan sampai begitu." Gadis jelang 25 tahun itu tertawa dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Lain di kursi, Anggi yang tak terima, kini merajuk bagai balita.
"Sudahlah, Ang. Aang tidak usah terlalu dimasukkan ke dalam hati kata-kata Mbak Rani. Ibu juga setuju, kok, misalnya kamu jadi istrinya Mas Arfan." Wanita tua itu berusaha membujuk dengan kalimat yang membuat hati Anggi mengembang seperti balon. "Mas Arfan itu orangnya baik menurut Ibu."
Seketika hati Anggi merasa bahagia. Mulutnya menganga dan mata berbinar terang, seketika Anggi melompat dan memeluk Ibunya. "Asiiik. Dengerin, tuh, Mbak. Ibu aja merestui. Huu!" Dengan gaya ABG, gadis itu terus mengembangkan tingkahnya hingga naik di atas kursi.
"Hah, Apa?" Rani keluar langsung dari kamarnya. Ia tertawa mendengar adik satu-satunya itu seperti mendapat durian runtuh dari negeri seberang.
Kehangatan sore itu membuat keluarga kecil menelan rasa syukur yang teramat dalam. Meski mereka tak jarang mendapat hinaan karena dibilang miskin dan punya rumah hasil pemberian orang, mereka bisa tetap bisa merasakan kebahagiaan lewat sesuatu yang sederhana.
*
Udara di pinggiran kota Jakarta, menuai banyak pujian. Embun yang membasahi dedaunan dan rumput hijau pagi ini, bukan hanya memanjakan mata tetapi membuat penduduk setempat menikmatinya dengan olahraga.
Waktu libur telah tiba, Rani baru saja keluar dari kamarnya setelah selesai mengecek berkas untuk besok. Hari ini, ia mempunyai jadwal lari pagi di sekitar tempatnya tinggal. Semoga tidak mendengar para tetangga membicarakannya lagi.
"Ran, kapan nikah? Lu udah umur berapa, tuh?"
"Jangan lama-lama sendirian, nanti takut jadi perawan tua!"
"Gimana mau hidup enak, orang rumah aja dikasih orang."
Dan lain sebagainya, terus terngiang dalam benak dan tak jarang menggores luka di hatinya apalagi saat sang ibu yang menjadi bahan perbincangan.
Menautkan tali sepatu hingga menjadi simpul kupu-kupu, membenahi pakaian yang tidak ketat, satu lagi uang. Rani menyelipkan lembaran biru pada saku gamis ringannya. Sebelum pulang, dia berencana mampir membeli bubur ayam.
"Ang! Aang? Kamu jadi ikut, enggak? Aku tinggal, nih." Teriakan dari luar kamar sang adik disertai ketukan yang tak pelan, Rani berharap Anggi yang tengah datang bulan segera bangun.
"Woy, gue udah siap dari tadi di sini!" Anggi menyembulkan kepalanya dari luar pintu depan. Membuat Rani tertawa dengan tingkah lucu gadis kecil yang dulu selalu ia timang.
"Yuk!" Rani mendahului.
Mereka mulai joging menuju keluar gang rumahnya. Menyusuri trotoar yang tak banyak pengendara. Udara tanpa polusi mereka hirup dalam-dalam, tawa riang keduanya sambil membahas sosok Arfan lagi.
Sampai di sebuah lapangan bola yang sudah terlihat banyak sekali penggunanya untuk melakukan olah gerakan badan, mereka pun bergabung. Keringat sudah membanjiri, pakaian sudah tampak basah sebagian, mereka istirahat sebentar.
Duduk di dekat penjual asongan, lalu memesan satu botol minuman untuk berdua. Benar-benar adik kakak yang sangat manis. Tak butuh waktu lama, satu botol tandas oleh mereka.
"Ran, katanya elu mau nikah, ya? Syukur, deh. Akhirnya, elu dapat jodoh juga," celetuk seorang pedagang yang memang mengenal akrab dua gadis itu.
"Kata siapa, Bang? Aye memang mau nikah, tapi kagak sekarang." Rani menanggapinya dengan santai. Sudah biasa baginya.
"Kata orang-orang! Kemarin mereka lihat elu sama cowok ganteng terus pakai mobil mewah. Heboh semua, tuh, satu gang elu. Mana mereka paling gercep kalau ada berita, mah."
Rani mengerucutkan bibirnya. Tidak semua benar yang dikatakan penjual minuman itu. Ia menoleh pada Anggi yang sempat memasang wajah sepet karena pria yang ia sukai malah dikira akan menikah dengan kakaknya.
"Bang, kagak usah didengerin apa kata mereka! Tukang gosip, memang begitu."
Beralih pada sang adik yang menoleh ke arah lain karena sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Ayunan daun-daun di pinggir jalan itu tertiup angin segar, penghuni mobil keluar dengan kacamata hitam bertengger di atas hidung segera dilepaskan.
Dua pria yang satu muda dan tampan keluar dari sana, sementara yang satunya lagi pria tua yang berkaus olahraga mengayun senyuman pada mereka. Nyaris membuat Rani kehilangan moodnya lagi.
"Ran!" panggil pria tua yang selama ini memberikan lapangan kerja untuknya.
Rani mengangguk sopan. Setelah menatap pria yang baru saja menutup pintu mobil, raut wajahnya berubah seketika. Tidak ada masalah yang tidak akan diciptakan oleh Fatih. Meskipun wajahnya sungguh menawan, tetapi sikapnya selalu membuat Rani naik pitam.
"Eh, Om. Mau ke mana?" tanya Rani sedangkan Anggi hanya diam saja. Ia tak tahu kalau Bram adalah pria yang selama ini membantu keluarga mereka.
"Om, juga mau olahraga. Rencananya bukan di sini, tetapi saat melihat kalian berdua saya ingin di sini saja." Bram mulai melangkah maju. Melewati dua gadis itu dan mengikuti alunan musik yang sengaja dihidupkan untuk mengiringi gerakan para pesenam pagi.
Rani mengangguk lagi. Memberikan jalan untuk pria tua itu. Lain di hati, pikirannya tertuju pada sosok muda yang tengah menyandar mobil. Rani mendekat dan bertanya, "Kamu enggak ikut, Fatih?"
Pemuda itu mendengkus. Menatap dengan tatapan ejekan. Selang beberapa menit setelah itu, wajahnya mendekati Rani hingga hanya tersisa satu jengkal.