7. MENAHAN HASRAT

1335 Words
Setelah panggilan dari Sam terputus, Keenan langsung melemparkan ponselnya ke sofa di depannya lalu kemudian dia melangkah memasuki kamar mandi. Ya Keenan harus menidurkan junior nya yang selalu terpancing dikala dekat dengan love. Alih laih bermain solo, Keenan lebih memilih opsi kedua yaitu mandi air dingin. Karena takut terpancing oleh gadis yang sedang tidur di ranjang nya itu, Keenan memutuskan untuk tidur di sofa saja malam ini. Padahal rencana nya dia ingin tidur sambil memeluk love, sesuatu yang selalu dibayangkan nya sejak lama. Pukul 7 pagi, Velove terbangun Ketika merasakan silau sinar matahari yang mengenai wajah cantiknya. Dia meregangkan otot nya, sedetik kemudian dia kaget dan panik karena merasa asing dengan kamar yang sedang di tempatinya saat ini. Buru-buru dia bangkit dari ranjang besar itu, karena terburu-buru velove tersungkur akibat dari kakinya yang terbelit selimut. GEDEBUGG… sudah mirip seperti bunyi Nangka jatuh dari pohonnya. Velove meringis kesakitan merasai jidatnya yang mendarat terlebih dahulu ke lantai mulai benjol dan berdenyut nyeri. “awwww…” teriakannya hampir di barengi isakan tangis. Keenan terbangun dan panik Ketika mendapati dahi love yang sudah benjol begitu besarnya dan memerah. Dia berlari dan berusaha membantu love untuk berdiri dan memapahnya ke ranjang. “kenapa sih ceroboh banget…ntar kalau dahinya kenapa-napa gimana?” omel Keenan khawatir sambil meniup niup dahi love yang kemerahan. Velove hanya bisa terisak menahan sakit di dahinya, dia pun tidak menolak Ketika Keenan menariknya ke dalam pelukan d**a bidang itu. Sekarang yang ada di pikirannya adalah rasa sakit yang begitu terasa di dahinya. Setelah beberapa saat love menangis, Keenan mengurai pelukannya “tunggu disini bentar, jangan kemana-mana” tekan nya pada love kemudian dia beranjak menuju dapur untuk mengambil kompres dan kotak p3k. Velove diam tak menanggapi Keenan, dia terus terisak seperti anak kecil. Beberapa menit kemudian Keenan Kembali dengan membawa peralatan untuk mengobati love. Keenan menempelkan es batu yang sudah ia bungkus dengan kain kearah benjolan di dahi love untuk mengurangi bengkak yang timbul. Setelah selesai dengan kompres nya, Keenan membersihkan nya dengan alcohol. Setelahnya dia mengolesi salep ke area yang benjol. Entah benar atau tidak pengobatan yang di berikan Keenan karena dia benar-benar tidak pernah malakukan hal-hal semacam itu sebelumnya. Setelah rasa nyeri nya berkurang, velove tersadar akan sesuatu. “lo bisa jelasin kenapa gue ada disini sekarang?” todong velove kepada Keenan , seraya berdiri sedikit menjauh dari laki-laki itu. “beneran kamu gak inget semua nya?” tanya Keenan dan dijawab deheman dari love. Kemudian Keenan menceritakan semua detail kejadian kecuali saat dia mencumbu tubuh love bagian atas. Keenan masih waras untuk tidak mencari gara-gara pada perempuan ini, kesalahan lamanya saja masih belum termaaf kan masak mau ditambah daftar kesalahan baru lagi. Setelah nya love menyambar ponselnya dan mengetikan sesuatu disana. “makasih buat bantuan lo semalam, tapi bukan berarti gue udah maafin lo” tutur velove dengan dingin, detik berikutnya dia membawa gaunnya ke dalam kamar mandi untuk ganti baju. Tunggu..sebelum sampai membuka pintu kamar mandi velove berbalik dan teriak “Keenan b*****t!!” teriak nya sambil menerjang dan memukuli dengan membabi buta. “siapa yang ngijinin lo buat buka baju gue hah?” murka velove tanpa ampun terus memukuli Keenan sambil terengah sampai dia hampir kehabisan nafas. Keenan menahan pergelangan tangan mungil itu dan menatap tajam kearah mata love “udah ngamuk nya? Emangnya kamu nyaman dalam keadaan mabuk dan tidur memakai gaun sempit itu?” “aku cuman mau bantu kamu supaya nyaman love, itu aja..toh gak ada yang aneh kan dari tubuh kamu? Itu tandanya aku gak ngapa-ngapin kamu. Aku murni cuman mau bantu kamu” suara tegas Keenan terdengar seperti sedang menahan kesal. Ya Keenan memang kesal karena apapun yang dia lakukan selalu saja salah di mata love, ya walaupun semalam dia melakukan sedikit kesalahan yang tidak berani ia akui di depan love sih. Bisa masuk UGD dia kalau sampai ngaku. Sudah ya jangan ada yang kasih tau ke love soal Keenan mencumbunya semalam. Hehehe “itu bukan urusan lo soal gue nyaman atau gak” ketus velov tidak mau mengalah. Dia gengsi untuk