"Beraninya kau!" Wanita itu berteriak marah. "Mulut dan kelakuanmu seakan kau tidak pernah disucikan dengan sedekah, tidak punya adab dan perasaan sama sekali," desisku. "Kau pikir kau siapa berani memukulku?!" "Lalu kau pikir kau siapa berhak menamparku? Bahkan kalau orang tua atau Mas Pendi sekalipun, tidak pernah menamparku!" Jawabku sengit. "Kau pantas mendapatkannya!" "Kau juga pantas mendapatkannya, sejak kemarin aku terus berusaha mengendalikan diri untuk tidak memukul mulutmu yang berlebihan itu, namun, semakin berusaha sabar semakin sakit hati diri ini kau singgung singgung." "Wanita gila!" Wanita dengan rok mengembang dan baju meja itu mendekat, ia hendak memukul lagi, namun dengan satu sentakan, Aku langsung menarik kalung emasnya yang panjang dan besar ke arah berlawanan

