“Kau kenapa?” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Dari tadi subuh Caca menahannya. Sejak bangun tadi, gelagat Fadli memang agak aneh. Suka bicara melantur ke mana-mana. Hal-hal yang menurut Caca tidak penting, dibahasnya sampai tuntas. Caca sampai jengah mendengarnya. “Ada yang ketinggalan gak?” tanyanya bukannya menjawab. Laki-laki itu nampak gelisah dan terburu-buru membereskan barang-barang milik Caca. Tak puas, Caca beranjak dari bangsal lalu menghampirinya. “Kau kenapa?” tanyanya sekali lagi dengan nada lebih tinggi. Fadli terdiam. Tangannya membeku seketika. Barang-barang sudah rapi dan sudah siap. Kini ia bingung harus melakukan apa lagi. Tak lama kemudian muncul sosok Fadlan yang tergesa-gesa masuk. Ia menghela nafas lega. “Cepat lah!” ucapnya tegas dengan waja