membenarkan perkataan Keenan. “oke terserah kamu aja lah, sekarang tolong menyingkir dari atas tubuh aku” gumam Keenan pelan, sebenarnya dia suka posisi ini, posisi dengan velov menaiki tubuhnya. Tapi dia harus rela untuk menyuruh velov menyingkir karena di bawah sana sudah ada sesuatu yang terbangun akibat ulah brutal velov. Velov tiba-tiba menyadari kalau sesuatu yang sedang ia duduki sedang menggembung besar. Wajah velov merah menahan malu, dengan canggung dia langsung berdiri dan berlari keluar kamar dengan membanting pintu. Bodo amat lah dengan gaun nya, dari pada makin canggung mendingan pakai kaos Keenan aja. Velov mondar-mandir di ruang tamu karena tidak sabar menunggu abangnya datang ‘lama amat sih abang’ gerutunya dalam hati. Setelah sekitar 15 menit berlalu, bel apartemen berbunyi. Velov yakin itu adalah abangnya, benar saja setelah pintu ia buka terlihat lah wajah tampan abangnya di depan pintu. “masuk dulu bang…” pinta velov kemudian. “enggak langsung balik aja dek?” goda Sam sambil menyeringai dan memindai penampilan velov dari atas sampai bawah. Tentu saja velov semakin salah tingkah karena ledekan Sam. “udah deh abang gak usah mulai…”sungut velov sebal. “mm.. bang bisa ambilin tas aku didalam kamar keenan gak? Sekalian gaun aku” cicit velov lirih. “kenapa gak ambil sendiri sih dek? Kan semalam juga tidur situ kan?” tanya Sam santai. Dia juga sungkan kalau langsung nyelonong masuk kamar Keenan. Mana yang punya apartemen belum muncul-muncul lagi. “CK..abang gitu banget sih” gerutu velov sambil menghempaskan bokongnya di sofa. Setelahnya terlihat Keenan keluar dari kamar sambil memegang handuk kecil di tangannya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Memakai celana pendek diatas lutut dan kaos polos putih dengan tetes-tetes air yang sedikit berjatuhan membuat Keenan terlihat semakin hot. Diam-diam velov menelan salivanya sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena membayangkan yang iya iya. “eh bang, udah lama lo dateng?” sapa Keenan dengan nada acuh sambil menghampiri Sam yang daritadi masih berdiri. “barusan aja kok, pantesan gak kliatan.ternyata habis mandi” jawab Sam santai. “mmm ken bisa minta tolong ambilin barang-barang velov gak dikamar lo?” sambung Sam. “lah ngapain gak di ambil sama love sendiri sih bang, dari kemarin juga udah tidur situ” tanya Keenan heran. Dia tidak tau saja kalau velov takut untuk satu ruangan dengan Keenan setelah kejadian yang menurutnya awkward tadi. Velov takut terbuai jikalau Keenan nekat melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Jujur walaupun velov membenci Keenan setelah kejadian lima tahun lalu itu, sebenarnya perasaan benci itu bukan benar-benar benci hingga tidak sudi untuk berinteraksi dengannya. Perasaan benci ini lebih ke dia merasa kecewa berat dengan apa yang sudah Keenan lakukan padanya. Dan jauh di sudut hati nya yang sudah ia kunci rapat-rapat ada tempat tersendiri untuk laki-laki itu. Dia tidak mau kecewa untuk yang kesekian kali nya Ketika berhadapan dengan apapun yang menyangkut Keenan. Termasuk velov tidak ingin membuka celah kesempatan sekecil apapun untuk dekat Kembali dengan laki-laki itu. Dia masih ingin menjaga hati nya yang tersisa agar tidak terluka lagi untuk kesekian kalinya. “tau tuh, tanya aja sama anaknya sendiri” jawab Sam santai sambil mengarahkan dagunya menunjuk velov. Yang di tunjuk tentu saja sangat kesal dengan sikap Sam. ‘kenapa sih bang Sam jadi nyebelin gini’ gerutunya dalam hati. Tanpa menanggapi dua laki-laki itu, velov melangkah dengan yakin dan d**a tegap kearah kamar Keenan. Dia tidak mau terlihat takut dan lemah. Velov berfikir jika ada abangnya, Keenan tidak akan berani macam-macam dengannya, makanya dia berani sekarang. Beberapa saat kemudian velov keluar kamar sudah rapi dengan gaunnya semalam dan handbag nya. Tanpa mau repot-repot berpamitan dengan Keenan, velov langsung melangkahkan kakinya keluar dari pintu apartemen. Sam hanya bisa terbahak melihat tingkah adiknya ini. “gue pamit deh kalau gitu, thanks udah jagain velov” tepuk Sam di bahu Keenan sambil berlalu pergi. Dan hanya di angguki oleh si pemilik apartemen. Satu jam kemudian Sam berhasil mengantarkan Velov sampai depan teras, dia langsung berpamitan pulang karena ada janji mau pulang kerumah orang tuanya minggu ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD