9. CINDY DAN DESTA

1067 Words
Sepulang dari kantornya bekerja, Cindy memutuskan untuk pergi ke apartemen Desta sahabatnya. Hari ini dia merasa bosan dan malas untuk langsung pulang ke kosan nya. Tanpa perlu mengetuk pintu atau menekan bel, Cindy langsung masuk kedalam apartemen karena dia tau password apartemen Desta. Bukan cumaCindy, Velove pun juga tau. ‘sepi’ pikirnya, dia yakin sahabatnya itu sedang dikamar. Dia langsung melangkahkan kakinya ke kamar laki-laki itu. Tepat di depan kamar yang pintunya tidak sepenuhnya tertutup itu terdengar desahan laki-laki dan perempuan saling bersahutan mengejar kenikmatan mereka. Jantung Cindy rasanya mau melompat keluar dari tempatnya, tangan nya bergetar dan kaca-kaca bening di matanya mulai berjatuhan. Tapi keinginan nya untuk melihat siapa wanita itu sangat besar. Di buka nya pintu kamar itu, Cindy membeku di tempat dan dua sejoli yang terganggu aktifitasnya itu menoleh kaget. “lo apa-apaan sih main masuk kamar orang tanpa permisi” bentak Desta tersulut emosi, sambil meraih kimono yang tak jauh dari tempatnya untuk menutupi tubuh telanjangnya. “siapa dia?” tunjuk Cindy kepada wanita yang tadi berada di bawah tubuh Desta. “itu sama sekali bukan urusan lo…dan lo gak ada hak apa-apa untuk menanyakannya” ucap Desta dengan suara rendah yang terdengar seperti menggeram menahan amarah. Cindy semakin hancur mendengar penuturan Desta, memang benar apa yang dikatakan laki-laki itu . Seharusnya dirinya lah yang sadar diri untuk tidak menanyakan hal itu. Dengan perasaan hancur dan marah Cindy berlari keluar dari apartemen laki-laki itu. Cindy marah pada dirinya sendiri yang bisa jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri, Cindy marah karena tidak bisa mengendalikan perasaannya. Tanpa berusaha mengejar Cindy, Desta menjambak rambutnya emosi kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak ada mood untuk melanjutkan aktifitas panas nya barusan. Cindy menyetop taksi dan memutuskan untuk pergi kerumah Velove, semoga saja sahabatnya itu ada dirumah. Beberapa menit kemudian taksi yang di tumpangi oleh Cindy sampai di depan rumah Velove, setelah membayar ongkos taksi dia langsung melangkah kan kakinya lebar-lebar ke halaman rumah sahabatnya. Cindy menekan bel rumah velove, dan tidak lama mbok yem membukakan pintu besar itu. Tampak wanita paruh baya tersebut kaget melihat penampilan sahabat nona muda nya ini terlihat berantakan dan dengan air mata yang masih mengalir di pipi mulusnya. “Velov ada mbok?” tanya Cindy tanpa basa-basi. “eh..ada mbak, monggo silahkan masuk, non velove ada di kamarnya” jawab mbok yem sambil menyingkir ke samping mempersilahkan Cindy masuk. Tanpa menjawab lagi Cindy langsung berlari menaiki tangga menuju kamar velove. Dia langsung membuka pintu kamar velove kemudian menghambur ke dalam pelukan sahabatnya itu sambil menangis terisak. “kenapa lo?? Lo gak kenapa-napa kan cin?” tanya velove khawatir terjadi sesuatu terhadap Cindy yang tiba-tiba datang dalam keadaan seperti itu. Cindy tetap diam dan terus menangis sesenggukan, tanpa banyak tanya lagi tangan velov membalas pelukan Cindy sambil mengelus punggung sahabatnya yang sedang bergetar. Setelah tangis Cindy mereda, ia melepas pelukan velov kemudian melakukan exhale inhale berulang kali sampai dia merasa jauh lebih baik dan siap menumpahkan segala keluh kesahnya kepada velove. “sudah tenang sekarang?? Minum dulu gih” suara velove terdengar sambil menyodorkan segelas air putih untuk Cindy. Cindy menengguk air putih hingga tandas. “gue habis ngeliat Desta making love sama cewek” cicit Cindy setelah meletakan gelas di atas nakas. “maksut lo? Bukan nya kita udah tau kalau Desta sering ngelakuin itu?” tanya velove dengan penuh kebingungan akan maksut Cindy. “ya gue tau itu vel, tapi…” jawab Cindy sedikit ragu, kemudian melanjutkan omongannya. “gue cinta sama Desta” lanjut Cindy semakin menundukan kepalanya dalam-dalam. Velove masih shock dengan apa yang di dengarnya barusan, sampai-sampai dia tidak tau harus menanggapi apa. “lo suka sama Desta?” tanya velove sedikit meragu. “No! gue enggak sekedar suka, tapi udah tahap cinta vel” jawab Cindy dengan tegas dan sedikit tersenyum miris dengan perasaannya sendiri. Velove masih terdiam membiarkan Cindy melanjutkan ceritanya, dia tidak ingin memotong omongan sahabatnya. “gue udah lama cinta sama Desta, Ketika gue tau dia sering tidur sama cewek gonta ganti, gue sakit banget tapi sebisa mungkin gue coba tahan di depan kalian. Tapi tadi gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri mereka making love di apartemen Desta. Dan gue gak bisa nahan vel, kali ini gue hancur” cerita Cindy sambil mengusap kasar air mata yang sudah menganak sungai di pipinya, Cindy menceritakan semua awal mula perasaan nya dan alas an kenapa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Setelah satu jam lebih Cindy menceritakan semua yang dia rasakan, dia kelelahan akibat banyak menangis lalu kemudian tertidur di ranjang Velove. Velove membenarkan posisi selimut Cindy kemudian meninggalkan wanita itu terlelap di kamarnya. Dia melangkah turun ke kolam renang belakang rumahnya. Velove bingung harus melakukan apa dan bagaimana menghadapi dua sahabatnya itu. Di tengah lamunannya , gawai velove berbunyi dan menampilkan nama laki-laki yang daritadi di pikirkan nya. ‘halo Des..’ sapa velove setelah menekan tombol hijau. ‘Cindy ada dirumah lo gak?’ nada khawatir Desta terdengar di ujung telpon. ‘yap..dan dia sekarang sudah terlelap tidur. Capek nangis kayaknya.’ Jawab Velove. Huff …terdengar helaan nafas kasar dari seberang telpon. ‘oke kalau gitu, lo istirahat juga sana gih. Besok gue temuin kalian berdua’ ‘hhhmmm’ jawab velove setelahnya. Setelah telpon di tutup Velove masih belum merasa ingin tidur, ia membuka sosial media nya untuk membunuh kebosanannya. Di bagian paling atas beranda nya ada sebuah foto dari salah satu penyanyi pendatang baru favoritnya yang sudah lama dia ikuti, memposting sebuah foto tampak samping dari laki-laki yang amat sangat dia kenal. Walaupun dalam foto itu kondisi lampu remang di sebuah club, tapi velove hafal betul dengan sosok laki-laki yang tampak dari samping tersebut. Ada rasa nyeri dan tidak rela di hatinya melihat laki-laki itu dekat dengan penyanyi yang cantik menurutnya tersebut. Ya Velov tau kalau itu sebuah club malam karena sang artis sedang merayakan ulang tahunnya dan dia meng tag lokasi tersebut. Velov cepat-cepat keluar dari social media dan menyimpan ponsel di sakunya, dia tidak ingin berlarut dengan perasaannya ini. Sejujurnya ia ingin menjalani harinya tanpa rasa sakit lagi, sudah cukup menurutnya merasakan sakit-sakit yang sebelumnya. Bukan kah hidup itu harus seimbang? Kadang kala perlu rasa sakit untuk kita bisa bersyukur Ketika sedang merasakan Bahagia. Tapi serius Velove rasanya Lelah dengan yang Namanya rasa sakit, dua kali dia mencintai dengan begitu besarnya, dua kali juga semua nya kandas dan mengecewakan. Kemudian di tambah dengan sakitnya di tinggalkan kedua orang tua secara hampir bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD